VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 13



"Kamu memintaku untuk merahasiakan kecelakaan itu dari Jim-in? Apa kamu tahu sekarang dia sedang kebingungan, Rania? Dia berpikir kamu sudah berubah menjadi orang lain... ani, menjadi dirimu di masa lalu," ucap Seok Jin menjelaskan sembari menggebu-gebu tidak habis pikir.


Rania diam menyelami kata demi kata tertuang dari bibir keritingnya. Kedua tangan lentik itu pun meremas kuat selimut menahan amarah.


Sejak saat itu ingatannya pun berangsur-angsur menghilang. Ia tidak tahu apa yang sudah berubah dan keadaan tidak lagi sama.


"Apa benar kamu kehilangan separuh ingatan?" tanya Seok Jin lagi, penasaran.


"Kamu juga tidak mau melakukan rontgen untuk mengetahui ada apa di kepalamu. Aku khawatir kecelakaan itu mengakibatkan luka dalam, jika dibiarkan akan berakibat fatal Rania," katanya lagi.


Rania masih diam tidak merespon ucapan Seok Jin membuat sang dokter kembali melanjutkan.


"Aku tidak bermaksud menakut-nakuti mu hanya saja, pemeriksaan lebih lanjut sangat dibutuhkan," lanjutnya lagi.


Rania berbalik memperlihatkan sorot mata kosong. "Lalu, apa tuan muda arogan itu akan melepaskan ku? Akut tidak bisa terus menerus menjadi bonekanya lagi."


"Tidak Rania, tidak seperti itu. Jim-in... dia sudah sangat mencintaimu dengan tulus" ungkapnya. Ia merogoh saku jas dokternya mengeluarkan ponsel.


"Lihat ini, mereka adalah putra dan putri kalian. Akila anak pertamamu dan Jauhar anak keduamu," ungkapnya memperlihatkan foto dua anak kecil yang tengah tersenyum.


Rania terpaku menyaksikan dua wajah tidak asing lagi di sana. Ia juga tidak menyangka Seok Jin mengatakan mereka adalah anak-anaknya.


Ego dalam diri Rania semakin kuat dan terus meyakinkan diri jika anak-anak itu bukanlah buah hatinya, melainkan anak dari wanita lain.


"Apa Oppa yakin dia anak-anakku? Apa jangan-jangan Oppa juga ikut-ikutan menyembunyikan hal ini dariku?" tanya Rania keukeuh.


"Apa maksudmu, Rania?" tanya Seok Jin tidak mengerti.


"Mereka... kedua anak itu... bukankah anak-anak tuan muda dari wanita lain?" tanya balik Rania mengutarakan rasa penasaran.


"Astaghfirullah, dari mana pemikiran itu berasal? Apa kamu juga melupakan mereka? Ya Allah Rania, mereka benar-benar anakmu... darah daging mu dengan Jim-in."


"Apa kamu masih tidak percaya? Kalau masih seperti itu kita bisa membuktikannya lewat tes DNA. Apa kamu mau melakukannya?" Seok Jin kembali menggebu-gebu menjelaskan pada wanita keras kepala ini.


Tanpa diduga Rania mengangguk, setuju. Seok Jin menghela napas menyandarkan punggung pada kursi, lemas melihat jawaban tak terduga.


"Baiklah, kita adakan tes DNA untuk kalian." Finalnya, Rania hanya kembali mengiyakan tanpa bersuara.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, selepas menghabiskan satu tabung infusan Rania pulang ke rumah.


Keadaan di sekitar terasa begitu asing, ada kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dulu. Hal tersebut membuat Rania kembali bingung.


Di dalam ingatannya sosok pria yang menempati bangunan megah ini adalah seorang tuan muda arogan tidak berperasaan.


Kata-kata Seok Jin tadi pun terus berkeliaran dalam ingatan mencoba meyakinkan Rania jika Jim-in sudah berubah mencintainya.


Rania pun membuka pintu utama cukup lebar, dari arah tangga ia melihat seorang anak gadis memandanginya lekat.


Wajah mungil nan cantik itu tersenyum cerah membuatnya terpaku.


"Eomma!" Akila berteriak menuruni anak tangga dan langsung menerjang tubuh sang ibu erat.


"Eomma, ke mana saja? Akila sudah menunggu Eomma sedari tadi. Akila merindukan Eomma," ungkapnya mengutarakan perasaan terdalam.


Rania menunduk melihat gadis berusia delapan tahun itu terus memeluknya erat seraya menyembunyikan wajah di perut ratanya.


Ia hanya terdiam membiarkan Akila melakukan apa pun yang diinginkan.


Sampai tidak lama kemudian, Akila mendongak tidak mendapati respon apa pun dari sang ibu.


"Apa Eomma-"


"Sayang." Panggil seseorang dari belakang.


Akila menoleh mendapati sang ayah tengah menggendong adiknya berjalan mendekat.


"Kamu dan Jauhar, bisa tunggu di kamar sebentar bersama Ahjumma?" pinta Jim-in menoleh sekilas ke arah pengasuh kedua buah hatinya.


Tanpa menolak, Akila pun mengangguk dan mengikuti suruhan sang ayah.


Setelah kepergian mereka, Jim-in menatap lekat Rania serius. Di mana istrinya itu sedari tadi memandangi kepergian buah hatinya.


"Apa lagi kali ini? Apa kamu sedang bermain-main lagi? Aku tidak masalah kamu melupakanku atau pernikahan kita, tapi... Akila dan Jauhar?"


"Mereka tidak tahu apa-apa, Raina. Bisakah kamu menjadi ibu yang baik untuk mereka? Aku mohon, satu kali ini saja, hm?" pinta Jim-in sangat.


Bola mata Rania bergulir membalas tatapan itu, lekat.


"Untuk kebaikan putra putri Tuan dan wanita lain? Aku tidak mau!"


Selepas mengatakan itu Rania melangkahkan kaki tanpa memberi kesempatan pada Jim-in untuk membalas ucapannya.


Pria itu pun mengepal kedua tangan erat menyaksikan betapa dinginnya seorang Rania. Ia semakin jauh berbeda dari hari ke hari.


Jim-in terluka, benar-benar terluka menerima kenyataan yang ada.


"Apa kamu sudah bosan denganku? Apa kamu tidak ingin bersama kita lagi? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu pada anak kita?"


"Rania, sebenarnya apa mau mu, HAH?" Jim-in berteriak hingga suaranya bergema dalam ruangan.


Rania menghentikan langkah, kepala berhijabnya menoleh ke samping menyaksikan Jim-in lewat ekor mata.


"Bisakah Anda melepaskan saya? Saya ingin seperti burung, terbang bebas tanpa adanya kekangan seperti ini."


"Ini tidak adil bagi saya!" balas Rania semakin dingin dan melangkahkan kaki lagi.


Jim-in mengusap wajah gusar dan hendak menyahuti perkataan sang istri. Namun, sebelum itu terjadi suara dentuman cukup kencang menarik perhatian.


Jim-in menoleh ke depan lagi di mana di sana Rania sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ia pun bergegas mendekat dan melihat istrinya menutup mata dengan darah segar mengalir dari hidung.


"Sa-Sayang." Panggil Jim-in seraya bersimpuh dan memangku kepalanya. "Sayang bangun, hei jangan bercanda. Sayang...Sayang, SAYANG!" Jim-in berusaha menepuk-nepuk pipi Rania, tetapi sang empunya tak kunjung membuka mata.


Jim-in kelimpungan dan langsung membawa Rania ke rumah sakit lalu meminta para pelayan untuk menjaga Akila serta Jauhar.


Ia juga meminta mereka agar kedua anaknya jangan sampai mengetahui keadaan Rania. Ia tidak ingin putra dan putrinya khawatir.


Beberapa saat kemudian, Rania sudah kembali ke rumah sakit. Di jalan tadi, Jim-in meminta Seok Jin untuk memeriksa keadaan istrinya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang suami, Seok Jin nekad memeriksa Rania. Dengan cermat dan penuh kehati-hatian ia memindai kepalanya.


Betapa terkejutnya ia saat mendapati ada luka dalam cukup besar di sana. Itulah yang mengakibatkan Rania mengalami kehilangan ingatan.


"Ada luka cukup dalam di kepalanya, kita harus segera melakukan operasi. Aku ingin kamu kuat dan menyetujui segala prosedurnya," ungkap Seok Jin selepas merontgen Rania.


"M-Mwo? Luka di dalam kepala? Bagaimana bisa?" tanya Jim-in terkejut.


"Nanti aku jelaskan, lebih baik sekarang kamu tanda tangani ini agar Rania segera ditangani. Jika dibiarkan terus menerus maka akan bahaya," katanya lagi.


Jim-in terkesiap, takut sesuatu hal terjadi pada sang istri pun langsung menyetujui operasi Rania dan memberikan tanda tangannya di surat persetujuan.