VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 52



Angin berhembus pelan memberikan kesejukan pada setiap insan yang tengah menerima sengatan sang raja siang.


Song Mi Kyong menjadi peran utama hari ini. Terutama para pria menayapanya terus menerus menanyakan kabarnya selama tujuh tahun menghilang.


Wanita itu mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan sudah mendapatkan pekerjaan sebagai desainer interior.


Sebelum datang ke sana, entah secara kebetulan atau tidak ia mendapatkan undangan dari sahabat memanahnya, Kim Won Shik.


Mi Kyong yang mendapatkan undangan tersebut pun tidak karuan. Saat menerima itu Ailee pun ada di sana dan terkejut bukan main jika rencana mereka bisa berjalan lancar seperti itu.


Seketika keduanya pun kembali menyusun rencana.


Tanpa mereka semua ketahui Mi Kyong dan Won Shik juga masih berhubungan, baik via chatting ataupun media sosial.


Ia sengaja tidak memutuskan kontak bersama pria itu, sebab Won Shik lebih dekat dengan Park Jim-in daripada yang lain.


Kim Won Shik adalah satu-satunya pria yang mengetahui seperti apa perasaan Mi Kyong terhadap Jim-in.


Ia sudah lama menjalin persahabatan dengan Mi Kyong. Ia juga yang selalu memberitahukan keadaan Jim-in kepadanya saat wanita itu masih berada di luar negeri.


Di saat Mi Kyong mendengar jika Jim-in tidak bersama Yuuna lagi, ia buru-buru pulang untuk menemui sahabat masa kecilnya.


Ia ingin mengutarakan perasaannya selama ini dan berharap ada kesempatan yang didapatkan. Namun, nyatanya hubungan pernikahan Jim-in dan Rania tetap terjalin.


Ia berpikir kala mendengar berita mengenai keduanya dari Won Shik yang tidak baik-baik saja, akan melakukan perceraian, tetapi harapan tidak selaras dengan kenyataan.


Rumah tangga Jim-in dan Rania baik-baik saja, bahkan mereka dikarunia dua orang anak.


"Di mana kamu selama ini?" tanya Jung Hwa mengutarakan rasa penasaran sama seperti yang lain.


"Aku berada di Negara I untuk melanjutkan sekolah," balas Mi Kyong ramah.


"Lalu, kenapa kamu bisa pulang lagi ke sini? Bukankah Negara I itu sangat bagus dan juga menyenangkan? Apa jangan-jangan kamu mempunyai seseorang yang dituju?" tanya Hyun Sik tersenyum penuh makna, menggoda Mi Kyong senang.


Wanta itu pun menoleh sekilas pada Jim-in yang sedari kedatangannya ke sana bersikap acuh tak acuh.


"Ani, kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" tanyanya menghadap balik.


"Ani, hanya saja itu yang aku pikirkan. Tunggu! Bukankah beberapa minggu lalu sempat beredar berita mengenai hubungan kalian?" tunjuk Hyun Sik pada Mi Kyong dan Jim-in.


"Hubungan apa?" tanya Won Shik berpura-pura.


"Mi Kyong mengatakan kalau Jim-in adalah calon suaminya," jelas Hyun Sik lagi.


Jim-in yang tengah meminum air putih pun sampai menyemburkannya kembali dan terbatuk beberapa kali.


Ia memandangi para sahabatnya bergantian, semua orang yang kini menatapnya pun menuntut penjelasan.


"A-ani... itu tidak seperti yang kalian pikirkan," gugupnya membela diri.


"Eyy, aku tidak menyangka jika hubungan pertemanan kecil kalian bisa sampai seserius itu?" goda yang lain.


"Jadi, apa itu benar?" tanya teman-teman yang lain lagi.


"Ani-"


"Tentu saja tidak seperti itu. Aku meminta Jim-in untuk berpura-pura sebagai calon suami, untuk membatalkan perjodohan ku," sambar Mi Kyong membuat mereka mengangguk mengerti.


"Oh seperti itu, lalu bagaimana hubunganmu dengan Yunna? Aku sudah lama tidak mendengarnya selama ini," tanya Jung Min lagi penasaran.


"Aku sudah lama putus dengannya dan sekarang tidak tahu di mana," balas Jim-in terlihat tidak peduli sama sekali dan mereka hanya mengangguk-anggukan kepala.


"Menurutmu Mi Kyong bagaimana? Bukankah kalian sudah lama berteman?" Won Shik kembali ke topik sebelumnya.


Jim-in yang tengah berdiri tidak jauh dari sahabat masa kecilnya pun menoleh sekilas. Ia teringat kejadian malam itu, saat Mi Kyong mengutarakan perasaan.


Sejak kejadian tersebut berlalu, Jim-in menghindarinya. Ia tidak ingin membuat hubungan pertemanan mereka rusak akibat perasaan yang dimiliki Mi Kyong dan juga penolakan dirinya.


Ia pun memberikan jeda dan jika semuanya sudah kembali normal ia berpikir bisa kembali seperti semula.


"Mi Kyong, sahabat sekaligus keluargaku yang berharga," balasnya tulus.


"Keluarga apa keluarga?"


"Apa jangan-jangan kamu juga sudah jatuh cinta padanya?"


"Apa benar kamu tidak merasakan apa pun pada Mi Kyong?"


"Dia wanita yang sangat luar biasa, pria manapun bisa jatuh cinta padanya."


Perkataan demi perkataan yang menjurus ke sana pun terus berdatangan menggoda Jim-in. Pria itu membalas sekenanya, sorot matanya teduh seolah tidak risih atas apa yang terjadi.


Mi Kyong pun melakukan hal sama, tetapi berbeda dengan Jim-in. Sang desainer interior tersebut nampak senang sekaligus bahagia bisa menjadi bahan bulan-bulanan bersama pria tercintanya.


Tanpa mereka sadari, sedari awal keriuhan tercipta di sana, sepasang jelaga memperhatikannya dalam diam.


Ia memindai semua orang yang turut hadir, hingga perhatiannya hanya berlabuh pada sang suami dan wanita itu.


Seringaian hadir menanggapi apa yang sedang mereka hebohkan. Seraya menenteng helm keselamatan ia menggelengkan kepala singkat.


"Rania, apa yang sedang kamu lakukan di sana?" tanya Zahra datang mendekat sudah lengkap dengan pelindung di tubuhnya.


Rania menoleh ke sisi berlawanan membalasnya.


"Ani," jawabnya singkat.


"Iya sudah ayo kalau begitu. Pelatih menyuruh kita untuk berkumpul sebelum melakukan berkuda sambil memanah," ajaknya.


Rania mengangguk mengiyakan dan mengikuti ke mana Zahra pergi.


Ia tidak menyangka takdir bisa bermain dengan sangat luar biasa. Ia dan Zahra yang telah berjanji berkuda lagi mendapatkan tempat latihan dekat dengan acara reuni memanah sang suami.


Sejak kedatangannya ke sana, Rania menyadari satu sosok itu tidak jauh dari jangkauan. Sedari tadi ia berdiri di belakang salah satu pohon besar memperhatian mereka.


Ia tidak menduga mendengar candaan mengarah pada sebuah hubungan terlarang. Ia sedikit terkejut kala sang suami menanggapi permainan mereka.


Namun, yang paling membuatnya tercengang adalah sikap Mi Kyong, sahabat masa kecil sang suami. Wanita itu bahkan telah mengakui padanya jika mencintai Park Jim-in.


Entah apa yang sedang mereka rencanakan, firasat seorang istri begitu kuat jika sesuatu hendak terjadi.


"Jika memang seperti itu... apa aku harus benar-benar mempertahankannya? Ingatanku saja sekarang belum kembali, ditambah dengan adanya orang ketiga lagi. Ya Allah, apa hamba sanggup menghadapinya?"


"Tentu saja, Rania. Allah sudah memilihmu itu artinya... Allah yakin kamu bisa. Baiklah, apa yang akan terjadi di depan nanti aku harus menghadapinya. Jangan takut, jangan khawatir ada Allah yang selalu melindungi," racaunya dalam benak.


Ia pun mengikuti arahan demi arahan yang dilayangkan sang pelatih. Ia berusaha fokus kala samar-samar pembicaraan klub memanah di seberang sana terus berdengung.


Gelak tawa memberikan tanda betapa mereka sangat menikmati pertemuan tersebut. Dari sekian suara yang didengar, Rania hanya berkonsentrasi pada satu nada.


Park Jim-in, suami yang selama ini hidup bersamanya dan memperlakukannya bak seorang ratu. Ia mendengar dengan jelas suara tawa riang itu menggelegar di sana.