VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 97



Waktu wisuda hanya tinggal menghitung hari, segala persiapan dilakukan menyambut hari besar tersebut.


Rania maupun Zahra sama-sama dilingkupi kebahagiaan tiada tara. Akhirnya setelah menempuh pendidikan di universitas dengan waktu yang tidak sebentar, gelar yang diidam-idamkan hampir digapai.


Para suami pun ikut sibuk mempersiapkan ini itu untuk memberikan hadiah terbaik bagi sang istri. Diperhatikan sebegitu nya oleh pasangan hidup memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Rania dan Zahra.


Keduanya senang apa pun yang mereka lakukan didukung penuh. Jim-in serta Seok Jin terus menerus memberikan semangat bagi para istri.


Keluarga adalah pondasi terkuat dalam memberikan dukungan semangat apa pun itu. Namun, keluarga juga pematah semangat terhebat dalam kehidupan.


Hingga beberapa hari berlalu, setelah menempuh perjalanan panjang waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Wisuda yang digelar di gedung paling besar di universitas dipenuhi mahasiswa-mahasiswi terbaik.


Mereka berpenampilan sebaik mungkin untuk tampil dan menerima ijazah sebagai momen berharga.


Dari sekian banyak yang mendaftar, Rania dan Zahra nampak tegang duduk saling berdampingan di dalam aula.


Mereka saling pandang dan memberikan ucapan selamat. Keduanya sudah berjuang keras untuk bisa duduk di sana.


Tidak lama berselang acara pun digelar, sambutan demi sambutan dari orang-orang penting pun berdengung.


Hingga beberapa saat berlalu, satu persatu mahasiswa maupun mahasiswa dipanggil satu persatu untuk mendapatkan ucapan selamat dari rektor.


Dengan nilai akademik terakhir disebutkan membuat mereka bangga atas pencapaian yang berhasil diraih.


Begitu pula dengan Rania maupun Zahra. Keduanya sangat senang dan lega mendapatkan balasan atas perjuangan selama empat tahun ditempuh, kini berbalas jua.


Jim-in dan Seok Jin yang turut hadir terharu melihat istri-istri mereka berjalan dengan langkah percaya diri.


Setelah acara selesai mereka bergegas mendatangi keluarga masing-masing. Pelukan demi pelukan kasih sayang serta ucapan selamat terus berdatangan.


Suasana haru penuh suka cita terasa begitu jelas di dalam aula. Orang tua, sahabat, keluarga, dan pasangan bangga pada pencapaian mereka.


"Baik semuanya, mari kita ambil foto terlebih dahulu," teriak salah satu photographer pada semuanya saat keluar dari gedung.


Seketika orang-orang langsung mengambil barisan membuat formasi untuk ikut foto bersama.


"Siap semuanya? Saya akan segera mengambil foto, satu... dua... tiga!"


Suara jepretan kamera bergema, para wisudawan-wisudawati pun senang acara mereka berlangsung lancar dan meriah.


Topi toga pun berhamburan ke atas yang dilemparkan oleh mereka secara bersamaan sebagai lambang telah selesai perjalanan panjang yang ditempuh.


Semua orang tertawa bersama saling merangkul satu sama lain. Rania dan Zahra pun berpelukan, lega sudah pendidikan yang selama ini mereka tempuh berhasil diselesaikan.


...***...


Perjalanan panjang yang tidak mudah dilalui memberikan tantangan tersendiri bagi seorang pejuang. Ketika sudah mencapai puncak maka keberhasilan dapat diraih.


Perasaan lega, senang, bangga, dan berbagai macam emosi suka cita lainnya terus dirasakan dalam dada.


Tidak ada kebahagiaan lain, selain mendapatkan ketenangan dari segala macam perjuangan.


Di hari yang berbahagia, Rania mempersiapkan makan malam romantis untuk suaminya. Jim-in yang masih berada di perjalanan pulang membuat ia buru-buru menghidangkan makanan di atas meja.


Dibantu beberapa pelayan, Rania hilir mudik ke sana kemari menjajakan masakan dan hasilnya membuat lengkungan bulan sabit hadir.


"Em, bagus. Terima kasih banyak kerja kerasnya." Rania menoleh pada beberapa pelayan dan mengucapkan terima kasih pada mereka.


Ketiga ahjumma itu pun mengangguk senang dan mengucapkan sesuatu yang membuatnya malu.


"Semoga acara Nyonya dan tuan muda berjalan lancar, juga... selamat atas kelulusan Anda, Nyonya muda," ucap salah satu dari mereka.


Rania pun terkekeh senang dengan rona merah merembet di kedua pipi.


"Terima kasih banyak Ahjumma. Kalau begitu silakan beristirahat," titahnya.


"Ah, ne kamsahamnida. Semoga dinner kalian lancar," balas yang lain.


Selepas berganti pakaian, Rania menunggu kepulangan sang suami di ruang depan. Ia sengaja mematikan lampu agar keberadaannya tidak diketahui.


Selang sepuluh menit kemudian, suara mesin mobil berhenti di garasi. Rania meyakini jika itu adalah suaminya, Park Jim-in.


Degup jantung seketika memuncak kala samar-samar sepatu pantofel sang pasangan hidup berdengung di teras rumah.


Tidak lama setelah itu, handle pintu bergerak ke bawah dan memperlihatkan batang hidung sang tuan muda.


Rania tersenyum lebar saat sosok imam dalam hidup berjalan melewatinya. Seketika itu juga ia menerjangnya dengan menutup penglihatan Jim-in.


"Eh, apa ini? Sa-Sayang, apa-"


"Jangan buka dulu sebelum aku yang menyuruhnya. Sekarang Oppa jalan beberapa langkah ke depan dan jangan berhenti sebelum aku berkata berhenti," titahnya tepat di samping daun telinga Jim-in membuat wanita itu berjinjit utuk menggapainya.


Mau tidak mau Jim-in menuruti keinginan sang istri. Kedua kaki jenjang itu melangkah perlahan ke depan dan merasakan aroma vanilla masuk ke indera penciuman.


"Di depan ada anak tangga, sekitar tiga dan Oppa harus menuruninya," kata Rania lagi.


Jim-in mengangguk, berusaha mencapai tangga yang dimaksudkan sang terkasih dengan menghentakkan kaki. Ia pun menuruninya satu persatu hingga kembali merasakan hawa dingin menyambut.


"Sayang... kita ada di luar? Apa-"


"SURPRISE!" Rania membuka tangan yang sedari tadi bertengger di kedua mata prianya.


Seketika itu juga kedua mata Jim-in terbelalak menyaksikan pemandangan luar biasa di depannya.


"Sa-Sayang ini?"


Jim-in gugup, tidak percaya menyaksikan kolam renang mereka diisi dengan air hangat seraya diberikan taburan kelopak mawar merah dan putih.


Di sisi-sisi kolam dikelilingi oleh lilin-lilin kecil di dalam gelas mini. Di tempatnya berdiri sampai pandangannya menelusuri taman, kelopak bunga serta lilin pun menghiasi di sana sini.


Tidak jauh dari kolam, ia melihat ada sebuah meja berbentuk bulat yang di atasnya terdapat berbagai macam hidangan menggugah selera. Di sana juga terdapat dua buah kursi saling berhadapan untuk pasangan menikmati malam malam bersama.


Mulut menawan Jim-in terbuka dengan manik kecilnya membola. Ia berjalan beberapa langkah ke depan tidak percaya apa yang dilihatnya ini.


Menyaksikan reaksi sang suami membuat Rania pun terkesima. Ia mendekat ke arahnya dan langsung menerjangnya dari belakang.


Kedua tangan ramping itu melingkar erat di perut sixpack sang pasangan. Untuk beberapa saat Jim-in tidak bisa bernapas atas tindakan dilayangkan istri tercintanya.


"Sayang." Panggilnya lirih.


"Ini kejutan untukmu, Oppa. Karena selama ini kamu sudah berjuang tanpa lelah untuk terus bersamaku. Terima kasih atas kesetiaan serta cinta kasihmu untukku."


"Saranghae. Tidak ada yang lain selain kamu... tuan mudaku yang arogan," ungkap Rania hangat.


Jim-in melepaskan tangannya pelan dan berbalik menghadapnya.


Tanpa ba bi bu lagi, ia langsung menyambar bibir ranum sang pujaan. Rania terbelalak pelan dan sedetik kemudian menutup mata menikmati segala sentuhan suaminya.


Setelah beberapa saat Jim-in melepaskannya masih memandangi Rania dengan sorot mata penuh minat.


"Haruskah kita turun ke kolam? Bukankah kamu menyiapkan bunga di atasnya untuk melakukan itu?"


Seringaian penuh arti seketika membuat Rania menelan saliva pelan. Ia tidak tahu jika Jim-in akan langsung ke acara inti.


Masih dengan memperlihatkan seringaian, Jim-in menggendong Rania dan membawanya ke kolam. Air hangat seketika memeluk kedatangan mereka serta menghadirkan riak.


Jim-in kembali melancarkan aksinya dalam membelai penuh cinta sang istri. Rania terlena dengan segala gerakan impulsif penuh makna sang suami.


Di bawah langit kelam, mereka saling menyatu memberikan kehangatan satu sama lain. Niat ingin makan malam bersama, nyatanya kedua insan itu langsung ke hidangan utama.


Baik Rania maupun Jim-in, mereka sama-sama menikmati kesyahduan yang kian melanda dan semakin melenakan.