VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 16



"Apa kamu sudah mendapatkan surat tes DNA-nya?" tanya Jim-in sembari menyuapi sang istri semangkuk bubur.


Raina mengangguk pelan lalu menunduk melihat kertas itu masih berada dalam genggaman. Di sana terpampang nyata jika Akila dan Jauhar memiliki 99,99% DNA sama dengannya.


Hal tersebut menunjukan kedua anak itu adalah benar-benar buah hatinya. Namun, Rania tidak ingat pernah melahirkan seorang anak.


Sebagai seorang ibu dari dua orang anak, Rania merasa bersalah saat tidak mengenali putra-putrinya. Hanya ada getaran di dalam hati yang menolak ucapan diri sendiri mengenai mereka anak dari wanita lain.


"Kapan saya melahirkan mereka?" tanya Rania penasaran.


"Siang nanti kamu sudah diperbolehkan pulang, sesampainya di rumah aku akan menjelaskan semuanya," kata Jim-in menyodorkan segelas air putih.


Rania menerima dan meneguknya pelan tanpa sekalipun mengindahkan perhatian dari selembar kertas tersebut.


Seperti yang telah dijadwalkan di awal, siang ini Rania resmi dipulangkan ke rumah.


Saat ini mereka sedang berada di perjalanan menuju mansion Park berada. Sepanjang jalan Rania terus memperhatikan pemandangan yang terlewat.


Ia membuka jendela mobil yang seketika membuat udara musim semi menyapu wajah cantiknya. Manik jelaga itu menutup menikmati setiap hembusan yang menyapa.


Jim-in yang sedari tadi memperhatikan mengulas senyum hangat. Ia senang sang istri sudah tidak terlalu dingin padanya.


Selang tiga puluh menit kemudian mereka pun tiba. Dengan cekatan Jim-in membantu Rania keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam.


"Tuan tidak usah repot-repot membantu saya. Saya hanya mengalami luka di kepala bukan lumpuh," kata Rania di setiap langkahnya.


Jim-in terkekeh pelan sembari merangkul bahu dan menggenggam sebelah tangannya tanpa mengatakan apa pun.


Sampai mereka tiba di kamar pribadi, nuansa yang sudah tidak asing itu kembali menyambut kedatangan membuat Rania terpaku.


Ia berhenti diambang pintu memindai setiap detail yang ada. Hingga perhatiannya kembali fokus pada figura besar samping meja rias.


Jim-in yang lebih dulu masuk menyadari jika sang istri tidak mengikutinya pun kembali berbalik. Ia tersenyum melihat wajah penasaran sekaligus heran di sana.


"Foto itu sudah dipasang sejak delapan tahun lalu dan usia pernikahan kita sekarang sudah sembilan tahun. Jadi, banyak waktu yang kita habiskan bersama," ungkap Jim-in mengalihkan atensi sang terkasih.


Bola mata bening cokelat susu itu bergulir memandangi sang suami yang tengah menatapnya hangat.


Kedua sudut bibir yang melengkung sempurna itu bak mengandung makna mengisyaratkan ketulusan.


Rania terpaku, mendapati getaran lewat sorot matanya.


Jim-in yang menyadari diamnya sang istri pun kembali menarik diri.


"Di kamar ini juga kita memiliki kenangan bersama. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, apa kamu ingat?" tanyanya berjalan mendekat.


Ia menggenggam kedua tangan sang istri hangat membuat Rania terpaku membalas pandangannya.


"Meskipun sekarang kamu tidak ingat, tapi aku ingin mengatakan jika... kita memiliki perasaan yang sama. Kamu bisa merasakannya sendiri nanti," ungkap Jim-in lagi.


Rania hanya bisa diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Kalau begitu ayo kita masuk," ajaknya menarik pelan tangan sang terkasih.


Rania mengikutinya masih dalam diam memandangi ruangan yang dulu juga sempat menjadi jalan cerita mengandung luka.


"Kamu duduk dulu di sini yah, Sayang," kata Jim-in mendudukkan Rania di atas ranjang.


Ia lalu berjalan ke arah nakas samping tempat tidur, bersimpuh di depannya dan menarik salah satu laci dari sana.


Ia pun mengeluarkan album foto menjadi saksi bisu beberapa tahun sudah berlalu.


Jim-in naik ke atas tempat tidur duduk tepat di samping Rania.


"Ini adalah album foto di saat kamu mengandung Akila sampai Jauhar," jelasnya kemudian.


Tangan rampingnya membuka album tersebut yang langsung memperingatkan beberapa foto di dalamnya.


Rania memandangi sang suami yang terus berceloteh riang menceritakan segala sesuatu tentang dirinya.


"Benarkah aku pernah mengandung dan melahirkan? Bahkan dua kali? Ya Allah, kenapa aku tidak ingat tentang anakku sendiri? Bahkan... kita sudah saling mencintai? Benarkah?" racau Rania dalam benak.


"Kamu sekarang sudah tahu kan, Sayang? Akila dan Jauhar adalah anak kita berdua, bukan dari wanita lain," ucap Jim-in kembali menggenggam kedua tangannya hangat.


Sedetik kemudian ia menangkup sebelah pipi Rania dan mengusapnya pelan.


"Aku, sangat mencintaimu, Sayang. Aku tidak pernah berbohong akan perasaanku sendiri. Kamu yang sudah menyadarkan ku apa artinya sebuah kesetiaan dan ketulusan."


"Darimu aku belajar mencintai dengan tulus. Terima kasih sudah sabar mencintai pria sepertiku... sampai pada akhirnya aku bisa mendapatkan wanita mulia dan baik sepertimu, Sayang," jelas Jim-in mengutarakan perasaan tulusnya.


Rania seketika terkesima, terpaku, dan terdiam mendengar setiap untaian kata tercetus dari bibir yang kadang kala memberikan ucapan menyakitkan.


Tanpa sadar air mata menetes tak tertahankan.


Rania menangis seraya menunduk dalam menyembunyikan keharuan.


"Aku... tidak tahu," katanya lirih.


Jim-in mengulas senyum lembut lagi dan merengkuh istrinya.


Kedua tangannya mengusap punggung sang pujaan menyalurkan kekuatan serta perlindungan.


"Meskipun sekarang kamu tidak ingat, tetapi perasaan kita tetap sama. Kamu bisa merasakannya, bukan? Jika aku sangat mencintaimu, dan... kamu adalah ibu dari anak-anakku, Sayang," katanya lagi.


Entah sadar atau tidak, Rania membalas pelukan suaminya erat dengan mencengkram kemeja putih di belakang punggungnya kuat.


Ia terisak tidak kuasa menahan tangis yang kian menggebu.


...***...


"Apa Seok Jin seonsengnim pernah mengasuh seorang anak?" tanya Zahra yang masih mengikuti acara pertemuan orang tua siswa di sekolah Akila.


Seok Jin yang berdiri di sampingnya menoleh singkat dan kembali pada Akila yang masih mengikuti pelajaran.


"Em... aku belum pernah," jawabnya jujur.


Zahra tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu seonsengnim mengajak orang yang tepat," balasnya lagi.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Saya memiliki tiga orang adik dan dari dulu mereka saya yang mengurusinya, jadi... Anda tidak usah khawatir tentang Akila," jelasnya bangga.


Seok Jin menganggukan kepala beberapa kali mengeri.


"Begitukah, kalau begitu aku mengajak orang yang sangat tepat," ucap Seok Jin yang semakin membuat Zahra tersenyum lebar.


Hening di antara mereka pun kembali menyambut. Keduanya memandangi satu titik di mana Akila sedari tadi terus menundukkan kepala dalam.


Zahra dan Seok Jin saling menoleh seakan paham akan situasi yang terjadi.


Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab keadaan orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Bagaimanapun juga tugas kita sekarang adalah menenangkan hatinya," bisik Zahra lagi.


"Aku beruntung bisa bertemu denganmu, Zahra. Terima kasih sudah mau pergi bersamaku," balas Seok Jin membuat Zahra terpaku.


Wanita yang hendak berprofesi sebagai perawat itu pun melebarkan pandangan dengan degup jantung bertalu kencang.


"Ini pertama kalinya ada seseorang yang berkata beruntung bisa bertemu denganku," benaknya haru.