
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Asa yang masih menggantung dalam benak perlahan menemukan tempat berlabuhnya. Harapan yang melintas dalam angan berakhir penyelesaian. Setiap manusia pasti mempunyai titik lemah. Namun, tidak semuanya berhasil melalui tahapan tersebut. Kembali, Rania menjadi salah satu insan yang berada dalam posisi seperti itu. Ia lelah, sungguh dirinya teramat lelah dengan jalan kehidupan yang di jalaninya. Ingin menangis, tapi memang setiap kali Varsha selalu datang membanjiri kedua pipinya.
Namun, ia percaya apapun yang terjadi pasti ada sesuatu di baliknya. Begitulah ketetapan Allah yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.
"Nyo....nyonya sudah sadar?" cicit Rania tidak percaya melihat kelopak mata itu terbuka. Satu kata yang meluncur dari balik bibir pucatnya tadi pun membuatnya terkejut. "Saya panggilkan dokter." Lanjutnya lalu menekan tombol untuk memanggil petugas medis.
Tidak lama kemudian dokter berkacamata itu pun datang dan langsung memeriksa keadaan Gyeong. Senyum terpatri diwajah tuanya. Rania dibuat tidak mengerti.
"A...apa ada yang salah dok?" tanyanya takut-takut.
"Ahh, tidak. Keadaan beliau sudah jauh lebih baik. Saya tidak percaya beliau bisa secepat ini sadar dan luka-lukanya mulai membaik. Namun..." ucapan sang dokter menggantung. Rania mengerutkan dahinya bingung, "bisa kita bicarakan di luar?" pintanya. Rania pun mengangguk lalu mengikuti dokter itu keluar ruangan.
"Kecelakaan itu membuat Nyonya Gyeong lumpuh. Beliau tidak bisa berjalan untuk sementara waktu."
Bola mata bulan itu semakin melebar. Rania tidak percaya mendengar penuturannya, "a...apakah permanen, dok?"
"Saya belum bisa memastikan. Nanti kita periksa lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi." Rania pun mengangguk mempersilakan.
Hening melanda, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Lumpuh? Kata itu terus saja terngiang dalam pendengarannya. Bagaimana bisa ia menyampaikan berita itu pada suami dan juga mertuanya? Terutama bagi Park Jim-in, seperti de javu apa pria itu bisa menerimanya dan tidak teringat kejadian yang menimpanya? Membayangkannya saja sudah membuat Rania pengap.
"Lebih baik aku tidak usah bicara sebelum oppa bertanya." Finalnya dan kembali ke ruangan.
Dilihatnya Gyeong tengah memandang kosong langit-langit ruangan. Perkataan dokter yang beberapa saat lalu didengarnya masih berputar dengan jelas. Merasakan seseorang duduk di samping ranjangnya, bola matanya bergulir melihat kedatangan sang menantu.
Senyum tulus nan ikhlas membingkai wajah berhijab Rania. Wanita itu terlihat sangat cantik dari terakhir kali dilihatnya.
"Sudah berapa hari saya tidak sadarkan diri?" suara lemah itu kembali terdengar.
"Sudah hampir satu bulan nyonya koma."
"Apa Jim-in sering mengunjungi ibunya di rumah sakit?"
Pertanyaan yang ingin dihindari ternyata terdengar juga. Rania gelagapan dan langsung mengalihkan tatapannya. Bola matanya bergulir ke sana kemari menandakan kecemasan. Melihat itu Gyeong pun sadar jika sang anak tidak pernah berada di sampingnya.
"Saya tahu Jim-in tidak pernah datang, kan? Saat masih tidak sadarkan diri, saya sering mendengar suara lembut seorang wanita. Apa itu kamu? Suaramu begitu menenangkan terlebih ketika menyenandungkan ayat suci Al-Qur'an." Jujurnya. "Itulah yang saya ingat dan sampai sekarang pun masih terngiang dalam kepala." Lanjutnya.
Rania kembali memandangi wajah pucat mertuanya. Sorot mata yang entah apa artinya itu memandangi langit-langit ruangan. Ada kesakitan yang menyapa hatinya. Ada pula kebahagiaan tersendiri di sana. Ia senang bisa membuat Gyeong sadar dengan keberadaannya.
"Gomawo." Satu kata itu kembali terlontar. Rania tersenyum canggung tidak tahu harus berbuat apa.
...🌦️🌦️🌦️...
Hari demi hari berlalu, sejak kesadaran Gyeong Rania masih setia berada di sampingnya, mengurusnya, layaknya seorang ibu kandung. Meskipun ia tahu Gyeong belum menerimanya sebagai menantu yang sesungguhnya.
Tepat hari ini Gyeong sudah diperbolehkan pulang. Lagi-lagi hanya Rania yang mendampinginya. Sosok sang anak maupun 'calon menantu kesayangan' entah pergi ke mana. Wanita itu memikirkan banyak hal dalam kepalanya.
Mansion terasa hening kala Nyonya Besar kembali menampakan diri. Kamar luas itu terasa hampa setelah ditinggalkannya. Tidak banyak barang yang ada di sana hanya ada beberapa foto dan juga meja kerja pribadinya.
"Pulanglah saya ingin beristirahat." Ujarnya secara halus mengusir sang menantu. Rania yang mengerti pun mengangguk, tapi sebelum melangkah pergi dirinya berujar "besok saya akan kembali lagi." Tidak ada jawaban Gyeong sudah lebih dulu menutup matanya. Seulas senyum pun terbit diwajah ayunya lalu melangkah meninggalkan ibu mertuanya sendiri.
Beberapa saat kemudian setelah peninggalan Rania, pintu kayu jati itu kembali dibuka. Gyeong membuka matanya melirik ke samping kanan melihat siapa yang datang. Bibir pucatnya melengkung seketika.
"Eommanim, aku datang." Ucapnya seraya duduk disofa tunggal tepat di samping ranjang.
"Yuuna, eomma menunggumu sejak di rumah sakit." Balasnya lalu berusaha bangkit dari berbaringnya.
"Mianhae, eomma aku sibuk akhir-akhir ini. Eomma tahu sendiri bukan jika appa masih di rumah sakit, jadi tidak ada yang menghandle pekerjaan."
"Kamu memang wanita yang mandiri."
Hening sesaat keduanya hanya saling tatap menyelami pikiran masing-masing. Senyum pun mengembang diwajah cantik Yuuna. Sampai,
"Kenapa bisa seperti ini eomma. Bagaimana dengan Jim-in oppa?" tanyanya lagi.
"Jim-in sama sekali tidak mengunjungi eomma bahkan sampai pulang ke sini."
Yuuna nampak berpikir, kepala bersurai kecoklatan itu sedikit miring seraya mengrutkan dahinya. "Apa mungkin Rania yang tidak mengizinkannya atau mungkin mempengaruhinya? Bukankah oppa pergi dari mansion juga gara-gara dia?"
Gyeong melepaskan pandangan darinya lalu menatap ke bawah mengingat kembali kejadian kemarin. "Eomma tidak tahu. Apa mungkin?" bisiknya.
"Tidak ada yang tidak mungkin eomma. Bukankah aneh jika hanya Rania yang terus menemani eomma? Pasti dia menginginkan sesuatu." Ujarnya lagi. Gyeong memandanginya dengan sorot mata penuh tanya. Mengerti, Yuuna pun kembali bersuara. "Harta mungkin."
"Masuk akal." Jawabnya.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Gyeong melamun memikirkan ucapan tunangan sang anak. Bagaimana pun juga aneh jika anak kandungnya tidak sedikit pun mempunyai hati nurani untuk menjenguknya. Bukankah yang tengah mengalami kecelakaan itu ibu kandungnya? Di mana Jim-in anak semata wayangnya sekarang? Gyeong semakin mengiyakan ucapan wanita berhati ular tersebut.
...🌦️🌦️🌦️...
Sedangkan di sudut kota Seoul, Rania tengah menunggu kepulangan sang suami. Sudah hampir satu jam sejak ia tiba di apartemen baru mereka pria itu belum juga menampakan batang hidungnya. Khawatir, cemas, gelisah, takut menjadi satu. Pasalnya dari tadi pagi Jim-in belum menghubunginya sama sekali.
"Oppa pergi ke mana? Kenapa tidak memberitahuku?" gumamnya melihat ponsel dalam genggaman. Ia terus berjalan mondar-mandir di ruang tengah. "Lebih baik aku telpon saja." Baru juga ia menekan panggilan pintu depan terbuka menampilkan wajah lelah sang suami.
"Oppa." Panggil Rania seraya berjalan mendekatinya. "Oppa dari mana saja? Aku khawtair." Jujurnya lalu menyalami tangan Jim-in singkat.
"Aku dari perusahaan mengambil alih kepemimpinan." Jelasnya.
Seketika Rania membelalakan bola matanya, tidak menyangka Jim-in bertindak secepat itu. "Wa....wae?" tanyanya.
"Karena aku tidak ingin wanita itu menyakiti wanitaku lagi. Jika aku punya kedudukan siapa pun tidak bisa menghalangi kebahagiaan kita."
Degg!!
Degup jantung Rania seketika meningkat tajam. Siapa pria yang tengah berdiri di hadapannya ini? Kenapa menguarkan aura mencekam? Perlahan Rania mundur ke belakang saat sorot mata tajam itu menatapnya lekat. Mengintimidasi seakan dunianya hanya berpusat pada Rania.
...🌦️KEPULANGAN🌦️...