
Entah bagaimana skenario Allah berjalan, semua yang terjadi kadang kala menghadirkan cerita berbeda. Kadang kala mengundang luka, dan kadang pula menghadirkan kebahagiaan.
Meskipun diliputi kesedihan serta derai air mata, masih ada secercah kebahagiaan yang bisa didapatkan. Yakin dan percaya jika di balik itu ada kebaikan yang telah Allah rencanakan.
Ucapkan selamat tinggal pada rasa sakit yang telah berlalu. Katakan selamat datang pada kebahagiaan yang menggantikannya.
Apa pun yang terjadi, bagaimanapun luka yang menimpa, akan ada masanya berulang.
Siang ini langit menampakan awan kelabu, angin dingin pun datang menerpa mengikis setiap kepedihan. Sebuah misteri akan tetap menjadi rahasia sebelum waktunya menghampiri.
Kegaduhan tercipta baik di media sosial, maupun media lainnya. Berita mengejutkan datang dari dua anggota keluarga Song yang tengah melakukan tindakan asusila tidak terpuji.
Tanpa wanita itu sadari, Rania beserta rekan-rekan terdekatnya mempublikasikan artikel mengenai keduanya.
Secepat itu Rania bertindak yang seketika menghebohkan jagat raya.
Namun, mereka menggunakan nama anonim agar tidak terkena skandal apa pun.
Mi Kyong dan Ailee yang sedang berada di studionya menyeringai lebar. Keduanya tidak menyangka jika wanita itu benar-benar menurunkan berita mengenai malam itu.
Tidak ada raut terkejut ataupun ketakutan di antara mereka, Mi Kyong dan Ailee seolah sudah tahu Rania melakukan hal tersebut.
"Ternyata dia tidak main-main. Apa dia ingin bunuh diri dengan mempermalukan suaminya sendiri?" ujar Mi Kyong melihat tablet dalam genggaman dan terus menggulirkan artikel yang memuat tentang dirinya.
"Wanita itu memang tidak punya rasa kasihan. Sejak bertemu dengannya di rumah sakit, aku bisa melihat karakternya, jika dia... wanita yang tidak punya malu," lanjut Ailee menimpali.
"Tapi... bukankah semua ini menjadi lebih menyenangkan? Kita bisa menggunakan kesempatan untuk mendapatkan mereka," kata wanita itu lagi.
Mi Kyong menyeringai lebar menyaksikan keseriusan dalam sorot mata sang adik sepupu.
"Kamu benar, ini akan menjadi senjata kita. Memang inilah yang kita harapkan," ucap Mi Kyong lagi.
"Baiklah kalau begitu kita harus melakukan ini."
Mi Kyong dan Ailee pun bergegas membuat satu balasan artikel mengenai pemberitaan mereka yang baru saja dimuat.
Mereka sama-sama menggunakan nama anonim sebagai pelindung agar keterlibatannya langsung tidak terkuak.
Banyak pro dan kontra terjadi pada keduanya. Baik Mi Kyong maupun Ailee, mereka sama sekali tidak peduli pada apa yang dikatakan para netizen.
Kakak beradik sepupu itu hanya menginginkan tujuan awalnya tersampaikan dengan jelas.
Di tempat berbeda, di mansion keluarga Park, Rania, Jim-in, Zahra, Seok Jin, serta Hana tengah berkumpul bersama di ruang baca.
Mereka tidak menyangka akan mendapatkan balasan secepat itu mengenai artikel yang baru saja semalam dipublikasikan.
Artikel yang dimuat oleh Mi Kyong dan Ailee beberapa detik lalu merupakan sebuah berita mengenai perkenalan Park Jim-in sebagai calon suaminya.
Berita itu kembali mencuat dan banyak kata-kata yang mengarah pada Jim-in. Di sana dikatakan jika kedua insan tersebut saling suka sama suka dan dengan kesadaran yang stabil mereka mengatakan kebenaran, jika Park Jim-in adalah calon suami dari Song Mi Kyong.
Pernyataan itu semakin dikuatkan dengan screenshot-an video di malam itu di mana sang tuan muda mengakui demikian.
Para netizen semakin meradang mengenai pemberitaan yang baru saja terkuak. Semua orang lebih pro kepada artikel yang dibuat Mi Kyong dan Ailee.
Mereka memberikan komentar jika kemungkinan besar tindakan asusila yang dilayangkan oleh kakak beradik sepupu dengan tuan muda Park serta dokter Kim memang suka sama suka.
Mengingat Park Jim-in sudah mengakui dirinya sebagai pasangan Mi Kyong, kini mereka memfitnah penulis anonim di artikel Rania dengan yang lainnya sebagai pengadu domba.
"Wah, lihat banyak sekali kubu yang memihak mereka. Apa para netizen ini dibayar atau diberikan sesuatu oleh kedua wanita itu? Sampai-sampai membelanya seperti ini?" kata Rania yang sedari tadi menghadap laptop membaca komentar demi komentar terus berdatangan.
"Tapi, ini bisa menjadi senjata kita untuk menjalankan rencana selanjutnya. Apa kalian sudah siap?" tanya Hana bergantian pada Rania dan Zahra.
"Bukankah kemarin kita sudah menyepakatinya bersama? kita akan menggunakan kartu as," lanjut Hana yang diangguki Rania.
Mereka terus berbincang-bincang bersama mengabaikan dua pasang mata dari arah depan. Sedari tadi, Jim-in dan Seok Jin terus memperhatikan ketiga wanita di sana.
Keduanya tidak menyangka dan menduga jika seorang wanita bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuan.
"Kamu tahu, Jim? Wanita lebih pandai pelacakannya dari sindikat FBI sekalipun?" tanya Seok Jin tanpa mengalihkan perhatian dari depan.
"Hyung, benar. Aku sampai tidak menduga kalau Rania bisa melakukan ini. Bagaimana mungkin?" racau Jim-in menimpali.
"Mungkin saja, insting seorang isti terlebih ibu pasti sangat tepat. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika seorang wanita sudah beraksi," lanjutnya Seok Jin mendapatkan anggukan dari sang adik.
"Jadi, apa Oppa siap?" tanya Rania yang sekejap mengejutkan Jim-in.
Ia yang sedari tadi melamun dan terus memperhatikan mereka tanpa mendengarkan apa yang dikatakannya pun terkesiap.
Ia memandangi mereka satu persatu hingga berlabuh lagi pada sang istri.
"Eh! Apa yang kamu katakan, Sayang? Siap untuk apa?" tanya Jim-in tidak mengerti.
"Tuan Jim-in kami sudah sepakat melancarkan aksi selanjutnya. Untuk memberikan efek jera kepada kedua wanita itu, Anda akan berpura-pura jika rumah tangga kalian berantakan."
"Setelah itu, Anda tersesat ke kehidupan malam dan berada di klub yang biasa Park Mi Kyong dan-"
"Song Mi Kyong, Hana," potong Rania cepat.
Wanita itu terkejut lalu terkekeh pelan. "Maaf kebiasaan lupa tidak bisa dihapuskan."
Rania hanya mendengus pelan membuat yang lain ikut tersenyum lebar.
"Lalu setelah itu?" tanya Seok Jin penasaran.
Hana pun melanjutkan penjelasannya mengenai rencana kedua yang hendak dilakukan. Suaranya mengalun di ruangan membuat mereka mendengarkan secara seksama.
"Bagaimana? Apa Oppa mau melakukannya?" Kini giliran Rania bertanya.
"Apa kamu tidak apa-apa aku melakukan ini?" Jim-in memberikan pertanyaan lain kepada sang istri.
"Jika kita tidak melakukannya, apa Oppa mau terus menerus diganggu oleh mereka? Tidak hanya rumah tangga kita, tetapi Zahra dan Seok Jin Oppa juga," jelas Rania kemudian. "Aku tidak apa-apa, sungguh. Kita melakukan ini untuk kebaikan semuanya," lanjutnya lagi.
"Tenang saja tidak hanya Jim-in Oppa yang berada di sana, tetapi Seok Jin Oppa juga akan ada. Di dalam skenario yang sudah kita sepakati, Jim-in Oppa yang sudah tidak berdaya menghubungi Seok Jin Oppa untuk menceritakan semuanya."
"Setelah mendapatkan perhatian kedua wanita itu dan mendapatkan simpatinya, di sanalah kita bisa mendapatkan bukti konkrit," jelas Zahra menimpali.
"Jadi, maksud kalian kita melakukan hal sama seperti kedua wanita itu?" tanya Jim-in lagi.
"Ani, tentu saja berbeda Tuan. Kita bukan mendapatkan mereka secara licik, tetapi... kita hanya akan mencari bukti agar kedua wanita itu bisa menghentikan aksinya. Saya juga geram melihat kelakuan mereka yang tidak tahu malu." Hana mencak-mencak tidak suka dengan dua ular yang sering mengganggu rumah tangga orang lain.
Rania dan Zahra terharu mendengar penuturan Hana.
Seketika itu juga Rania menggenggam tangan sahabat sekaligus rekan kerjanya hangat. Ia senang bisa dipertemukan dengan wanita multitalenta seperti Hana.
"Jadi, apa keputusan kalian?" Rania kembali menghadap suaminya dan Seok Jin menunggu jawaban mereka.
"Baiklah, jika memang ini yang terbaik kami bisa melakukannya." Final Jim-in, diangguki Seok Jin.
Ketiga wanita itu saling pandang dan tersenyum lega.