
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Begitu kala berbicara maka tidak ada yang bisa mengulur sampai kapan itu berakhir. Ada saatnya menangis adapula tertawa. Kadang siapa pun lupa jika sudah mengecap manisnya kebahagiaan. Jika mungkin bisa saja setelahnya kesedihan akan datang menerjang.
Seperti petir yang menyambar disiang bolong kedatangan salah satu penjaganya membuat ia beranjak dari duduk. Jim-in yang saat ini tengah bersama sekertarisnya, Lee NamJoon terlonjak kaget melihat pria tersebut. Napasnya yang tersengal-sengal menandakan jika dirinya datang kemari dengan berlari.
"Pak Kim." Ucapnya.
"Tuan Muda, nyo...nyonya. Nyonya... tuan_"
"Bicara yang benar Pak Kim. Eomma kenapa?"
"Nyonya membakar kediaman Tuan Muda dan Nona Muda."
Deggg!!
Seketika degup jantungnya bertalu kencang. Tanpa membalas perkataannya Jim-in langsung melesat pergi meninggalkan tempat tersebut. Hanya ada satu nama yang terus terlintas dalam kepalanya, "RANIA"
Beberapa saat kemudian Jim-in tiba di kediamannya. Betapa terkejutnya ia kala netranya menatap langsung si jago merah yang masih menyala-nyala, mengamuk memakan apa saja. Beberapa petugas kebakaran datang sepersekian detik dari keberadaannya.
Bola matanya bergulir mencari sosok yang tengah dikhawatirkannya. Napasnya tersengal berderu berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kepala bersurai hitam legam itu menengok ke segala arah. Kegaduhan itu sedikit membuatnya kesusahan.
"Rania." Cicitnya tanpa henti.
Hingga, tidak lama berselang iris kecoklataannya menangkap seorang wanita berhijab tengah terduduk seraya menunduk dalam. Seketika itu juga hatinya terkoyak sembilu. Perih, tapi tidak berdarah. Kedua kakinya pun begitu berat untuk melangkah. Tak terasa air mata jatuh melihat punggung kecil itu bergetar hebat.
"Rania." Panggilnya pelan.
Dari banyaknya orang yang berlalu lalang Rania masih kokoh dalam posisinya. Terduduk seraya menangis tanpa isakan. Mulutnya terkunci rapat bak digembok erat. Suara riuh dan percikan api disekitar sama sekali tidak diindahkan. Seolah jiwanya hilang dalam raga.
"Nona, Anda harus pergi dari sini. Bahaya! Apinya semakin besar." Ucap salah satu petugas kebakaran yang menyadari keberadaannya.
"Tidak apa. Aku ingin berada di sini kalau perlu terbakar bersama kenangan yang ada di dalamnya." Balasan Rania tentu saja jauh dari nalar orang normal.
Apa dia sudah gila? Bingung si petugas.
Melihat itu seketika Jim-in mendekat lalu berusaha menarik sang istri seraya membungkuk meminta maaf dan menjelaskan posisinya. Setelah tahu pria itu pun meninggalkan mereka.
"Sayang, ayo pergi dari sini." Ajak Jim-in berusaha membawa Rania.
Wanita itu bangun. Namun, tidak secenti pun kakinya melangkah. Netra jelaganya memandang jauh ke bawah sana. Sorotnya terlihat kosong tanpa tanda-tanda binar seperti biasa. Sedetik kemudian kekehan terdengar ngilu menelisik indera pendengaran Jim-in.
"Sa....sayang." Panggilnya takut-takut.
"Sekarang apa lagi? Membakar rumah? Hahaha mudah bagi mereka yang memiliki uang. WAE?! Kenapa kamu membawaku ke rumah ini jika untuk membakarnya? Hahahaha sungguh kejam." Mendengar ocehan yang keluar dari mulut sang istri semakin menambah luka dihati Jim-in.
Pria itu tidak bisa berkata-kata. Didekapnya tubuh mungil Rania yang lemah dan kemudian bergetar hebat. Jim-in bisa merasakan jika sekarang istrinya benar-benar terluka. Harsha yang pernah ia tawarkan ternyata tidak sanggup menghilangkan Varsha. Hujan terlalu kuat sehingga airnya mengalirkan kebahagiaan.
"Mianhae..... jeongmal.... mianhae." Hanya kata maaf yang bisa Jim-in ucapankan untuk saat ini.
Seketika itu juga Rania menangis, meraung, meratapi nasib yang datang padanya. Berkali-kali hatinya terkoyak, bahkan tidak membiarkan luka lama dulu sembuh kini luka baru datang secepat kilat.
...🌦️🌦️🌦️...
Setelah meninggalkan lokasi kejadian, Nyonya Besar itu pun memutuskan kembali ke kediamannya. Tanpa ada ekspresi penyesalan Gyeong terlihat puas dengan apa yang dilakukannya tadi. Melihat keputusasaan sang menantu menjadi tontonan menarik baginya. Hilang sudah hati nurani seorang Gyeong. Keegoisan telah menutup segalanya.
Langit yang semula gelap kini semakin hitam pekat. Sepertinya tetesan air dari atas sana sebentar lagi akan turun. Dan benar saja tidak sampai menunggu beberapa saat hujan deras mengiringi kepulangan wanita paruh baya tersebut.
"Nyonya, apa sebaiknya kita menepi terlebih dahulu?" tawar sang sopir.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari luar Gyeong menjawab, "tidak usah hanya buang-buang waktu saja. Sebentar lagi kita sampai ke mansion. Lanjutkan saja." Perintahnya.
Tidak kuasa menolak akhirnya sopir tersebut pun melanjukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Entahlah perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak tenang. Jalanan licin serta angin kencang menambah ketakutan dalam dirinya. Suara air hujan yang jatuh di atas mobil pun saling berdentuman bak musik klasik menakutkan.
"A...apa nyonya yakin? Lebih baik kita menepi saja. Sa_"
"Min Jae, berani kamu membantah?! Saya katakan teruskan saja, tidak usah membantah!!" sungguh keras kepala sekali Nyonya Besarnya ini. Min Jae, pria itu terus merapalkan do'a berharap untuk keselamatannya dan juga sang nyonya.
Namun, apa hendak dikata suratan takdir tidak ada yang bisa membantah. Secepat guntur menggelegar di atas langit seketika itu juga mobil yang mereka tumpangi terbalik, berguling-guling di atas aspal.
Kecelakaan tunggal tidak bisa terelakan. Sang penumpang pun mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkannya sebelumnya. Nasib memang nasib. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi sedetik ke depan. Namun, sepatutnya kesadaran haruslah menyadarkan jika apa yang dituai pasti membuahkan hasilnya juga.
Baik dan buruk tergantung apa yang telah ditanam.
...🌦️🌦️🌦️...
Teriknya matahari tidak sedikit pun menyurutkan awan mendung yang terus mendiami kedua netra bulatnya. Kesedihan masih menempati dinding langit dalam kelopak indahnya yang meredup. Senyum yang senantiasa menghiasi wajah ayu itu menghilang seiring berjalannya detikan jam. Luka tak kasat mata menjajahi relung dalam hatinya.
Tidak ada yang tahu perasaannya sehancur apa. Hanya dirinya dan Allah yang tahu.
Kejadian semalam bak bom atom yang meledak tanpa bisa dipredeksi. Nuklir tersebut tepat mengenai sasaran. Berdentum sangat kuat membumbuhi luka yang baru saja didapatkan. Kembali luka baru menambah sakit yang mendera. Tidak terlihat darah yang mengucur, tapi perihnya lebih daripada itu.
Tess!!
Setetes embun pagi membasahi pipi gembilnya yang memucat. Rania masih tidak menyangka orang yang paling dirinya hormati bisa berlaku sekejam itu.
Uluran tangan kekar nan tegap itu merengkuhnya dari belakang. Aroma mint yang menguar dari pria yang dicintainya, entah kenapa kali ini malah semakin menambah luka. Tidak ada kata terucap hanya lelehan air mata yang berbicara.
"Aku tahu bagaimana hancurnya hati kamu sekarang. Aku benar-benar minta maaf tidak bisa mencegah perbuatan eomma. Bukankah aku suami yang buruk? Aku tahu banyak sekali kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sekarang semuanya harus menghilang dalam kilatan si jago merah. Aku minta maaf." Lirih Jim-in. Suaranya bergetar menahan tangis yang tidak ingin dikeluarkan.
Lama Rania tidak menyahut. Hingga Jim-in pun melepaskan pelukannya. Ia tahu sekecewa apa Rania terhadap ibunya. Melihat tidak ada pergerakan apapun dari sang istri, Jim-in menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kedua tangannya mengepal erat dengan sorot mata serius.
"Aku tidak akan memaafkan eomma. Aku akan membalaskan rasa sakitmu, Rania."
Degg!! Mendengar itu seketika degup jantung Rania meningkat tajam.
Ia pun berbalik melihat sang suami berjalan menjauhinya. Namun, belum sempat pria itu pergi sang pelayan senior mendatangi mereka. Wajah tuanya menampilkan mimik yang sulit dibaca. Cemas, khawatir, takut? Atau apa yang ada di sana?
"Sang Oh." Panggil Jim-in.
"Tu....tuan. Nyo...nyonya. Nyonya kecelakaan!"
Seketika iris Rania melebar, jantungnya terus memompa hebat saat mendengar berita yang baru saja disampaikan Sang Oh.
...🌦️KEJADIAN🌦️...