
Layaknya sebuah padang pasir tandus merindukan keberadaan sebuah oasis, kering kerontang nya tenggorokan terus melukai, meluluhlantahkan ketenangan dalam diri.
Haus akan kasih sayang dari orang tua, terkadang memberikan tantangan pada diri sendiri untuk mencari perhatian dari orang lain.
Namun, semua itu tidak berlaku bagi Zahra. Ia tidak mengharapkan apa pun dari siapa pun, tidak menginginkan rasa belas kasihan dari orang lain, dan tidak pernah meminta-minta perhatian.
Ia anak pertama dari empat bersaudara harus berperan aktif guna memberikan yang terbaik untuk ketiga adiknya. Ia sudah berpikir jika bukan dirinya, siapa lagi yang harus menumpahkan kasih sayang kepada mereka.
Ia tahu jika selama ini ayah dan ibu sudah bahagia bersama keluarga barunya, tetapi, mendengar serta melihat sendiri dengan indera penglihatan dan pendengarannya benar-benar menorehkan luka teramat dalam.
Embun di dedaunan menetes pelan, jejaknya hancur begitu saja kala sengatan cahaya mentari begitu terik.
Sudah tidak ada lagi yang tersisa, hatinya bagaikan tersayat benda tajam berkali-kali lipat. Keberadaan sang ayah tepat di depan mata kepala sendiri saat ini menambah rasa sakit.
Semua kenangan yang coba ia kubur seketika mencuat ke permukaan.
Cinta dan kasih sayang, menghilang tanpa ada sedikitpun tersisa.
"Kepercayaan ku kepada kalian, sudah hilang, sejak... kalian pergi hari itu."
"Sahabatku pernah berkata... jika kita mampu memaafkan sebanyak apa pun kesalahan orang tua, pasti ada kebaikan yang Allah berikan."
"Ayah mengerti maksudnya? Iya, aku berusaha untuk memaafkan sebanyak apa pun kesalahan kalian. Karena aku mengharapkan balasan yang akan Allah berikan."
"Aku harap Ayah ataupun mamah bisa mendoakan yang terbaik untuk kami. Tidak masalah jika sekarang kalian sudah mempunyai keluarga baru masing-masing yang lebih baik dari kami, tetapi... aku harap kalian tidak melupakan Laluna, Zaitun, dan Adam."
"Mereka tidak tahu jika saat ini Ayah dan mamah, sudah bahagia bersama keluarga baru kalian," tutur Zahra mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan menahan pelik dalam dada.
Hatinya benar-benar hancur membuat air mata meluncur tak tertahankan. Ia menghapusnya kasar seraya menunduk menghindari tatapan sang ayah.
Aditya terpaku, lidahnya kelu, bagaikan ada penghalang di tenggorokan. Kata-kata yang hendak di sampaikan kembali ditelan bulat-bulat.
Beberapa detik kemudian, kepala berhijab Zahra terangkat bertatapan lagi dengan ayah kandungnya.
"Hanya sampai sepuluh tahun aku merasakan kasih sayang kalian, tetapi bagaimana dengan adik-adikku? Pada saat itu kalian meninggalkan Laluna yang masih berumur tujuh tahun, Zaitun tiga tahun, dan Adam satu tahun. Sangat berat bagiku untuk menjadi kakak tertua bagi mereka. Mengurusi semua keperluannya, sampai berperan ganda. Namun, aku tidak boleh menyerah dan akan terus berusaha membahagiakan mereka, meskipun tanpa kehadiran Ayah dan mamah."
Kristal bening kembali bercucuran membuat perasaan dalam dada kian menumpuk. Zahra mengatakan semua kemelut dalam diri yang selama ini ditanggungnya bertahun-tahun.
Asam, manis, pahit kehidupan telah ia lewati seorang diri. Ia harus berjuang, banting tulang guna memberikan kehidupan layak bagi ketiga adiknya.
Karena adik dari sang ibu sama sekali tidak pernah memperlakukan mereka layaknya seorang keluarga. Di sana mereka hanya menumpang tidur dan lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan.
Sampai sekarang, Zahra terus mentransfer uang kepada bibinya untuk biaya kehidupan Laluna, Zaitun, dan Adam.
Di samping ia belajar, dirinya juga harus bekerja keras untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.
Bayangan hari-hari itu sampai detik ini lagi dan lagi menampar kenyataan begitu keras. Zahra memang bukan anak yatim piatu, tetapi kehidupannya lebih melarat dari itu.
Orang tua lengkap dan masih hidup nyatanya hanya sebatas status. Tidak ada kasih sayang maupun cinta yang tercurahkan dari mereka. Semua menghilang bagaikan tersapu gelombang dan hanya menyisakan kenangan yang hampir hilang.
"Terima kasih sudah menemui ku lagi di sini, walaupun bukan itu tujuan Ayah datang. Aku... memaafkan kesalahan kalian. Ayah tahu... ada yang mengatakan jika cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya?"
"Maka aku akan menjawab... benar. Ayah adalah cinta pertama ku, pria yang sangat aku sayangi, hormati, pahlawan terhebat mampu melindungi kami."
"Namun, sekarang semua itu hanya menjadi sebuah cerita semata."
"Apa ayah ingat saat aku berumur sembilan tahun? Aku pernah mengatakan ingin menghadiahkan sesuatu padamu?"
Aditya tercengang, manik karamelnya melebar merespon pertanyaan Zahra.
Zahra tersenyum pahit, Aidtya kembali termangu dan masih menutup mulut rapat. Ia tidak percaya putri kecilnya benar-benar sudah berubah menjadi wanita dewasa yang baik hati.
Ia tidak menduga akan mendapatkan kejutan luar biasa dari putri pertamanya. Pelajaran yang bisa diambil darinya adalah Zahra bisa berubah menjadi lebih baik, meskipun tanpa bimbingan ia maupun Zulfa sebagai orang tua.
"Aku benar-benar malu," benaknya meracau.
"Terima kasih atas varsha yang Ayah dan mamah berikan. Aku tidak mengharapkan harsha ataupun asha, melainkan sebuah ketenangan."
"Bisakah kita seperti ini saja dan tidak usah bertemu lagi?"
Zahra bangkit dari duduk lalu memandang ke bawah masih menyaksikan sang ayah yang terus diam.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga Ayah dan mamah bisa bahagia bersama mereka. Terima kasih sudah membawa kami ke dunia kejam ini."
Setelah mengatakan itu Zahra melarikan diri dari sana tidak sanggup menahan sesak. Aditya tidak bisa berbuat apa-apa, sekujur tubuhnya terasa mati rasa mendengar dan melihat kesakitan dalam diri sang buah hati.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada sepasang mata mengawasinya. Zulfa yang kebetulan hendak menyusul Dong Hyuk dan Laluna, tidak sengaja melihat Zahra beserta mantan suaminya pergi.
Rasa penasaran mendorongnya untuk mengikuti mereka. Namun, tak terduga pengakuan mengenai permasalahan yang dialami Zahra selama ini sampai ke pendengarannya.
Perasaan seorang ibu yang menyaksikan luka tak kasat mata terpancar dari manik kelam sang buah hati pun memberikan perih tak berkesudahan.
Ia menangis dalam diam menyembunyikan wajah di balik buku menu. Zulfa mencoba meredam isakkan nya agar tidak mengganggu pengunjung lain.
"Mamah minta maaf, Zahra," gumamnya lirih.
Begitu pula dengan Aditya yang berkali-kali mengatakan maaf sembari bercucuran air mata. Orang-orang di sekitarnya pun menatap dalam diam, ada yang bingung, ada pula yang tidak tertarik.
Di luar kafe, Zahra juga menangis sejadi-jadinya. Ia tidak peduli beberapa pasang mata memandanginya, iba.
Ia jatuh terduduk di sana kala kedua kaki tidak bisa menopang berat badannya lagi. Ia benar-benar terluka dan kecewa, semua perasaan terdalam ditumpahkan lewat liquid bening.
Meskipun langit memancarkan keindahan, tetapi awan mendung berada di kedua matanya. Hujan air mata terus turun dengan deras membasahi wajah cantik penuh kecewa seorang Zahra.
Laluna yang menyaksikan kakaknya seperti itu hanya bisa terdiam. Ia tahu seberapa berat beban yang ditanggung kakak pertamanya.
Selepas menangkan diri di taman, Laluna dan Dong Hyuk pun mencari keberadaan Zahra. Namun, belum sempat mereka menyapa wanita itu, pemandangan menyakitkan tertangkap pandangan.
Laluna maupun Dong Hyuk terpukul melihat betapa berat rasa sakit yang Zahra tumpahkan. Isak tangis itu perlahan-lahan mengalun memberikan luka juga di hati mereka.
Entah sadar atau tidak Laluna pun ikut menangis melihat Zahra seperti itu.
Di saat ia hendak mendekat, pergerakannya dihentikan oleh Dong Hyuk. Sang empunya menoleh ke belakang mendapati ayah tirinya menggelengkan kepala singkat.
"Berikan waktu bagi kakakmu untuk sendiri," katanya.
Mau tidak mau Laluna pun hanya mengangguk, paham. Mereka hanya melihat Zahra yang terus menangis sendirian tidak jauh dari kafe.
Tidak lama setelah itu ia bangkit dari sana sembari mengusap air mata berkali-kali. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya lalu melakukan hal itu berulang kali.
Di saat perasaannya mulai membaik, Zahra melangkahkan kaki lagi menuju suatu tempat. Laluna dan Dong Hyuk yang melihat hal tadi pun kembali membiarkan.
Mereka tahu butuh waktu sendiri bagi Zahra untuk memulihkan semua kondisi mentalnya. Dong Hyuk tidak menyangka anak tirinya bisa mendapatkan beban seberat itu di pundak sempitnya.
Ia semakin iba sekaligus kasihan kepada mereka. Kasih sayangnya sebagai seorang ayah pun terus bergejolak.