
"Bukankah dulu aku pernah mengatakan... jika Mi Kyong terlihat suka padamu? Terakhir kali aku mendengar tentang persahabatan kalian... aku berpikir ada yang tidak beres."
"Maksudku, bagaimana bisa wanita itu terus menghubungimu di saat dirinya saja harus fokus kepada studinya? Memang tidak masalah kalau dia punya banyak waktu luang, bukankah bersekolah di sekolah bergengsi itu tidak mudah?"
"Dulu kamu mungkin tidak terlalu mempedulikannya sebab begitu mencintai Yunna. Kamu terlena kan oleh keberadaannya, tetapi sekarang... apa kamu tidak memikirkan perasaan Rania juga?" tutur Seok Jin panjang lebar mengungkapkan keheranannya.
Ia tidak habis pikir bagaimana bisa pria yang dianggapnya sebagai adik sendiri melakukan hal itu pada sang istri, bahkan sudah jelas-jelas Jim-in sangat mencintai Rania.
"Bagaimana bisa ada artikel yang mengatakan jika kamu calon suami Song Mi Kyong?" tanya Seok Jin lagi.
"Di-dia memintaku-"
"Hanya karena dia memintamu... lantas kamu menerimanya begitu saja? Apa kamu tidak memikirkan resikonya? Apa kamu lupa keluarga dia itu seperti apa?" Seok Jin terus mengingatkan.
Sang tuan muda menunduk, tersungkur dalam lautan ingatan. Masa lalu kembali hadir membuat dirinya sadar tentang perlakukan Mi Kyong terhadapnya.
Di kala ia dinyatakan lumpuh, beritanya sampai ke telinga sang sahabat. Padahal ia tidak pernah mengabarkan berita buruk tersebut.
Namun, entah kenapa sejak saat itu Mi Kyong semakin rajin menghubunginya. Memberikan perhatian layaknya kepada pasangan yang begitu berharga.
Benar apa kata dokter tampannya tadi, ia tidak terlalu mempedulikan perhatian serta kekhawatiran sang sahabat, sebab ada Yuuna di sampingnya.
Dulu, ia juga mengabaikan keberadaan Rania yang notabene istri sahnya baik di mata hukum maupun agama. Sekarang, ia kembali mengulang hal sama yang sudah pasti menghadirkan luka.
Jim-in menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepala bulat itu mendongak bersitatap dengan sang kakak.
Ia juga teringat pada saat Mi Kyong mengakui perasaannya. Namun, ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu dan menolaknya mentah-mentah.
"Aku benar-benar bodoh, Hyung. Seharusnya... seharunya aku menceritakan semuanya pada Rania agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku yakin sekarang Rania-"
"Sudah aku katakan istrimu sedang menangis di lobi. Ia menangis di pelukan Zahra, mungkin tidak kuat lagi menahan sesak di dada."
"Kamu terlalu bermain-main dengan cara halus, Jim. Jika sudah seperti ini kamu harus siap-siap menghadapi resikonya," ujar Seok Jin terkesan menakuti.
Iris kecil Jim-in melebar singkat, dan sadar pada kesalahannya sendiri. Ia terlalu ceroboh mengabaikan permainan sang sahabat yang telah mengambil alih.
"Aku tahu, Hyung. Terima kasih sudah mendengarkan semua keluh kesah ku. Aku akan mencoba memperbaikinya," ungkap Jim-in yakin.
"Bagus, memang harus seperti itu. Karena seperti yang kita tahu ingatan Rania mengenai kamu mencintainya dengan tulus belum juga kembali. Tugasmu ada dua, pertama kamu harus meminta maaf pada Rania... dan yang kedua kamu harus membimbingnya mengembalikan ingatan, agar kepercayaan dirinya bisa dibangun lagi."
"Jangan sampai kamu hanya mengucapkan cinta dari mulut saja tanpa bertindak apa pun," usul kakaknya membuat Jim-in berkali-kali mengangguk, paham.
"Baik Hyung aku akan mencobanya." Final Jim-in kemudian, Seok Jin hanya mengiyakan.
...***...
Rania tengah berjalan di lorong sendirian, perasaannya sedikit lebih lega setelah mengungkapkannya pada sang sahabat.
Beberapa saat lalu mereka berbicara bersama di atap rumah sakit lagi. Tempat itu menjadi saksi bisu bagaimana para insan yang terlibat satu sama lain saling mengutarakan perasaan.
Di rasa sudah lebih baik, Rania mencoba bertugas kembali sebagi perawat magang, sedangkan Zahra pulang mengistirahatkan tubuhnya dari shift malam.
Selesai menangani para pasien bersama perawat lain, Rania keluar ruangan dan melangkah hendak menuju ruang istirahat berada.
Entah kenapa sedari tadi belakang kepalanya terasa sakit lagi. Ia ingin membaringkan tubuhnya sebentar di sana agar tidak terjadi hal tak diinginkan.
Rania menyadari dirinya belum sembuh secara total.
Rasa sakit itu semakin timbul, Rania berusaha menahan diri di depan pintu ruangan dengan menutup kedua mata rapat.
Ia beristighfar pelan mencoba mengenyahkannya. Namun, tetap saja sakit yang terasa menusuk-nusuk itu tak kunjung hilang.
Baru saja hendak membuka ruang istirahat, tangannya mengambang di udara kala satu panggilan menghentikan pergerakan.
Rania pun menoleh mendapati Kim Seok Jin tengah tersenyum lebar padanya. Dokter tampan yang telah dianggap sebagai keluarganya sendiri itu pun berjalan mendekat.
"Kamu sudah selesai bekerja?" tanya Seok Jin begitu saja.
"Iya, baru selesai sesi satu," balas Rania disertai senyum menahan pusing yang memburamkan pandangan.
"Em, bisa kita berbi-"
Belum sempat Seok Jin menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Rania terjatuh. Sontak hal itu membuatnya terkejut bukan main dan buru-buru mendekat.
"Rania...Rania, bangun Rania." Panggil Seok Jin yang tidak mendapatkan jawaban apa pun.
Melihat kondisinya yang sudah menutup mata, Seok Jin meminta para perawat lain untuk membantunya memindahkan Rania ke ruang inap.
Di sana ia langsung memeriksa keadaan istri dari adiknya secara berkala. Selang infus kembali menancap di pergelangan tangan Rania membuat Seok Jin menatapnya lekat.
"Kenapa kamu memaksakan diri?" gumamnya.
Tidak lama berselang, ia pun menghubungi Jim-in untuk kembali ke rumah sakit. Ia mengabarkan jika Rania jatuh pingsan dan harus dirawat.
Di tempat berbeda, Jim-in yang tengah mengadakan rapat bersama beberapa karyawan terkejut bukan main.
Ia bangkit dari kursi kebesarannya saat mendapatkan panggilan mengejutkan tersebut. Tanpa mengatakan apa pun Jim-in bergegas pergi begitu saja.
Sang sekertaris yang menyadari ada sesuatu terjadi pun menjelaskan situasinya. Para karyawan yang berada di sana hanya mengangguk paham.
Sepanjang jalan menuju lantai bawah, Jim-in terus memikirkan keadaan sang istri. Dengan jantung berdebar kuat ia membayangkan Rania, takut terjadi sesuatu yang serius.
Beberapa saat kemudian ia tiba di parkiran bawah tanah, ia bergegas mencapai kendaraannya berada.
Namun, niat ingin buru-buru pergi harus diurungkan kala seseorang mencengkram pergelangan tangannya kuat.
Jim-in menoleh mendapati Mi Kyong tersenyum manis.
"Kamu mau ke mana? Bukankah hari ini kamu sudah janji denganku untuk membicarakan bisnis?" tanyanya penasaran melihat wajah cemas di sana.
"Kita bisa membahasnya nanti, okay. Sekarang aku harus pergi!" Jim-in menghempaskan tangan ramping Mi Kyong kuat.
Wanita itu sedikit terhempas, tidak percaya dengan kelakuan kasar sang sahabat. Dalam diam ia menyaksikan Jim-in masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.
Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Mi Kyong pun cepat-cepat masuk kembali ke kendaraan mewahnya mengikuti ke mana sang sahabat pergi.
Sepanjang jalan, Mi Kyong terus meracau masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menyusul satu persatu kendaraan di depannya guna tidak kehilangan jejak Jim-in.
Suara klakson saling bersahutan menyadarkan sang pengendara untuk lebih berhati-hati. Namun, Mi Kyong sama sekali tidak mengindahkan peringatan tersebut malah semakin melajukan kendaraan roda empatnya.
"Bagaimana... bagaimana bisa Jim-in memperlakukanku seperti tadi? Apa yang sedang dia kejar?" racaunya kemudian.
"Ke manapun dia pergi aku tidak akan melepaskannya," lanjut Mi Kyong semakin mendekati mobil Jim-in.
Tanpa pria itu ketahui sedari tadi sang sahabat terus mengekorinya dari belakang.
Sampai tidak lama berselang ia tiba di rumah sakit. Mi Kyong terkejut melihat Jim-in memasuki gedung itu dengan kedua alis tegasnya saling bertautan.
Secepat kilat ia pun kembali mengikuti ke mana sosoknya pergi. Ia terus berjalan dan berjalan tanpa diketahui oleh Jim-in.
Hingga ia sampai di lantai VVIP dan melihat Jim-in merunduk, mengusap puncak kepala istrinya penuh perhatian.
Mi Kyong melebarkan kedua mata tidak percaya. Ini pertama kali ia melihat sikap manis yang dilayangkan Park Jim-in.
"Jadi, dia benar-benar mencintai wanita itu?" gumamnya terkejut.