
Tatapan dua wanita itu begitu sengit seolah tidak ingin mengalah satu sama lain.
Rania melepaskan kacamatanya lalu melengkungkan bulan sabit sempurna.
"Silakan, apa Anda ingin berbicara dengan saya?" tanya Rania berusaha bersikap baik-baik saja.
"Sepertinya kamu juga sudah tahu siapa aku. Jadi, tidak usah bersikap formal seperti itu," balasnya menarik kursi di seberang Rania dan duduk begitu saja.
Menyaksikan hal itu Rania menyeringai pelan seraya menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali duduk menghadapnya.
"Aku Song Mi Kyong-"
"Iya aku tahu. Jadi, apa kamu datang ke sini untuk meminta suamiku menjadi suamimu?" tanya Rania seketika.
Mi Kyong terkesiap, tidak percaya mendapatkan pertanyaan langsung seperti tadi.
Rania menyesap minuman dinginnya singkat seraya memandangi lawan bicaranya, lekat.
"Aku tahu kamu... mencintai Park Jim-in, kan?" tanyanya lagi.
Mi Kyong melebarkan pandangan dengan bibir ranumnya gemetaran.
"Ba-bagaimanab bisa-"
"Kita sama-sama wanita, aku tahu seperti apa tatapan yang dilayangkan seseorang... yang sedang jatuh cinta. Karena aku pernah berada di posisimu," kata Rania lagi memasukan sepotong cheesecake.
Mi Kyong masih terkejut mendengar setiap kata terlontar dari istri dari sahabatnya.
Tidak lama kemudian wanita yang berprofesi sebagai desain interior itu tertawa pelan.
Ia melipat tangan di depan dada tanpa gentar sedikitpun.
"Wah, ternyata kamu bukan wanita sembarangan," ujarnya menggelengkan kepala beberapa kali.
Rania hanya mendengus pelan dan menunggu apa yang hendak di disampaikannya lagi.
"Aku pikir kamu sudah tahu apa yang ingin aku sampaikan. Aku-"
"Kamu ingin mengambil Park Jim-in? Silakan jika sahabat tercintamu itu memang lebih memilihmu, aku... tidak akan melarangnya," potong Rania cepat.
Lagi dan lagi Mi Kyong terkesiap. Ia menghentakkan sebelah kaki membuat suara sepatu heels nya terdengar nyaring.
"A-apa? Kenapa kamu-"
Rania melipat tangan di atas meja seraya mencondongkan tubuh ke depan.
"Aku sudah pernah menghadapi wanita seperti mu. Dia bahkan terang-terangan mempersiapkan pesta pertunangan tepat di depan mataku. Bahkan nyonya besar Park sampai membantunya, tetapi kamu tahu? Park Jim-in lebih memilihku."
"Jadi-" Rania kembali menyandarkan punggung ke kursi. "Jika kamu berhasil mengambil hatinya, maka kamu menang. Cinta tidak bisa dipaksakan begitu saja, Nona muda," lanjutnya terus memperlihatkan senyum di wajah ayunya.
Mi Kyong kembali dibuat tidak percaya. Bagaimana bisa seorang istri bisa mengerahkan suaminya begitu saja? Pikir wanita itu dan menyadari wanita yang dimaksudkan adalah Yuuna. Karena pada saat itu ia sempat mendapatkan kabar mengenai rumah tangga sang sahabat.
"Bagaimana kamu-"
"Bagaimana aku bisa menyerahkan suamiku sendiri untuk wanita lain? Aku tidak menyerahkannya, hanya saja... aku ingin melihat sejauh mana kesetiaannya itu padaku," potong Rania kembali.
Mi Kyong cengo, berkali-kali tidak percaya mendengar semua perkataan wanita di depannya.
"Aku sungguh tidak percaya," balas Mi Kyong tidak bisa mengatakan apa pun lagi.
Rania menyeringai seraya terus menatap nyalang penuh makna.
...***...
Sore pun menjelang, langit memperlihatkan senja begitu indah menemani setiap langkah para penikmatnya.
Setelah pertemuan singkatnya dengan Mi Kyong tadi siang di kafe, Raina bergegas pergi ke rumah sakit untuk melanjutkan magangnya.
"Za-Zahra? Ada apa? Kenapa kamu memelukku seperti ini? Lihat, semua orang melihat ke arah kita," gumamnya memandang ke sekitar.
Zahra pun langsung melepaskan pelukannya dan menangkup kedua bahu sang sahabat.
"Apa kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir memeriksa keadaan sang sahabat.
Rania yang mendapatkan perhatian seperti itu pun tidak mengerti. Dahi lebarnya mengerut dalam, tidak mengerti.
"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja," jawabnya memperlihatkan senyum manis.
Zahra memandangi sepasang manik cokelat susu di depannya mencari sesuatu di dalamnya.
"Kamu sedang berbohong, meskipun kita belum lama berteman tapi, aku tahu jika kamu berbohong. Aku melihat dan membaca artikel mengenai suamimu," jelas Zahra, Rania tercengang dan sadar pemberitaan malam itu sampai ke telinga sahabatnya.
Lengkungan bulan sabit hadir seraya menggenggam tangan Zahra kuat.
"Aku... sungguh baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir, aku-"
"Kamu tidak bisa menghadapinya sendirian, Raina. Kamu... bisa mengandalkannya untuk berbagi keluh kesah. Sekarang aku tanya kamu sekali lagi."
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zahra kembali.
Rania menganggukkan kepala berkali-kali. Namun, sedetik kemudian air mata meluncur tak tertahankan.
Ia berusaha menahan sekuat tenaga, tetapi tetap saja perasaan menggebu kian meluap dalam dada membuat tubuhnya bergetar tak karuan.
Melihat itu Zahra kembali mendekap Rania sambil mengusap punggungnya pelan.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja. Semua pasti akan berlalu, kamu wanita kuat bisa menghadapi semuanya, tetapi... kamu juga harus tahu kalau di sini ada aku yang bisa kamu bagi segalanya, jangan menyimpannya sendirian," ucap Zahra lirih yang masih memeluk sahabatnya erat.
Rania hanya mengangguk paham tanpa membalas sepatah katapun.
Seok Jin yang lagi-lagi menjadi saksi atas kejadian menimpa kedua wanita itu pun kembali terpaku.
Ia melangkahkan kaki saat mendapati panggilan masuk dari sang adik. Pria itu mengatakan jika dirinya sudah berada di ruangan.
Dokter tampan itu langsung bergegas pergi dari sana.
Tidak lama kemudian ia tiba di ruangannya sendiri. Ia masuk dan mendapati Park Jim-in ada di dalamnya.
"Sekarang apa lagi? Kamu tidak lihat istrimu menangis di lobi rumah sakit?" ujar Seok Jin duduk di kursi kebesarannya.
"Aku lihat semua artikel tentang kalian, Song Mi Kyong... kenapa kamu bisa membiarkan wanita itu mengumumkan jika kamu adalah calon suaminya? Istri mana yang tidak sakit hati dan terluka mendapati berita itu? Aku yakin Raina benar-benar terluka sekarang," racau Seok Jin seraya sibuk membereskan dokumen demi dokumen menumpuk di atas meja.
Jim-in hanya diam beberapa saat, kepala bersurai lembutnya menunduk dalam meremas jari jemarinya kuat.
"Iya Hyung, aku sadar sudah membuat Rania kembali terluka. Aku suami yang tidak bertanggungjawab," keluhnya.
"Seharusnya kamu tidak gegabah, Jim. Kamu tahu sendiri ingatan Rania masih belum kembali, dan sekarang... kamu malah membebani pikirannya lagi. Aku tidak tahu apa yang sedang Rania rasakan sekarang. Bisa saja saat ini dia... benar-benar terluka." Kembali dokter tampan itu meracau menyadarkan segala kesalahan sang adik.
Hening menyambut, kata demi kata yang dituangkan lawan bicaranya terus terngiang dalam pendengaran.
Jim-in terlalu abai dan mementingkan sang sahabat daripada keadaan istrinya sendiri.
Ia yang mengatakan jika akan mengembalikan ingatan sang istri, nyatanya luka lain diberikan.
Semua perbuatan pasti ada akibatnya. Ia tidak pernah tahu jika keputusan yang diambilnya malah memberikan malapetaka kepada rumah tangganya.
"Aku benar-benar telah menyakiti, Rania." Jim-in sadar dan terus menundukkan kepala dalam menyesali perbuatannya.
Kata cinta yang berulang kali dilayangkan begitu percuma tidak ada sedikitpun rasa percaya diterima Rania.
Ia merasa berkali-kali dikhianati dan disakiti. Hujan air mata datang menerjang keduanya begitu cepat.