VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 79



Perlahan, tapi pasti kegelapan mulai menelan indahnya langit senja. Satu persatu bintang bermunculan menandakan malam akan datang menghilangkan kenikmatan di hari itu.


Setelah menghabiskan beberapa saat mengelilingi ibu kota, banyak sekali canda tawa yang mereka bagi bersama.


Rania, Zahra, Laluna, dan Jauhar menikmati waktu sore dengan mengunjungi tempat menyenangkan di sana.


Tanpa tahu jika hal tersebut dilakukan sebagai bentuk salah satu rencana yang telah Rania serta Laluna susun bersama dokter tampan itu.


Mereka terus bermain dan bermain menciptakan kebahagiaan bersama.


Tanpa curiga sedikit pun Zahra mengikuti ke mana sang sahabat membawanya pergi. Selepas menunaikan salat isya berjamaah di masjid terdekat, Rania kembali melajukan kendaraannya menuju suatu tempat.


Jalanan asing serta pemandangan yang tidak pernah Zahra lewati sebelumnya memberikan sebuah tanya.


Alisnya saling bertautan, tidak mengerti ke mana sang sahabat membawanya pergi.


Ia yang tengah duduk di samping Rania menoleh lekat pada sang pengemudi. Sedari tadi Zahra terus memendam rasa penasaran seorang diri.


"Rania, sepertinya ini bukan arah pulang. Apa-"


"Memang, kita belum mau pulang, Zahra. Iyakan, Lun?" kata Rania menoleh ke jok belakang lewat kaca spion di atasnya.


Laluna yang tengah bercanda dengan Juhar menghentikan aksinya, mengangguk cepat mengiyakan perkataan Rania.


"Itu benar, Teh. Kita belum mencapai akhirnya, jadi... tidak ada alasan bagi kita untuk pulang secepat ini," balas Laluna membuat Rania manggut-manggut mengiyakan.


Ia mengembangkan senyum dan melirik sekilas pada Zahra yang tengah memandang lurus ke depan.


Bisikan dalam hati terus berkata jika memang ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh kedua wanita itu.


Pegangan di stir mobil pun semakin mengerat dengan sepasang manik berkaca-kaca. Rania terus berharap yang tengah mereka jalankan sekarang mendapatkan jawaban terbaik.


"Aku yakin setelah ini akan ada kebahagiaan yang kamu dapatkan, Zahra. Semoga kamu bisa menerimanya," benak Rania dalam diam.


Tidak ada yang berbicara lagi, ketiga orang itu bungkam mendengarkan deru mesin mobil saling bersahutan.


Zahra sedari tadi bungkam sambil menautkan jari jemari kuat. Sesekali ia melihat pada Rania dan adiknya bergantian.


Ia terus memikirkan apa yang tengah mereka rencanakan.


Helaan napas pun terdengar riuh membuat Rania maupun Laluna terkejut. Kedua wanita itu kompak melirik Zahra yang saat ini melengkungkan kedua sudut bibir.


"Aku memang tidak tahu apa yang sedang kalian berdua sembunyikan, tetapi... terima kasih sudah memikirkannya," kata Zahra sepenuhnya menatap sang sahabat.


Sontak hal itu membuat Rania terkejut dan hampir menginjak gas untuk menghentikan laju mobil. Namun, ia berhasil menguasai diri dan menenangkan degup jantung seraya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Apa yang kamu bicarakan? Aku dan Laluna memang sudah merencanakan untuk pergi jalan-jalan bersama hari ini. Tentu saja, sekaligus membuatmu bahagia. Pasti jenuh, bukan? Terus menerus menangani pasien dan tugas kuliah," ungkap Rania berhasil meyakinkan Zahra.


Wanita berhijab hitam senada dengan sahabatnya itu pun mengangguk singkat. Senyumnya semakin melebar dan kembali tenang dari perasaan gelisah yang sedari tadi menguasai.


Sedari tadi Zahra sudah merasakan firasat jika kedua wanita itu merencanakan sesuatu. Sejak bermain di dua tempat itu ia terus memperhatikan Rania dan juga Laluna.


Ia tahu ada sesuatu yang tengah mereka sembunyikan. Namun, setelah mendengar jawaban Rania barusan ia lega bisa mendapatkan tali penyambung dari kegelisahannya.


Karena ia merasa heran, tidak biasanya Rania mengajaknya jalan-jalan tanpa memberitahu atau merencanakan hal itu sebelumnya.


Tentu keadaan tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar pada Zahra.


"Begitu yah? Syukurlah," kata Zahra senang.


Diam-diam Rania melirik Laluna di kaca spion yang juga sedang melihat padanya. Mereka bisa bernapas lega dari ketegangan yang sempat melanda barusan.


...***...


Seok Jin sempat tersedak ludahnya sendiri saat mendengar percakapan ketiga wanita di ujung sana.


Tenggorokannya seolah tercekat sesuatu mendapati wanita yang begitu ia kagumi membicarakan hal mengejutkan.


Ia lalu berjalan mendekati sang kakak yang sedang berada di halaman depan.


"Ada apa Hyung? Apa ada sesuatu yang salah?" tanyanya penasaran.


Seok Jin secara perlahan menolehkan kepala ke samping kanan. Manik kecilnya membulat sempurna bagaikan telah melihat sesuatu mengejutkan.


Ia pun menceritakan semua yang didengarnya termasuk kebimbangan dalam hati.


Jim-in terkekeh pelan lalu menepuk pundaknya singkat.


"Hyung, tidak usah khawatir. Bukankah seorang wanita memang mempunyai sebuah firasat? Contohnya saja Rania, istriku itu selalu saja tahu jika ada sesuatu yang tidak beres. Makanya jangan heran jika mendengar perkataan mengejutkan seperti tadi," jelas Jim-in berusaha menenangkan.


Seok Jin mengangguk pelan dan memandangi alat komunikasi dalam genggaman lagi.


"Aku sudah lama tidak berhubungan dengan siapa pun, makanya... aku sangat terkejut jadi. Aku pikir dia tahu segalanya," racaunya gamang.


Jim-in kembali terkekeh pelan menyadari kemelut dalam diri sang kakak.


"Tenang, tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Aku yakin akan ada jawaban di balik setiap kemelut yang Hyung rasakan sekarang," ucap Jim-in lagi terlihat benar-benar dewasa.


Pria lebih muda darinya itu sudah membuat Seok Jin kembali terkesima.


Ia pikir Jim-in hanya lah tuan muda arogan yang penuh tipu muslihat dalam mewujudkan keinginannya.


Namun, di balik itu semua ada sisi dewasa sekaligus bijaksana dalam diri seorang Park Jim-in.


"Em, terima kasih. Kamu memang adikku yang paling bisa diandalkan," balasnya membuat Jim-in tergelak.


"Kalau begitu ayo semangat dalam mewujudkan apa yang ingin Hyung sampaikan." Jim-in menepuk pundaknya lagi sedikit kencang dan berlalu dari hadapannya.


Seok Jin mengangguk pelan dan menghela napas menenangkan diri.


Kurang lebih satu jam kemudian, siluet mobil yang tengah dikendarai oleh Rania tertangkap pandangan.


Buru-buru Jim-in yang mengenalinya langsung memberitahu yang lain.


Ada sekitar sembilan orang lagi yang ada di villa itu membantu rencana Kim Seok Jin. Mereka bergegas berada di posisi masing-masing untuk melancarkan apa yang sudah disepakati bersama.


Di tempat parkir, Rania, Zahra, Jauhar, dan Laluna turun dari kendaraan roda empat tersebut.


Mereka berjalan beriringan menaiki satu persatu anak tangga mencapai bangunan dua megah itu.


"Rania, tempat apa ini? Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Zahra mencengkram lengan Rania kuat.


Sang empunya menoleh lalu melengkungkan kedua sudut bibir lebar dan menepuk punggung tangannya pelan.


"Tenang saja, nanti kamu juga tahu. Ayo," ajak Rania menggenggam tangan sahabatnya erat.


Zahra hanya mengikuti ke mana Rania membawanya pergi. Bola mata cokelat susunya bergulir ke sana ke mari melihat-lihat sekitar.


Sampai tidak lama kemudian mereka tiba di tempat tujuan.


Zahra mematung di tempatnya berdiri saat semua orang di sana memberikan kejutan demi kejutan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


"I-ini? Apa maksudnya semua ini?" Zahra gugup setengah mati dengan mata terbelalak lebar.


Ia benar-benar terkejut dan tidak menyangka melihat semua hal tepat di depannya.


Kedua tangan itu pun mengepal kuat berusaha menahan segala perasaan dalam dada.


Ia mencoba bertahan, meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin dirinya ajukan kepada Rania dan juga Laluna.


Kedua wanita itu juga ikut terkesiap melihat reaksi yang ada di wajah ayu Zahra.