
Akan ada selalu kisah tersampaikan dalam kehidupan. Embun yang mengendap di dedaunan, kabut yang menghalangi pandangan, serta ranting kayu yang rapuh dan terjatuh ke tanah sudan menjadi takdir serta ketentuan Allah semata.
Maka tidak usah khawatir akan situasi yang menerpa, sebab semua itu juga telah menjadi takdir-Nya.
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-Qarni (takdir)” (QS al-Qamar: 49)
Semua yang ada di bumi ini tidak luput dari pengawasan Allah. Setiap kejadian, peristiwa, permasalahan, menjadi bagian dari jalan cerita.
Semua itu bagaikan pelengkap yang ada di setiap kehidupan. Memang kadang kala sulit dan tidak mudah untuk dilewati, tetapi Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya mampu bertahan serta menyerahkan semua pada Allah saja.
Kebahagiaan pula nyatanya bukanlah sebuah akhir, tetapi awal dari segala permasalahan yang sempat merundung.
Hawa dingin menerjang ibu kota, semilir angin di pagi hari memberikan kesejukan tiada henti.
Nikmat yang Allah berikan di awal hari menyuguhkan kesyahduan. Rasa syukur patut diucapkan atas kesempatan lagi dan lagi yang telah Allah berikan.
Hari kemarin memberikan pelajaran bagi esok hari untuk menjadi lebih baik lagi.
Di kediaman megah seorang pewaris keluarga Park, keempat orang itu tengah berkumpul bersama di ruang santai.
Mereka menikmati waktunya sendiri terlepas dari segala problematika yang menghinggapi.
Gelak, canda, tawa berdengung membersamai setiap permainan yang mereka layangkan.
Akila dan Jauhar senang bisa kembali bergurau bersama sang ibu. Hampir tiga bulan lamanya Rania tidak mengingat siapa mereka kini waktu memberikan kebaikannya lagi.
Ingatan itu kembali mengulang hari indah lagi.
"Syukurlah yah, Sayang... akhirnya kita bisa berkumpul bersama seperti ini lagi," kata Jim-in merangkul pinggang ramping istrinya posesif.
Rania yang tengah duduk di samping sang suami melirik sekilas.
"Oppa, benar. Aku pikir tidak bisa merasakan hal seperti ini lagi. Aku minta maaf... selama ingatan menghilang, aku mengabaikan kalian," sesal Rania lirih memandang lurus pada kedua buah hatinya.
Jim-in menggeleng singkat, walaupun Rania tidak melihatnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita tidak pernah tahu kejadian apa yang menimpa. Jadi, tidak usah minta maaf, aku dan anak-anak juga mengerti," balas Jim-in mengusap punggungnya, sayang.
Rania hanya mengangguk paham dan kembali ikut bermain dengan buah hatinya.
Jim-in pun bergabung bersama mereka dan mendekati sang putra menyusun balok-balok mainan.
Mendapati sang ibu, Akila dan Jauhar melebarkan senyum senang.
Mereka bahagia bisa menghabiskan hari bersama orang tuanya.
Sejak ingatan Rania hilang, kedua anak itu bagaikan berjalan di atas kerikil. Batu sandungan yang menghalangi membuat hari-hari terasa pahit.
Rania abai, seolah tidak melihat putra-putrinya di sana. Bahkan ia juga sempat berpikir jika mereka adalah anak dari wanita lain.
Rasa bersalah membuatnya semakin tidak karuan.
Air muka tidak nyaman dari sang ibu seketika menarik perhatian Akila.
Ia merangkak mendekati Rania dan duduk di sebelahnya begitu saja.
"Apa yang sedang Mamah pikirkan?" tanyanya berbisik.
"Eh?" Rania langsung menoleh melihat wajah penasaran sekaligus khawatir putri pertamanya.
"Apa maksud Kakak tadi?" tanya balik Rania.
"Seperti ada sesuatu yang Mamah pikirkan. Apa ada yang mengganggu?" tanya Akila lagi.
Sejak Rania mendapatkan kembali ingatannya, Akila mengganti panggilan pada sang ibu.
Entah kenapa ia merasa nyaman memanggil Rania dengan sebutan Mamah.
Ia tahu hal itu, dari Rania yang mengatakan asal usulnya. Jika ibu dan ayah berasal dari negara berbeda.
Rania juga memberitahukan panggilan kepada orang tua dan lain sebagainya pada Akila serta Jauhar.
Mendapatkan panggilan baru dari anak gadisnya, mengingatkan Rania pada kampung halaman.
Ia juga jadi merindukan sang ibu yang sudah lama meninggalkannya di sana.
"Ah, bagaimana kalau besok kita semua ziarah ke makam nenek?"
Perkataan Jim-in seketika mengejutkan keduanya. Rania dan Akila tidak menduga jika sang ayah mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi.
"Benarkah itu Appa? Aku ingin pergi!" ucap Akila antusias.
"Benarkah? Benarkah kita akan pergi ke makam nenek?" tanya Jauhar dengan suara lembut nan semangat.
"Itu benar, Sayang. Besok kita pergi bersama-sama, yah," ungkap Jim-in mengusap puncak kepalanya berkali-kali.
Akila melirik ibunya sekilas dan langsung menerjang sang ayah. Ia senang keadaan keluarganya sudah kembali baik.
Dalam diam Rania lega melihat kebersamaan suami dan juga kedua buah hatinya. Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah cantik berhijabnya.
...***...
Seperti yang sudah dijanjikan kemarin, keluarga kecil Park bertandang ke pemakaman yang jauh dari ibu kota.
Jalanan yang sedikit rumit serta arena dilalui cukup jauh memberikan tantangan sendiri.
Banyak sekali pohon-pohon besar di kedua sisi yang mereka lewati. Akila dan Jauhar yang tengah duduk di jok belakang sedikit merinding.
Namun, rasa takut itu dikalahkan dengan kegembiraan yang mereka terima.
Setelah sekian tahun lamanya Akila maupun Jauhar tidak mengetahui keberadaan nenek dari sang ibu kini waktu hampir mempertemukan.
Mereka tahu jika neneknya sudah meninggal. Namun, selama itu pula keberadaan makamnya tidak pernah Akila serta Jauhar ketahui.
Banyak hal yang terjadi, semua itu menjadi kendala dan juga penghambat Akila untuk menanyakan keberadaannya.
Namun, tanpa diduga ucapan sang ayah kemarin mengejutkan mereka. Akila tidak menyangka jika hari ini dirinya dengan semua keluarga ziarah ke makam sang nenek.
Kurang lebih memakan waktu berjam-jam lamanya, mobil yang ditumpangi keluarga kecil Park tiba di sebuah tempat asing.
Tempat itu seperti perkebunan luas yang ditumbuhi banyak sekali berbagai jenis tanaman.
Tidak ada kehidupan yang dirasakan di sana. Sunyi, sepi, hening menjadi suasana menyambut keberadaan mereka.
Rania dan Jim-in turun dari mobil disusul oleh Akila.
Dengan cepat Jim-in pun beralih ke jok belakang dan memangku putra bungsunya, Jauhar.
Mereka pun berjalan beriringan bersama menuju salah satu gundukan tanah di sana.
Banyak sekali kabut putih mengelilingi area tersebut. Namun, makam itu terawat dengan baik membuat Rania menoleh pada suaminya.
Seakan mengetahui apa yang dipikirkan sang pasangan hidup, Jim-in mengangguk pelan sambil tersenyum hangat.
"Ah, ternyata Oppa sudah menyuruh seseorang untuk membersihkannya," benak Rania senang
"Ini makam nenek, Sayang," jelas Rania tepat di samping tempat peristirahatan terakhir sang ibu.
Mereka pun jongkok bersama dan memanjatkan doa-doa untuk almarhumah.
Beberapa saat kemudian, Rania mengusap batu nisan sang ibu dengan tangan gemetar. Ia sangat merindukan Basimah yang paling memahaminya selama ini.
"Mamah... aku datang lagi. Hari ini aku datang bersama dua cucu mamah dan juga Tuan muda, Park Jim-in."
"Sekarang Mamah tidak usah khawatir, di sini aku sudah bahagia bersama mereka. Suamiku... Park Jim-in telah mencintaiku. Banyak kejadian yang kami lewati, dan akhirnya semua baik-baik saja," kata Rania, liquid bening pun meluncur di kedua pipi.
Jim-in menggenggam tangannya erat menguatkan sang istri.
"Assalamu'alaikum Eomma, aku... Park Jim-in. Kami datang ke sini ingin memperkenalkan kedua cucu Eomma. Aku juga... ingin minta maaf sempat tidak mengizinkan Rania ada di hari-hari terakhir Eomma."
"Aku sangat menyesal dan minta maaf sebesar-besarnya." Jim-in terpukul atas rasa penyesalan yang begitu kuat.
Ia juga menangis mengingat kejadian beberapa tahun ke belakang. Suaranya bergetar menahan segala perasaan.
Baik Rania, Akila, maupun Jauhar memandang arah yang sama pada Jim-in ikut merasakan hal tersebut.
Kepala keluarga itu pun membawa ketiganya ke dalam pelukan.