VARSHA

VARSHA
Bagian 46



...



...


...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Aura mencekam begitu dominan dalam ruang tamu tersebut. Baru saja kedua kakinya menapak di sana tatapan serius dari sang suami menyambutnya. Iris kecoklatan Rania bergulir bergantian menatap kedua insan berbeda gender itu.


Ia tahu ada yang berbeda pada suaminya. Dan keberadaan Yuuna mungkin mempengaruhi. Lihat saja senyum manis masih setia bertengger diwajah cantiknya. Suasana apa ini? Pikir Rania mencoba bersikap tenang.


"O...oppa." Cicitnya takut-takut.


"Masih berani memanggilku oppa? Aku suamimu atau apa, HAH?! Pergi tidak bilang dan bertemu pria lain di luar?" nada tinggi menjadi pertanda kemarahannya.


Rania terkejut merasakan perubahannya begitu besar. Apa yang salah dengan pria itu? Ia tahu tidak seharusnya pergi tanpa izin suami, tapi apa harus dibentak dan dituduh sembarangan? Masih banyak pertanyaan memenuhi kepala berhijabnya.


"Aku tidak bertemu pria lain." Belanya.


"BOHONG!! Lalu apa ini, HAH?" teriak Jim-in lagi seraya memperlihatkan layar benda pipih dalam genggamannya.


Di sana terlihat Rania tengah mengumbar tawa lebar kepada pria berjas putih tersebut. Kemarahan dan kekesalan yang nampak pada diri Jim-in mengundang seringain pada wanita itu. Yuuna mengangguk-anggukan kepalanya seperti tengah memikirkan sesuatu.


'Sepertinya rencanaku, BERHASIL. Menghasut mereka dan membuat Jim-in oppa sepenuhnya menjadi milikku lagi. Hah~ aku tidak percaya ternyata semudah ini. Hahaha ucapkan selamat tinggal pada kehidupan tenangmu, Rania.' Batin Yunna merasa menang.


Beberapa saat yang lalu............


Dengan perasaan gembiranya, Yuuna mengendarai mobil mewah itu ke pusat Kota Seoul. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah mansion sang tunangan. Harapan yang muncul begitu besar membuatnya yakin. Sepeninggalannya dari rumah sakit ia bergegas menemui tunangannya.


Tidak lama berselang kendaraannya pun berhenti di halaman luas bangunan megah tersebut. Sosoknya muncul mengejutkan kembali para pelayan yang membukakan pintu untuknya.


"Tuan Muda ada?" tanyanya langsung.


"Ahh tuan masih di kantornya." Jawab pelayan wanita di sana.


"Baiklah, aku akan menunggunya di dalam." Tanpa malu Yuuna melenggang masuk dan mendudukan dirinya disofa mahal itu.


Tidak berapa lama mobil mewah lainnya pun tiba. Pria berjas abu itu muncul di balik pintu membuat senyum secerah mentari muncul diwajah Yuuna.


"Oppa." Panggilnya.


Jim-in menegang ditempat. Sudah lama ia tidak bertemu dengan tunangannya dan tiba-tiba saja sosok itu ada di hadapannya sekarang. Keningnya mengerut melihat sosoknya.


"Yuuna." Lirihnya. Ia lupa jika belum memutuskan hubungan dengan wanita itu. "Ada apa?" lanjutnya.


"Ahh aku rindu padamu. Dan juga aku ingin memperlihatkan sesuatu. Mianhae, selama ini aku menghilang dan membiarkan oppa sendirian dalam masalah." Dustanya. Mana mungkin ia mau terbawa arus dalam masalah keluarga ini. Meskipun banyak dari kejadian itu akibat ulahnya. Yah hanya sang pelayan senior saja yang tahu.


"Tadi aku tidak sengaja melihat Rania bersama seorang pria. Aku pikir dia mungkin dokter, tapi buat apa istri oppa datang ke rumah sakit? Apa dia menemui pria itu?" ujarnya kemudian.


"Aku juga punya buktinya. Lihat, di sini Rania tertawa terlihat bahagia sekali." Lanjutnya seraya menyodorkan ponsel pintar miliknya.


Jim-in pun mencondongkan badannya sedikit ke depan. Dan benar apa yang dikatakan Yuuna dalam potret tersebut sang istri tengah mengumbar senyum pada pria lain. Sosok itu tidak begitu terlihat, karena Yunna memotretnya dari belakang. Otomatis hanya Rania saja yang terlihat jelas.


"Tidak bisa dibiarkan." Kilatan kemarahan begitu menggebu. Kedua tangan tegap itu mengepal kuat menahan kekesalan. Dan hal tersebut menjadi pemandangan menarik bagi Yuuna.


Kembali ke saat ini di mana ketegangan masih terjadi pada pasangan suami istri tersebut. Orang ketiga yang berada di tengah-tengah mereka menjadi satu-satunya bersikap tenang. Akar permasalahan memang terkadang seperti itu bukan?


"I....itu tidak benar oppa. Aku pergi ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan. Dan setelah itu aku bertemu dengan Seok Jin-ssi. Jika oppa tidak percaya kita bisa bicara dengannya. Bukankah dia bukan pria lain?" Rania masih membela dirinya.


"Cih....." Jim-in berdecih mendengar hal itu. "Bukan orang lain katamu? Apa kamu lupa? Seok Jin itu bukan keluargaku. Dia hanya dokter pribadi yang pernah bekerja untukku. Jadi stop membela dirimu, Rania. Apa kamu mau jadi istri durhaka?" lanjutnya tapat di depan wajah sang istri.


Rania mendongak membalas tatapan tajamnya. Setetes cairan bening kembali mengalir membasahi pipi. Entah harus menggambarkannya seperti apa perasaannya saat ini. Sudah banyak rasa yang diberikan Jim-in. Sikapnya yang berubah telah merobohkan pertahanan itu.


"Aku tidak menyangka oppa bisa kembali seperti dulu. Bahkan sekarang lebih kejam dari pertama kali kita bertemu." Suara tenang penuh penekanan menjadi penanda kekecewaan dirinya.


Setelah mengatakan itu Rania melenggang pergi dari sana, meninggalkan keduanya dalam keheningan menyisakan kepiluan. Tatapannya mengikuti ke mana sang istri pergi. Ada kepedihan di balik punggung rapuh itu. Mau bagaimana lagi Jim-in tidak ingin kehilangan sosoknya.


Namun, sadarkah ia jika sikapnya yang seperti itu perlahan memudarkan keberadaan sang istri? Masih menjadi misteri kejadian apa yang akan terjadi di masa depan.


Sepeninggalan Rania, ruangan itu benar-benar hening. Tidak ada siapa pun yang berbicara. Yunna hanya memandangi tunangannya dalam diam. Tetapi, dalam hatinya berkecimpung banyak sekali perasaan menggebu.


Beberapa saat berselang, Jim-in pun mengantar kepulangan Yuuna. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir berada. Cahaya sang surya yang mulai surut menemani langkah keduanya.


"Oppa." Ucapnya setelah sekian lama bungkam.


"Ahh mian." Jim-in berubah kikuk.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengakibatkan pertengkaran kalian." Sesalnya. Jelas sekali jika itu hanyalah dusta.


"Ani. Berkatmu aku mengetahui kejadian ini." Jawaban yang keluar dari mulutnya mengundang senyum bagi Yuuna.


"Bagaimana pun aku merasa menyesal."


"Tidak usah berkata seperti itu."


Yunna pun mengangguk singkat seraya merasakan beribu bunga bermekaran dalam hatinya. 'Sepertinya tidak lama lagi aku mendapatkanmu seutuhnya.' Batinnya kembali yakin.


Sedangkan di lantai atas Rania masih mengeluarkan keristal bening membasahi wajahnya. Rasanya sakit setelah apa yang terjadi. Ia duduk ditepi tempat tidur dengan keheningan sebagai peneman.


Perlahan tangan kanannya terangkat mengelus lembut perut ratanya.


"Mianhae, eomma belum bisa memberitahukan keberadaanmu. Sayang, eomma harap kamu bisa bertahan. Percayalah appa pasti menyayangimu juga." Bisiknya pilu.


Tidak ada kata lagi yang terucap dari bibirnya. Hanya ada linangan air mata penanda betapa perih luka yang ia rasakan kini. Mendapati tunangan suaminya di rumah menimbulkan berbagai spekulasi berputar dalam kepalanya.


Bukankah yang seharusnya marah itu dirinya? Terang-terangan Jim-in bersama wanita lain. Rania tidak habis pikir dengan yang baru saja terjadi.


Varsha kembali datang memberikan episode kehidupan yang lebih dalam. Tautan kepingan masa lalu berputar membentuk kenyataan. Jika ternyata kisah cintanya tidak seindah dongeng putri tidur.


...🌦️HASUTAN🌦️...