VARSHA

VARSHA
Bagian 43




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Kilaunya cahaya senja perlahan menghilang seiring berjalannya waktu. Jam terus berdentang setiap detiknya menimbulkan bunyi klasik yang menemani. Kesendirian membuat ia sadar tentang kehidupan yang dijalaninya. Kehampaan dan kekosongan menjadi titik penentuannya sekarang. Begitu lekat kata Varsha yang mengandung hujan dalam diri seorang Rania.


Masih dalam posisi menghadap ke depan seraya menikmati pemandangan, ia menyelam dalam lamunannya sendirian. Hingga, beberapa saat kemudian tanpa ia sadari tiba-tiba saja sepasang lengan kekar merengkuhnya erat dari belakang. Dagu lancip sang pria bertengger manis dipucuk kepala berhijabnya.


Aroma mint yang menguar dari tubuh tegapnya seketika membuat wanita itu menegang. Rania tahu siapa orang yang tengah mendekapnya saat ini. Siapa lagi jika bukan suaminya sendiri, Park Jim-in. Meskipun ada ketakutan dalam dirinya, Rania begitu merindukan sosok tersebut.


Sudah banyak kisah yang mereka lewati bersama. Tidak mudah memang untuk melupakan memori manis yang pernah dikecapnya bersama. Bahkan perasaan cinta itu semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu.


Rania pun mendekap lengan yang merengkuhnya hangat lalu mendaratkan dirinya didada bidang sang suami. Masih dengan keristal bening yang meluncur bebas, ia menikmati kebersamaan itu.


"Sudah lama rasanya." Hanya tiga kata yang meluncur dibalik bibir ranumnya. Jim-in yang tidak mengerti pun membalikan tubuh sang istri.


Ia terkejut saat melihat wajah wanitanya berurai air mata. Kedua tangannya terangkat menangkup kedua pipi itu lalu menghapus cairan bening tersebut menggunakan ibu jarinya. Tanpa adanya ekpresi berarti, Jim-in memperlakukannya hangat. Namun, hal tersebut membuat Rania menegang.


Ia menangkap adanya kilatan aura menusuk nan dingin terpancar jelas di sana. Rania mati-matian mempertahankan ketenangannya. Sekarang tidak mengenali suaminya. Seolah dua jiwa menempati satu raga. Begitulah yang dipikirkannya. Apa suaminya mempunyai kepribadian ganda? Dan sekarang sosok arogan yang mendominasinya? Sungguh pikiran Rania sudah terlampau jauh ke mana-mana.


"Jangan menangis aku tidak ingin melihat hujan dimatamu. Varsha memang mengandung banyak arti dalam hidupmu. Sepertinya, nama itu tidak cocok berada di tengah-tengah namamu. Bagaimana kalau kita ganti? Eum, Harsha?!" bukan tawaran yang diberikan melainkan penegasan.


Sakit. Kembali rasa itu menempati posisi teratas dalam hatinya. Rania tidak menyangka Jim-in mengucapkan kata-kata seperti tadi. Bukankah dia sendiri yang menawarkan kesenangan? Harsha yah itulah kata yang mengandung arti kesenangan. Kata yang ditawarkan ternyata memiliki makna berbeda, terutama untuk saat ini.


Lagi dan lagi air mata itu lolos mengalir dipipinya. Secepat kilat Rania pun menghapusnya kasar.


"Kenapa oppa berubah?" cicitnya menahan pilu.


"Aku? Berubah? Dari mana? Tidak ada yang berubah, sayang. Semua masih sama. Cintaku padamu tidak akan berubah." Jawab Jim-in seraya membelai kepalanya pelan. Senyum yang mengembang diwajah dinginnya seketika membuat Rania bergidik.


"Besok bisakah oppa pergi bersamaku?" pintanya seraya menekan ketakutan yang tiba-tiba saja menyeruak.


"Ke mana pun kamu pergi aku akan menemami. Karena kamulah satu-satunya wanita yang tidak akan pernah aku lepaskan." Lagi dan kembali jawaban yang diberikan Jim-in sama sekali tidak membuat perasaan Rania melambung. Malah sebaliknya. Posesif dan obsesi dua kata yang kini mendiami sosok Park Jim-in.


Direngkuhnya kembali sosok mungil di hadapannya. Tangannya yang besar mengusap pelan punggung sang istri. Tanpa ia sadari, Rania menangis untuk kesekian kalinya. Begitu banyak kemelut yang menempati kepala berhijabnya.


...🌦️🌦️🌦️...


Seperti yang sudah dikatakan kemarin, kini pasangan suami istri itu tengah berada dalam perjalanan menuju mansion. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Jim-in mengikuti apa yang hendak dilakukan istrinya. Merasakan kedaiaman dari seseorang yang tengah duduk di sampingnya, Rania bertanya-tanya. Apa mungkin Jim-in tahu maksudnya? Pikir Rania.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun sampai mereka tiba di tempat tujuan. Gerbang terbuka lebar mempersilakan keduanya datang.


Masih membungkam mulutnya rapat, Jim-in setia dengan kebisuannya. Ia mengikuti ke mana sang istri pergi. Pintu depan perlahan dibuka membawa sosok Rania masuk ke dalam. Di sana sudah berdiri Sang Oh dan juga beberapa pelayan lainnya menyambut mereka.


"Nyonya ada di dalam." Ucapnya. Rania mengangguk kemudian langsung ke atas diikuti Jim-in yang masih mengunci bibirnya rapat.


Tidak lama berselang keduanya tiba di lantai atas. Keberadaan mereka pun dirasakan oleh wanita pertengahan 50 tahunan itu. Gyeong melebarkan pandangannya tat kala menyadari keberadaan Jim-in. Sudah hampir setengah tahun lamanya mereka tidak bertemu. Entah ada angin apa sekarang putra semata wayangnya itu singgah kembali ke mansion.


"Jim-in, sayang." Panggilnya lemah.


Smirk terpampang jelas diwajah tampan nan dingin itu. Merasakan aura sang anak yang tidak bersahabat, Gyeong tersadar dari perbuatannya.


"Mianhae, jeongmal mianhaeo. Eomma sudah menyakiti perasaanmu terlalu dalam. Eomma sadar atas kelakuan yang sudah diperbuat. Sekarang eomma sudah menyerahkan semua aset yang ada di sini untuk kamu." Jelasnya menatap penuh harap Jim-in memandanginya. Sedari masuk ke kamar pria itu terus mengalihkan perhatiannya.


Sampai, "bagus jika Anda melakukan itu memang sudah seharusnya. Sekarang Anda sudah sadar jadi saya harap jangan pernah mengganggu keluarga kecil saya lagi."


Degg!!


Rania maupun Gyeong yang mendengar penuturan itu merasakan degup jantung bertalu kencang. Sosok Jim-in yang tengah berdiri di antara mereka benar-benar sudah berubah. Semakin dingin bak berasal dari Kutub Utara.


"Ke....kenapa kamu berbicara dingin kepada ibumu sendiri. Sadar nak, siapa yang sudah melahirkanmu ke dunia ini." Ujar Gyeong kemudian.


Lagi-lagi seringaian hadir dibibir tebalnya. Jim-in melangkah mendekati sang ibu, "karena siapa aku jadi seperti ini? Tanyakan itu pada hatimu, Nyonya Besar." Bisiknya tepat didepan wajah Gyeong.


Rania melebarkan kedua matanya, terkejut. Ia pun mencengkram erat pergelangan tangan sang suami lalu menariknya mundur. Ia berharap tindakan Jim-in tidak sejauh yang dipikirkannya. Namun, sayang pria itu tidak peduli dan malah melanjutkan aksinya.


"Karena orang yang sudah menyakiti wanitaku tidak bisa dimaafkan. Satu air mata yang menetes dipipinya maka kebencianku pun tumbuh. Katakan selamat tinggal pada anak kesayanganmu, Park Jim-in sekarang sudah tidak ada lagi. Orang yang ada di hadapan Anda saat ini hanyalah orang lain." Lanjutnya tepat mengenai ulu hati kedua wanita itu.


Bukankah tindakannya sama saja menyakiti hati sang istri? Bukan kesenangan yang didapatkan Rania, melainkan lagi-lagi harus Varsha yang keluar dari matanya.


Hujan badai itu enggan surut meskipun berkali-kali diusapnya kasar. Awan mendung setia menempati kedua matanya.


"O...oppa!! Apa yang oppa katakan. Minta maaf sekarang juga pada eommanim!!" Tegas Rania tidak menginginkan hubungan ibu dan anak itu semakin hancur.


Perlahan Gyeong beranjak dari tempat tidurnya. Sangking terburu-burunya wanita itu pun ambruk sebelum kedua kakinya menyentuh lantai. Rania yang berada di dekatnya langsung merengkuh membantunya. Namun, Gyeong tidak membiarkan Rania membantunya untuk kembali duduk ditempat tidur melainkan Nyonya Besar tersebut menahannya tetap tinggal.


"Rania, maafkan eomma. Karena selama ini sudah menyakitimu terlalu dalam. Bahkan sampai tega membakar rumah peninggalan ibumu. Eomma benar-benar keterlaluan. Pantas saja Jim-in bisa berubah, semua karena eomma. Mianhae, kamu juga pantas membenciku." Air mata tak bisa dibendung lagi. Gyeong menangis menyadari kesalahannya.


Rania yang tidak kuasa melihat kesedihan dari sang ibu mertua pun langsung menghaburkan diri memeluknya erat.


"Terima kasih banyak karena Nyonya sudah memanggil ibu untukku. Baktiku yang selama ini dilakukan tulus tanpa iming-iming imbalan apapun. Rania menyayangi, eomma seperti ibu kandungku sendiri. Maafkan Jim-in sudah bertindak terlalu jauh." Balas Rania seraya mengusap pungguh rapuh wanita itu.


Gyeong menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Eomma juga minta maaf karena membiarkan Jim-in menyakitimu tanpa disadarinya. Sabarlah, nak suatu saat nanti suamimu akan kembali sadar." Rania pun mengangguk meyakini ucapan itu.


Sedangkan tidak jauh dari keberadaan mereka Jim-in mendengus sebal melihat keakraban ibu dan juga istrinya. Dalam pikirannya mudah sekali kata maaf terlontar dari mulut manis mereka. Karena dalam dirinya hanya ada kepedihan dan luka.


...🌦️RUMIT🌦️...