VARSHA

VARSHA
Bagian 24




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Lima tahun yang lalu.....


Setahun setelah kejadian mengerikan yang menimpa Park Jim-in, kini pria itu kehilangan segalanya. Kemampuan memanah, senyum cerah di wajahnya, semangatnya meredup seiring berjalannya waktu. Hanya kehampaan yang menduduki tingkat tertinggi dalam kehidupannya sekarang.


Setiap hari selalu ada saja kekacauan yang dilakukan Tuan Muda. Barang-barang mewah yang terpajang dalam etalase di ruang keluarga maupun ruang tamu terpecah belah, akibat bantingan yang dilakukannya. Jim-in merasa telah mengacaukan segalanya, maka hidupnya harus kembali. Namun, ia malah memperparah keadaan.


Melihat anaknya begitu frustasi, Nyonya Besar tidak sanggup untuk berada di rumah. Beliau menghabiskan sebagain besar waktunya berada di perusahaan atau pergi keluar negeri berurusan dengan pekerjaan. Itulah yang setiap kali ibunya lakukan membuat Jim-in semakin kesepian dan sendirian.


Ia tidak pernah lagi merasakan kasih sayang yang begitu besar dari sang ibu. Semuanya menghilang, lenyap bersama masa depan, Jim-in berputus asa dengan keadaan. Peristiwa mengerikan mematahkan semangat juang.


Seperti hari-hari kemarin, selepas sarapan ia akan mengasingkan diri ke taman belakang. Tempat ternyaman yang ia miliki di mansion megahnya.


Entah sudah keberapa kali helaan napas itu meluncur di balik bibir menawannya. Jim-in mendongak melihat awan berarak siang ini.


"Mamah."


Suara halus tiba-tiba saja mengundang perhatian. Jim-in menoleh ke belakang melihat siluet gadis berhijab tengah berjalan mengikuti salah satu pelayan senior.


"Siapa dia?" bisiknya pada diri sendiri. Dahinya mengerut dalam mengekori keberadaan sosok asing di sana.


Jim-in yang masih penasaran memutuskan untuk mengikutinya diam-diam. Ia menggulirkan kedua roda dalam kursi tersebut mendekati ibu dan anak itu yang kini memasuki ruang memasak.


Tidak ada siapa pun di sana, hanya kedua wanita berbeda usia tadi, Jim-in tahu salah satu dari mereka.


"Kenapa Basimah membawa gadis asing?" bisiknya lagi.


Dari jarak beberapa meter dari keberadaannya Jim-in bersembunyi seraya terus memperhatikan mereka.


"Mah, aku ingin kuliah. Aku ingin menjadi perawat dan membanggakan Mamah."


Terdengar nada merengek di sana. Jim-in tidak tahu apa yang gadis itu bicarakan. Namun, dirinya cukup paham kata "mamah" dalam panggilannya.


"Basimah mempunyai anak?"


"Mamah tahu, Varsha, tapi dari mana biayanya? Pasti mahal, kan?"


"Varsha akan mencoba mendapatkan beasiswa."


Basimah pun menghela napas pasrah.


"*K*alau itu memang keputusanmu, Mamah hanya bisa mendukungmu saja."


Setelah perbincangan singkat terjadi dan keputusan terjalin gadis berhijab itu meninggalkan tempat. Melihat sosoknya semakin menjauh Jim-in pun keluar dari persembunyian lalu mendekati Basimah. Kehadiran Tuan Muda di sana tentu saja membuat wanita berumur itu sangat terkejut.


"Tuan Muda," panggilnya.


"Siapa gadis tadi? Apa itu anakmu?" tanya Jim-in langsung. Basimah mengangguk seraya memberikan senyum hangat. "Siapa namanya dan kenapa dia datang ke sini?" Jim-in masih penasaran.


Jim-in terdiam. Kepalanya berpikir, memproses perkataan yang baru saja ia dengar. Sedetik kemudian smrik hadir di wajah tampannya. Selintas keinginan mencuat membuat ia mendapatkan ide.


Malam menjelang, Nyonya Besar pun pulang dengan wajah lelah. Jim-in yang tengah duduk di ruang keluarga melihat sang ibu lalu mendekat dan mengajaknya berbicara.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya ibunya langsung.


"Eomma, aku menginginkan seseorang untuk dijadikan pelayan pribadi."


Tegas dan jelas ucapan Jim-in mengejutkan Gyoung, ibu kandungngnya.


"Apa maksudmu?"


"Semenjak aku mengalami kecelakaan dan kedua kakiku lumpuh Eomma tidak pernah mengurusiku lagi. Apa aku sebuah kesialan? Kenapa semuanya kacau dan bernatakan? Aku ingin seseorang untuk mengurusiku," jelasnya.


Gyoung tersadar jika selama ini memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama pekerjaan dari pada anaknya sendiri. Namun, beliau melakukan semua itu untuk kebaikan putranya.


"Baiklah siapa dia?"


"Anak Basimah, Varsha. Aku harap Eomma mau memberikan beasiswa kuliah untuknya. Tidak perlu lulus hanya beberapa semester saja pasti dia sudah mendapatkan ilmunya. Setelah itu bisakan Eomma menikahkan kami?"


"Eomma mengerti maksudmu. Yah pernikahan bisa memudahkan segalanya. Tapi kamu harus ingat jika sudah tiba, kalian harus berpisah. Karena kamu satu-satunya ahli waris keluarga ini. Bagaimana bisa seorang konglemerat menikah dengan gadis biasa? Dan pernikahan itu harus disembunyikan. Arraso? Eomma melakukan ini untuk kebaikanmu."


Jim-in mengangguk setuju.


Setelah kesepakatan terjalin Jim-in dan ibunya pun langsung membicarakannya dengan Basimah. Wanita itu menyetujuinya dan berharap kebahagiaan untuk sang anak. Basimah sudah mendapatkan banyak sekali kebaikan dari keluarga Park dan ingin membalas budi yang diterimanya.


...🌦️🌦️🌦️...


Rania berkali-kali tercengang mendengar cerita yang dilontarkan sang suami. Ternyata Jim-in menginginkan ia untuk dijadikan pelayan pribadi bahkan dari dulu. Ia tidak pernah tahu jika selama hampir dua tahun dirinya sudah menjadi target. Anak panah itu terhunus dan tepat mengenai sasaran.


Rania sudah dimiliki Park Jim-in sesuai keinginannya. Bahkan cita-cita yang ia inginkan harus dikubur dalam-dalam. Ia tidak sempat lulus dan mendapatkan gelar. Pernikahan yang tidak diinginkan terjadi membuat ia terjebak.


Terjebak dalam perasaaan yang membuatnya terikat dan tidak bisa melepaskannya begitu saja. Cinta menjadi dasar atas perjalanan rumah tangga mereka. Walaupun banyak air mata yang turun, tetapi, kini hasilnya pria itu berbalik arah.


Cinta hadir dalam benak. Jim-in mengakui perasaannya dan menjadikan Rania sebagai istri sesungguhnya.


Perlahan kedua kakinya yang sudah bisa berjalan lagi melangkah ke belakang sang istri. Tangannya terulur mendekap erat sosok rapuh di hadapannya. Aroma vanilla kembali menguar membuatnya nyaman.


"Dan sekarang aku sudah jatuh cinta pada pelayanku. Varsha, nama yang aku panggil waktu itu."


Suara merdu sang suami menelisik gendang telinga. Rania merasakan hangat tubuhnya yang menguar. Ia merasa nyaman berada dalam dekapan suaminya.


"Nama yang kubenci, tapi sekarang aku menyukainya. Karena Oppa yang memanggilnya. Terima kasih sudah mencintai dan menerimaku. Aku telah jatuh cinta pada Tuanku sendiri," balas Rania tegas.


Bersama dengan suara alam kehangatan menyatu dengan aroma musim semi. Cinta sudah datang mengikat keduanya dalam hubungan pernikahan yang sesungguhnya. Park Jim-in pria arogan, dingin dan tidak berperasaan telah luluh dengan kesabaran seorang Rania. Varsha yang artinya hujan memberikan tetesan demi tetesan kebahagiaan.


Namun, sampai kapan mereka bisa bertahan dalam hubungan tersebut?


Masih ada ketakutan yang tersembunyi apik dalam relung sanubari Rania. Ia tahu jika derajat keduanya tidaklah sama. Meskipun begitu untuk saat ini Rania menginginkan sang suami untuk terus berada di sampingnya.


Badai pasti berlalu, gelombang ombak pasti surut. Kejadian yang menimpa mempu ia atasi dan percaya Allah selalu ada untuknya. Ia yakin rencana Allah tidak pernah salah.


...🌦️MASA LALU🌦️...