
Satu minggu berlalu, setelah artikel yang dibuat oleh Mi Kyong dan Ailee mencuat ke permukaan, sejak saat itu pula tidak ada balasan apa pun lagi dari Rania serta lainnya.
Kedua wanita itu sudah yakin jika merekalah pemenang sesungguhnya dari permainan. Mi Kyong dan Ailee tertawa senang mendapatkan dukungan dari banyak netizen.
Mereka meyakini jika Rania maupun Zahra sudah kalah dan menyerah. Seminggu ini tidak ada apa pun yang mengarah pada keduanya, sontak hal tersebut meyakinkan kakak beradik sepupu itu.
Kemenangan yang mereka pikir sudah dalam genggaman, dirayakan dengan datang lagi ke sebuah klub. Hingar bingar orang-orang yang terus berdatangan semakin memeriahkan keadaan.
Lampu disko besar menggantung di tengah-tengah makin semarak menyambut para penikmat dunia malam.
Minuman-minuman beralkohol bermacam jenis terus disuguhkan kepada pengunjung. Hentakkan dari DJ di atas panggung semakin menarik perhatian orang-orang untuk mendekat.
Bak semut mengerubungi gula, seperti itulah kemeriahan tercipta. Sebagian besar pengunjung meliuk-liukkan badan mereka mengikuti lantunan musik keras.
Mereka menikmati kehidupan kelam yang bersifat sementara dan lupa pada kenyataan. Di sana hanya ada kesenangan dan kesenangan yang melenakan.
Di tengah kemeriahan yang kian memuncak, Mi Kyong dan Ailee duduk di pojok ruangan. Di temani dengan minuman berwarna emas serta makanan ringan, keduanya nampak menikmati waktu.
Mereka heboh, berbaur dengan yang lain menikmati musik keras terus dimainkan.
Namun, tidak lama berselang seorang pria berjas abu tua berjalan sempoyongan. Ia duduk tidak jauh dari keberadaan dua wanita itu sambil menggenggam sebotol minuman.
Kepalanya terus menunduk dalam dengan wajah tertekuk lesu. Berkali-kali helaan napas berat terdengar menyakitkan, seolah tengah menghempaskan rasa pengap dalam dada.
Siluet itu pun terus menarik Mi Kyong yang menatap lurus padanya. Dahi tegasnya mengerut dalam dengan manik berlensa hitam legamnya menyipit. Ia seolah mengetahui siapa pria itu yang sekejap saja sudah menarik perhatian.
"Dia-"
"Yak! Apa yang kamu lakukan Park Jim-in? Apa kamu sudah tidak waras?"
Teriakan pria yang baru saja datang menghampirinya membulatkan pandangan Mi Kyong. Pertanyaannya dalam diam tadi terjawab sudah begitu saja.
"Jadi dia... benar-benar Park Jim-in? PARK JIM-IN!"
Entah sadar atau tidak Mi Kyong berteriak sambil beranjak dari duduk. Ailee yang sedang menari tidak jauh dari keberadaannya menoleh ke belakang dengan menautkan alis dalam.
Ia lalu berjalan menghampiri dan menepuk pundaknya sedikit kencang.
"Yak! Apa yang kamu lakukan? Kamu gila yah? Kenapa meneriaki nama itu di tempat ini? Kamu tahu dia-"
Secepat kilat Mi Kyong menggerakkan kepala sang adik sepupu ke sebelah samping kanan, lalu berbisik, "Aku tidak gila. Mereka benar-benar ada di sini," jelasnya.
Sontak penjelasan itu pun membuat Ailee melebarkan pandangan. Bola matanya menangkap langsung dua sosok tengah duduk berdampingan di sana.
Ia kembali pada Mi Kyong menuntut penjelasan.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa mereka ada di sini? Apa ini bukan mimpi?"
Mi Kyong melayangkan pukulan di puncak kepala Ailee membuat sang empunya mengaduh pelan.
"Sakit tahu."
"Jadi, ini bukan mimpi Ailee, tapi benar-benar nyata. Sini ikut aku." Mi Kyong menarik pergelangan tangannya untuk mendekat ke tempat dua pria itu berada.
Diam-diam Mi Kyong dan Ailee duduk di belakang mereka dan mendengarkan apa yang sedang keduanya bicarakan.
Tanpa kakak beradik sepupu itu sadari, sedari awal Jim-in dan Seok Jin sudah memperhatikan gerak-gerik mereka.
Diam-diam keduanya tersenyum senang bisa selancar itu menjalankan aksinya.
"Yak! Aku tanya sekali lagi... apa kamu gila? Kenapa kamu mabuk seperti ini? Apa kamu tidak memikirkan Rania dan kedua anak kalian? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Seok Jin berpura-pura murka.
"Mau bagaimana lagi Hyung? Rumah tanggaku berantakan, semua ini akibat... akibat berita yang terus berdatangan," jawab Jim-in dengan suara parau terdengar seperti orang mabuk.
"Ah, benar-benar senjata makan tuan," benak Mi Kyong yang terus mendengarkan mereka.
Seok Jin pun menghela napas kasar masih memperhatikan sang adik.
"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keadaan. Kamu tahu... pernikahanku yang baru seumur jagung juga, sudah mendapatkan masalah seberat ini. Bagaimana nasibnya nanti? Zahra bahkan... tidak percaya padaku lagi," racau Seok Jin terlihat meyakinkan.
Wanita itu beranjak dari duduk mengitari kursi yang saling membelakangi hingga tepat berdiri di depan keduanya.
Ailee yang melihat itu pun ikut beranjak dan berdiri di sana.
"Kalian." Panggilnya menarik atensi Jim-in dan Seok Jin.
Mereka mendongak bertatapan langsung dengan wanita berambut panjang sepinggang menggunakan dress ketat membentuk lekuk tubuhnya.
"Mi Kyong?" kata Seok Jin kemudian, sedangkan Jim-in melengkungkan bulan sabit sempurna memandangi sahabat masa kecilnya.
"Ah, Song Mi Kyong? Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya lirih.
Mi Kyong bersimpuh di hadapan Jim-in mencari sepasang manik cokelat susunya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu sampai berakhir seperti ini?" tanyanya berpura-pura.
Jim-in kembali mengatakan apa yang sudah diucapkan beberapa saat lalu. Mi Kyong termenung menyelami penjelasan sang sahabat.
Rasa iba kian menarik diri untuk berbuat sesuatu pada pria yang dicintainya.
"Apa ada yang bisa aku lakukan? Aku ingin melepas kesedihanmu oleh istri tidak tahu malu mu itu!" geramnya mengepal kedua tangan.
"Kamu akan melakukan apa pun untukku?" tanya balik Jim-in.
Tanpa gentar Mi Kyong mengiyakan begitu saja. "Apa pun."
"Baiklah kalau begitu, bisa kamu-"
"Yak! Apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu meminta dia untuk-"
"Shut! Hyung tidak boleh ikut campur," potong Jim-in sembari meletakkan jari telunjuk di depan bibir.
"Lebih baik Seok Jin Oppa di sini saja, bersamaku." Ailee datang mencengkram lengan kekar sang dokter.
"Tidak bisa, aku-"
"Ah, bagaimana kalau kita pergi bersama? Bukankah ini akan sangat menyenangkan?" potong Jim-in lagi.
Mi Kyon dan Ailee saling pandang mengerti kondisi Jim-in yang tengah dipengaruhi alkohol. Baunya bahkan menyengat menelisik ke indera penciuman mereka.
Keduanya tidak tahu berapa banyak pria itu menegak minuman tersebut, tetapi faktanya hanyalah dusta semata.
"Ide yang bagus. Kita bisa melakukannya bersama," kata Ailee setuju dan menyeret Seok Jin ikut bersama mereka.
Di lantai dua, ketiga wanita itu sedari tadi mengawasinya dalam diam. Mereka menatap tablet di atas meja melihat pergerakan keempat orang di lantai bawah.
Mereka tidak percaya melihat Mi Kyong dan Ailee begitu gembira menyaksikan pria tercintanya ada di sana. Tanpa malu, keduanya juga menyeret Jim-in dan Seok Jin menjauh dari sana.
"Lihat itu! Kedua wanita itu benar-benar gatal. Bagaimana bisa membawa dua pria menikah begitu saja? Oh sungguh aku tidak-"
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Perkataan Hana terputus saat suara berat di belakang mereka mengejutkan. Ketiganya dengan kompak berbalik ke belakang dan mendapati seorang pria berpakaian kasual memandanginya heran.
Rania turun dari kursi tunggal dan berjalan mendekat.
"Kim Won Shik. Senang bertemu Anda di sini." Rania melipat tangan di depan dada dengan melebarkan senyum ramah.
Kim Won Shik, pria itu menatap lekat mencari sesuatu di sepasang jelaga di depannya ini.
"Rania?" Panggilnya heran. Samar-samar ia mengingat wanita itu sebagai istri dari teman klub memanahnya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kenapa-"
"Lee Ba Ram, kamu tahu wanita ini, kan? Jadi, bisakah kita bekerja sama?" pinta Rania membuat Won Shik melebarkan mata tidak percaya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya pria itu takut-takut.
Namun, Rania hanya tersenyum lebar penuh makna mengundang rasa penasaran yang kian kuat.