VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 37



Menangis pilu menjadi sebuah gambaran bagaimana luka hati begitu kuat.


Memori akan kesenangan kadang kala bisa terhapus begitu saja dengan adanya kesakitan.


Perjalanan rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus, terkadang bisa ditimpa kerikil kecil sampai badai besar menerjang kuat.


Jim-in tidak pernah menyadari jika selama pernikahannya bersama Rania yang sudah mereka jalani bertahun-tahun lamanya bisa mendapatkan hujan badai sangat kencang.


Ketika kedatangannya tiba siap tidak siap harus tetap diterjang. Karena semua itu telah menjadi rencana serta takdir Allah yang tidak bisa diubah.


Ia pun menyadari itu dan berupaya untuk menjalankannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mi Kyong duduk tepat di sebelah.


Jim-in yang tengah menyembunyikan wajah di telapak tangan tidak bergeming sedikitpun. Dadanya masih terasa sesak menyaksikan keadaan Rania tadi.


Rasanya seperti ditusuk duri berkali-kali, istri tercinta menolak keberadaannya mentah-mentah. Ini pertama kali ia menyaksikan Rania tidak ingin bersamanya. Jim-in tidak pernah menyangka akan mendapatkan hari mendebarkan seperti tadi.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukannya? Apa yang sudah merasuki mu Mi Kyong?" Jim-in sedikit meninggikan suara memandang pada sang sahabat.


Mi Kyong menyeringai pelan masih dengan menatap lekat padanya.


"Aku sengaja. Karena ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu bersama wanita lain lagi."


"Salahku, dulu membiarkan kamu berhubungan dengan Yuuna. Jika semuanya akan jadi seperti ini dan rasanya sakit sekali, dari dulu aku... akan menjadikanmu milikku," tegas Mi Kyong tanpa gentar sedikitpun.


Kata-kata tadi melebarkan manik kecil Jim-in. Ia tidak percaya mendengar serta melihat obsesi begitu kuat memancar dari sort mata Mi Kyong terhadapnya.


Bibir menawan itu menyeringai pelan seraya mengangguk-anggukan kepala.


"Kamu gila Mi Kyong. Kamu sudah gila!" gertak Jim-in.


Wanita itu tertawa kencang mengenyahkan keheningan taman belakang rumah sakit. Beberapa perawat yang tengah membimbing pasien keluar pun terkejut dan memandangi mereka, heran.


Jim-in tidak menyadari hal itu dan terus menyaksikan keinginan terdalam sahabat karibnya. Kepala bulatnya kini menggeleng perlahan-lahan.


"Kamu benar-benar gila," katanya lagi.


"Iyah, aku memang sudah gila. Aku gila karena mu, Park Jim-in. Kenapa kamu menolak ku malam itu? Apa aku tidak cukup baik bagimu? Apa aku tidak kalah cantik dengan Yuuna atau istrimu?"


"Cih, aku yang selalu berada di sampingmu. Bahkan di saat kamu kecelakaan pun aku setia memberikan kabar dan menanyakan kondisimu, tapi... sekarang kamu adalah calon suamiku. Semua orang sudah tahu itu, kamu... tidak bisa mengelak nya," cerocos Mi Kyong semakin menjadi-jadi.


Sikap manis dan baik hati yang kerap kali diperlihatkan perlahan menghilang. Jim-in tidak tahu siapa orang yang tengah berada bersamanya sekarang.


"Apa kamu sengaja melakukan itu padaku?" tanya Jim-in sadar. Mi Kyong hanya mengulas senyum simpul menegaskan semuanya.


"Kamu... memang sudah gila Mi Kyong. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya menyukaimu sebagai sahabat dan keluarga, tidak lebih!" tolak Jim-in sekali lagi.


Mi Kyong menyeringai lebar mendapatkan jawaban yang sama untuk kedua kali.


"Kamu benar-benar tidak pernah menghargai perasaanku, Jim. Aku sangat mencintaimu, kenapa? Kenapa aku tidak bisa berada di sampingmu? Apa kamu selama ini tidak menganggap ku seorang wanita?" tanyanya menggebu-gebu.


Jim-in menarik diri, menunduk seraya menyatukan jari jemari dan meremasnya kuat.


"Kamu adalah sahabat sekaligus adikku yang berharga. Aku sangat berterima kasih atas perasaan yang kamu miliki, tetapi... aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Karena... aku sangat mencintai Rania."


"Tidak ada wanita lain, selain dia... Rania sosok wanita yang benar-benar tulus mencintaiku," akunya jujur.


Hal tersebut membuat Mi Kyong naik pitam. Ia tidak pernah menduga akan mendengarkan semua perasaan terdalam Jim-in terhadap istrinya.


Wanita asing itu sudah mengganggu, pikirnya. Mi Kyong terus menerus tidak karuan dan mengepal kedua tangan di atas pangkuan.


Manik beriris cokelat kelamnya sedari tadi memindai pria tercintanya. Perasaan itu lantas membuatnya ingin mendapatkan Park Jim-in sebagai kekasih hatinya bukan sebagai sahabat ataupun keluarga.


"Kamu sudah salah mengatakan itu padaku. Apa pun yang terjadi jangan salahkan aku!"


Setelah mengatakan itu Mi Kyong pergi begitu saja memberikan tanda tanya besar.


"Apa yang akan dia lakukan?" gumamnya mendapatkan suatu firasat tidak biasa.


"Aku harus tetap melindungi Rania dan kedua buah hati kami," lanjutnya menyadari satu hal.


...***...


Hari kembali menjadi petang lagi, sang raja siang mulai berpulang ke peraduan menyisakan semburat ungu kemerahan di atas cakrawala.


Bagaikan lukisan hidup, pemandangan memanjakan mata itu nyata memberikan kebahagiaan pada penikmatnya.


Di salah satu ruang inap rumah sakit pusat kota, sedari tadi Rania duduk di atas ranjang dan bersandar menikmati ciptaan Allah yang begitu indah.


Perasaan gelisah nan rancunya sedikit demi sedikit terkikis. Wajah ayu itu pucat pasi seperti tidak ada aliran darah di sana.


Di ruangan serba putih hanya ada ia seorang dengan keheningan menemani.


Di tengah kesendirian tiba-tiba saja pintu digeser seseorang menarik atensi. Tanpa mengalihkan pandangan, Rania tidak mempedulikan kedatangan orang tersebut.


Sampai sosok itu duduk tepat di kursi tunggal sebelah ranjang. Aroma disinfektan yang melekat di tubuhnya menyadarkan Rania.


"Apa yang sedang Seok Jin Oppa lakukan di sini?" tanyanya masih dengan posisi yang sama.


Seok Jin mendengus pelan lalu mengulas senyum simpul.


"Aku... aku mengaku pada Zahra," ungkapnya kemudian tanpa membalas pertanyaan Rania.


Pernyataan tadi seketika menarik perhatian Rania lagi. Kini, kepala berhijab itu menoleh pelan ke samping kanan, tidak percaya.


"M-mwo? Ji-jinjja?" tanyanya gugup.


Seok Jin mengangguk berkali-kali mencoba meyakinkan wanita itu.


"Aku mengatakan semuanya. Jika aku sangat mencintai dia... aku, ingin melindunginya dan melepaskannya dari kesedihan," akunya lagi.


Rania melengkungkan kedua sudut bibir pelan, ikut senang mendengar jika sang sahabat dicintai oleh pria baik.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Lalu, apa jawaban yang diberikan Zahra?" tanya Rania penasaran.


Beberapa saat kemudian Seok Jin diam menjatuhkan pandangan ke bawah.


Rania pun menautkan kedua alis, tidak mengerti. Apa aku salah bicara? Pikirnya gamang.


"O-Oppa?" panggilnya merasa bersalah.


Seok Jin sadar lalu kembali mendongak memandang sepasang jelaga bening di depannya.


"Zahra tidak memberikan balasan, tetapi... aku lega sudah mengatakannya dan juga... aku tidak mengharapkan jawaban lebih. Karena yang terpenting dia sudah tahu bagaimana perasaanku terhadapnya."


"Meskipun kamu belum lama kenal, tapi... dia sudah menarik perhatianku sejak awal." Seok Jin kembali mengutarakan perasaan.


Rania lagi dan lagi mengulas senyum lembut mendengar semua kejujuran sang dokter. Ia ikut senang terhadap perasaan yang dimiliki Kim Seok Jin untuk Zahra.


Selama ini ia tidak pernah mendengar maupun melihat pria tampan itu membicarakan atau menunjukkan seorang wanita yang menarik perhatiannya.


Namun, setelah sekian lama rasa penasaran hanya dipendam sendiri, sang objek pun membicarakannya juga dan perasaan itu ditujukan kepada sahabat terdekatnya.


Rania benar-benar senang sekaligus menyayangkan, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena hal itu menjadi keputusan pribadi dan tidak ada ranah bagi orang lain untuk ikut campur.


"Semoga secepatnya Zahra memberikan jawabannya. Aku ingin melihat kalian bersama dan bahagia," kata Rania hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi keduanya.


"Aamiin," balas Seok Jin mengembangkan senyum lebar.


Ia lega sudah membicarakan masalah hati pada orang lain. Setelah sekian tahun rasa itu seolah mati, kini ia dapatkan kembali dan berharap bisa berakhir baik.