VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 2



Kisah akan terus berlanjut sebagaimana napas masih berhembus.


Akan tetap ada segala cerita mengiringi setiap langkah yang ada.


Tidak ada yang salah dengan air mata. Justru berkat kehadirannya menambah kekuatan guna menjalankan segala hari yang dilalui.


Varsha, menemani kepiluan masa lalu dan mendatangkan Harsha pada masa depan.


Kilauan akan sebuah pengharapan kian melambung tinggi membelah angkasa lepas.


Rania Varsha Hafizah, tengah mengecap manisnya sebuah kenikmatan datang selepasnya badai.


Masa lalu hanya sebatas perjalanan hidup berharga yang menghadirkan kebahagiaan.


Malam menjelang, langit bertabur bintang dengan cahaya bulan menemani keheningan.


Saat ini Rania tengah duduk selonjoran kaki di atas ranjang seraya memangku sang buah hati.


Jauhar sedari tadi tidak lepas dari gendongan sang ibu. Gelak tawa pun bergema di ruangan menambah kesyahduan.


Tidak lama berselang, pintu kamar di buka. Kepala rumah tangga hadir melengkungkan bulan sabit sempurna menyaksikan keduanya.


Pemandangan tersebut seketika menentramkan jiwa menenangkan sanubari.


Tidak pernah ia pikirkan akan mendapatkan sebuah keluarga hangat bersama istri yang dulu sempat disia-siakan.


Park Jim-in berjalan mendekat lalu naik ke atas tempat tidur.


"Sayang, apa dari tadi Jauhar tidak lepas menyusu padamu?" tanyanya sembari memperhatikan sang jagoan.


Rania menoleh singkat dan kembali pada Jauhar lalu mengelus puncak kepalanya sayang.


"Em, begitulah. Mungkin anak ini sedang lapar," jawabnya kemudian.


"Apa kamu tidak lapar terus dihisap seperti itu?" tanya Jim-in lagi memperhatikan sang buah hati.


Kepala berhijab istrinya pun menggeleng singkat.


"Aku sudah makan banyak tadi," balasnya kemudian.


Jim-in mengulas senyum lembut, tangan sebelah kanannya terangkat mengusap puncak kepala istri tercinta.


Sudah hampir tujuh tahun lamanya mereka membina rumah tangga, selama itu pula banyak sekali hal dilalui bersama.


Asam, manis, pahitnya pernikahan hadir silih berganti.


Penyatuan yang diawali berkat perjodohan bersyarat pun mengantarkan pada kebaikan.


Rania maupun Jim-in sudah sama-sama saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain.


Di tengah lamunan seraya memperhatikan kekasih hatinya, Jim-in tersadar akan sesuatu.


"Sayang, em... apa kamu mau melanjutkan sekolah lagi? Maksudku sayang bukan waktu itu pendidikan mu harus terhenti? Karena keegoisan ku yang memaksa mu semuanya jadi berantakan. Aku-"


Di tengah celotehan suaminya, Rania diam mematung. Pergerakannya terhenti, tidak percaya mendapatkan kata-kata seperti tadi.


"Benarkah?"


Satu kata mengandung pertanyaan dan pernyataan itu pun tercetus jua.


Rania menoleh pada suaminya dengan manik terbelalak lebar.


Bibir ranum itu pun sedikit terbuka, masih mengambang pada ungkapan yang dicetuskan pasangan hidupnya.


Jim-in mengangguk yakin lalu menangkup kedua pipinya hangat.


"Aku bersungguh-sungguh, Sayang. Rasanya tidak adil jika kamu harus putus sekolah hanya untuk mengurusi ku. Aku minta maaf sudah memutuskan mimpimu," ungkapnya, air mukanya sendu sembari mengusap pipi Rania lembut.


"Aku ingin melihatmu menjadi perawat yang hebat," lanjutnya lagi.


Rania tidak kuasa membendung air mata yang seketika itu juga mengalir tak tertahankan.


Ia benar-benar tidak menyangka mendapatkan satu hari di mana suaminya mengatakan hal demikian.


Lama nan dalam, sentuhan itu sampai ke relung hati menyambut keharuan yang kian menganak bagaikan sungai.


Kelegaan itu bagaikan mengalir hingga ke lautan lepas, pada samudera menghadirkan harapan kian meluas.


"Jangan berkata seperti itu. Semua sudah terjadi, karena rencana Allah pasti terbaik. Buktinya kita bisa bersama sampai sekarang bahkan... kita juga mempunyai Akila dan Jauhar, kan?"


"Kedua buah hati kita sebagai lambang kebahagiaan. Masa lalu tidak usah diingat-ingat lagi, tetapi jadikan sebagai pembelajaran saja."


Kata-kata Rania mengalun, menelisik ke hati terdalam.


Jim-in terkesiap mendengar setiap untaian kalimat tercetus.


Kedua maniknya berkaca-kaca seraya tersenyum haru.


"Terima kasih, berkat kesetiaan, kesabaran, dan ketabahan mu, aku ... bisa sembuh seperti ini," jelasnya lagi.


Tangan kanan Rania yang bebas pun menangkup rahang suaminya hangat.


"Jangan berterima kasih. Dari awal aku menyetujui pernikahan ini... karena aku yakin rencana Allah yang terbaik. Rencana-Nya lebih indah dari apa yang kita harapkan. Meskipun pada awalnya memang susah, sulit, bahkan sakit... tetapi akhirnya, Oppa bisa merasakannya sendiri sekarang," ucap Rania dengan linangan keharuan.


Jim-in terpaku, lidahnya kelu mendapatkan kata-kata hangat dari sang pujaan.


Bayangan awal-awal pernikahan pun datang menghampiri. Ia begitu arogan, kejam, bahkan tidak segan-segan memberikan rasa sakit secara verbal kepada istrinya.


Ia tidak menganggap Riana layaknya pasangan hidup dan menjadikannya sebagai perawat pribadi.


Ia juga tidak memikirkan perasaannya kala mendatangkan Yuuna ke pernikahan mereka.


Jim-in tidak peduli bagaimana keadaan Rania waktu itu. Ia tidak tahu ada air mata yang diam-diam keluar tanpa diketahuinya.


Waktu akan terus bergulir, mendatangkan kebaikan ataupun sebaliknya. Masa akan berganti sebagaimana semesta menentukan kadarnya. Baik dan buruk, hitam maupun putih, sudah menjadi jalan cerita bagi setiap pemilik kisah di dalam kehidupannya.


Rania dan Jim-in yang awalnya tidak menginginkan pernikahan pun, kini dipersatukan lewat ikatan janji suci di hadapan Allah.


Karena jika Allah sudah menentukan sesuatu maka itu yang terbaik.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Oppa. Aku... sungguh sudah baik-baik saja. Aku beruntung bisa memilikmu di sisiku. Jangan pernah ungkit lagi masa lalu, sebab masa itu telah menghilang dan berganti kebaikan," tutur Rania lagi.


Jim-in tidak kuasa membendung keharuan yang pada akhirnya air mata menetes tak tertahankan. Ia pun memeluk istri dan putra keduanya menyalurkan perasaan terdalam.


Cairan bening terus mengalir tanpa henti mendeskripsikan kata-kata yang tidak bisa dicetuskan.


Ada penyesalan dalam diam yang menjelma menjadi keinginan untuk mengubah masa lalu.


"Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Masa lalu hanya menjadi cerita yang tidak bisa kembali diulang. Semuanya menjadi bagian dalam rencana Allah, apa pun yang melewati kita itu memang takdir-Nya," bisik Rania.


Jim-in terpaku, manik kecilnya membola lalu melepaskan rengkuhan. Masih dengan menangkup kedua bahu sang pujaan iris cokelat kelamnya memandangi wanita tepat di depannya.


"Ba-bagaimana kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Jim-in takut-takut.


Seulas senyum hadir menambah kecantikan, tangan kanannya kembali terangkat mengelus lembut rahang suaminya.


"Karena aku tahu apa yang Oppa pikirkan. Kita sudah hidup bertahun-tahun bersama, sudah jelas aku paham," ungkapnya halus.


Jim-in terpaku lagi, lidahnya kelu tidak bisa mengucapkan sepatah kata. Ia benar-benar tersanjung atas perkataan Rania.


Ia tidak pernah menyangka jika pernikahan mereka bisa sejauh ini. Ia berpikir keberadaan Yuuna waktu itu bisa menandaskan rumah tangga keduanya.


Namun, ia salah, Rania mempertahankan janji suci tersebut. Sampai pada akhirnya mereka dikarunia dua buah hati.


Akila dan Jauhar adalah bukti bagaimana cinta telah bermuara di hati keduanya. Waktu terus berputar dan mendatangkan kebaikan selepas perginya kepedihan.


"Aku bahagia bisa bersanding denganmu, Oppa. Bertemu denganmu adalah sebuah keharusan, sebab mendatangkan kebahagiaan. Terima kasih sudah meminta untuk dijodohkan denganku, saranghae," ungkap Rania lagi.


Jim-in semakin terisak dan menangis sejadi-jadinya. Lengkungan bulan sabit semakin mengembang sempurna di celah bibir ranum Rania.


Ia bahagia benar-benar bahagia bisa mendapatkan balasan cinta dari pria yang dicintainya.


Varsha yang telah pergi mendatangkan Harsha, dan Asha memberikan mimpi untuk terus digapai.