
Namun, siapa yang tahu takdir berbicara?
Siapa pun tidak ada yang tahu bagaimana skenario Allah berjalan. Kadang kala kedatangannya mengundang air mata dan selepasnya mendatangkan senyuman.
Misteri akan selalu hadir membawa kejutan tak terduga.
Sudah satu bulan Rania menjadi perawat magang di rumah sakit. Selama itu pula ia menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
Entah itu di rumah maupun di tempat kerja, tidak ada hambatan yang menghadang maupun mengganggu.
Ia pun sempat memperkenalkan Zahra kepada suaminya yang tempo hari mereka mengadakan makan malam bersama.
Hubungan keluarga, teman, sangat baik Rania jalani. Bertahun-tahun mengarungi rumah tangga bersama sang suami tidak ada aral merintang.
Meskipun kadang kala pertengkaran kecil terjadi, itu hanya sebagai bumbu penyedap dalam pernikahan mereka.
Selebihnya Rania dan Jim-in terlihat sangat romantis di setiap kesempatan yang ada.
"Sayang, apa kamu melihat dasi kesayanganku?" teriak Jim-in dari lantai dua.
Rania yang tengah menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya berjalan beberapa langkah ke depan lalu menengadah melihat sang suami.
"Dasi kesayanganmu yang mana?" teriak Rania kembali.
"Yang warna hitam gradasi abu," ucapnya kemudian.
Rania pun menautkan kedua alis tidak tahu dan bergegas berjalan menaiki tangga.
Sampai tibalah ia di hadapan Jim-in yang menatapnya bingung.
"Bukankah kamu yang biasanya menyimpan barang-barang ku? Para pelayan tidak ada yang berani menyentuhnya, kan? Itu yang sudah kamu katakan sejak kita kembali ke rumah ini," jelas Jim-in yang semakin membuat Rania mengerutkan kening.
"Benarkah? Apa aku mengatakannya?"
Pertanyaan tersebut membuat Jim-in pun kebingungan. Ada yang salah dengan Rania, pikirnya.
Ia berjalan mendekati sang istri menangkup kedua bahunya pelan.
"Beberapa tahun lalu kamu bilang pada semua pelayan, jika kamu akan mengurusi ku dan anak-anak sendiri. Mulai dari mencuci, menyetrika, dan menyiapkan makanan, kamu yang akan melakukannya untuk kita, sedangkan para pelayan hanya membereskan rumah saja dan membantumu sebisanya."
"Apa kamu lupa?" tutur Jim-in mengingatkan.
Rania semakin mengerutkan dahi dalam. Ia tidak ingat jika sudah mengatakan itu pada para pelayan.
"Benarkah? Ah, mungkin aku sedang lelah ... aku tidak ingat, mian," ungkapnya.
Jim-in terkesiap lalu memeluk istrinya hangat.
"Em, tidak apa-apa. Jangan bekerja terlalu keras aku tidak ingin melihatmu kelelahan. Sebagai istri, ibu, dan calon perawat, peranmu banyak sekali. Jangan memaksakan diri," tutur Jim-in seraya mengusap punggung istrinya lembut.
Rania melepaskan pelukan memandang ke dalam manik kecil sang terkasih.
"Tidak banyak, aku senang melakukannya. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, Oppa," balasnya menyakinkan.
Jim-in terkesiap menyaksikan sepasang jelaga memancarkan ketegasan. Kedua sudut bibirnya kembali melengkung membentuk kurva sempurna.
Tangan tegap itu menangkup pipi pujaan hatinya sayang.
"Aku takut kamu kecapean, Sayang," ungkapnya lagi.
Rania menggenggam erat lengan sang suami sembari menengadah menemui iris cokelat terang itu.
"Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya asalkan bisa terus bersamamu."
Jim-in terbelalak, tidak percaya mendengar kata-kata manis dari istrinya. Pernyataan tersebut seketika sampai ke relung hati memberikan rona merah di pipi.
Tanpa bisa mencegah kebahagiaan, Jim-in memberikan kecupan singkat di benda kenyal milik Rania.
Namun, tidak hanya sampai di sana saja penyatuan itu terus terjadi berulang kali mengembara memberikan kelegaan serta kegembiraan tiada tara.
...***...
Jim-in yang tengah melakukan pemeriksaan lagi itu pun terkekeh pelan.
"Seok Jin Hyung bisa saja, aku tadi habis mengantar Rania sekalian ingin tahu bagaimana kondisi kakiku," timpalnya kemudian.
Seok Jin berdecak sebal melihat raut malu-malu terpampang jelas di wajah tampannya.
"Kamu tidak bisa membohongiku. Sejak kapan kamu mengunjungi ku untuk berobat? Bahkan kakimu sekarang sudah baik-baik saja," cerca Seok Jin melepaskan kacamata membingkai ketampanannya.
Jim-in yang tertangkap basah hanya bisa tertawa lepas membuat sang dokter ikut tersenyum lebar.
Seok Jin senang setidaknya sekarang kondisi rumah tangga pasien yang dianggapnya seperti keluarga sudah baik-baik saja.
Ia bersyukur berkat kejadian demi kejadian menimpa mereka, kini cinta benar-benar bisa mengikat keduanya dalam janji suci pernikahan.
"Kamu sangat mencintai Rania, kan?" tanya Seok Jin kembali.
"Tentu, berkat keteguhan serta kesabarannya aku bisa sembuh seperti sekarang," aku Jim-in jujur.
"Syukurlah, Hyung senang melihat kalian terus akur dan harmonis," balasnya senang.
"Kalau begitu, Hyung juga harus cepat ke pelaminan, mau sampai kapan membujang terus?" Tanpa rasa bersalah Jim-in melemparkan pemantik mengeluarkan api dalam sorot mata sang kakak.
"Mwo? Mentang-mentang sudah menikah dan punya anak yah. Kamu!" Seok Jin menunjuk tepat ke wajah Jim-in sembari terbelalak.
Pria itu beranjak dari duduk menghindar amukan sang kakak.
Di lantai berbeda, Rania baru saja selesai menyelesaikan tugas merawat pasien. Ia keluar dari salah satu ruangan di sana dan berjalan di lorong.
Tidak ada siapa pun di sana, hanya ada ia seorang diri saja. Zahra sedang melakukan tugas lain membuat mereka tidak bisa bersama.
Baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba saja Rania merasakan denyutan menusuk di dalam kepalanya. Ia menghentikan langkah seraya mencengkram hijabnya kuat.
"Astaghfirullahaladzim, ya Allah kenapa tiba-tiba sakit sekali?" gumamnya bersandar di tembok.
Napasnya memburu seperti sudah lari maraton berkilo-kilo meter, dadanya pun naik turun mencoba menenangkan diri sendiri.
Rania terus beristighfar dan mengatupkan kedua mata erat berusaha mengusir rasa sakit yang masih melanda.
Kurang lebih lima menit berselang, sakit di kepalanya berangsur-angsur menghilang. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan lalu menggeleng beberapa kali.
"Aku baik-baik saja, mungkin hanya kecapean. Semangat Rania, bismillah," celotehnya menyemangati diri sendiri dan kembali melangkahkan kaki dari sana.
Kembali ke ruangan Seok Jin, kedua pria itu masih berbincang-bincang membicarakan satu sama lain.
Dokter tampan tersebut sengaja memberikan waktu kepada Jim-in untuk mencurahkan perasaannya dan sementara waktu tidak menerima pasien lain.
"Apa anak magang seperti Rania banyak prianya?" tanya Jim-in penasaran.
"Wae? Kamu takut istrimu diambil pria lain?" Goda Seok Jin senang.
"Yak! Hyung!" Pria itu berang.
Seok Jin terkekeh pelan melihatnya. "Tenang saja kamu tidak usah khawatir, meskipun ada pria aku yakin Rania tidak akan berpaling darimu."
Jim-in menghela napas lega seraya berkata, "syukurlah."
"Apa istriku bekerja dengan giat?"
Mendengar pertanyaan tersebut Seok Jin tidak langsung menjawab. Entah kenapa lidahnya tiba-tiba saja kelu sambil memandang lurus ke dalam manik di hadapannya.
"Hyung!" Panggil Jim-in sedikit kencang.
"A-ah iya, istrimu bekerja sangat baik. Dia berpotensi sebagai perawat terbaik di rumah sakit ini," ucapnya antusias.
Jim-in tidak kuasa membendung kebahagiaan dengan melebarkan senyum yang begitu menawan. Ia senang kerja keras sang istri selama ini bisa terbayar.
Ia lega setidaknya bisa mewujudkan mimpi yang sempat terkubur akibat perbuatannya dulu. Ia ingin Rania benar-benar menggapai cita-cita seperti yang diinginkannya dan Jim-in tidak ingin kembali menghambat harapan tersebut.