
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Malam menjadi pelipur lara bagi mereka yang tengah dilanda rasa pedih. Luka tercipta berdampingan dengan obat penyembuh. Begitu pula dengan penantian selalu berhimpitan dengan kesabaran dan membuahkan hasil kebahagiaan.
Itulah yang tengah dirasakan Rania. Ia tidak menyangka sudah menjadi istri seutuhnya dari Park Jim-in. Namun, masih ada satu yang membuatnya gelisah. Sosok imam yang diimpikannya dari dulu belum terlihat dari diri sang suami. Bahkan selama ini ia tidak pernah melihat suaminya beribadah dan sekarang waktu memberikan kesempatan mengubah keadaan.
Jam menunjukan dini hari. Setelah melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan dari awal keduanya membersihkan diri. Rania melihat Jim-in duduk di tepi tempat tidur seraya mendunduk dalam.
Air yang menetes dari rambutnya yang basah membuat ia tersenyum. Rania pun berjalan mendekat seraya membawa handuk kecil.
"Biar aku keringkan." Ucapnya tepat berdiri di depan Jim-in.
Gerakan lembut yang berada di kepala membuat sang empunya mendongak melihat betapa polos wajah sang istri. Senyum hangat pun terbit membuatnya memeluk erat tubuh Rania membuatnya tersentak kaget.
Rania tidak percaya Jim-in bersikap manja padanya. Lengkungan bulan sabit di bibir ranum itu semakin terlihat jelas dengan rona merah menghiasi pipi putihnya. Rania merasakan betapa bahagianya ia sekarang.
"Selama ini aku terlalu bodoh tidak melihat ketulusanmu." Bisik Jim-im lembut.
"Jangan berkata seperti itu, Tuan. Tidak ada kata terlambat." Balas Riana melengkungkan bulan sabit sempura.
"Oppa. Panggil aku Oppa. Aku suamimu bukan tuanmu." Ujar Jim-im seraya mendongakan kembali kepalanya di perut rata sang istri
"Iya." Angguk Rania singkat.
Jim-in pun membenamkan wajahnya lagi di sana. Kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya membuat ia terlena. Jim-in merasakan kenyamanan berada di dekat istri tercinta.
"Kenapa kamu bisa bertahan denganku?" tanya Jim-in setelah sekian lama bungkam.
"Aku tidak bisa mengubahmu menjadi baik. Tetapi, aku akan ada di sampingmu sampai Oppa jatuh cinta padaku. Aku siap terluka jika untuk membuatmu berubah menjadi baik. Aku rasa itu alasannya."
Tegas dan jelas. Perkataan tulus itu tepat mengenai hati terdalam seorang Park Jim-in.
Ia tertegun dengan ketulusan dari suara lembut sang istri.
"Sudah waktunya salat subuh. Oppa mau menjadi imamku?" Kata Rania melepaskan rengkuhan sang suami.
Jim-in melihat senyum menghiasi wajah ayu itu. Ada keraguan menyapanya saat mendengar permintaan Rania.
"Bisakah? Apa aku bisa menjadi imammu?"
"Tentu saja, Oppa suamiku. Ayo kita sama-sama menghadap Allah untuk kebaikan pernikahan ini." Ajak Rania mengulurkan tangan padanya.
Jim-in tertegun sebentar lalu membalas tangan Rania dan menggenggamnya erat. Seolah ia tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun.
Sayup-sayup angin berhembus menemani sepasang insan yang tengah melaksanakan kewajiban. Beberapa saat kemudian, selesai melakukan salat subuh Jim-in menangis dalam diam. Rania melihat bahu tegapnya bergetar lalu beranjak menuju ke hadapan sang suami.
Jim-in tengah menangis dengan menyembunyikan wajah tegasnya di balik telapak tangan. Rania pun mengusap bahunya perlahan.
"Kenapa Oppa menangis?" tanya Rania lembut.
"Aku malu. Sudah lama aku tidak beribadah. Apa Allah akan memaafkan semua kesalahanku?" bisiknya tanpa membalas tatapan sang istri.
"Oppa tahu? Jika Allah ingin mengubah seseorang menjadi lebih baik mudah baginya membolak balikan hati hamba-Nya. Beruntunglah Allah memberikan hidayah-Nya pada kita. Ketahuilah segala sesuatu yang terjadi dalam hidup itu ujian dari Allah untuk membuat kita sadar. Jika sejatinya kehidupan sudah ada yang mengatur. Ujian yang terjadi itu tanda Allah sayang kepada kita. Tidak ada kata terlambat untuk berubah."
Jimin menyipitkan kedua maniknya dan menikmati setiap sentuhan sang istri.
"Jangan menangis lagi. Aku akan ada di sampingmu untuk membimbing Oppa. Dan setelah itu bimbing aku dalam kebaikan, agar kita bisa berpegangan tangan bersama menuju Jannah-Nya." Lanjut Rania seraya masih menghapus bulir demi bulir air mata yang turun di pipi sang suami.
Jim-in pun langsung merengkuh istrinya erat.
"Aku mohon bimbinganmu. Ajarkanku untuk dekat dengan Allah."
"Tentu."
Sungguh kebahagiaan sejati jika kehidupan rumah tangga berlandaskan cinta kepada Allah. Seketika Rania melupakan kesakitan yang pernah ditorehkan sang suami padanya dan menerima pernikahan tersebut dengan tangan terbuka.
...🌦️🌦️🌦️...
Wajah berseri mengawali pagi Tuan Muda Park. Hal tersebut membuat para pelayan tidak berhenti berdecak kagum dengan kilauan menenangkan dari sang tuan. Tidak ada lagi bentakan, suara tegas ataupun suruhan yang menyebalkan. Bak singa yang sudah terlatih, Park Jim-in terlihat jauh berbeda.
Aura positif memancar dalam dirinya. Para pelayan yang melihatnya mengerutkan kening dalam tidak mengerti. Namun, mereka meyakini jika perubahan sang tuan muda tidak terlepas dari sang istri, Rania yang sudah membuat anak majikannya menjadi lebih baik.
"Kanapa mereka menatapku seperti itu? Emm...... seperti heran, mungkin?" tanya Jim-in saat Rania menyindukan nasi untuknya.
Sekilas ia pun memperhatikan beberapa pelayan yang ada di sana. Senyum melengkung di bibir Rania kala mengerti apa yang dipikirkan orang-orang rumah.
"Mereka bersyukur Tuan Muda bisa bersikap baik," jawabnya kemudian.
"Hah?" Jim-in cengong memajukan kepalanya ke depan. "Baiklah selebihnya aku tidak mengerti. Tunggu! Tadi kamu manggil aku siapa? Tuan Muda? Oppa, Rania. Aku ini suamimu bukan tuanmu. Ingat itu! Bukankah semalam aku sudah mengatakannya?" Tegas Jim-in membuat Rania melebarkan senyum, lagi.
Hari yang diawali dengan perasaan bahagia mengantarkan kelegaan dalam diri Rania. Jim-in sudah mengaku mencintainya dan menerima ia sebagai istri sesungguhnya. Rania tidak menyangka jika hari ini datang juga.
Waktu memang penentu sedalam apa seseorang menunggu dalam kesabaran. Tidak henti-hentinya Rania mengucap syukur atas kesempatan yang sudah Allah berikan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi istri yang terbaik bagi sang suami.
Meskipun pada awalnya pernikahan mereka hanya sebatas perjodohan, tapi cinta mampu mengubah segalanya.
Menjadi hal langka bagi Rania untuk bisa menyantap sarapan bersama sang suami. Biasanya ia hanya akan menunggu Jim-in terlebih dahulu dan setelah itu baru dirinya bisa makan. Mengingat kejadian-kejadian kemarin membuat Rania merasakan seberapa keras perjuangan itu dipertaruhkan.
Selesai sarapan, pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk bersantai di halaman bekalang mansion. Rania berdecak kagum ketika netranya memandang bunga sakura bermekaran. Musim semi telah datang, kehangatannya memeluk erat sejoli ini.
Angin berhembus, arahnya membuat kepala bersurai hitam legam Jim-in menoleh ke samping kanan. Iris kecilnya memancarkan sorot mata hangat menangkap lengkungan yang semakin memperindah pasangannya. Jim-in baru menyadari jika Rania memiliki wajah yang sangat cantik. Selama ini ia dibutakan oleh keegoisannya sendiri dengan menutup mata tanpa mengindahkan keberadaannya.
"Aku beruntung bisa memilikimu, Rania. Dari dulu aku memang sudah menginginkanmu."
Suara tegas membuat Rania menoleh, tercengang mendengar pengakuan dari suaminya.
Ucapan Sang Oh kemarin berputar kembali. Kini si pelaku mengungkapkan kebenaran. Ia tidak percaya kenapa Jim-in bisa menginginkan keberadaannya.
"Wae?"
Hanya satu kata tanya yang keluar dari mulutnya. Rania berkutat dengan pikirannya saat melihat ketegasan itu. Dirinya antara percaya dan tidak.
Bagaimana bisa Tuan Muda, pewaris tunggal keluarga Park bisa menginginkan wanita sederhana seperti Rania. Wanita itu bungkam siap mendengarkan penjelasan lebih jauh dari sang suami.
Bersama dengan desiran angin indera pendengarannya bekerja. Aroma bunga sakura menelisik ke dalam penciuman menemani kesetiannya mendengarkan penuturan Jim-in. Hangat dari sang surya menambah keyakinan jika dirinya memang berada di samping sosok yang ia cintai. Bukan sebagai pelayan melainkan istri sah dari seorang Park Jim-in.
Ia tidak tahu masa lalu pria itu. Namun, yang jelas Jim-in sudah mengenalnya dari dulu, tanpa Rania ketahui dan sadari.
...🌦️PENYATUAN🌦️...