
Rania, Zahra, dan Seok Jin tengah berada di salah satu ruang inap rumah sakit.
Mereka memperhatikan objek yang sama tengah terbaring tidak sadarkan diri di ranjang.
Sejak kedatangan ke sana, Jim-in langsung mendapatkan perawatan.
Seok Jin selaku dokter yang menanganinya lagi dibuat terkejut oleh tindakan Rania.
"Aku tidak menduga kamu memberikan obat bius pada suamimu sendiri?" Seok Jin tidak habis pikir.
"Mau bagaimana lagi? Dia hampir mengakui wanita lain sebagai aku," timpal Rania mengetahui kejadian beberapa saat lalu.
"Bagaimana bisa kamu mengetahui rencana mereka?" tanya Seok Jin lagi penasaran.
Ingatan Rania pun melalang buana pada sore hari tadi.
Selepas berkuda, Rania yang hendak melanjutkan magangnya pun mendapatkan panggilan dari Hana.
Zahra yang pada saat itu berada di sampingnya menatap curiga pada sang sahabat.
Ia menyaksikan Rania terdiam beberapa saat sebelum menjalankan mobil.
Zahra pun bertanya ada apa, tetapi langsung dijawab oleh Rania dengan menjalankan kendaraan roda empat tersebut.
Ia pun memikirkan pesan teks dari Hana yang menjabarkan jika mendapatkan bukti konkrit dari Ailee.
Mengetahui hal tersebut Rania meminta bertemu dengan Hana di sebuah kafe.
Mereka bertiga duduk bersama di dekat jendela menghadapi satu sama lain.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Rania langsung.
Hana pun mengeluarkan benda pintar miliknya dan memperlihatkan sebuah foto.
Rania menautkan alis, tidak mengerti kala mendapatkan gambar tersebut.
"Bukankah ini?"
"Iya obat yang bisa membangkitkan gairah, kamu sudah tahu kan apa yang akan dilakukan mereka?" tanya Hana membuat Rania mengangguk cepat.
"Tunggu sebentar, bisa kamu jelaskan ada apa? Dan... siapa dia?" tanya Zahra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Ah, aku minta maaf sudah mengabaikan mu. Kenalkan dia Hana."
"Hana ini orang yang sudah membantu ku selama ini. Dia jugalah orang yang mencari tahu apa yang hendak direncanakan oleh wanita itu," kata Rania menjelaskan.
"Aku meminta bantuan Hana untuk mencari tahu apa yang sedang mereka rencanakan."
Zahra masih memandangi tidak mengerti.
"Aku tidak paham apa maksudmu," ungkapnya.
Rania pun menjelaskan jika sang suami kemungkinan besar tengah dijebak oleh seorang wanita.
Tidak hanya itu saja, Rania juga mengatakan jika Song Mi Kyong, sahabat masa kecil Park Jim-in mempunyai adik sepupu yang tengah mengincar Kim Seok Jin.
Itulah sebabnya Rania mencari tahu semuanya dan memasangkan Hana menjadi asisten Ailee.
"Karena aku mempunyai firasat tidak enak pada Song Mi Kyong. Aku mencari tahu apa saja kegiatannya sampai perempuannya dengan wanita bernama Ailee."
Zahra pada akhirnya mengangguk paham.
Setelah mendapatkan pekerjaan itu, Hana pun mulai menjalankan aksinya. Di mana ia menjadi mata-mata Rania untuk mencari tahu kebenaran.
"Wah, kamu memang penuh kejutan," kata Zahra selepas mengetahui semuanya.
"Aku hanya ingin melindungi keluargaku saja," balasnya mengatakan hal yang sama.
"Untuk itu kita harus memberitahu Kim Seok Jin agar bisa mendapatkan bukti kelicikan mereka."
Selesai melakukan pertemuan singkat itu, Rania pun memberikan pesan kepada sang dokter mengenai rencananya.
Diam-diam Seok Jin pun mengiyakan dan mengikuti alur.
Sampai pada akhirnya bukti kuat pun sudah berada dalam genggaman dokter tampan tersebut.
"Aku tidak menyangka kamu memiliki rencana sangat matang," kata Seok Jin selepas mendengar semua cerita Rania.
"Aku ingin mencoba mempertahankan apa yang telah digenggam. Aku tidak ingin siapa pun mengusik kehidupan kami lagi," balasnya.
"Em, kamu benar. Jangan membiarkan lalat berkeliaran di sekitar kalian," balas Seok Jin, Rania hanya mengangguk menanggapinya.
Zahra dan Seok Jin pun keluar ruangan membiarkan Rania menjaga suaminya.
Sepanjang lorong menuju lantai dua, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Baik Seok Jin maupun Zahra, sama-sama bungkam membiarkan pikiran mengambil alih.
Sampai tidak lama berselang, sangking rasa penasaran telah menguasai, Seok Jin pun angkat bicara.
"Apa yang kamu pikirkan setelah melihat kejadian tadi?" tanyanya.
Zahra yang sedari tadi memandang ke bawah pun menghentikan langkahnya.
Ia semakin memikirkan pertanyaan dari dokter tersebut.
"Aku berpikir... semua orang bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan cinta sejatinya. Tidak peduli dengan merendahkan harga diri yang penting mereka bisa bersama sang pujaan," kata Zahra lirih.
Seok Jin sepenuhnya menghadapi wanita itu. Ia tahu apa yang sedang Zahra pikiran.
"Apa kamu akan melakukan hal sama untuk mendapatkan pria idaman mu?"
Pertanyaan itu pun seketika menarik atensi Zahra.
Kepala berhijabnya mendongak bersitatap langsung dengan pria di hadapannya.
"Ani, aku tidak akan melakukan hal rendah seperti itu. Aku-"
"Benar, dan... maksud ku juga bukan seperti itu. Apa kamu mau berjuang bersama dengan pria idaman mu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius?"
Manik jelaga Zahra melebar seketika. Entah kenapa pertanyaan yang diajukan Seok Jin barusan membuat lidahnya kelu.
Semua kata-kata tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa mengepal kedua tangan erat.
"Aku... ingin berjuang bersama mu, Zahra. Karena tidak ada wanita yang aku inginkan selain dirimu."
Lagi, Seok Jin mengungkapkan perasaan terdalam.
"Saat berada di situasi tadi aku hanya berpikir satu hal, bagaimana jika kamu melihatnya? Apa tidak akan ada kesalahpahaman? Aku sangat takut dan gugup saat tadi melihat mu ada di sana juga."
"Aku tidak ingin kamu salah paham. Karena... aku tidak bisa melihatmu terluka dan berpikir... aku mempermainkan perasaan mu," lanjutnya lagi.
Selesai perkataan itu dilontarkan, sepi di sekitar lorong begitu mendominasi.
Zahra terus memandangi wajah bersalah sang dokter yang seketika menarik kedua sudut bibirnya lebar.
"Kesalahpahaman apa yang Anda maksud? Kita tidak sedang berada dalam sebuah hubungan. Jangan berkata seperti tadi, itu bisa membuat orang salah paham."
"Tidak tahukah Anda jika semua ucapan yang tadi dibicarakan itu membuat saya kesusahan? Kita tidak sama, lebih baik Anda melupakan semuanya."
Kata-kata dingin dari Zahra membuat Seok Jin terpaku.
Ditambah dengan menyaksikan sorot mata nyalang dan tegas semakin menjelaskan semuanya.
Seok Jin terdiam saat Zahra berjalan melewatinya. Entah kenapa semua itu bagaikan penolakan secara terang-terangan.
Di balik punggung lebarnya, Zahra menahan tangis yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Ia kabur dari sana guna mencegah perasaan terdalam.
Ia masih memikirkan jika mereka tidak sama dan banyak pertimbangan untuk bisa bersama.
Air mata pun lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.
Ia menghapusnya kasar seraya terus berjalan menjauhi Seok Jin.
Perasaan dua insan itu pun semakin tak karuan. Niat ingin bersama nyatanya terlalu banyak badai yang harus dilewati.
Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi Rania menjadi saksi atas perbincangan itu.
Ia tidak menyangka jika Zahra akan menolak secara tidak langsung perasaan tulus sang dokter.
Rania yang berniat untuk mengembalikan saputangan sang sahabat yang tertinggal pun harus melihat dan mendengar kejadian tak terduga.
"Aku ingin kalian juga bahagia. Kenapa kamu menolaknya, Zahra? Apa karena perbedaan kalian? Kamu masih memikirkan hal itu?" gumamnya bersembunyi di balik tembok.
Ia pun mencengkram kuat saputangan Zahra tidak mengerti apa yang dirasakan sang sahabat.
Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa pun mengenai perasaan seseorang.