VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 23



Keheningan kian menyapa kuat, samar-samar semilir angin membersamai keduanya.


Tepat di tengah-tengah lorong lantai paling atas gedung rumah sakit, dokter senior dengan perawat magangnya masih beradu tatap.


Tidak ada satu pun dari mereka mengalihkan pandangan, hanya sorot mata yang berbicara bagaimana riuhnya perasaan masing-masing.


Sampai tidak lama kemudian guntur datang menyambar dan mengejutkan keduanya, Zahra dan Seok Jin terpekik kaget langsung memandang sekitar.


"Astaghfirullahaladzim," ucap mereka bersamaan.


"Kita lebih baik turun ke lantai satu dulu," ajak Seok Jin yang diangguki Zahra.


Setelah itu keduanya bergegas menuju lantai satu menggunakan lift.


Sepanjang perjalanan keduanya kembali bungkam. Zahra yang biasanya ceria dan selalu mempunyai ide obrolan pun kini hanya bisa mengatupkan bibir rapat.


Kejadian tak terduga beberapa saat lalu masih basah dalam ingatan. Ia tidak percaya setelah sekian tahun berselang mereka tidak bertemu, hadiah tamparan diberikan sang ibu padanya.


Kesan pertama pertemuan kembali ibu dan anak yang telah berpisah bertahun-tahun lamanya hanya memberikan luka.


Dusta nestapa kian menari indah dalam kehidupan seorang Zahra. Ia tidak pernah menduga bisa diperlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri.


Tujuh belas tahun, Zahra beserta ketiga adiknya hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan. Jatuh bangun mereka lalui bersama tanpa adanya bimbingan orang tua.


Ayah dan ibu pergi meninggalkan begitu saja, layaknya mereka adalah barang yang sudah tidak berguna.


Faktor ekonomilah yang membuat orang tuanya pergi ke negara orang. Namun, setelah tiga tahun berselang, ayah maupun ibu tidak lagi memberi uang membuat bibi yang selama ini menampungnya semakin kesal.


Wanita itu memaksa Zahra sebagai kakak tertua untuk bekerja. Mau tidak mau, diusianya yang masih remaja ia dituntut menerima kerasnya hidup.


Seiring berjalannya waktu, Zahra menyadari jika orang tuanya tidak membutuhkan mereka. Ia juga mendapat kabar jika keduanya sudah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru.


Rasa sakit kian merambat membuat Zahra berjuang keras guna menghidupi ketiga adiknya. Ia menyimpan kesedihan itu dalam senyum kepalsuan.


Setiap kali adik-adiknya bertanya mengenai orang tua mereka, Zahra selalu mengatakan jika ayah dan ibu masih sibuk bekerja.


Namun, serapat apa pun ia menutupi kebenaran suatu saat pasti terungkap juga, tetapi selagi masih bisa ditutupi Zahra ingin melakukannya agar ketiga adiknya tidak terluka.


"Zahra.... Zahra... ZAHRA." Panggil Seok Jin kencang menyadarkan wanita di sebelahnya.


Zahra terkesiap dan seketika menoleh padanya lekat.


"Pintu liftnya sudah terbuka," jelas sang dokter membuat Zahra kelimpungan dan buru-buru keluar.


Kedua kakinya terus melangkah menghindari semua orang. Sampai lagi-lagi pandangannya harus berhenti di satu titik.


Luka yang tadi masih sangat hangat pun ditimpa kembali. Tidak sengaja ia melihat wanita yang sudah melahirkannya ada di salah satu ruang rawat pasien di lantai satu.


Senyum mengembang di wajah cantik tuanya tidak pernah pudar, masih sama seperti tujuh belas tahun lalu di mana waktu itu adalah hari terakhir Zahra menyaksikannya.


"Tapi sekarang... senyuman itu bukan untuk kami. Ya Allah, apa hamba bisa bertahan di kehidupan ini? Rasanya sakit sekali menyaksikan sendiri bagaimana bahagianya Mamah bersama keluarga barunya. Tidakkah ia mengingat kami? Astaghfirullah," racau Zahra mengepal tangan kuat.


Sang ibu bernama Zulfa, begitu perhatian menemani gadis kecil yang tengah dirawat di sana.


Zahra hanya tersenyum masam mengingat jika salah satu dari ketiga adiknya pernah dirawat di rumah sakit juga.


Pada saat itu adik pertamanya, Laluna jatuh sakit dan doker mengatakan dia terkena tifus. Ia dirawat tiga hari dan selama itu pula Zahra pontang panting mencari uang untuk kesembuhannya.


Ia juga berusaha menghubungi ayah dan ibu meminta bantuan serta mengabarkan kondisi Laluna. Namun, ia tidak pernah mendapati kabar mereka, bahkan nomor ponsel keduanya pun sudah tidak aktif lagi.


Teringat kembali akan kenangan menyakitkan tersebut membuat air mata mengalir tak tertahankan. Zahra yang hendak menghapusnya terkejut saat mendapati sapu tangan terulur padanya.


Ia menoleh ke samping kanan di mana sang dokter tengah tersenyum hangat.


"Pakai ini untuk menghapus air matamu," jelasnya.


Dengan ragu Zahra menerima dan mengucapkan terima kasih.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat saja," kata Seok Jin lagi yang dijawab anggukan oleh Zahra.


Seperti yang sudah dikatakan sang dokter, Zahra pun bergegas menuju ruang petugas perawat berada. Di sana ia berusaha mengistirahatkan fisik serta batinnya yang terus menerus ditimpa kejadian tak terduga.


...***...


Rania tengah berada di ruang baca, sedari tadi ia terus berada di sana melihat-lihat bukti kenangan yang pernah ia lewati bersama Park Jim-in.


Ada sekitar lima album foto tersebar di atas meja, satu persatu Rania membuka lembar demi lembar memperlihatkan perkembangan pernikahan keduanya.


Sampai perhatiannya berhenti di salah satu foto. Di sana memperlihatkan ia, sang suami, kedua buah hatinya, dan juga ibu mertua berada dalam satu ruangan.


Pada saat itu keluarga Park pergi ke studio foto untuk mengambil kenang-kenangan. Di sana mereka melakukan berbagai sesi dan hasilnya sangat memuaskan.


"Jadi, aku juga sudah akrab dengan ibu mertuaku sendiri? Bukankah dia memperlakukanku sangat kejam? Nyonya Park bahkan tidak pernah menganggap ku seperti menantunya melainkan pembantu, tidak lebih."


"Sejak kapan? Kapan hubungan baik ini dimulai?" gumamnya pada keheningan.


Tanpa ia sadari, sedari tadi Jim-in terus mengawasinya dalam diam. Ia begitu sedih mendapati sang istri masih belum ingat apa-apa mengenai hubungannya saat ini.


Rasa sakit kian merambat memberikan penyesalan tiada akhir.


"Aku sudah salah melukainya sangat dalam. Sampai-sampai sekarang Rania tidak percaya jika pernikahan kami sudah baik-baik saja," gumamnya.


Penyesalan memang datang belakangan, selagi memperlakukannya tidak baik, Jim-in tidak pernah memikirkan masa depan.


Mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa dikembalikan ke beberapa tahun ke belakang.


Sekarang ia hanya harus berusaha meyakinkan Rania jika dirinya benar-benar mencintainya. Itulah yang saat ini bisa ia lakukan, guna mengembalikan ingatan serta kepercayaan sang istri.


"Aku harus segera bertindak," gumamnya dalam benak dan pergi begitu saja dari sana.


Kembali pada Rania, perhatiannya kini berada tepat di salah satu foto terakhir di album tersebut. pandangannya tidak pernah beranjak ke mana pun dan terus mengamati gambar itu lekat.


Ada perasaan kurang mengenakan yang terus datang menyapa.


"Mereka sangat serasi," lirihnya.


Di foto itu memperlihatkan sang suami dan juga teman wanitanya tengah duduk berdampingan. Mereka tersenyum lebar ke arah kamera menunjukkan kebahagiaan.


Rania membuka plastik pembungkusnya dan mengeluarkan foto itu dari sana. Ia pun membalikannya dan melihat ada angka menyerupai tanggal hari, bulan, dan tahun.


"Foto ini sudah lama diambil, siapa wanita ini?" racaunya lagi.


Rasa penasaran semakin membuatnya ingin mencari tahu. Selepas membereskan semua kekacauan Rania mengantongi foto tadi dan keluar dari ruangan.


Tanpa Jim-in ketahui, Rania mulai membuka masa lalu yang tidak pernah dirinya ceritakan pada sang istri bahkan sampai detik ini.