
Kebahagiaan hanya sebatas keinginan untuk memulai kehidupan lebih baik lagi.
Kisah akan terus berlanjut sampai pada titik menemukan kebahagiaan itu sendiri.
Perjalanan panjang harus ditempuh untuk mencapai titik tersebut. Jatuh bangun, dilalui dengan penuh derai air mata.
Banyak luka yang tertoreh dan menjadi bayangan masa lalu.
"Hari ini rencananya Oppa akan kembali melakukan terapi, bagaimana perasaanmu?" tanya Rania yang baru saja tiba dan meletakkan pakaian di dalam nakas.
"Aku sudah bosan berada di rumah sakit terus, mau pulang," rengek Jim-in seperti anak kecil.
Ayana menoleh pada sang suami seraya tersenyum lebar.
"Sebentar lagi kita pulang. Oppa hanya perlu melatih otot-otot lagi saja," jelas Rania duduk di tepi ranjang.
Jim-in menghela napas kasar dan menunduk dalam.
Melihat itu Rania menggenggam tangannya erat.
"Jangan sedih, Oppa. Semua ini untuk kebaikanmu juga," katanya lagi.
Jim-in menghela napas pelan dan memandangi pujaan hatinya lekat.
"Aku sudah merindukan Akila dan Jauhar. Aku ingin berkumpul bersama mereka di rumah," keluhnya mengerucutkan bibir pelan.
"Sabar, Sayang. Kita bisa berkumpul bersama lagi nanti, tugas Oppa sekarang adalah sembuh dengan cepat."
"Maaf, karena keegoisanku Oppa jadi seperti ini. Aku benar-benar minta maaf," sesal Rania, sendu.
Jim-in terkesiap mendapati wajah muram kekasih hatinya.
"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Semua ini bukan salahmu, tetapi memang sudah takdirnya." Jim-in mengusap rahang Rania lembut mencoba menenangkan hatinya.
"Bukankah dengan adanya kejadian ini juga ingatan mu bisa kembali?"
Rania hanya tersenyum pelan dan mengangguk singkat.
"Jangan sedih lagi," lanjut Jim-in mengusap sebelah pipinya.
Beberapa detik Rania diam meresapi perkataan suaminya. Ia berpikir tidak baik jika terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Ia lalu kembali mengangguk dan tersenyum pelan.
"Baiklah, terima kasih Oppa," ujarnya.
"Baiklah, saatnya terapi Tuan."
Suara seorang wanita mengalun membuat pasangan suami istri di sana tersadar.
Kedua tangannya terlepas seraya memandang ke arah yang sama.
"Zahra? Kamu kembali bertugas?" tanya Rania beranjak dari duduk.
"Tentu saja, aku tidak bisa berleha-leha barang sedetik saja," balasnya mengedipkan sebelah mata pada sang sahabat.
Rania yang mengetahui semangatnya tidak terkalahkan pun mengembangkan kedua sudut bibir lebar.
"Kamu memang luar biasa, Zahra," pujinya.
Wanita itu hanya tertawa kecil, menimpali.
"Baiklah Tuan saatnya kita memulai terapi," lanjut Rania membantu sang suami duduk di kursi roda.
Tidak lama berselang mereka mulai meninggalkan ruangan menuju lantai dua tempat terapi berada.
Beberapa saat berlalu, ketiganya pun tiba. Di sana sudah ada dokter tampan, Kim Seok Jin yang tengah menunggunya dari tadi.
"Lama sekali, apa kamu tidak ingin sembuh?" katanya berkacak pinggang seperti seorang ibu memarahi anaknya.
"Benarkah? Apa kamu tidak malu merengek seperti anak kecil?" sindir Seok Jin seraya mengambil alih kursi roda sang pasien.
Jim-in melipat tangan di depan dada mendengus kasar.
Rania dan Zahra saling pandang lalu tertawa pelan.
...***...
Sama seperti beberapa tahun lalu, di sana, di tempat itu, di ruangan yang sama, Rania menghadapi kejadian serupa.
Bagaikan de javu untuk kesekian kali ia merasa bersalah atas apa yang menimpa sang suami.
Namun, penyesalan tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Ia harus menghadapinya dan memperbaiki semua itu menjadi lebih baik.
"Kamu tahu Zahra? Sebenarnya kami pernah berada di situasi seperti ini," cetus Rania seraya memandang lurus ke depan di mana tidak jauh dari keberadaan mereka, Seok Jin tengah memberikan arahan kepada Jim-in.
"Huh, maksudmu?" tanya Zahra tidak mengerti.
Rania pun menceritakan semua hal-hal yang pernah dirinya lewati bersama sang suami.
Mulai dari perjodohan mereka, Rania merasa tertipu harus menikahi pria lumpuh, sampai dijadikan perawat pribadi oleh keluarga Park, serta kedatangan Yunna membuat rumah tangga keduanya berantakan.
Sampai pada akhirnya cinta itu datang merubah segalanya.
Berkali-kali Zahra tercengang, tidak percaya, dan menduga kisah percintaan sang sahabat bisa serumit itu.
Ia pikir dari awal keduanya memang saling jatuh cinta dan melabuhkan perasaan pada ikatan suci pernikahan.
"Aku tidak tahu jika... dari awal hubungan kalian tidak sebaik itu. Ditambah kemarin kamu sempat kehilangan ingatan, pasti semuanya serba berantakan," kata Zahra menimpali.
Kepala berhijab itu mengangguk sekilas dan mengulas senyum simpul.
"Semua memang tidak baik-baik saja, tetapi berkat perasaan yang kami miliki keadaan menjadi lebih baik lagi," balas Rania menoleh ke samping kiri melihat sang lawan bicara masih melihat ke depan.
"Jadi, kamu tahu Zahra? Cinta bisa datang kapan saja, tidak peduli statusmu seperti apa, kedudukan kalian bagaimana, tetapi jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin."
"Jadi, Zahra... aku tahu sebenarnya kamu juga mempunyai perasaan yang sama kan pada Seok Jin Oppa? Aku bisa melihat semua-"
"Beberapa saat lalu aku bertemu dengan ayah kandung. Dia ada di sini, sedang berlibur bersama keluarga barunya."
"Aku semakin insecure terhadap... diriku sendiri. Keluarga ku yang berantakan, status sosial kita yang berbeda, bagaimana mungkin aku bisa percaya diri untuk bersanding dengannya? Aku tidak mempunyai keberanian itu, Rania," ungkap Zahra menundukkan kepala dalam.
Rania lagi-lagi melengkungkan sudut bibir hangat seraya mengusap punggungnya beberapa kali.
"Pasti sulit bagimu, Zahra. Aku mengerti apa yang sedang kamu pikirkan, tetapi... jangan khawatir serahkan semuanya kepada Allah. Aku yakin ada kebaikan yang menyertai mu," balas Rania lagi.
Zahra mengangguk pelan. "Aku tahu, jika hendak melangkahkan ke jenjang pernikahan seorang wanita membutuhkan seorang wali dan itu ayah, kan? Aku... entah kenapa sulit untuk bertemu ayahku lagi. Karena rasa sakit yang aku rasakan atas kelakuan mereka."
Rania melebarkan pandangan dan kembali mengusap punggungnya beberapa kali.
"Aku mengerti, aku sangat mengerti Zahra. Tenanglah, untuk saat ini kamu hanya perlu bersabar dan menyembuhkan perasaan mu sendiri."
"Namun, asal kamu tahu sebanyak apa pun kesalahan orang tua... mereka tetap ayah dan ibu kita. Sampai kapan pun tidak ada yang berubah. Jika kamu mampu memaafkan keduanya, pasti ada kebaikan yang Allah berikan."
"Aku hanya bisa mengatakan apa yang dipikirkan, maaf kalau kesannya menasehati mu atau memaksamu," kata Raina merasa tidak enak.
Namun, bukan jawaban yang didapatinya melainkan pelukan erat dari sang sahabat.
Zahra menerjang Raina secepat kilat dan terus memeluk tubuh rampingnya kuat.
"Terima kasih, Raina. Jika bukan karena mu, aku tidak akan bisa berbuat apa pun. Mungkin aku akan terus menyimpan dendam kepada mereka, tetapi... setelah mendengar nasehat mu barusan, aku sadar... menyimpan dendam itu tidaklah baik," tutur Zahra lirih.
Raina tercengang dan sadar mengetahui perasaan terdalam.
"Aku tahu kamu wanita yang baik, Zahra. Kamu bisa mengatasinya, tenang saja... kamu tidak sendirian, di sini ada aku, ada ketiga adikmu, juga ada Allah yang senantiasa bersama kita. Percayalah suatu saat nanti semua baik-baik saja," balas Rania membalas pelukannya tak kalah erat.
Zahra hanya mengangguk pelan seraya menitikkan air mata.