
Sebesar apa pun ombak menerjang batu karang, tetap saja tidak bisa menggoyahkannya. Sekeras apa pun kesulitan menghadang pasti mendapatkan jalan keluarnya juga.
Tidak ada yang kekal abadi, hanya butuh waktu untuk merubahnya menjadi lebih baik.
Gelak tawa yang masih dihasilkan dari dua wanita itu mengalun menjadi backsound diamnya Rania. Suara mereka mengalun sampai ke relung hati paling dalam memberikan kerumitan di sekitar indera pendengaran.
Sedari tadi, sepasang maniknya terkatup rapat, perlahan ia menarik napas panjang dan menghembuskan nya, mencoba menenangkan diri dan dilakukan beberapa kali.
Di tengah gempuran ketiga wanita tersebut, diam-diam dari arah samping tidak jauh dari mereka sedari tadi Zahra memperhatikan.
Ia menutupi wajah ayunya menggunakan buku menu agar keberadaannya tidak terdeteksi. Berkali-kali ia beraksi melihat perseteruan yang terus dilayangkan Mi Kyong dan Ailee kepada Rania.
Zahra naik pitam kala mereka semakin memojokkan sang sahabat. Ia tidak bisa membiarkannya begitu saja tanpa melakukan apa pun.
"Aku harus membantunya," gumam Zahra.
Namun, baru saja ia beranjak dari duduk, pergerakannya dihentikan oleh kedatangan dua orang yang menghadangnya.
Zahra terbelalak lebar dengan mulut terbuka menyaksikan mereka.
"Ka-kalian?" gugupnya.
"Duduk!" titah salah satu dari keduanya.
Mau tidak mau Zahra pun mengikuti suruhan itu kala mendengar perkataan selanjutnya. Ia tahu keberadaan mereka di sana untuk membantu Rania.
Kembali kepada wanita itu, selang sedetik kemudian kelopak mata Rania terbuka memperlihatkan ketegasan. Mi Kyong dan Ailee yang tergelak pun menghentikannya begitu saja.
Mereka terpaku dengan sorot mata serius nan dalam Rania. Ditambah sebelah sudut bibir ranumnya menyeringai lebar membuat keduanya terdiam.
Ada yang tidak benar, pikir mereka.
Dengan angkuh Mi Kyong mengangkat dagu seraya membalas tatapan Rania tak kalah serius.
Bibir semerah cherry nya pun ikut terangkat, tidak ingin kalah.
"Wae? Apa yang ingin kamu katakan dengan wajah serius itu?" tanyanya menantang.
Rania kembali menyeringai lebar. Ia bergerak dan melipat tangan di atas meja, tubuhnya sedikit condong ke depan sambil terus menatap nyalang ke arah Mi Kyong.
Seringaian pun pudar berganti senyum penuh makna. Kepala berhijabnya berkali-kali mengangguk seolah memberitahu jika ia mempunyai sesuatu untuk dikatakan.
Mi Kyong maupun Ailee dibuat geram oleh gerakan impulsif tersebut dan tidak sabar apa yang hendak dilakukan Rania.
"Cepat katakan, Rania. Apa kamu sudah berpikir untuk meninggalkan-"
"Ani, aku tidak akan pergi ke mana-mana," sambar Rania cepat.
"Wah wanita itu-" Ailee menjeda kalimatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak mempercayai wanita di hadapannya begitu keras kepala.
"Apa kamu benar-benar tidak punya muka, Rania?" lanjutnya.
"Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri. Kamu bermuka tebal, Rania," timpal Mi Kyong terus memojokkannya.
Rania mendengus pelan dan melepaskan kontak mata singkat.
"Terserah kalian mau berkata seperti apa, yang jelas... aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku. Siapa kalian? Kalian tidak berhak mengatakan seperti itu pada saya!" Rania berubah kepembicaraan formal, wajahnya pun berganti dingin tak bersahabat.
Tubuh rampingnya pun terus condong ke hadapan Mi Kyong dan kembali memperlihatkan senyum lebar.
Ditatap sedemikian rupa oleh sang lawan bicara sedikit membuat Mi Kyong tidak nyaman. Ia berdehem pelan dan kembali melipat tangan di depan dada, angkuh.
"Wae? Mwo?" tanya Mi Kyong lagi.
Baru saja Mi Kyong membuka mulut, Rania melanjutkan ucapannya.
"Saya sedang berpikir bagaimana caranya memberitahu orang tua kalian mengenai kelakuan putri-putrinya di luaran sana? Ah, iya benar... balas dendam itu tidak baik bukan?"
"Ani... ini bukan balas dendam melainkan mengembalikan fakta kepada pemiliknya."
Mi Kyong dan Ailee semakin tak karuan. Mereka tidak tahu apa yang hendak disampaikan Rania, dan kembali wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Kim Won Shik, pria itu adalah orang suruhan Anda kan, Nyonya Song Mi Kyong? JC Group... kalian tahu bukan tempat apa itu? Iya, tempat perkumpulan orang-orang yang senang menikmati gemerlapnya dunia malam. Setiap malam rabu dan jumat kalian serta Kim Won Shik-ssi selalu datang ke sana, kan untuk melakukan bisnis?" Rania menggerakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas ke bawah saat mengatakan bisnis di akhir kalimat.
"Ah, seperti apa reaksi keluarga, relasi, terutama... orang tua kalian saat mengetahui hal ini?" cerocos Rania membuat Ailee dan Mi Kyong melebarkan pandangan.
Mereka terkejut bukan main Rania mengetahui kelemahannya. Selama ini keduanya terjebak di dunia kelam dan terus bermain di dalamnya.
Namun, selama itu pula tidak ada yang tahu seperti apa kelakuan kakak beradik sepupu Song tersebut. Keduanya dikenal sebagai wanita lembut, baik, dan juga jauh dari pergaulan bebas.
Fakta yang baru saja mereka dengarkan dari Rania seketika menarik keduanya pada kenyataan. Mi Kyong maupun Ailee merasa tertampar atas penjelasan wanita di hadapannya.
Mi Kyong menggebrak meja menarik atensi pengunjung lain. Ia benar-benar naik pitam dan langsung beranjak dari duduk mengabaikan yang lain.
Kedua tangannya lalu bertumpu di atas meja dan mencondongkan tubuh tepat di depan wajah Rania.
"Apa yang sedang coba kamu mainkan? Apa kamu bermain-main dengan kami?" tanyanya geram.
Rania mendongak membalas sorot mata tegas tepat di depan mata kepalanya sendiri.
"Ani... aku-" sambil menunjuk ke arah telinga tertutup hijabnya Rania memberikan gesture memberitahu. "Aku sedang bekerja," lanjutnya.
Mi Kyong menautkan kedua alis dalam menyadari satu hal jika selama ini Rania menggunakan earphone untuk mendengarkan seseorang di seberang sana.
Ia kembali menarik diri lagi seraya terus memperhatikan Rania.
"Katakan, siapa orang yang sudah memberitahumu?" tanya Mi Kyong kalang kabut.
Melihat reaksi kakak sepupunya seperti itu, Ailee pun ikut mengerutkan dahi.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya penasaran.
"Wanita itu-" Mi Kyong menunjuk tepat ke wajah Rania. "Dia benar-benar licik. Dia bekerja sama dengan seseorang untuk memata-matai kita. Di telinganya terpasang earphone, yang kemungkinan sedari tadi memberikan informasi-informasi itu," jelas Mi Kyong berspekulasi.
"Mwo? Kurang ajar, kamu-" Ailee melayangkan sebelah tangannya hendak menampar Rania.
Secepat kilat ia pun mencengkram pergelangan tangan wanita itu kencang dan berdiri dari duduk.
"Jangan pernah meletakkan tanganmu di wajahku." Suara tegas nan dalam itu membuat Mi Kyong dan Ailee kembali terpaku.
Rania menghempaskan tangan sang desainer perhiasan itu kasar dan menatap mereka lekat.
"Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu keluarga kami. Saya juga tidak akan membiarkan lalat manapun berkeliaran di sekitar Park Jim-in. Dia suami saya, ayah dari anak-anak saya, dan kepala keluarga kami."
"Saya tidak akan memberikan celah bagi wanita sepertimu untuk masuk ke dalam kehidupannya. Tenang saja, saya tidak akan membiarkan orang lain tahu seperti apa kelakuan kalian. Karena bagi saya semua itu hanya membuang-buang waktu saja. Tidak usah khawatir, roda kehidupan ini berputar, sepintar apa pun kalian menyembunyikan bangkai suatu saat pasti tercium juga."
"Ini peringatan terakhir dari saya... jangan pernah mengganggu keluarga kami lagi. Paham?"
Setelah mengatakan hal itu Rania melangkahkan kaki dari hadapan mereka.
"Ah, saya lupa-" Rania berbalik dan mengeluarkan sejumlah uang di saku seragam dinasnya. "Saya tidak mau berhutang pada siapa pun. Terima kasih atas jamuan paginya," lanjutnya lagi.
Rania pun memberikan senyum terakhir yang semakin menambah kekesalan pada Mi Kyong dan Ailee.
"Hidup tidak terlepas dari ujian, maka terimalah dengan baik dan hadapi semuanya sampai mendapatkan yang terbaik," benak Rania sepanjang kedua kakinya melangkah.