
...
...
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Masih musim salju yang dingin menemani jalan cerita bagi dua insan terpisah jarak dan waktu. Hanya harapan melambung tinggi pada Tuhan Yang Maha Esa. Berharap Sang Maha Pencipta mengembalikan Rania ke dalam pelukannya.
Wajah tampannya terlihat pucat, lingkaran hitam disekitar mata nampak jelas. Bibirnya berkali-kali mengucapkan satu nama. Rania. Hanya kata itu yang bisa diingatnya. Penyesalan berkali-kali menghantui. Namun, harapan masih enggan mendekat. Hanya do'a senjata yang dimilikinya, berharap takdir masih bisa mengembalikan sang istri ke sisinya.
Kerinduan memuncak kala raga tidak bisa merengkuh sosoknya. Hanya bisa memandang dalam potret tak bernyawa menyalurkan kekosongan.
Setetes air mata membasahi bingkai foto yang berada dalam genggaman. Sang CEO tengah merutuki kesendirian. Seharian ia tidak pernah keluar kamar dan hanya bisa berbaring tak berdaya di tempat tidur.
Jiwa yang lemah mengantarkan kepedihan pada raga membentuk delusi masa lalu. Kenangan saat-saat bersama berputar acak dalam ingatan. Memberikan efek kepedihan dalam mata menghasilkan keristal bening tak berkesudahan.
Hilang harap, hilang pula separuh nyawa. Cinta menyakitkan membelit keduanya mengantarkan kisah tak berujung.
"Rania." Lirihnya seraya mengusap lembut wajah tersenyum sang istri dalam figura.
Sang ibu yang hendak mengantarkan makan malam pun mematung di pintu masuk. Gyeong tidak kuasa menahan kesedihan kala menatap putranya terpuruk. Diusapnya cairan bening yang mengalir dipipinya dengan lembut.
"Kuatlah, nak. Allah tidak pernah salah memberikan ujian pada hamba-Nya." Bisiknya kemudian.
Sedangkan di kota yang berbeda, Rania tengah berjuang sekuat tenaga. Peluh bercucuran didahi lebarnya. Giginya saling gemeretak menahan sakit. Tidak ada sang suami yang mendampingi hanya dirinya seorang berusaha sekuat tenaga melahirkan sang buah hati.
Beberapa saat kemudian suara tangis bayi berdengung dalam ruangan bersalin tersebut. Semua petugas medis bersuka cita dan mengucap rasa syukur. Begitu pula dengan Rania, saat tubuh lemah nan mungil malaikat kecilnya ditangkupkan didada, tangisan tidak bisa dibendung. Kedua tangannya pun otomatis merengkuhnya hangat.
Lega sudah kini sang anak telah lahir ke dunia.
"Sayang, anak mamah. Putri cantik eomma." Bisik Rania dengan suara gemetar. Tangan kanannya mengelus punggung rapuh putrinya pelan.
"Ya Allah terima kasih atas karunia indah yang telah Engkau berikan. Kebahagiaan ini tidak sebanding dengan luka yang ku terima. MasyaAllah, terima kasih sayang sudah hadir dalam hidup mamah." Monolognya dalam diam.
Di luar ruangan Kim Seok Jin tidak kuasa membendung air mata kebahagiaan ketika mendengar tangisan bayi. Senyum keharuan pun mengembang kala dokter yang menenangani Rania keluar.
"Bagaimana keadaan ibu dan bayinya, dok?" tanyanya antusias.
"Mereka berdua baik-baik saja. Istri Anda melahirkan putri yang sangat cantik." Jelas dokter wanita itu. Seketika Seok Jin menegang di tempat. Ia pun menggelengkan kepalanya cepat. "Ani. Dia bukan istri saya, tapi seorang adik."
"Ahh, Joesonghamnida. Saya benar-benar tidak tahu. Ani, tunggu. Bukankah Anda Dokter Kim? Apa yang Anda lakukan di sini?" dokter kandungan itu pun sadar siapa pria di hadapannya.
Seok Jin menghela napas seraya memutar bola matanya. "Ne, saya dokter Kim. Dan sedang menununggu adik saya bersalin." Jelasnya dua kali.
"Hahahaha Joesonghamnida. Owh, Anda benar-benar seorang paman yang beruntung. Adik Anda melahirkan bayi yang sangat cantik. Sebentar lagi ibu dan bayinya akan di pindahkan ke ruang inap. Kalau begitu saya permisi, mari dokter Kim." Seulas senyum letih pun terpendar diwajah cantiknya. Seok Jin mengangguk mempersilakan.
Ia termenung seraya memandang sosok sang dokter. Wajahnya terlihat datar. Entalah apa yang tengah ada dalam pikirannya saat ini. Hingga,
"Yah, betapa beruntungnya kamu Park Jim-in mendapatkan wanita sebaik Rania dan dianugrahi putri yang cantik. Hah~ kenapa harus disia-siakan? Aku tidak mengerti dengan cara berpikirnya. Posesif dan obsesinya hanya mengantarkan ia pada kepedihannya sendiri." Ocehnya kemudian.
...🌦️🌦️🌦️...
Dua bulan terlewati begitu cepat. Keadaan dalam diri Park Jim-in masih sama. Kosong dan hampa tanpa kehadiran wanita yang dicintainya. Ia juga berusaha menjalani hidup sebaik-baiknya sebagai pemimpin perusahaan. Sudah lama ia terpuruk dan menimbulkan penurunan saham. Keberadaan sang ibu dan orang-orang terdekat, setidaknya sedikit mengobati luka hati.
Namun, masih saja rasa bersalah tersimpan apik dalam dirinya.
"Baiklah putra eomma terlihat tampan sekali. Hari ini kamu akan kembali ke perusahaan. Tunjukan pada mereka jika Park Jim-in masih bisa bertahan." Ujar Gyeong setelah memasangkan dasi dikemeja sang putra lalu mengusap kedua bahunya lembut.
Melihat lengkungan bulan sabit diwajah ibunya, Jim-in pun sedikit menarik sudut bibirnya. "Gomawo, eomma. Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Setelah menyalami tangan sang ibu pria itu pun pergi dari sana.
"Aku harap akan ada kebaikan." Lirih Gyeong.
Mobil mercedees hitamnya membelah jalanan. Ia tidak menunggangi kuda besinya seorang diri, ada Sang Oh yang kini menjadi supir pribadinya. Setelah kepergian Rania ia tidak sanggup melakukannya sendirian. Bak raga tanpa nyawa. Ia hanya menjalankan tugas sebisanya.
"Hah~" ia menghela napas lelah saat tiba di ruangan. Kursi kebesarannya kini telah terisi kembali.
Baru saja ia hendak melakukan tugas pertamanya, kedangan sang sekertarik Lee Nam Joon menghentikannya.
"Maaf Tuan, ada yang ingin bertemu." Jelasnya.
"Siapa? Aku tidak punya waktu untuk menerima orang lain sekarang." Dinginnya tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen.
"Beliau bukan orang asing, tuan." Mendengar hal tersebut Jim-in pun mendongak. "Kalau begitu persilakan dia masuk."
Nam Joon mengangguk sekilas lalu pergi dari sana. Tidak lama berselang sosok tegap berjas abu pun menyembul masuk ke dalam. Senyum yang bertengger diwajahnya membuat Jim-in beranjak dari duduk.
"Seok....seok Jin hyung." Cicitnya tidak percaya kala melihat sosok yang beberapa bulan ini tidak terlihat.
"Annyeong. Aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat. Nah, aku membawakan sesuatu." Ujarnya seraya meletakan paper bag dimeja. "Silakan dinikmati. Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu Seok Jin pun benar-benar menghilang dalam pandangan.
Seketika bola matanya bergulir melihat benda yang ditinggalkan dokter tersebut. Kedua tangan menggapainya lalu membukanya. Jim-in mengerutkan dahi kala melihat kue bolu di sana. Ia pun mengeluarkannya dan secarik kertas pun jatuh.
"Aku tahu masih ada sesuatu di antara kalian yang harus diselesaikan." Itulah pesan yang tertuang di sana.
Netranya kembali menatap pada box makanan tersebut.
Degg!!
Seketika jantungnya bertalu kencang kala melihat tulisan di atasnya. "Kue Bolu Harsha."
Jim-in pun meraih laptopnya dan bergegas membuka situs dengan nama kue bolu harsha. Dengan degup yang masih bertalu irisnya melebar secara perlahan. Hanya satu tempat yang menunjukan asal usul makanan manis tersebut.
Dengan napas memburu, Jim-in keluar dari ruangan. Akhirnya setitik harapan berhasil didapatkan. Ia pun membawanya untuk menjemput sang belahan jiwa.
"Tuan?" Sang Oh terkejut melihat kedatangan Tuan Mudanya di tempat parkir.
"Berikan kuncinya." Ujar Jim-in sambil mengulurkan sebelah tangan. "Palli." Lanjutnya membuat Sang Oh buru-buru menyerahkan kunci mobil dan berjalan mundur dari kendaraan mewah tersebut.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Jim-in langsung menancap gas meninggalkan pria paruh baya itu. "Kenapa dengan, tuan?" herannya.
...🌦️🌦️🌦️...
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya, Jim-in pun tiba ditempat tujuan. Ia melihat dekorasi di pekarangan dan beberapa orang mulai membubarkan diri. Ia pun keluar dari mobil berjalan perlahan mendekati tempat itu.
"Ahh, jadi dia sedang meresmikan usahanya. MasyaAllah." Benaknya.
Semilir angin sore menyambutnya di sana. Suara lembut yang sudah lama tidak ia dengar berdengung menyapanya. Dengan binar kebahagiaan Jim-in berusaha mencari keberadaan sosoknya.
Seketika Jim-in berhenti melangkah saat irisnya menangkap wanita itu. Ia tengah menggendong seorang bayi. Gelak tawa terdengar dari ketiga orang di sana. Merasakan kehadiran seseorang wanita berhijab itu pun menoleh ke samping kanan. Saat itu juga tatapan mereka bertemu.
Senyum yang tadi mengembang lebar, redup seketika. Wajah datarnya terlihat membuat Jim-in tidak nyaman.
Entah apa yang dibicarakan wanita itu, tapi setelah menyerahkan bayinya ke wanita lain ia pun masuk ke dalam rumah. Sedikit kecewa Jim-in rasakan, kala kehadirannya tidak disambut antusias.
"Jim-in." Panggil pria itu.
"Seok Jin hyung, gomawo sudah memberikan petunjuk padaku." Jelasnya. Seok Jin hanya mengangguk sekilas.
Tidak lama kemudian sosok yang dicarinya kembali keluar. Kedua netranya mengunci satu sama lain, sampai wanita itu tepat berdiri di hadapannya.
"Ini." Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya seraya menjulurkan sebuah amplop.
Jim-in pun menerima lalu mengeluarkan isinya. Seketika mata kecilnya melebar dengan mulut menganga sempurna.
"Aku harap ini yang terbaik." Lanjut suara lembut nan dingin itu lagi. Ia pun berbalik meninggalkannya dengan kehampaan.
Surat itu bertuliskan...................
"SURAT GUGATAN PERCERAIAN."