
Kenangan akan tetap ada sebagaimana masa sudah berubah. Setiap detik yang terlewat memberikan memori berharga sebagai peneman masa depan.
Masa lalu memang tidak akan pernah dihapus begitu saja. Karena berkatnya kadang kala memberikan kebaikan.
Selepas menghabiskan waktu bersama di mansion keluarga Park, Seok Jin berinisiatif mengantar Zahra pulang.
Sepanjang jalan hanya ada deru mesin mobil sebagai peneman.
Entah kenapa kecanggungan kian kentara menari indah di antara mereka.
Terlebih kata-kata Jim-in beberapa saat lalu masih berdengung dalam pendengaran.
Sedari keberangkatan dari bangunan megah itu mereka saling bungkam tidak ada percakapan apa pun.
Sekali-kali Seok Jin menoleh ke samping menyadari diamnya Zahra.
Baru saja bibirnya terbuka, getaran ponsel di tas selempang Zahra mengejutkan.
Buru-buru sang empunya merogoh dan mengeluarkannya. Tertera nama bibi pengasuh di dalamnya membuat Zahra menghela napas pelan.
"Assalamu'alaikum, iya ada apa bi?" tanya Zahra menggunakan bahasa ibunya.
Seseorang di seberang sana berbicara cukup panjang sembari sedikit berteriak.
Suaranya begitu nyaring sampai-sampai Seok Jin yang tengah menyetir pun menoleh, terkejut.
"Aku masih belum mendapatkan uangnya, bi. Nanti kalau sudah ada pasti aku berikan, bibi jangan khawatir," balas Zahra lesu.
Tidak lama setelah itu ia menutup telepon dan memasukannya kembali ke dalam tas.
"Em, bisakah seonsengnim mengantarkan saya ke rumah sakit?" pinta Zahra kemudian.
Seok Jin yang mendengar itu terkejut dan menatap ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, sudah sangat larut jika Zahra melanjutkan magangnya hari ini.
"Apa kamu mau bekerja sekarang?" tanya Seok Jin penasaran.
"Ne," balas Zahra singkat.
"Ini sudah larut, lebih baik hari ini kamu pulang saja dan istirahat," kata Seok Jin lagi.
Kepala berhijab itu menggeleng kuat.
"Tidak bisa, saya harus tetap bekerja. Kalau begitu bisa turunkan saya di sini?"
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya dokter tampan itu lagi.
"Saya mohon," pintanya Zahra kembali.
Mau tidak mau Seok Jin pun mengikuti keinginannya dan langsung menepikan mobil.
"Terima kasih banyak." Zahra bergegas keluar tanpa mendengar perkataan Seok Jin lagi.
Pria itu terus memperhatikan dengan mengikuti ke mana Zahra melangkah.
Sampai tidak lama kemudian sebuah taksi datang dan ia pun masuk ke dalamnya.
"Apa dia akan ke rumah sakit?" gumamnya menginjak pedal mengekori ke mana mobil itu membawanya.
Di dalam taksi, Zahra menangis dalam diam berusaha mengendalikan diri untuk tidak terisak.
Kata-kata yang dikirimkan oleh sang bibi barusan sangat menyayat perasaan.
Pesan itu berisikan: "Kamu jangan lupa memberikan uang pada kami. Ingat! Kamu harus membiayai ketiga adikmu di sini. Jangan jadi anak tidak tahu diri kamu!"
Chat tersebut membuat perasaannya terluka. Ingatannya berputar pada beberapa tahun ke belakang.
Zahra adalah anak yang sudah ditinggalkan oleh ayah dan ibunya sejak berumur dua belas tahun.
Pada saat itu orang tuanya mengatakan untuk pergi bekerja keluar negeri dan meninggalkan ketiga adiknya yang masih kecil.
Mereka pun tinggal bersama adik dari sang ibu. Namun, perlakuan yang diberikan terkadang membuat keempatnya harus menelan pil pahit.
Mereka juga mendapatkan kabar jika ayah dan ibu sudah mempunyai keluarga masing-masing.
Rupanya orang tua mereka sudah resmi berpisah sejak keberangkatannya ke negara orang.
Sejak saat itu kehidupan empat kakak beradik tersebut semakin tak karuan. Zahra sebagai kakak tertua harus banting tulang membiayai ketiga adiknya. Karena sang bibi begitu tidak peduli terhadap kehidupan mereka.
Bermodalkan kepintaran yang dimilikinya Zahra pun mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Negara Ginseng.
Di sana tanpa Rania ketahui, di samping magang sebagai perawat di rumah sakit ia juga memiliki pekerjaan paruh waktu di beberapa toko di ibu kota.
Siapa yang menduga jika kehidupan seorang Zahra begitu sulit. Ia terkendala ekonomi dan harus banting tulang guna menghidupi ketiga adiknya di tanah air.
Sejak masih kuliah pun ia terus bekerja tanpa lelah. Uang yang ia hasilkan dikirimkan kepada mereka. Baginya kehidupan yang layak untuk ketiga adiknya adalah yang utama.
Setibanya di rumah sakit, Zahra langsung pergi ke toilet membasuh wajahnya menghilangkan jejak air mata.
"Aku harus kuat... aku tidak boleh lemah pada keadaan. Karena bagaimanapun ini adalah takdir yang harus aku lalui," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia memandang diri sendiri lewat cermin wastafel. Tetes demi tetes air dari wajah pun mengantarkan pada gelenyar kesedihan.
Zahra berusaha kuat dan tegar menghadapi semuanya.
Setelah beberapa saat kemudian, ia keluar dari toilet dan bergegas menjalankan tugas.
Ia menerima peringatan, sebab melebihi shift masuk seperti biasanya. Namun, Zahra tidak mengindahkan hal tersebut dan menerimanya dengan ikhlas.
Baru beberapa langkah keluar kedua kakinya kembali berhenti. Netranya memandang lurus ke depan menyaksikan ketiga orang yang masuk ke rumah sakit.
Zahra mendengus kasar seraya tertawa masam.
Tidak jauh dari keberadaannya, Kim Seok Jin yang mengikutinya sedari tadi menautkan kedua alis, heran.
Ia lalu menoleh ke samping kanan di mana ketiga orang yang menjadi objek perhatian tertangkap pandangan.
Seok Jin kembali beralih pada Zahra yang melangkahkan kaki lagi seraya mengusap wajah kasar.
Menyaksikan hal tersebut Seok Jin terkejut melihat air mata mengalir di wajah cantiknya.
Di saat ia hendak melangkahkan kaki mendekati Zahra, pemandangan di depan mengejutkan.
Di sana ia melihat wanita paruh baya menampar kuat sebelah pipi wanita berhijab itu.
Seok Jin tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka berdua, yang jelas ia sadar ada sesuatu terjadi.
Sebelum kejadian itu terjadi, Zahra yang tidak kuasa menahan emosi terdalam pun mendekat kepada wanita baya di sana.
"Ternyata kita bertemu di sini?" tanyanya mengejutkan.
Wanita paruh baya yang baru saja mengantarkan putri kecilnya ke ruangan hendak berjalan ke bagian administrasi pun terdiam.
Ia menoleh ke samping mendapati Zahra yang tengah mengembangkan senyum penuh makna.
"Maaf, apa Anda mengenali saya?" tanyanya begitu saja.
Mendapatkan pertanyaan tadi Zahra mendengus kasar.
"Apa Nyonya tidak ingat punya empat orang anak? Saya Zahra, anak yang sudah Anda buang, saya harap kehidupan Anda beserta keluarga baru selalu bahagia-" Namun, sebelum Zahra selesai berbicara wanita yang sudah melahirkannya langsung memberikan tamparan kuat.
Suaranya bergema menarik perhatian orang lain.
Zahra terkekeh pelan mendapatkan tamparan dari ibu kandungnya sendiri.
"Terima kasih banyak sambutannya, Mamah," katanya lagi lalu pergi begitu saja.
Dengan perasaan campur aduk, Zahra bergegas meninggalkan semua luka yang tertanam di sana.
Begitu sakit luka yang tercetus dalam dada berkat orang terdekatnya. Zahra sangat kecewa mendapatkan tamparan setelah sekian tahun mereka tidak bertemu.
Kejadian tadi sangat menarik perhatian membuat orang-orang saling berbisik.