
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Rania yang tidak bisa meneruskan perjalanan menuju bandara terpaksa menepi di salah satu cafe. Sudah beberapa bulan ia meninggalkan ibu kota. Dan hari ini ia kembali walaupun hanya sesaat. Bersama dengan tetesan air hujan, ia teringat akan kenangan saat bersama Tuan Muda. Hari-hari menegangkan, tapi penuh makna itu pun membuatnya mengulas senyum. Entah apa arti lengkungan bulan sabit diwajahnya ini, yang jelas Rania tidak ingin mengenangnya.
"Ooowwwaaaaa..." tiba-tiba saja sang anak dalam gendongannya menangis kencang.
Beberapa pengunjung pun mengalihkan perhatiannya pada Rania. Mendapatkan tatapan seperti itu pun membuatnya panik. Ia langsung membawa sang putri menjauh dari keramaian.
Tidak biasanya buah hatinya ini menangis keras seperti menahan kesakitan. Ia dilanda ketakutan dan khawatir secara bersamaan.
"Sayang, kamu kenapa? Ini mamah sayang. Ssyyuuutttt, putri mamah tidak boleh menangis. Cantiknya mamah kan anak sholehah. Jangan menangis yah, sayang." Celoteh Rania seraya menimang-nimang putri tercintanya.
Namun, bukannya mereda tangisan itu malah semakin keras. Seketika itu juga Rania berubah panik. Ia takut terjadi apa-apa pada anaknya.
Di tengah kekalutannya, ponel yang berada disaku gamisnya bergetar. Buru-buru Rania mengeluarkannya dan melihat nama si pemanggil. Perasaan lega nampak diwajah cantiknya. Ia berharap seseorang itu bisa membantunya sekarang.
"Yeobseo. Seok Jin oppa bis_"
"Rania, Jim-in mengalami kecelakaan. Sekarang dia akan menjalani operasi, aku harap kamu datang. Dia ada di rumah sakit pusat Seoul."
Tutt!! Tutt!! Tut!!
Panggilan berakhir sepihak. Seketika ia merasa sesak napas kala mendengar penuturan dokter tampan tersebut.
Brakk!!
Benda pintarnya lolos dari genggaman. Rania pun langsung memeluk putrinya erat. Tidak bisa dipungkiri jika mungkin bayi dalam gendongannya merasakan suatu firasat.
"Sayang, kamu menyadari sesuatu tentang appa?" bisiknya lirih menahan isak tangis.
Hujan masih mengguyur kota Seoul. Angin berhembus kencang menerbangkan apapun yang bisa dijangkaunya. Cuaca buruk mengantarkan mimpi kejam padanya hari ini. Rania tidak menyangka mendapat berita mengerikan itu.
Langit masih menampakan kelabu. Cairan kegelisahan menemani kepiluan. Kata yang hendak terucap tercekat dalam tenggorokan. Cinta yang menyakitkan melahirkan kepedulian. Tidak apa jika masih membayang. Tidak apa jika sakit masih terasa pedih. Namun, kasih sayang tidak bisa dilupakan begitu saja. Terlebih banyak kenangan yang sudah terlewati bersama.
Dengan kepenikan yang mendera, Rania langsung pergi dari sana. Di perjalanan tidak henti-hentinya ia terus berdo'a untuk kebaikan pria itu. Bagaimana pun juga Park Jim-in masih ada dalam kisah kehidupannya.
Varsha yang datang tidak kunjung reda, membuat taksi yang ditumpanginya berkali-kali berhenti guna menghindari kecelakaan. Di tambah kawasan macet membuatnya terjebak. Tidak lama setelah ia memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit, tangisan sang anak pun mereda.
Ia menatap putri kecilnya mulai tertidur. Entah apa yang tengah diraskannya sekarang. Ia pun kembali menatap luar dengan sorot mata sayu.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul 6 sore. Itu artinya operasi Tuan Muda keluarga Park sudah selesai. Membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk menanganinya. Ia pun dipindahkan ke ruang rawat. Keadaannya tidak kalah buruk seperti hari itu. Seok Jin yang kembali menanganinya pun hanya bisa menatap nanar. Namun, ia bersyukur bisa menyelamatkan nyawanya untuk kedua kali.
Nyonya Gyeong yang baru datang satu jam lalu menangis tiada henti saat mengetahui kondisi sang anak. Seok Jin menenangkannya. Ini pertama kalinya ia melihat wanita paruh baya tersebut terpukul atas kecelakaan yang menimpa buah hatinya. Dulu, Gyeong sama sekali tidak pernah menampakan batang hidungnya di rumah sakit. Wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Sekarang Seok Jin bisa bernapas lega. Setidaknya orang tua dari pria yang sudah dianggapnya adik ini terlihat lebih peduli.
"Bagaimana bisa Jim-in kecelakaan lagi? Aku tidak bisa mempercayainya." Jawab Gyeong dengan napas tercekat.
Tidak berbeda jauh dengan ucapannya, Seok Jin pun merasakan hal yang sama. Yang ia tahu Jim-in mengalami kecelakaan tepat di jalanan mengarah kota Busan. Ia sadar jika kemungkinan besar pria itu baru saja pulang dari kediaman sang istri. Itu sebabnya ia menelpon Rania berharap bisa mencegah ke pulangannya ke Indonesia.
"Apa dia akan datang?" Benaknya.
Senja tidak pernah hadir hari ini. Hanya kegelapan yang mendominasi cakrawala. Hujan sudah mereda beberapa saat lalu. Sang raja malam pun mulai tiba. Satu persatu lampu dari gedung pencakar langit menyala.
Sudah hampir 2 jam lamanya Rania berada di kantin rumah sakit. Setibanya di sana ia tiba-tiba saja tidak berani menampakan diri. Sungguh dirinya tidak sanggup menghadapi situasi menegangkan seperti sekarang. Ia takut melihat keadaan pria itu.
"Sayang, apa yang harus mamah lakukan?" bisiknya pada sang putri.
Akhirnya setelah menyakinkan diri, ia pun beranjak. Lorong demi lorong dilewatinya mencari keberadaan sosok yang ingin ditemuinya.
Hingga ia pun tiba di lantai 5 khusus kamar rawat kelas atas. Awalnya ia ragu karena orang biasa sepertinya tidak mungkin bisa menampakan diri di sana. Namun, keraguan itu sirna saat membayangkan kecelakaan yang menimpa Park Jim-in.
Langkahnya seketika terhenti saat menangkap dua sosok yang tengah bercengkrama di kursi tunggu. Lorong itu nampak sepi hanya ada mereka. Rania terdiam menatap lurus ke arahnya. Seketika kebimbangan datang menerjang.
Rania memundurkan dirinya ke belakang berharap dua orang berbeda gender itu tidak mengetahui keberadaannya. Namun, sayang seribu sayang panggilan dari wanita tua itu pun menghentikannya.
"Rania."
Pandangan mereka pun bertemu. Tubuh ringkih itu berjalan mendekatinya. Rania kelagapan tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menunduk seraya memeluk erat malaikat kecilnya.
"Rania kamu datang, sayang." Ucapnya seraya menangkup wajah Rania. "Eomma bersyukur bisa melihatmu lagi." Lanjutnya lalu memeluk tubuh sang menantu.
Seketika hanya ada isak tangis yang terdengar. Pria berjas putih itu pun berjalan mendekat ke arah mereka. Ia pun memberikan senyum kelegaan pada Rania saat tatapan mereka mengarah satu sama lain.
"Syukurlah kamu datang." Hanya itu yang bisa diucapkannya.
Tidak lama kemudian pelukan pun terlepas. Rania masih setia memandangi dua orang di hadapannya. Ia diam belum mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa ini cucu eomma?" tanya Gyeong antusias. Rania hanya mengangguk dan tersenyum kecil. "MasyaAllah, cantiknya. Boleh eomma gendong?" Rania lagi-lagi memberi anggukan sebagai jawaban.
Setelah putrinya berada dalam gendongan sang nenek, dibawanya bayi itu ke ruang sebelah. Kini di lorong hanya tertinggal mereka berdua. Rania kembali menundukan kepalanya merasakan begitu banyak kemelut dalam dada.
"Kejadian itu terulang. Entah apa yang akan terjadi padanya sekarang." Penuturan Seok Jin pun seketika membuatnya mendongak. Netranya melebar tidak percaya.
"Ma....maksud oppa? Kejadian itu terulang? Oppa tidak bercanda, kan?"
Seok Jin menggelengkan kepalanya. "2 jam dia berada di ruang operasi. Hasilnya sama seperti waktu itu. Bahkan mungkin lebih parah."
Rania menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak menyangka mendengar penjelasannya mengenai keadaan sang suami.
"Ani..... ani... ani." Hanya satu kata itu yang terus keluar dari mulut ranumnya.
Seok Jin hanya bisa memandanginya dan memberikan kata sabar untuk menenangkan.
...🌦️BERITA🌦️...