
Pesta masih digelar begitu meriah di aula hotel.
Kedua insan yang menjadi peran utama pun kini melipir ke balkon.
Di temani dengan dua gelas minuman berwarna, mereka menikmati waktu bersama.
"Aku tidak percaya kamu bisa memperkenalkanku pada mereka dengan lantang," kata Jim-in takjub.
"Pantas saja paman dan bibi tidak mencegah perbuatan mu, mereka hanya menyanggupi permintaan itu saja," lanjutnya kemudian.
Mi Kyong menyesap minumannya singkat lalu menengadah melihat langit malam.
"Tidak ada yang bisa aku lalukan selain melakukan ini. Eomma dan appa tidak bisa berbuat banyak. Karena mereka menyerahkan semuanya padaku."
"Sekarang semua orang tahu kalau kamu adalah calon suamiku, tapi... bagaimana jika istrimu tahu?" tanya Mi Kyong menoleh pada sahabatnya.
Jim-in melengkungkan bulan sabit sempurna. Ia lalu meletakan gelas berkaki panjang itu di meja belakang mereka.
Ia tidak bisa meminum minuman itu sejak memperbaiki hubungannya dengan sang istri.
Bayangan Rania seketika hinggap dalam ingatan membuatnya terus memperlihatkan senyum.
Mi Kyong yang melihat aura suka citanya begitu kuat langsung menepuk pundak pria itu kuat.
"Jangan memamerkan kisah cintamu padaku," keluhnya langsung menenggak minumannya sekali napas.
Jim-in terkekeh pelan menghadap sahabatnya lagi.
"Kamu jangan khawatir, aku yakin Rania bisa memahaminya," balas Jim-in yakin tanpa tahu jika badai tengah menunggunya di rumah.
"Benarkah? Jadi, istrimu sebaik itu?" tanya Mi Kyong lagi.
Jim-in mengangguk beberapa kali.
"Tidak hanya baik, istriku sangat perhatian. Dia bisa memahami kondisi kita saat ini," balasnya kembali yakin.
"Kamu memang benar-benar sahabat terbaikku." Puji Mu Kyong melebarkan senyum.
Jim-in tertawa terbahak mendengar sahabat masa kecilnya kembali memuji.
Dalam diam Mi Kyong memperhatikan sang tuan muda. Ia senang setidaknya masih ada Jim-in yang membantunya keluar dari masalah.
Ia tidak tahu jika tidak ada sang sahabat, mungkin sekarang sudah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
"Entah aku beruntung atau tidak memiliki mu sebagai sahabatku, apa kamu tidak menyadari perasaanku dari dulu? Sejak kamu bersama Yunna, perasaan ini sudah ada," benaknya seraya terus memandangi Jim-in.
Pria itu terlalu ceroboh membuka celah bagi siapa pun masuk ke dalam hidupnya.
Meskipun Mi Kyong adalah sahabatnya bertahun-tahun, tetapi tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita, selain salah satunya jatuh cinta.
"Kamu tahu kenapa aku pergi ke Negara I?" tanya Mi Kyong lagi.
Jim-in pun menghentikan tawa dan kembali fokus kepada wanita di hadapannya.
"Wae?" tanyanya singkat.
"Karena... aku jatuh cinta pada seseorang," akunya.
"MWO? Siapa? Siapa pria beruntung itu? Wah, dia berhasil meluluhkan putri es kita ini," celoteh Jim-in senang.
"Kenapa kamu tidak menyuruhnya saja untuk berpura-pura sebagai calon suamimu dan membatalkan perjodohan kalian," lanjutnya masih tidak peka terhadap apa yang terjadi.
Bibir ranum wanita cantik itu melebar, ia berjalan ke depan dan meletakkan gelas bekas minuman ke meja.
Ia mundur beberapa langkah ke belakang lagi hingga tatapan mereka saling bertemu satu sama lain.
"Aku sudah melakukannya," balas Mi Kyong kemudian.
Dahi tegas Jim-in mengerut dalam. Ia masih berusaha mencerna apa yang dikatakan sang sahabat.
Sampai otak pintarnya mengenyahkan ketidakpekaan itu.
"Ja-jadi maksudmu, aku-"
"Iya, aku jatuh cinta padamu," kata Mi Kyong mempertegas.
Seketika angin berhembus kencang menerbangkan pakaian keduanya.
Manik kecil Jim-in membulat sempurna dengan degup jantung bertalu kencang.
Ia tertawa canggung dan mundur ke belakang hingga punggungnya menyentuh tembok.
"Ka-kamu pasti bercanda kan, Mi Kyong. Aku tahu kamu senang mengerjaiku, tapi kali ini bercanda mu tidak lucu." Jim-in masih berusaha tenang menghadapi kenyataan menggemparkan itu.
"Aku tidak pernah bercanda jika menyangkut perasaan."
Balasan yang diberikan Mi Kyong seketika menutup bibir Jim-in rapat. Ia tidak menyangka mendengar sendiri perasaan terdalam sahabatnya.
Ditambah lagi dengan sorot mata jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun menatap lekat padanya, semakin membuatnya terpaku.
Keheningan menyambut, keduanya saling pandang tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
...***...
Sepulangnya Rania dari tempat kejadian mendebarkan, ia terus duduk di sofa tunggal dekat jendela di kamarnya.
Ditemani figura foto yang memperlihatkan hari pernikahannya, Raina terus menunggu kepulangan sang suami.
Ia ingin menegaskan sekali lagi dan berusaha memberikan kesempatan pada Jim-in untuk menjelaskan semuanya.
Namun, setelah jam menunjukkan malam hari, batang hidung Park Jim-in tak kunjung datang.
"Aku akan menunggu satu jam lagi," kata Rania.
Satu jam berlalu, dan dua jam pun terlewati, Raina menghela napas kasar.
Ia bangkit dari duduk dan seketika itu juga figura kenangan ikatan suci pun meluncur bebas.
Kacanya hancur berantakan tepat di bawah kaki meleburkan foto di dalamnya.
Bersamaan dengan itu pintu kamar dibuka dan suara tadi mengejutkannya.
Buru-buru Jim-in masuk dan mendapati sang istri tengah memandangnya dalam.
Ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan pun memperlihatkan betapa rapuhnya Raina.
Ia masih berdiri menyamping di jendela kamar menyambut kedatangan sang suami dalam diam.
Jim-in pun seketika menduga jika sudah terjadi sesuatu pada istrinya.
Sepanjang jalan ia kembali ke rumah, Jim-in mendapatkan kabar jika banyak sekali artikel yang memuat tentang dirinya.
Ada yang berspekulasi jika ia dan Rania sudah berpisah lama, mengingat tidak ada kabar satu pun dari pengusaha itu terutama pernikahannya dengan sang istri.
Namun, Jim-in dan Rania sepakat untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi mereka. Karena keduanya hanya ingin hidup normal jauh dari lensa kamera.
Dengan adanya kejadian Mi Kyong memperkenalkannya sebagai calon suami artikel mengenai mereka pun terus bermunculan.
Sekarang Jim-in sadar, setelah melihat keadaan sang istri, Rania pasti sudah mengetahui hal ini, pikirnya.
"Sa-Sayang." Panggil Jim-in takut-takut seraya berjalan pelan mencari sakral lampu.
Sedetik kemudian cahaya menyinari ruangan. Jim-in terkejut kala mendapati figura kecil pernikahan mereka hancur berantakan di bawah kaki Raina dan melukainya.
Darah pun mengalir berkat gesekan kaca pecah tadi.
"Sa-Sayang, apa yang terjadi? Ka-kaki mu berdarah," kata Jim-in berusaha mencapai keberadaan istrinya.
"Jangan mendekat!" Suara teredam terkesan dingin itu membuat Jim-in terpaku.
Ia langsung berhenti di tempat memandangi Rania yang masih diam tidak melakukan pergerakan apa pun.
"Aku ingin mengobati lukamu, Sayang," kata Jim-in lagi.
"Sayang? Mengobati lukaku? Lalu bagaimana luka di hatiku? Apa kamu bisa mengobatinya?"
Kesalahan pahaman itu semakin memuncak. Di tambah Rania mendapatkan kabar ada banyak sekali berita mengenai sang suami, baik itu di media sosial maupun media cetak.
Semua orang membicarakan tentang Jim-in yang begitu serasi bersama wanita keturunan keluarga Song.
Keduanya digadang-gadang sebagai couple terbaik tahun ini.
Hal tersebut pun merembet kepada kehidupan pernikahannya yang disebut sudah kandas sejak lama.
Rania hanya bisa menahan sesak saat mendapati kabar tersebut. Ia tertawa masam menghadapi segala permasalahan menghinggapi rumah tangganya.
Ditambah ingatannya yang belum kembali, semakin memperburuk keadaan mereka.