VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 101



"MAMAH! APPA! Apa yang sedang kalian lakukan?"


Teriakan nyaring sang putri pertama membangunkan keduanya. Jim-in dan Rania sadar lalu melepaskan diri masing-masing.


Keduanya memandang ke ambang pintu menyaksikan Akila tengah melihat mereka lekat dengan bibir mengerucut.


Bola mata hitam legamnya bergulir menatap ayah dan ibu bergantian. Gadis berusia hampir sepuluh tahun itu melipat tangan di depan dada.


Akila menghela napas kasar dan memutar bola mata jengah. Ia tidak pernah tahu jika beberapa menit yang dirinya tunggu memberikan kesempatan pada orang tuanya untuk saling mencumbu.


"Mau sampai kapan Mamah dan Appa melakukannya, eoh? Aku dan Jauhar sudah kesal menunggu kalian sedari tadi!" celoteh Akila.


Rania dan Jim-in saling pandang kemudian melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


"Astaghfirullah, kita akan terlambat."


Rania maupun Jim-in menyambar segala keperluan yang mereka butuhkan. Kesibukan orang tuanya di dalam kamar membuat Akila mengembangkan senyum.


"Setidaknya keluargaku sudah kembali," bisik nya masih menonton aksi ayah dan ibu dalam diam.


Beberapa saat kemudian, Rania tiba di rumah sakit. Selepas memarkirkan mobil ia berlarian masuk ke dalam untuk melaksanakan tugas pertamanya sebagai perawat.


Orang-orang hilir mudik menyapanya bergantian, Rania hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Ia tidak ingin terlambat di hari pertama kerja.


Namun, keinginan itu hanya angan-angan semata. Sesampainya di sana, Rania sudah terlambat lima belas menit.


Han Bada, perawat senior melipat tangan di depan dada dan memandanginya lekat saat Rania sampai di ruangan.


"Kamu tahu? Apa kesalahanmu hari ini?" tanyanya langsung.


Rania yang masih berusaha mengatur napas manggut-manggut mengerti.


"Joesonghamnida. Saya benar-benar minta maaf. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, tadi... tadi saya habis mengantarkan anak-anak saya ke sekolah," balas Rania meminta maaf sebisanya serta mengutarakan alasan.


Bada menghela napas kasar dan memudarkan lipatan tangan.


"Karena selama kamu magang di sini kinerja mu bagus... baiklah, hari ini saya tolerir. Jika sampai saya mendapati kamu terlambat lagi... kamu harus menanggung akibatnya, arraso?"


Dengan cepat Rania mengangguk mengerti.


"Baiklah, kalau begitu bersiap untuk bekerja!" titahnya lalu melangkahkan kaki dari hadapan Rania.


Wanita berhijab itu pun kembali menganggukkan kepala singkat. "Kamsahamnida," balasnya.


Ia menghela napas lega dan bergegas mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas pertamanya.


...***...


"Kondisi Anda sudah jauh lebih baik, sekarang istirahat agar bisa cepat sembuh," kata Rania pada salah satu pasien lansia di sana.


Pria tua itu mengembangkan senyum dan membaringkan diri lagi. Rania menyelimutinya sebatas dada dan kembali tersenyum ramah.


Setelah itu ia pun meninggalkan bangsal dan berjalan di lorong. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Di hari pertamanya, sedari tadi Rania terus melayani pasien dan berusaha memberikan pelayanan terbaik. Hasilnya setiap pasien yang menerima perawatannya memberikan respon positif.


"Aduh... bahuku," lirihnya memijit-mijit pelan bahu sebelah kanan.


"Rania!"


Seseorang memanggilnya dari arah belakang. Sang empunya nama pun berbalik mendapati sahabat seperjuangannya berlarian kecil mendekat.


"Zahra? Aku tidak tahu kalau kita satu shift," ucap Rania yang kini berjalan berdampingan dengan Zahra.


"Aku lupa menghubungimu dan... dari tadi aku terus bertugas di lantai atas. Kebetulan aku melihatmu sedang berjalan lunglai di sini. Kenapa apa kamu lelah?"


Rania menggelengkan kepala singkat membuat Zahra menautkan kedua alis. Mereka tengah berjalan menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.


Tidak lama berselang kantin nampak di pelupuk mata, Rania melajukan langkah kakinya dan mencapai salah satu meja di sana.


Seketika itu juga ia langsung menjatuhkan kepala di sana seraya bertumpu pada lengan sebelah kanan.


Zahra yang sedari tadi mengikutinya pun kembali mengerutkan alis menyaksikan kelakuan sang sahabat.


Belum sempat sepatah kata terlontar, dari arah belakang Rania, ia menyaksikan sang suami berjalan mendekat.


Tanpa Rania sadari dokter tampan terus melangkah hingga berdiri tepat di belakangnya. Tangan tegapnya terulur meletakkan sekaleng minuman dingin di pipi sang perawat.


Rania terkejut merasakan tekanan udara yang menyentuh permukaan kulit membuatnya tersadar. Ia terperanjat dan duduk tegak lalu menoleh ke belakang.


"O-Oppa?" Panggilnya terkejut.


Seok Jin terkekeh pelan meletakkan minuman tadi di atas meja tepat di hadapan Rania.


"Aku dengar kamu terlambat di hari pertama? Wae? Apa suamimu melakukan hal aneh di pagi hari?" tanya Seok Jin frontal seraya meletakkan nampan stainless berisi makan siang untuk sang istri.


Ia duduk di samping Zahra sembari masih memandangi Rania.


"Mwo? Kamu terlambat? Kenapa? Apa ini alasanmu sedari tadi nampak lesu?" Kini giliran Zahra bertanya.


Rania menghela napas dan menggenggam minuman kaleng itu erat.


"Tidak ada, hanya sedang menikmati hidup," jawabnya yang masih memberikan tanda tanya pada pasangan suami istri di sana.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti, jadi... benar? Jika tadi pagi suamimu melakukan hal-"


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Satu sosok lagi muncul dan meletakan nampan berisi makan siang juga untuk istrinya. Rania menoleh mendapati sang suami di sana.


"Kenapa? Kenapa Oppa ada di sini?" tanyanya heran.


"Aku ingin melihat istriku bekerja di hari pertamanya. Kamu terlihat kusut sekali, Sayang," ucap Jim-in mengusap puncak kepalanya penuh perhatian.


"Tadi, aku bertemu dengan Seok Jin Hyung di depan, dan dia mengajakku makan siang di sini. Siapa sangka jika kita bertemu secepat ini?" ucapnya menjelaskan.


Rania hanya beroh ria dan mengambil sumpit untuk menikmati makanan halalnya.


Seok Jin dan Zahra masih memandangi kedua orang itu bergantian. Rasa penasaran membuat mereka ingin terus menggoda mereka.


"Jangan katakan kalau kalian tadi pagi melakukan itu sampai kamu terlambat?" tanya Seok Jin lagi semakin gencar.


Seketika itu juga Rania tersedak nasinya sendiri dan buru-buru menyambar minuman yang diberikan sang dokter.


Ia pun kembali menatap tidak percaya pada Seok Jin yang tengah mengembangkan senyum penuh makna.


"Ti-tidak seperti itu... a-aku hanya terlambat habis mengantar Akila dan Jauhar ke sekolah. Karena pagi ini Jim-in Oppa ada rapat penting," jelasnya beralasan.


"Oh, benarkah? Yak, Rania... apa kamu pikir kita bersahabat baru kemarin sore? Aku bisa tahu apa yang terjadi pada kalian sebelum berangkat kerja," ucap Zahra mencondongkan badan ke depan memandangi sahabatnya lekat.


"M-mwo?" gugup Rania lagi.


Bibir ranum sang sahabat melebar sempurna, Rania semakin tidak karuan melihat tatapan penuh makna darinya.


"Bukankah kamu seperti ini juga saat sidang waktu itu? Kalian datang dengan bibir belepotan bekas lipstik, apa kamu pikir kita tidak tahu?" tanya Zahra dengan suara pelan dan teredam.


Rania terbelalak tidak percaya sahabat terdekatnya se-peka itu. Ia menoleh pada Jim-in yang nampak acuh tak acuh.


Ia lalu tertawa ragu menghindari tatapan Zahra. Menyaksikan reaksinya seperti itu, ia pun menarik kesimpulan jika memang sudah terjadi sesuatu di antara mereka.


"Baiklah-baiklah kami mengerti. Owh~ sungguh pasangan yang manis, benarkan Oppa?" Zahra melirik pada Seok Jin membuatnya mengangguk setuju.


"Itu benar, kami memang pasangan manis." Dengan penuh percaya diri Jim-in merangkul bahu Rania begitu saja.


Rania hanya bisa menundukkan pandangan tidak sanggup harus bertatapan dengan dua orang yang sudah dianggap sebagai keluarga di depannya.


Ini bukan pertama kali mereka ketahuan dan membuat Rania malu setengah mati.


Setelah itu mereka pun berbincang-bincang bersama dengan kehangatan kian melebur.