VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 45



Rania meletakkan lima gelas minuman hangat di meja ruang tamu. Ia duduk di samping Jim-in seraya memangku nampan dan terus memandangi sang sahabat yang tengah menenangkan Laluna.


Setelah pertemuan tidak sengaja di restoran tadi, Rania mengajak Zahra pulang ke rumahnya. Entah kenapa ia merasakan sesuatu tidak baik terjadi di sana.


Ia lalu memandangi wanita yang tengah memeluk Zahra begitu erat. Sepasang jelaganya menyipit memperhatikan wajah bersembunyi di ceruk leher sang sahabat.


Ia mendapati ada sedikit lebam di sana, dan berpikir jika sebelum dirinya dan sang suami tiba di restoran kemungkinan besar telah terjadi sesuatu.


"Zahra, dia-"


"Oh dia adikku, Laluna," jelas Zahra memotong ucapan Rania tahu apa yang akan Rania katakan.


Ia pun kembali mengusap punggung sang adik berkali-kali dan memberikan kata-kata semangat.


"Kalau boleh tahu, ada apa lagi? Maaf sebelumnya, bukan maksudku untuk ikut campur, tetapi kejadian tadi-"


"Aku sangat malu kejadian seperti itu terus menerus diketahui," potong Zahra lagi menyerobot perkataan Seok Jin.


Ia menunduk sekilas lalu memandangi ketiga orang di dekatnya.


"Beberapa saat lalu...."


Zahra pun menceritakan awal mula apa yang sudah dirinya alami bersama sang adik.


Pertemuan Zahra, Laluna, Dong Hyuk, Young Mi, di toko bunga pun berlanjut hingga malam.


Mereka bersama-sama membangun keakraban antara ayah dan anak tiri guna mencairkan hubungan di antara keduanya.


Zahra maupun Laluna tidak menyangka bisa mendapatkan ayah tiri sebaik Dong Hyuk.


Jauh dari bayangan, sosok pengusaha bunga itu memperlakukannya seperti anak kandung. Dong Hyuk tidak membeda-bedakan antara Young Mi, Zahra, dan Laluna, serta menyayangi mereka dengan tulus.


Meskipun belum lama mereka saling mengenal, tetapi Dong Hyuk maupun Zahra dan Laluna bisa merasakan kedekatannya.


Dong Hyuk juga menyamaratakan ketiga anaknya yang iA temui, walaupun mereka baru bertemu, tetapi hubungan itu layaknya sudah terjalin lama.


Dong Hyuk mengajak kedua anak tiri serta kandungnya makan malam bersama di restoran mewah.


Ia berkata momen pertemuan itu harus diabadikan dan dirayakan di tempat luar biasa. Mau tidak mau Zahra maupun Laluna menerimanya.


Mereka pun tidak enak jika harus menolak niat baik tersebut.


Kebetulan restoran mewah pilihan sang ayah tiri menyuguhkan makanan halal.


Dong Hyuk yang seiman dengan mereka pun tentu saja tidak akan memberikan makanan sembarangan.


Hal tersebut semakin membuat Zahra dan Laluna terkesan. Mereka senang dijamu dengan sangat mewah oleh ayah tirinya.


Lee Dong Hyuk lebih baik dibandingkan ayah kandung mereka sendiri. Kesan yang diberikan olehnya begitu mendalam di hati Zahra maupun Laluna.


Karena selama ini mereka kehilangan kasih sayang orang tua, perhatian sekecil apa pun yang dilayangkan Dong Hyuk begitu mengesankan.


Baru saja mereka masuk ke dalam restoran, pemandangan bak di istana megah tertangkap pandangan. Kakak beradik itu takjub melihat kemewahan tersuguh di restoran.


Ada lampu besar menggantung di tengah-tengah ruangan serta nuansa gold begitu kental.


Sepanjang kakinya melangkah menuju meja yang sudah direservasi sebelumnya, Zahra terus memperhatikan sekitar.


Sampai pandangannya pun jatuh pada sosok jangkung yang tengah berdiri di depan lift. Seolah mengetahui siapa itu bibirnya hanya mengulas senyum simpul.


Mungkin salah orang, pikirnya. Ia tidak terlalu memikirkan hal itu dan kembali fokus pada keluarganya.


Ia pun menikmati makan malam bersama ayah tiri serta adik seibu.


Di sana, canda, tawa dilontarkan oleh mereka. Apalagi pada saat menanggapi Young Mi yang sangat menggemaskan.


"Appa ke toilet sebentar," kata Dong Hyuk lalu pergi meninggalkan ketiganya.


Mereka pun mengiyakan dan menunggu sambil menghabiskan makanan di meja bundar tersebut.


Di tengah luapan euforia yang begitu hangat terasa, tiba-tiba saja datang seorang wanita paruh baya yang seketika menghentikan kebahagiaan mereka.


Zulfa hadir dengan napas memburu menarik Young Mi untuk berdiri di belakangnya sembari menghadap kedua anaknya yang lain.


Tatapan nyalang itu begitu menusuk membuat Laluna semakin mengerutkan dahi, tidak percaya.


"Kenapa? Kenapa Mamah menatap kami begitu? Apa kami sudah mengganggu kesenangan Mamah? Apa Mamah takut kami menghancurkan semua kesenangan Mamah selama ini?" Laluna menggebu kala sudah tahu seperti apa gelagat ibunya sekarang.


"Oh atau mungkin Mamah takut kami membongkar kebusukan-"


Suara tamparan keras bergema di sana menghentikan ucapan Laluna. Seketika kejadian itu mengundang atensi para pengunjung lain.


Mereka yang tengah makan malam bersama ataupun baru masuk pun terkejut dibuatnya.


Sebelum melayangkan kata-kata lain lagi, Dong Hyuk datang menarik pundak sang istri cepat.


"Ini kesekian kalinya aku melihatmu menampar anak-anak mu, Zulfa. Aku tidak bisa mentolerir nya lagi. Kamu membuat kami malu," katanya menggebu-gebu.


Ia terkejut melihat wajah sang suami merah padam, menahan amarah.


"Tidak seperti itu, Sayang. A-aku hanya-"


"Hanya apa? Sudah cukup selama ini aku tutup mata atas kelakuanmu yang sudah menipu kami," ungkap Dong Hyuk lagi.


Di tengah persitegangan tersebut, Zahra menoleh ke samping kanan di mana atensinya berada pada satu titik.


Di sana degup jantungnya bertalu kencang layaknya genderang saling bersahutan.


Entah kenapa kedua kakinya melangkah mendekat menyapa mereka bertiga.


Firasatnya pun mengatakan jika mereka sudah melihat apa yang baru saja terjadi.


Ia mendekat untuk menyadarkan ketiganya agar tidak terlalu fokus pada permasalahan yang tengah dialaminya.


...***...


"Karena itulah aku mendekati kalian," jelas Zahra menceritakan kejadian sebenarnya.


Rania terdiam membisu mendengar semua rentetan peristiwa yang telah dialami sang sahabat.


Ia beranjak dari duduk dan menggenggam tangannya erat.


"Tidak apa-apa, Zahra. Semua akan baik-baik saja, kamu dan adikmu... tidak sendirian. Ada kami, ada Allah juga. Serahkan semuanya pada yang di atas."


"Juga, doakan ibuku. Minta sama Allah untuk dibukakan mata hatinya," tutur Rania, iba sekaligus terkejut.


Zahra mengulas senyum simpul dan membalas tatapannya hangat.


"Terima kasih, Rania. Karena mau mendengarkan cerita ku,"


"Tidak apa-apa, aku senang kamu mau membagi kesedihan," balas Rania lagi.


Kedua wanita itu pun saling berpelukan melepas kepelikkan bersama.


Laluna masih sesenggukan menahan perih di pipi.


Jim-in dan Seok Jin sedari tadi hanya memperhatikan dalam diam pun ikut merasakan hal sama dengan Rania atas apa yang menimpa Zahra.


Mereka tidak menduga di balik senyum lebar yang kerap kali dilayangkan Zahra mengandung luka teramat dalam.


Seok Jin maupun Jim-in membiarkan kedua wanita itu menghabiskan waktu bersama.


Tidak lama berselang, Seok Jin menepi di balkon lantai satu. Ia diam termenung menyaksikan langit gelap kelam penuh awan kelabu.


Kemungkinan besar hujan lebat akan segera turun.


Semilir angin dingin menyapu wajah putih sebening porselen nya menyeburkan semburat merah muda merembet ke telinga.


Kesendirian tersebut membentuk siluet kejadian demi kejadian terus bersinggungan.


Senyum lemah hadir menambah ketampanan sang dokter.


Usianya yang memasuki kepala tiga belum jua mendapatkan sang pujaan sesungguhnya.


Sosok tercinta nyatanya malah mengkhianati berakhir trauma.


Namun, seiring berjalannya waktu Zahra hadir menghapus lipur lara.


Berawal dari rasa iba berlabuh menjadi perasaan mendamba.


Cinta hadir meluluhkan lantahkan kesedihan sekaligus kepelikkan kian meredam.


Rasa ingin memiliki semakin tinggi tiap kali melihat luka tak kasat mata terus tertangkap pandangan.


Seok Jin ingin melindungi Zahra dengan sepenuhnya, tetapi ia sadar mereka tidak bisa melakukan hal tersebut jika tidak ada ikatan suci di dalamnya.


Karena bagaimanapun juga ridho Allah lebih diutamakan olehnya.


"Hyung." Panggilan itu menarik atensi sepenuhnya sang dokter.


Ia sadar dari lamunan lalu menoleh ke samping mendapati sahabat sekaligus adiknya berdiri di sana.


Senyum yang ia perlihatkan menarik kedua alis saling bertautan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya langsung.


"Apa Hyung menyukai Zahra?"


Pertanyaan tersebut mengambang di udara tanpa balasan jelas.


Sorot mata hangat serta senyum lembut yang diperlihatkan oleh Kim Seok Jin telah menjelaskan semuanya.


Jim-in ikut melengkungkan kedua sudut bibir, merasakan apa yang mengendap dalam dada sang kakak.