VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 19



Selepas menikmati makan malam bersama, Rania menepikan diri di ruang keluarga.


Sedari tadi ia terus menggendong Jauhar yang kini sudah terlelap nyaman.


Dalam diam, Rania memandangi wajah polos sang buah hati. Perasaannya begitu menggelora kala teringat jika anak berusia tiga tahun ini adalah putra bungsunya.


Hatinya berdesir hangat pada saat mendengar anak itu memanggilnya ibu.


Ia yang mengandungnya selama sembilan bulan, melahirkannya dengan menaruhkan nyawa, dan menyapihnya sembilan tahun, tetapi kenangan mengharukan itu bagaikan ilusi yang berada dalam mimpi semata.


Ingatan tentang hari-hari mendebarkan tersebut tidak pernah ada dalam ingatannya kini.


Layaknya imajinasi tak bertepi, keinginan untuk membangun keluarga bersama sang tuan muda hanya harapan semu saja, tetapi pada kenyataannya ia sudah mendapatkan hal tersebut.


"Tampan sekali, perpaduan Rania dan tuan muda Park Jim-in memang tidak main-main," ucap sang sahabat yang berjalan mendekat lalu duduk di depan.


Rania mendongak mendapati Zahra tengah mengembangkan senyum manis.


"Benarkah? Benarkah wajahnya mirip aku dan tuan muda?" tanya Rania ingin memastikan.


"Tentu saja, bahkan Akila lebih mirip denganmu Rania," kata Zahra lagi.


Rania bungkam beberapa saat memikirkan perkataan Zahra. Ia juga teringat akan surat DNA yang menjelaskan jika kedua anak itu adalah benar buah hatinya bersama Jim-in.


"Iya benar mereka memang buah hatiku," ujarnya lagi mengusap puncak kepala Jauhar.


"Kamu jangan khawatir, Rania. Meskipun sekarang kamu tidak ingat tentang mereka, bahkan pernikahan kalian, tetapi yakinlah jika perasaan tuan muda tidak pernah berubah."


"Aku bisa melihat jika dia sangat mencintaimu. Aku memang tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan masa lalu kalian, tetapi harus kamu tahu kalau... masa depan tidak semenakutkan itu dan bisa berubah. Bukankah Allah yang sudah merencanakan semuanya? Termasuk keadaan kamu sekarang," celoteh Zahra membuat Rania mengangguk-anggukan kepala.


Ia menyadari jika dirinya saat ini berada dalam ingatan masa lalu. Ia melupakan kebaikan yang telah terlewat bersama Park Jim-in.


"Iya kamu benar, mungkin ini cara Allah menegur kita untuk terus bersyukur pada keadaan apa pun." Rania menghentikan ucapannya beberapa saat dan kembali melanjutkan.


Manik beriris cokelat beningnya memandang lurus ke depan. Di mana di sana ada perapian yang kerap kali mereka gunakan pada saat musim dingin tiba.


"Dalam ingatanku tuan muda itu sangat arogan, dia bersikap sesuka hati dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Ia sangat egois tidak peduli apa orang lain terluka atau tidak."


"Pengkhianatan terjadi memberikan luka lara tiada henti, varsha terus menerus mengalir memberikan awan kelam menetap dalam mata. Aku-"


"Tetapi setelahnya harsha datang, bukan?" Zahra memotong ucapannya cepat.


Rania kembali menoleh memberikan tanda tanya pada Zahra, seolah berkata darimana kamu tahu?


Menyadari tatapan itu wanita di hadapannya pun terkekeh pelan.


"Aku juga pernah mengalaminya, Rania. Varsha, artinya hujan bukan? Aku mengagumi kata itu sebagai gambaran kehidupanku. Varsha mengantarkan hujan air mata yang tak kunjung usai."


"Namun, di balik itu semua Allah menghadirkan harsha sebagai bentuk kesabaran," racau Zahra yang membuat Rania terpaku.


"Apa yang-" Rania tidak kuasa melanjutkan ucapannya saat melihat linangan air mata di wajah cantik Zahra.


"Ternyata aku tidak sekuat itu, Rania." Ia pun menangis mengingat masa lalu penuh lika liku.


Rania bangkit dan menghampiri sang sahabat mengusap punggungnya berkali-kali.


"Meskipun kita baru saja bertemu, tetapi aku yakin apa pun yang terjadi kamu bisa melewatinya," kata Rania menguatkan dan merangkulnya hangat.


Zahra mengangguk seraya membalas pelukannya.


Di atas balkon lantai dua, Jim-in dan Seok Jin tengah berbincang-bincang bersama.


Semilir angin berhembus menemani keduanya. Udara cukup dingin menusuk kulit menyapukan perasaan gamang.


"Bagaimana keadaan Rania paska operasi?" tanya Seok Jin memastikan.


Seok Jin mengangguk seraya mengucap syukur.


Hening kembali menyambut, hanya suara angin yang saling bergesekan dengan dedaunan sebagai backsound.


Dua pria yang terpaut usia empat tahun itu saling bungkam sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sampai pertanyaan yang keluar dari mulut sang dokter pun mengejutkan.


"Menurutmu seperti apa kepribadian seseorang yang menyembunyikan kesedihannya dalam diam?" tanyanya kemudian.


Jim-in terpaku, ini pertama kali Seok Jin memberikan pertanyaan seperti itu.


Namun, sedetik kemudian kedua sudut bibirnya melengkung sempurna.


"Apa Hyung sedang membicarakan seorang wanita?" tanya balik Jim-in yang seketika membuat Seok Jin melebar.


"A-apa yang kamu tanyakan?"


Pria itu tertawa pelan lalu meremas besi pembatas kuat.


"Aku senang jika ini memang tentang seorang wanita. Karena selama ini aku tidak pernah tahu Hyung menyukai seseorang. Apa ini waktunya aku akan mendapatkan seorang keponakan?" racau Jim-in dengan pemikiran dangkalnya.


Seok Jin pun langsung menepuk pelan bahu sang adik.


"Jawab saja pertanyaan ku yang tadi," ujarnya menahan malu.


Jim-in kembali terkekeh pelan lalu mengikuti tatapan dokter tampan di sebelahnya.


"Menurutku orang itu pasti sangat kuat, maksudnya dia berhasil menyembunyikan perasaan sebenarnya... karena tidak ingin orang lain bersimpati padanya, dan yang lebih jelas... orang seperti itu sangat membutuhkan seseorang di sampingnya, sekuat apa pun itu. Hyung mengerti maksudku?" tanya Jim-in setelahnya.


Seok Jin termenung sekilas lalu mengangguk singkat.


"Kamu benar, sekuat apa pun seseorang menyimpan perasaan sebenarnya, tetap saja membutuhkan pundak orang lain untuk berbagi suka dan duka," lanjutnya, Jim-in pun mengiyakan.


"Jadi, orang yang Hyung maksud ini adalah-" Jim-in sengaja menjeda ucapannya seraya menoleh ke samping.


Seok Jin yang menyadari hal itu pun membalas tatapannya dengan mengerenyitkan dahi.


"Zahra, bukan?" lanjut sang pengusaha sembari tersenyum penuh makna.


Seok Jin melebarkan pandangan lagi dengan degup jantung bertalu kencang.


Ia langsung menghindarinya berusaha mentralkan desiran aneh dalam diri.


"Tidak ada salahnya jatuh cinta, Hyung, tetapi... kita harus menanggapinya dengan baik, jangan sampai perasaan itu mengalahkan kita. Karena perasaan bisa sebagai ujian yang Allah berikan, apa kita lebih mencintai-Nya atau ciptaan-Nya." Jim-in kembali meracau membuat Seok Jin termenung.


Ia tidak pernah menduga mendapatkan perasaan yang selama ini sudah lama terkubur.


Bertahun-tahun lamanya ia tidak mendapatkan rasa itu. Terakhir kali, terjadi memberikan kenangan tidak menyenangkan.


Wanita yang mati-matian ia perjuangkan malah mengkhianati. Dia pergi bersama pria lain tanpa memikirkan perasaan Kim Seok Jin.


Sampai dokter tampan itu menutup hati pada setiap wanita yang memberikan rasa lebih padanya.


Namun, setelah sekian tahun berlalu ada juga wanita yang menarik perhatian.


Wanita itu jauh dari bayangan yang berhasil membuatnya terkesima.


"Apa benar aku sudah jatuh hati padanya? Sejak kapan?" benaknya gelisah memandang ke arah langit malam yang masih enggan mengeluarkan keindahannya.


Jim-in yang sedari tadi memperhatikannya pun hanya mengulas senyum manis.