VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 44



Kim Seok Jin, harus menelan pil pahit lagi ketika kedua orang tuanya memperkenalkan ia dengan seorang wanita keturunan keluarga berada.


Tepat di malam hari ini, di salah satu restoran bergaya modern pertemuan kedua keluarga di gelar.


Mereka menikmati makan malam bersama sekaligus membicarakan perjodohan yang akan segera dipersatukan.


Song Ailee, wanita berambut sepinggang itu duduk tepat di depan Seok Jin. Rambutnya yang bergelombang digerai tersampir ke sebelah kanan.


Anting panjangnya menambah pesona sang wanita yang berprofesi sebagai desainer perhiasan tersebut.


Sedari tadi ia terus mengulas senyum manis membuat kedua orang tua Seok Jin, Kim Arin dan Kim Ye Jun terkesima.


"Anak-anak kita kan sudah bukan remaja lagi, jadi alangkah baiknya... kita langsung ke jenjang pernikahan saja," kata Song Bora, ibu Song Ailee.


"Itu benar, putri kami ini sudah cukup umur untuk menjadi ibu," timpal ayahnya, Song Dae Jung.


"Anda benar, putra kami juga sudah cocok menjadi seorang ayah," balas Kim Arin memandangi suaminya pelan.


"Putra kami dan putri kalian memang cocok satu sama lain," lanjut Kim Ye Jun angkat bicara.


Kedua orang tua itu pun terus berbicara seputar mereka saja mengabaikan putra-putrinya.


Sedari tadi Seok Jin dan Ailee yang tengah duduk di ujung meja mendengar semua pembicaraan mereka.


Acuh tak acuh, Seok Jin menikmati daging asap di hadapannya. Ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan orang tuanya maupun Ailee seputar perjodohan tersebut.


Ia sudah sangat muak dengan rencana Arin dan Ye Jun mengenai pernikahan yang seharusnya sudah dirinya lakukan.


Namun, setelah mendapatkan pengkhianatan dari wanita yang benar-benar ingin ia persunting, Seok Jin menutup diri.


Ia sama sekali tidak bisa mempercayai siapa pun dan lebih fokus kepada pekerjaannya saja, tetapi setelah bertemu Zahra perasaan menggebu itu hadir lagi.


Sebelum ia sempat mendapatkan jawaban dari wanita pilihannya, ayah dan ibu tiba-tiba saja menyuruhnya kembali untuk bertemu seorang wanita.


Ini sudah kesekian kali Arin dan Ye Jun menjodohkannya dengan anak rekan mereka.


"Aku dengar kamu seorang dokter di rumah sakit terbesar di negara ini, benar?" tanya Ailee membuka suara.


Seok Jin menoleh singkat padanya lalu meneguk air putih hingga tandas.


"Itu benar," balasnya kembali acuh tak acuh.


Ailee mengembangkan senyum, "apa kamu... datang ke sini karena terpaksa?" tanyanya lagi.


Seok Jin meletakkan gelas berkaki panjang itu tepat di depannya dan memandang lekat pada sang lawan bicara.


Mendapatkan tatapan dingin dari sang dokter, Ailee semakin melebarkan kedua sudut bibir ranumnya.


"Ne." Satu kata mewakili semua perasaan terdalam Kim Seok Jin.


"Kamu tahu-" Ailee mencondongkan tubuhnya ke depan lalu berbisik, "awalnya aku juga tidak suka datang ke sini dan menerima perjodohan konyol ini, tetapi setelah bertemu denganmu... aku tertarik. Kamu tahu kenapa?" Seok Jin diam seribu bahasa.


"Karena aku suka pria dingin sepertimu."


Perlahan iris kelamnya membulat, ia sudah salah berspekulasi. Ia pikir jika menunjukkan sikap dingin akan membuat wanita yang dijodohkan nya itu membenci dirinya.


Namun, semua praduga tersebut melenceng jauh, Ailee malah menyukainya.


Wanita berusia sama dengannya masih mengembangkan senyum penuh makna dan kembali menarik diri lagi.


Ia melipat tangan di depan dada memindai diamnya dokter tampan tersebut.


Seok Jin sadar dan terkekeh pelan, lalu mengusap permukaan bibirnya dari bekas makanan menggunakan serbet. Setelah itu ia melihat pada Ailee sekilas dan kepada orang tuanya.


"Maaf sebelumnya, tidak mengurangi rasa hormat saya harus segera pergi," ungkapnya, seketika mengalihkan atensi keempat orang tua di sana.


Mereka memandangi Seok Jin penuh tanya, terutama ayah dan ibu yang memberikan sorot mata seolah berkata, apa yang kamu lakukan?


"Joesonghamnida, saya mendapat kabar jika harus ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Karena beberapa dokter sedang tidak ada di tempat mendapatkan tugas ke berbagai daerah," ungkapnya.


"Omo, bukankah itu sangat mendesak sekali? Kalau begitu lebih baik kamu cepat pergi ke rumah sakit, keselamatan pasien harus diutamakan," kata Bora kemudian.


"Itu benar, sebagai dokter yang baik kamu harus segera menangani pasien dalam situasi apa pun, prioritaskan seorang pasien," lanjut Dae Jung menimpali.


"A-ah, kalau begitu lebih baik kamu segera pergi," lanjut ibunya dan diangguki sang ayah.


Mendapatkan persetujuan dari mereka, Seok Jin langsung menyambar jas abu tuanya dan memakainya begitu saja.


Setelah itu ia berpamitan pada mereka tanpa melirik ke arah Ailee sedikitpun, yang mana hal tersebut membuat Seok Jin semakin menarik di matanya.


Arin dan Ye Jun pun mengatakan maaf sebesar-besarnya pada rencana yang tidak mereka pikirkan. Kedua orang tua Ailee hanya mengangguk maklum.


Karena tugas sebagai seorang dokter itu membuat keduanya terkagum-kagum.


...***...


Seok Jin terus berjalan menelusuri bangunan megah itu. Ia keluar dari lift dan hendak mencapai pintu masuk, tetapi sebelum itu perhatiannya tertuju pada adegan yang sama seperti yang sudah-sudah.


Drama yang tidak jauh dari pandangannya bagaikan de javu terus menerus terulang. Kedua kaki terbalut sepatu pantofel mengkilap itu pun berhenti begitu saja.


Suara wanita paruh baya menggelegar di sana mengundang atensi pengunjung lain. Di timpali oleh wanita muda di depannya membuat dahi tegas Kim Seok Jin mengerut dalam.


Di saat ia hendak melangkah mendekat tiba-tiba saja suara seseorang di hadapannya menghentikan. Kepala dengan tatanan surai rapihnya kembali memandang ke depan.


Ia melihat sang adik dan juga istrinya baru saja masuk ke dalam restoran.


"Seok Jin Hyung? Kamu juga makan malam di sini?" tanyanya penasaran.


"Jim-in, Rania?" Panggilnya tidak percaya.


"Kalian?"


Ketiganya lalu menoleh ke arah sama mendapati wanita berhijab lainnya di sana. Rania menautkan kedua alis melihat sahabatnya berdiri dengan sorot mata penuh tanya.


"Zahra?" Panggil Rania.


"Se-sedang apa kalian di sini?" tanya Zahra gugup.


"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian di sini?" tanya Seok Jin mengulangi pertanyaan yang sama.


"Ah, apa jangan-jangan kalian makan malam bersama? Eyy, jadi kalian bermain-main di belakang kami? Bukankah itu curang, benarkan Yeobo?" ujar Jim-in melirik pada istrinya, seolah meminta dukungan.


Rania yang sudah mengetahui perasaan Seok Jin pun melebarkan senyum dan mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


"Geurae, apa kalian melakukan dinner tanpa sepengetahuan kami? Kalian diam-diam yah," kata Raina memandangi mereka bergantian.


Kedua objek yang sedang menjadi pembahasan utama pun saling pandang tidak mengerti. Baik Seok Jin maupun Zahra, mereka sama-sama terkejut melihat orang yang dikenalnya berada di sana.


Namun, sebelum sempat Zahra maupun Seok Jin berbicara, Laluna berlari ke arah sang kakak dan menerjangnya sekuat tenaga.


Ia hampir terjengkang jika tidak Rania cepat menahannya. Isakan wanita yang tidak mereka ketahui pun membuat ketiganya saling pandang.


Ada yang tidak beres, pikirnya kompak.


Hal itu pun membuat Zahra semakin tidak karuan. Ia tidak menyangka makan malam bersama ayah tiri bisa berakhir dramatis.


Setelah itu Rania pun mengurungkan niat untuk makan malam di sana dan membawa sahabat beserta adiknya pulang, Jim-in serta Seok Jin pun mengikutinya di belakang.


Pemandangan itu pun tidak lepas dari pantauan wanita bergaun cokelat muda yang baru saja keluar dari pintu lift.


"Jadi Seok Jin mempunyai wanita incarannya? Ini sangat menarik," gumam Ailee memandang mereka penuh makna.