VARSHA

VARSHA
Bagian 33




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Sudah hampir satu bulan lamanya Jim-in dan Rania meninggalkan mansion Park. Kehidupan sederhana yang tidak pernah ia pikirkan nyatanya sekarang harus diemban. Jim-in tidak percaya jika hidup jauh dari seluk beluk kertas menumpuk dimeja terasa menenangkan. Terlebih saat hanya istrinyalah yang setia berada di sampingnya.


Sejak saat itu juga Rania memutuskan untuk berjualan kue demi menyambung kehidupan. Jim-in pun ikut membantu memasarkan hasil tangan sang istri tercinta. Sungguh tidak rela sebenarnya ia melihat mahakarya Rania dibagi dengan orang lain. Namun, bagaimana lagi itu untuk keberlangsungan rumah tangga mereka.


"Sudahlah oppa tidak usah merengek seperti anak kecil. Aku tidak memberikan kue ini secara gratis. Aku menjualnya dan kita mendapatkan uang." Ucap Rania untuk kesekian kalinya.


"Hah~ baiklah kalau begitu aku ke belakang dulu." Jim-in pun meninggalkan istrinya begitu saja.


"Oppa itu aneh, namanya juga usaha. Hah~ setiap hari manjanya semakin terlihatan." Meskipun dalam ucapan terdengar ada nada kekesalan, tapi seulas senyum tidak bisa menipu kebahagiaannya.


Di belakang rumah terdapat tanah lapang yang tidak terlalu luas. Bangunan sederhana peninggalan orang tua Rania ini terlihat masih terurus setelah meniggalnya sang pemilik. Jim-in bersyukur bisa menemukan kediaman sederhana tersebut. Ia pikir pasti banyak kenangan yang sudah Rania tinggalkan di sana. Sudah pasti ia tidak akan siapa pun mengambilnya begitu saja.


Kini si pemilik baru tengah memandang langit di atas sana. Awan putih berarak mengikuti arah angin. Hembusannya menerpa wajah sebening persolen. Lengkungan bulan sabit bertengger menambah ketampanan.


Sorot matanya bersirobak pada sebuah papan yang berdiri kokoh di hadapannya. Seketika kedua tangannya mengepal erat. Bayangan masa lalu saling bertubrukan dalam ingatan. Darah mendesir hebat tat kala keinginan kuat menguasai. Secara naluri kakinya melangkah ke arah gudang kecil yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Degg!!


Bisa ia rasakan jantungnya bertalu kencang. Memori yang hendak dihilangkan memaksa teringat kembali. Jim-in tidak kuasa menahan hasratnya untuk melakukan hobi yang sudah lama tidak dikuasai. Tangan putihnya terulur pada sebilah busur dan anak panah yang terpajang rapih di salah satu papan gudang.


Senyum semakin mengembang kala benda tersebut berada dalam genggaman. Dengan langkah ringan Jim-in kembali keluar.


Hembusan angin siang ini seketika bertambah kencang. Kedua kakinya menapak lagi di tanah yang ditinggalkan. Ia memasang posisi siap untuk membidik target di depan sana. Sorot mata setajam elang siap menerkam mangsanya.


Tanpa ada kata yang terucap ketegasan tercetak jelas.


Plass!!


Bukhh!!


Tepat sasaran. Busur anak panah itu meleset tepat mengenai titik kecil ditengah-tengah pusaran dalam papan itu. Rasa lega menguasai menampilkan binar kebahagiaan.


Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti itu. Lega sudah, seakan beban berton-ton dibahunya menguap begitu saja.


"Hahahaha ternyata aku masih bisa melakukannya." Tawa gamang terdengar sarat kesedihan di dalamnya.


Bertahun-tahun vakum dalam dunianya sendiri memaksa ia untuk merobohkan mimpi besar tersebut. Kini ketika kedua kakinya sudah sembuh dan segalanya melekat dalam dirinya menghilang, Park Jim-in kembali menemukan hidupnya lagi.


Namun,


Brukhh!!


Kepala bersurai hitam lembut itu menggeleng beberapa kali seraya tangan kanannya memukul dadanya kuat. Ia berusaha mengenyahkan kegelapan yang berusaha menguasai.


"Jika kamu bisa fokus pada satu titik pada saat memanah dan merasakan beban terangkat dipundakmu........maka ketika kamu memfokuskan untuk dekat kepada Allah, tidak hanya beban tapi semua masalah hidupmu akan terangkat. Karena Allah tujuan kita semua. Jangan kalah dengan kesakitan. Kamu kuat dengan caramu sendiri dan libatkan Allah di dalamnya."


Suara halus itu mengalun menelisik gendang telinganya menghentikan air mata. Harsha yang terucap dipagi hari terbit membuatnya mendongak. Ia melihat sepasang jelaga tengah memandanginya dalam kedamaian.


"Istighfarlah oppa semuanya baik-baik saja. Ada aku di sini." Jim-in bisa merasan tangan mungil sang istri merengkuhnya hangat.


"Astaghfirullah haladzim..... Astaghfirullah haladzim..." bisikan terdengar membuat Rania mengembangkan senyuman.


"Bagus, tetap seperti itu oppa. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk. Ingatlah dalam setiap kejadian Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik."


Jim-in mengangguk sekilas lalu membalas rengkuhan istrinya. Ia beruntung. Benar-benar beruntung memiliki wanita hebat seperti Rania.


"Mian, aku dulu menyakitimu." Lanjutnya.


Rania pun menjauhkan dirinya melihat jejak kesedihan dan rasa menyesal di sana. Wanita itu menggelang mengulum senyum seraya menyelam dalam iris kecoklatan suaminya.


"Kenapa kamu mau bertahan denganku sampai sekarang?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut menawan Park Jim-in.


"Karena, jika untuk mencintaimu aku siap terluka. Dan hasilnya sudah aku rasakan. Sekarang oppa bisa berubah dan bisa mencintaiku. Saranghae, gomawo......" ketulusan memancar dalam iris bening wanita di hadapannya.


Jim-in tidak kuasa membendung air matanya lagi. Pria arogan itu kini menampilkan sisi menyedihkannya. Rania tidak kuasa melihat itu lalu menangkup kedua pipinya seraya mengusap lembut air maya yang mengalir.


"Varsha, tidak cocok mengalir dimatamu oppa." Rania sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan lalu memberikan kecupan hangat dikedua mata sang suami.


Tidak membiarkan istrinya pergi Jim-in pun kembali merengkuhnya hangat. "Yah, Varsha memang tidak cocok berada di mataku. Karena dia akan tetap mengalirkan air. Tetapi, Varsha akan selamanya berada dihatiku. Karena biarkan hujan membasahi kekeringan itu. Aku sangat mencintaimu, Varsha.... ani... Rania."


Pengakuan cinta menelisik dalam relung terdalamnya. Rania terharu mendengar penuturan suaminya yang selalu berhasil membuatnya tertegun. Tanpa mengatakan apapun ia bisa merasakan ketulusan yang terpancar darinya.


Dinginnya udara tidak sedikit pun mengusik kedamaian keduanya. Biarkanlah waktu berhenti untuk sesaat. Biarkan mereka menikmati saat-saat kebahagaiaan berdua. Sampai waktunya semua masalah menghilang dan benar-benar hanya ada mereka tanpa orang ketiga.


Tanpa Jim-in dan Rania ketahui di luar rumah mereka terlihat seseorang tengah memantau situasi kediamannya. Tidak lama berselang ia berbicara pada seseorang lewat alat komunikasi yang terpasang ditelinganya.


Beberapa saat kemudian mobil hitam berhenti tepat di samping pria berstelan jas hitam lengkap dengan kacamata gelapnya, terlihat seperti mata-mata. Sepasang sepatu pantopel keluar dari dalam mobil memperlihatkan tubuh tinggi nan ringkih. Seulas senyum terulum dari bibirnya.


"Kamu yakin Tuan Muda tinggal di sini?" tanyanya pada pria itu.


"Benar senior. Tuan muda ada di dalam berserta istrinya." Jelasnya menambah keyakinan.


"Kerja bagus. Sekarang pergilah biar sisanya aku yang urus." Setelah mendapatkan titah tersebut pria tadi pun meninggalkannya sendirian.


Pria berumur itu memandangi bangunan sederhana di depannya. Dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri ia tidak menyangka sang tuan memilih tempat itu untuk melarikan diri.


"Ternyata tuan sangat mencintai nona muda." Bisiknya dalam keheningan.


...🌦️KECINTAAN🌦️...