VARSHA

VARSHA
Bagian 52



...



...


...๐ŸŒฆ๏ธ...


...๐ŸŒฆ๏ธ...


...๐ŸŒฆ๏ธ...


Gema kicau burung menjadi pengiring menyambut paginya yang patah. Ternyata bukan matahari cerah yang didapatinya, melainkan segumpal awam mendung menutupi langit biru. Hamparan benda putih di atas sana menjadi penentu kepedihan.


Sejak Park Jim-in membuka mata, hanya kekosongan yang menyambutnya. Semalam ia tertidur di atas sofa ruang keluarga. Para pelayan berdatangan satu persatu menatap heran ke arah Tuan Mudanya. Bisikan demi bisikan mulai berdengung mengganggu pendengaran.


Jim-in pun menoleh mendapati mereka tengah memandanginya lekat. Melihat tatapan elang bak memangsa buruannya, para pelayan pun membubarkan diri. Hanya satu yang setia masih berdiri di sana. Sang Oh. Pria paruh baya tersebut berjalan mendekat.


"Tuan Muda?" cemasnya.


Jim-in hanya memandangi pelayan senior itu tanpa niatan membalas sapaannya. "Kenapa tuan tidur di sini?" lanjutnya lagi membuat Tuan Muda tersebut seketika beranjak dari berbaringnya.


Kepala bersurai hitam legamnya menunduk dalam untuk beberapa saat. Ia pun kembali mendongak seraya membalas tatapannya lagi.


"Kenapa tuan?" Sang Oh masih memberinya pertanyaan.


Lama ia membungkam mulutnya rapat hingga setelah 5 menit kemudian, "aku bertengkar dengan Rania." Adunya.


Sang Oh mengerutkan kening. Tidak menyangka mendengar pengakuan sang majikan. Jim-in yang terlihat begitu mencintai sang istri tidak mungkin bertengkar sampai membuatnya hampir putus asa, bukan? Pikirnya. Namun, sepertinya ucapan yang keluar dari Tuan Muda benar adanya.


"Kenapa tuan bisa bertengkar dengan nona?" Jim-in kembali diam. Ia berpikir tidak seharusnya mengatakan masalah rumah tangga pada orang lain. Meskipun Sang Oh sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.


Mengerti arti diam dari Sang Tuan, Sang Oh pun menggembangkan senyum. "Saya tahu berat bagi tuan untuk mengatakannya. Tetapi, menurut saya nona pasti mengerti dengan pertengkaran yang terjadi. Yakinlah cinta tidak semudah itu bisa dilupakan. Apalagi jika sudah ada kata sayang di dalamnya, tidak mungkin terpecah begitu saja. Suatu hubungan jika di dalamnya ada cinta dan kasih sayang pasti bisa bertahan. Terlebih dalam hubungan pernikahan yang terikat dalam janji kepada Tuhan. Dan juga sekarang ada buah hati yang tengah dikandung nona. Hubungan itu pasti tidak mudah terpisahkan." Tuturnya memberi kekuatan. Jim-in pun teringat mengenai ucapannya semalam. Apa Rania bisa melupakannya. Tuduhan tanpa mendasar yang keluar dari bibirnya telah menorehkan luka teramat dalam.


Namun, secercah harapan nampak mencuat ke permukaan. Wajah yang semula datar kembali berbinar. Jim-in melihat ketegasan dalam mata sayu itu. Seulas senyum terpendar dibibir keringnya. Ia pun mengangguk menyetujui perkataan Sang Oh.


Ia kemudian beranjak dari duduknya seraya mengucapkan terima kasih lalu pergi dari hadapan sang pelayan. Sang Oh menatap kepergian Tuan Mudanya berharap ada kebaikan menyertainya.


"Tapi bagaimana jika keadaan tidak seperti yang dikatakan? Apa tuan bisa bertahan?" gumamnya merasakan suatu firasat. "Ahh do'akan saja yang terbaik buat tuan dan nona." Lanjutnya kemudian melenggang dari ruangan itu.


...๐ŸŒฆ๏ธ๐ŸŒฆ๏ธ๐ŸŒฆ๏ธ...


Satu demi satu anak tangga ditapakinya perlahan. Dengan membawa harapan sebesar gunung dan sedalam lautan, Jim-in meyakinkan diri untuk meminta maaf pada Rania. Bulan sabit yang melengkung pun tidak pernah pudar diwajah tampannya.


Tidak lama berselang ia tiba di lantai atas. Kedua kakinya melangkah menuju kamar yang sudah dihabiskannya bersama sang istri. Kayu jati bercat coklat lembut itu tepat di hadapannya. Tangan putinya terulur menggenggam gagangan pintu.


Cklekk!!


"Rania." Panggilnya seraya melenggang masuk.


Kakinya membawa ke mana pun hatinya inginkan. Ruang ganti sampai kamar mandi tidak luput dari pencarian. Jim-in pun kembali keluar berlarian ke semua sudut rumah berharap ada satu ruangan yang terdapat sang istri di dalamya.


Tetapi, harapan hanyalah tinggal harapan. Ke mana ia pergi sosok Rania tidak ada di mana pun. Jim-in memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan langsung menyambar lemari pakaian.


Kosong. Tidak ada satu helai pun pakaian Rania. Bahkan koper dan tas jingjingnya pun turut menghilang. Seketika pikirannya kalut, perasaan tidak enak menyapanya kuat. Bola matanya bergulir mencari satu petunjuk yang ditinggalkan.


Hingga sampailah pandangannya ke atas nakas samping tempat tidur. Di sana tergeletak secarik kertas yang terlipat. Dengan perasaa gamang ia melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Tangannya terulur mencapai benda mati tersebut.


Ia pun membuka lipatannya dan melihat deretan tulisan hangel. Ia tahu surat itu berisi kata-kata terakhir dari sang istri.


'Assalamu'alaikum imam. Aku minta maaf jika selama menjadi istri, tidak bisa melakukan yang terbaik. Aku sadar setelah apa yang terjadi derajat kita tidaklah sama. Bagaikan air dan minyak, keduanya tidak bisa bersatu meskipun kita mengaduknya dengan kuat. Maaf tidak bisa menjadi istri sholehah untukmu. Terlalu banyak air mata yang mengiringi pernikahan ini. Aku harap oppa bisa mendapatkan pengganti diriku yang lebih baik. Maaf, aku pergi untuk menenangkan diri. Jika memang Allah menghendaki kita masih bersama mungkin lain waktu, kita akan bertemu lagi. Tetapi jika tidak aku akan terus mendo'akan yang terbaik. Terima kasih sudah memberikan kenangan indah padaku. Mianhae......'


Rania Varsha Hafizha.


Hancur. Seketika hatinya hancur berkeping-keping. Air mata tumpah ruah membasahi pipi. Kedua kakinya menyerah tidak bisa menahan berat badannya sendiri. Jim-in jatuh kembali merasakan dinginnya lantai kamar.


Seperti inikah rasanya saat Rania mendengar perkataannya tadi malam? Seketika bayangan itu datang dalam ingatan. Jim-in meremas kuat kertas tersebut dengan perasaan kalut. Ia tidak menyangka Rania akan pergi meninggalkannya sendirian. Cinta dan kasih sayang yang terhubung dalam suatu pernikahan terkalahkan oleh badai ketidakpercayaan.


Jim-in telah melakukan kesalahan yang menyakitinya terlalu dalam. Kecewa menjadi satu kata alasan kepergian sang istri.


"RANIAAAAA....." teriaknya menggema dalam ruangan.


Semua pelayan terkejut mendengar itu seraya melirik satu sama lain.


...๐ŸŒฆ๏ธ๐ŸŒฆ๏ธ๐ŸŒฆ๏ธ...


Sedangkan di tempat berbeda, varsha masih mendiami netra jelaganya. Cairan bening itu terus meluncur tanpa bisa dicegah. Keheningan menemani tekadnya untuk pergi meninggalkan luka. Mungkin perlakuannya bisa dimaafkan, tapi perkataan yang tidak mengakui darah dagingnya sendiri ke mana kata maaf itu pergi? Rania tidak bisa mengatasinya.


Ia pun memutuskan pergi dengan membawa kepedihan. Luka yang diberikan sang suami terlalu dalam dan terlalu parah. Membuatnya terlalu patah dan menghilangkan senyum diwajah cantiknya.


"Aku harap setelah ini tidak ada lagi varsha kepahitan dalam hidup. Ya Allah semoga keputusanku tidak salah. Pergi menjadi satu-satunya pilihan yang bisa ku lakukan sekarang. Sayang, mamah janji akan membesarkan dan membahagiakanmu dengan baik. Maafkan ayah yang tidak mengakuimu. Jangan sedih masih ada mamah di sampingmu. Mamah sangat mencintai dan menyayangimu sepenuh jiwa, raga." Monolognya dalam diam. Tangannya pun tidak berhenti terus mengelus perut buncitnya.


Ia memutuskan untuk pergi mencoba menghilangkan dan melupakan kesakitan yang diterimanya di sana. Bersama hujan semalam Rania sudah memantapkan diri meninggalkan sang suami yang pernah dicintainya.


ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุจูู†ูŽุง ุจูŽุตููŠู’ุฑู‹ุง


"Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami." (Q.S Taha ayat 35)


Ia juga percaya Allah tidak pernah meninggalkannya sendirian.


...๐ŸŒฆ๏ธKEPERGIAN๐ŸŒฆ๏ธ...