VARSHA

VARSHA
Bagian 48



...



...


...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Waktu berlalu begitu cepat. Setiap dentingan jam menimbulkan memori berharga. Hanya ada lengkungan bulan sabit diwajah ceria itu. Semenjak kehamilannya, Rania kembali merasakan kehangatan sang suami. Park Jim-in yang dulu sudah kembali. Akhirnya kesabaran berujung jua, meskipun masih ada kegelisahan tersimpan rapat dalam dirinya.


Sama seperti hari-hari lain, kini Jim-in tengah menyiapkan susu hangat bagi ibu hamil tersebut. Ranita mengembangkan senyum melihat perlakuan itu setiap hari. Hingga tidak terasa usia kandungannya memasuki 26 minggu. Tendangan dari si kecil pun sudah sangat terasa.


Pagi ini masih sama. Malaikat kecilnya begitu aktif di dalam sana. Perlahan Rania mengelusnya menyalurkan kehangatan.


"Sayang. Bagaimana kabarmu di dalam sana, nak? Lihat, appa sedang menyiapkan susu untuk kita. Kamu tahu, appa sangat menyayangimu." Bisiknya seraya menunduk melihat perutnya yang membuncit.


Tidak lama berselang, Jim-in mendekatinya lalu memberikan segelas susu. Wajah semringahnya turut mengiringi betapa ia bahagia dengan keadaannya sekarang.


"Minum dulu nanti keburu dingin." Ucapnya. Rania mendongak lalu mengangguk seraya menerimanya dan menegaknya kemudian.


Jim-in bersimpuh di hadapannya. Tangan kanannya terulur mengelus perut sang istri dan sebelah kirinya merengkuh pinggangnya, posesif. Pemandangan yang sungguh menghangatkan jiwa. Seolah pasangan suami istri ini jauh dari berbagai permasalahan.


"Anak appa......sayang, baik-baik yah di sana. Di sini appa dan eomma selalu menunggu kehadiranmu. Kami sangat menyayangimu, sayang." Ucapnya lalu menghadiahkan kecupan hangat. Seakan mengerti sang bayi pun menendang perut ibunya. "Ah, bayinya menendang oppa." Kejut Rania kemudian.


"Jinjja, sayang jangan nakal yah." Lanjut Jim-in kembali mengelusnya lembut.


Rania tak kuasa membendung kebahagiaan saat ini. Kelegaan nampak jelas dalam sorot matanya. Jim-in begitu perhatian, terutama pada sang jabang bayi. Ia pikir sejak kejadian beberapa bulan lalu saat Yuuna mengatakan dirinya bertemu dengan Seok Jin, hubungan pernikahannya akan berantakan. Namun, ketakutan itu tidak terjadi.


Malah sebaliknya. Jim-in semakin perhatian dan bersikap hangat. Apapun yang ia inginkan akan dipenuhi oleh sang suami, meksipun permintaannya aneh-aneh. Jim-in mengetahui jika keinginan ibu hamil harus segera dilaksanakan. Ia tidak mau sang jabang bayi ngeces nantinya.


...🌦️🌦️🌦️...


Sore menjadi waktu rutin bagi pasangan suami istri tersebut untuk menghabiskan waktu bersama. Cakrawala yang semula terbentang biru cerah kini berganti semburat orange. Cahaya sang surya menuntun ke mana kaki melangkah.


Tangan yang saling berpautan seolah tidak ingin melepaskan. Harsha terpancar jelas diwajah keduanya. Rania pun melupakan jika dirinya pernah, patah. Luka demi luka yang terlukis jelas dalam hati melebur dalam kabut kebahagiaan.


"Wahh, kalian terlihat mesra sekali." Ucap salah satu ibu-ibu perumahan elit yang sering berpapasan dengan kedua sejoli tersebut. "Sudah berapa bulan?" tanyanya kemudian saat mereka kembali bertemu.


"Sudah memasuki minggu ke 26." Jawab Rania ramah disertai senyuman.


"Semoga bayinya selalu sehat. Nak, berntungnya kamu mendapatkan orang tua yang harmonis dan romantis." Lanjutnya seraya sedikit membukukan badan mendekati perut Rania. Mendengar itu kedua sejoli ini mengembangkan senyum hangat.


"Kamsahamnida, eommanim." Balas keduanya kompak.


Setelah itu mereka pun kembali menyusuri jalanan sekitar sana. Hamparan daun momoji membentang menyambut kedatangannya. Pemandangan bertambah indah dengan pohon-pohon mengitarinya. Dedaunan yang berwarna merah, kuning dan kecoklatan tersebut nampak menenangkan jiwa. Musim gugur menjadi salah satu musim terindah bagi Rania.


"Ada apa, sayang?" tanya Jim-in menghentikan langkah. Ia pun menangkup kedua bahu Rania pelan membawa ke hadapannya.


Wanita itu menatap ke dalam manik kecoklatan Jim-in. Binar dengan riak air mata yang hampir menetes menggambarkan perasaannya kali ini.


"Aku senang, oppa." Bisiknya.


Lengkungan bulan sabit hadir dalam wajah tampan Jim-in. Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia memberikan kecupan hangat di dahi Rania. Kemudian merengkuhnya hangat menyalurkan apa yang ia rasakan juga.


"Aku pun merasakan hal yang sama. Berbahagialah untuk kita. Aku janji tidak akan pernah mengundang Varsha dalam matamu lagi." Ucapan lembut itu mengalun bak nyanyian pengiring tidur. Rania terpaku dan ikut membalas pelukannya.


Kehangatan semakin merambat dalam dada. Kedua pipinya memanas seiring degup jantung bertalu kencang. Kepalanya mendongak dengan dagu bertengger indah dibahu tegap sang suami. Kebahagiaan ini yang ia inginkan. Bukan harta atau emas melimpah dalam genggaman, tapi kasih sayang yang dibutuhkan.


Keberadaan suami pengertian, lemah lembut, memberikan cinta kasih sudah lebih dari cukup bagi Rania.


"Gomawo, aku harap kita selamanya bisa seperti ini. Bersama anak kita kelak. Aku menyayangi dan mencintaimu, oppa." Pernyataan jelas yang meluncur halus dari bibir lembut sang istri membuat perasaannya berkembang. Bak ribuan bunga bermekaran di dalam sana. Jim-in semakin mengeratkan pelukannya.


Tidak peduli di mana mereka berada sekarang, ia hanya menginginkan istrinya.


"Aku janji kita akan selamanya seperti ini. Aku juga mencintaimu, istriku. Sangat. Kamu hanyalah milikku! Tidak ada orang lain yang bisa mengambilmu dariku. Jika pun ada aku akan mengacaukannya. Duniaku tanpa dirimu terasa hampa, Rania." Kata-kata yang keluar menandakan jika sikap obsesinya semakin terlihat.


Untuk sesaat Rania tidak bisa mengatakan apapun. Ia sadar jika belum sepenuhnya sang suami kembali seperti dulu. Entah faktor apa yang mendasari dirinya menjadi sosok Park Jim-in saat ini. Kekecewaan? Kesakitan? Rania tidak mengetahuinya.


Ia beruntung bisa dicintai sebegitu dalam oleh suaminya. Namun, jika menghancurkan hubungan ibu dan anak bukan itu pilihan yang ia inginkan. Lebih baik ia kembali menjadi pelayannya saja. Meskipun berstatus sebagai seorang istri.


'Aku harap oppa kembali. Apa yang bisa ku lakukan sekarang untuk menyadarkannya? Jika masih ada satu kata maaf yang belum sempat ia ucapkan. Ya Allah bantu hamba untuk menyadarkan Park Jim-in.' Harapnya setiap waktu.


Keesokan harinya Rania dan Jim-in mengunjungi rumah sakit untuk melakukan cek kandungan. Keduanya begitu penasaran saat dokter tengah melakukan USG. Layar berbentuk kotak tersebut menampilkan gelembung gelap dan di tengah-tengahnya terdapat bulatan kecil menampilkan aktivitas sang buah hati.


Kedua tangan yang saling berpautan itu pun membuat siempunya memandang satu sama lain. Mereka bahagia melihat pergerakan malaikat kecilnya.


"Bagaimana dok?" tanya Jim-in penasaran.


"Bayinya sehat. Dia bergerak sangat aktif di dalam sana." Jawab sang dokter.


"Jenis kelaminya apa sudah terlihat, dok?" kini giliran Rania yang bertanya.


Dokter kandungan berusia pertengahan 40 tahunan itu pun memandangi ibu muda di sampingnya. "Jika dilihat dari layar, bayinya berjenis kelamin perempuan."


Mendengar itu senyum pun semakin mengembang diwajah orang tua muda tersebut. Rania tidak kuasa memendung air matanya. Satu persatu keristal bening itu berjatuhan. Bukan kesedihan yang didapatkannya, melainkan kebahagiaan.


"Oppa, dengar itu? Bayi kita perempuan, aku senang mendengarnya." Ucap Rania antusias.


"Iya sayang aku juga senang, tapi apapun itu kita harus menyayanginya." Balas Jim-in seraya mengelus puncak kepala sang istri.


Rania pun mengangguk setuju. Kebahagiaannya bertambah kali lipat seiring berjalannya waktu. Tidak ada yang perlu dikhawtairkan. Semuanya akan baik-baik saja. Yah ia berharap seperti itu. 🌦️_BAIK-BAIK SAJA_🌦️