
"Rasanya terlalu berat bukan jika melewati semuanya tanpa bergantung pada Allah? Memang tidak ada yang mudah untuk dilewati, tetapi yakinlah... apa pun yang terjadi, semuanya... menjadi rencana terbaik dari Allah untuk kita."
"Ucapkan selamat tinggal pada setiap luka yang pernah menetap. Katakan selamat datang pada kebahagiaan yang hendak menghampiri."
"Dingin terselimuti hujan memberikan embun menetap dalam mata. Varsha akan terus menghampiri sebagaimana napas masih berhembus."
"Tidak ada yang luput dari suatu musibah, jika memang itulah kenyataannya. Takdir tidak datang pada orang yang salah, ia menghampiri pada pemiliknya."
"Masa lalu memang tidak bisa dihempaskan begitu saja. Kesepian, sendiri, hening, dan kosong menjadi teman setia bagaimana kisah mendebarkan itu terajut."
"Hari ini akan menjadi cerita untuk esok hari, maka lakukanlah yang terbaik agar tercatat dalam buku kehidupan."
Sebait kata-kata manis berdengung menjadi satu dalam senja di atas cakrawala. Warna merah terang yang dihasilkan oleh sang raja siang menyambut memberikan lukisan begitu indah.
Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh para penikmat senja memberikan kebahagiaan tersendiri. Suasananya yang khas, rasa sepinya yang menjadi ciri datangnya waktu sore menyuguhkan kepuasan.
Di bawah langit jingga ungkapan hati tercetus cua, dua wanita berhijab berdiri berdampingan di depan gedung perkuliahan.
Beberapa saat lalu mereka mengikuti sidang untuk menentukan kelulusan. Ketegangan serta kelegaan masih tersimpan apik di wajah cantik nan ayu keduanya.
Tidak mereka bayangkan akan berjuang bersama sampai titik terakhir. Persahabatan yang terjalin secara tidak sengaja membuat hubungan keduanya semakin erat.
Semilir angin musim gugur menyapa memberikan kekuatan. Dinginnya sampai ke relung terdalam seraya menghapuskan pengap.
Rania dan Zahra, dua wanita tangguh pemilik kehidupan dengan kisah mendebarkan kini berdampingan bersama. Sebagai pemilik luka tercipta dari ganasnya dunia, mereka bisa mendapatkan kebaikan.
Tidak ada yang menginginkan berjalan di atas luka, tidak ada yang berharap melangkah di atas pecahan kaca, tetapi, itulah yang harus mereka lewati.
Cinta, orang tua, keluarga, pasangan, dulu hanya lewat begitu saja, tanpa menoleh pada mereka yang hanya dirundung duka.
Kisah klasik hanya tersimpan sebagai catatan masa lalu kelam.
Kaki hanya menapak serpihan kasih berduri tajam. Varsha selalu melingkupi cerita mereka dengan kesedihan.
Luka, luka, dan luka adalah teman setia yang memeluk keduanya erat.
"Em, kamu benar Rania. Melepaskan masa lalu dan membiarkan luka begitu saja memberikan harapan baru berdatangan."
"Melangkah ke arah yang sama dengan pemikiran berbeda, menyuguhkan lentera cinta itu bermunculan."
"Kegelapan yang semula mendominasi, seolah tidak ada mimpi menghadirkan cahayanya begitu terang. Tidak ada yang tahu bagaimana kisah kita dimulai, tetapi... kita bisa memberikan hasil dari segala luka yang pernah datang."
Zahra dan Rania berceloteh di sana mengingat kembali seperti apa masa lalu yang pernah menyapa. Hidup hanya mengandalkan diri sendiri terus menghadirkan perih.
Namun, di saat memasrahkan semuanya pada Allah maka masalah pelik seberat apa pun bisa dilewati begitu saja.
"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya ia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepadamu; barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (Q.S. At-Talaq: 4-5)
Perasaan itulah yang saat ini tengah menempati hati seorang Rania dan Zahra. Mereka senang mendapatkan kebaikan selepas perginya keperihan.
Keduanya bahkan tidak pernah bermimpi ataupun berharap bersanding dengan pria menawan seperti Park Jim-in maupun Kim Seok Jin.
Begitulah, jika rencana Allah sudah berjalan. Apa pun yang terjadi pada hidup, setidak mungkin bagaimanapun, setinggi langit yang sulit digapai, jika memang rencana Allah sudah memilihnya maka akan terjadi.
Maka teruslah berharap dan gantungkan mimpi-mimpi itu kepada Allah semata. Karena tidak ada yang berhak mengabulkan doa serta pengharapan selain Allah.
Dia tahu mana yang terbaik dan mana yang buruk. Takdir-Nya sungguh luar biasa bagi setiap hamba, meskipun terkadang harus dibungkus lebih dulu oleh luka dan air mata.
"Sekarang... buktinya begitu nyata aku rasakan. Allah membukakan mata hati Jim-in oppa, ibu mertuaku, serta memberikan putra-putri yang sangat cantik dan tampan."
"Nikmat dan rahmat-Nya tidak bisa dibandingkan dengan apa pun."
Kepala berhijab Rania mendongak memandangi langit senja dengan awan putih masih berarak. Setetes kristal bening jatuh dari kedua sudut matanya.
Zahra melirik sekilas, lengkungan bulan sabit tercipta begitu indah di bibir ranumnya. Ia bisa merasakan apa yang saat ini tengah Rania rasakan.
"Iya, aku tahu bagaimana rasanya. Dia... Allah-" Ia juga ikut menengadah menyaksikan langit indah sore itu. "Sangat baik dalam mengatur setiap permasalahan yang menimpa."
"Aku... berasal dari keluarga broken home. Orang tuaku berpisah tanpa memberitahu kami dan... meninggalkan kami begitu saja."
"Semua beban berada di pundakku. Sebagai seorang kakak tertua, aku mempunyai kewajiban besar untuk menanggung kehidupan ketiga adikku."
"Em, sekarang aku sadar, jika bukan karena Allah yang memberikan pundak yang kuat... aku mungkin, tidak akan bisa bertahan sampai sejauh ini."
"Allah juga memberikan rezeki yang cukup untuk kami. Selagai mau berusaha diiringi doa dan ikhtiar, maka tidak ada yang tidak mungkin."
"Allah juga menyadarkan kedua orang tuaku dan menghadirkan Kim Seok Jin, sebagai pasangan hidup."
Zahra menghela napas lega dan kembali tersenyum lebar.
"Kejutannya sungguh luar biasa, aku tidak pernah bermimpi menikah dengan seorang dokter. Bisa membahagiakan Laluna, Zaitun, dan Adam saja sudah sangat cukup bagiku."
"Namun, rencana Allah sungguh luar biasa," celotehnya mengungkapkan perasaan terdalam.
Rania yang menyaksikan kelegaan serta keharuan dalam bola mata bulannya ikut mengembangkan senyum.
Ia mengerti perasaan menggebu-gebu dari sahabatnya ini. Tangan kirinya pun terulur menggenggam hangat jari jemari sebelah kiri Zahra.
Sang empunya terkesiap dan langsung memandangi sahabatnya.
"Kamu sudah berusaha keras sejauh ini, maka... jalani saja kebahagiaan yang telah Allah berikan. Karena kamu berhak mendapatkannya, selamat... kamu sudah berhasil melewati rintangan itu," bisik Rania, suaranya tersapu angin berhembus.
Zahra tidak bisa membendung air mata yang secepat kilat meluncur di kedua pipi. Ia tidak pernah memikirkan akan bertemu Rania dan bersahabat dekat dengannya lebih dari keluarga.
Seketika Zahra memeluk Rania erat seraya menangis hanyut terbawa perasaan.
"Terima kasih, Rania. Karena mu juga aku bisa bertahan, terima kasih selalu memberikan kata-kata terbaik. Aku senang bisa bertemu denganmu," ungkapnya jujur.
"Em, terima kasih juga sudah menyapaku lebih dulu waktu itu. Bertemu denganmu seperti melihat keluargaku sendiri. Sekali lagi terima kasih banyak."
Zahra mengangguk-anggukan kepala sebagai jawaban. Mereka saling berpelukan di bawah senja mengingat persahabatan yang sudah terlewati selama empat tahun.
Beberapa saat kemudian, kebersamaan mereka terusik oleh kedatangan dua pria tercinta. Mereka tersenyum senang melihat para suami berjalan mendekat seraya membawa karangan bunga.
"Kamu sudah berjuang sepenuh hati, selamat atas sidangnya," kata Jim-in menjulurkan bunga lili putih pada sang istri.
"Kamu hebat... kamu bisa menghadapinya dengan baik. Selamat atas sidangnya, Sayang." Giliran Seok Jin memberikan buket bunga mawar merah pada istrinya juga.
Rania dan Zahra menerima dengan senang seraya saling bergandengan tangan. Ucapan terima kasih pun berdengung dari keduanya membuat para suami ikut mengembangkan senyum senang.
Angin kembali datang menyapa kebersamaan mereka dengan dinginnya memeluk sanubari.