VARSHA

VARSHA
Bagian 50



...



...


...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Semalam menjadi waktu terburuk yang pernah dilaluinya. Dalam diam Jim-in memikirkan banyak hal. Bahkan ia pun tidak tidur bersama sang istri dan lebih memilih berada dalam ruang kerja. Lingkaran hitam disekitar mata terlihat kentara. Wajah tampannya sedikit pucat, menandakan dirinya tidak istirahat sama sekali.


Kilatan kemarahan masih setia mendiami matanya. Sesekali kedua tangannya mengepal kuat kala teringat perkataan Yuuna. Ia kembali berkecimpung dalam kegelisahan membuat dirinya semakin emosi.


Tidak lama berselang ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar. Terlihat nama Yuuna muncul di sana. Jim-in pun mengangkatnya kemudian. Terdengar isakan memilukan disebrang membuatnya menautkan kedua alis.


"Yuuna, ada apa?" tanyanya langsung.


"Bisa oppa datang ke rumah sakit? A...appa.... appa kritis aku takut." Suara lirih itu menghantamnya. Seketika Jim-in beranjak dari duduknya dan segera keluar ruangan.


Riana yang baru saja selesai menyiapkan sarapan terkejut melihat kepanikan diwajah sang suami. Ia pun berjalan mendekat dan melihat tatapan mata itu terlihat sayu.


"Oppa, kita sarapan. Aku sudah menyi_"


"Aku harus ke rumah sakit." Potongnya cepat lalu melewatinya begitu saja.


Rania tertegun. Untuk beberapa detik ia terdiam mencerna perkataannya. Hingga tidak lama berselang Ia pun bergegas mengikuti sosok pria itu lalu menahan pergelangan tangannya. Jim-in tersentak dan dengan cepat berbalik menatap sorot mata tegas sang istri. Pandangan mereka saling bertubrukan. Ada rasa penasaran yang tidak bisa Rania sembunyikan di sana.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanyanya langsung.


"Yuuna, ayahnya kritis. Aku harus ke sana sekarang." Setelah mengatakan itu Jim-in menghempaskan tangan mungil wanitanya.


Bak digantung dalam angan. Rania terpaku ditempatnya berdiri. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Apa yang baru saja ia dengar? Seperti angin berkata lirih jika sang awan gelap datang secepat kilat. Lidahnya kelu tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Semua yang ingin diungkapkan tercekat dalam tenggorokan. Ia hanya bisa diam seraya memandang punggung tegap suaminya yang semakin menjauh.


Tess!!


Setetes cairan bening jatuh meluncur membasahi lantai marmer tersebut.


"Sesakit inikah jika harus mencintainya?"


...🌦️🌦️🌦️...


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 35 menit bagi Jim-in sampai ke rumah sakit. Ruangan VVIP yang terletak di lantai paling atas terasa hening. Langkah kaki panjangnya menyusuri lorong menemukan satu pintu yang sudah dihapalnya.


Tidak lama berselang ia melihat wanita itu tengah duduk dikursi tunggu seraya menunduk dalam. Kekhawatiran nampak jelas diwajah tampannya. Entahlah Jim-in terlihat linglung sekarang. Dan saat ini entah di mana hatinya berada.


"Yuuna."


Mendengar suara berat seseorang, seketika itu juga Yuuna menegakan kepalanya. Ia menoleh ke samping kanan dan melihat sang tunangan berada di sana. Ia pun bangkit lalu berlari dengan sisa tenaga yang masih ada. Tanpa menyia-nyiakan waktu ia menerjang tubuh tegap itu.


Isakannya terdam di dada bidang sang pria. Jim-in terdiam tanpa berkutik dan tidak ada niatan untuk menyingkirkannya. Suara tangis yang mengalun membuatnya menegang. Pikirannya kosong seperti catatan putih tanpa coretan tinta.


"Aku takut oppa. Aku takut appa akan meninggalkanku sendirian." Bisik Yuuna lirih.


"Sssstttt, tidak usah berkata seperti itu. Aku yakin appa bisa melewati masa kritisnya." Jawab Jim-in kemudian melepaskan rengkuhannya. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Ada aku di sini." Perkataan lembut darinya membuat Yuuna lega. tangan tegap Jim-in terangkat menghapus jejak air mata di pipinya. Mendapatkan perlakuan hangat dari tunangannya memberikan rona merah pada wajah wanita itu.


Lagi dan lagi Yuuna pun menghamburkan dirinya memeluk sang tunangan. "Gomawo, sudah datang dan menemaniku. Miane, aku mengacaukan pagimu bersama Rania."


"Sudahlah." Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, tapi itu mengembangkan senyum bagi Yuuna. "Gotcha, aku tidak menyangka oppa bisa dengan mudah masuk perangkapku. Maafkan aku, appa mengambil kesempatan ini untuk bersamanya." Benaknya kemudian.


"Apa yang sedang oppa pikirkan?" tanyanya membuka suara.


Sekilas Jim-in menoleh padanya lalu kembali menatap depan. "Ani." Jawabnya singkat.


"Aku tahu apa yang sedang oppa pikirkan. Mengenai video kemarin, kan?"


"Hah~" helaan napas terdengar berat. "Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang."


"Apa, oppa ragu? Tidak mungkin bukan jika mereka hanya teman? Maksudku, teman mana yang mengantar istri orang lain periksa kandungan. Apa jangan-jangan itu anaknya? Hah~ jika aku jadi suami Rania, pasti curiga. Ak_"


Perkataan Yuuna menyadarkannya. Suaranya pun turut mengecil seiring lamunannya mengambil alih. Jim-in menghiraukan racauan wanita di sampingnya. Ia kembali memikrikan celotehan tunangannya itu. Apa mungkin? Pikirnya kemudian. Segala bentuk pemikiran buruk menghinggapi kepalanya begitu saja.


...🌦️🌦️🌦️...


Hampir 2 jam lamanya Jim-in berada di rumah sakit. Matahari pun sudah duduk nyaman di atas singgasananya. Siang datang dengan cepat, sarapan bersama sang istri terlewati begitu saja. Jim-in memutuskan untuk pulang. Dengan langkah gontai ia menyurusi lorong rumah sakit untuk kembali.


Setibanya di lantai bawah ia masih menundukan kepalanya tanpa memperhatikan sekitar. Seok Jin yang baru saja menyelesaikan shift kerjanya tidak sengaja melihat sosok itu. Ia pun hendak menyapanya, tapi diurungkan saat netranya menangkap sesuatu tidak biasa. Pria itu pun memikirkannya hingga keberadaan Jim-in menghilang dalam pandangan.


"Ahhh aku lupa jika harus memberikan foto itu padanya. Apa aku datang ke tempatnya saja? Baiklah." Ocehnya kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Beberapa saat kemudian mobil ferrari putih berhenti tepat di kediaman mansion Park. Dokter tampan itu bergegas keluar lalu menekan bel menunggu seseorang membuakan pintu. Sembari menunggu maniknya menatap sekitaran. Halaman luas itu membuatnya manggut-manggut melihat tanaman tumbuh subur di sana.


"Eung, tak heran. Rumah pengusaha." Bisiknya.


Brakk!! Tidak lama kemudian pintu besar pun terbuka menampilkan siluet seseorang yang dikenalnya.


Senyum pun mengembang melihat wanita berhijab itu. "Seok Jin-ssi? Sedang apa di sini?" tanya Rania kemudian.


"Ahhh aku hanya ingin mengantarkan ini. Kemarin kamu pasti lupa meninggalkannya. Dokter Aeri menitipkannya padaku. Katanya bayi kalian sehat." Jelasnya seraya menyodorkan hasil USG kemarin.


"Ya Allah aku lupa. Tidak ku sangka saat kita masuk ke ruangan antriannya banyak sekali. Aku sampai kemalaman. Hahahaha sekali lagi terima kasih sudah mengantarkannya ke sini." Balasnya menerima amplop putih tersebut.


"Sama-sama, maaf karena tidak jadi menemanimu. Tiba-tiba saja banyak pasien datang." Sesalnya.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti dokter tampan seperti Kim Seok Jin-ssi memang dibutuhkan banyak orang." Candanya membuat mereka pun tertawa.


Bersamaan dengan itu mobil mewah lainnya tiba dan berhenti tepat di hadapan keduanya. Sosok tegas Park Jim-in keluar seraya menatap mereka bergantian. Tatapan mengintimidasi begitu terasa saat netranya memandangi Rania. Kesalahan apa lagi yang diperbuat? Rania tidak habis pikir melihat sorot mata itu lagi.


"Oppa sudah kembali? Biar aku siapkan sarapan. Oppa pasti belum makan, kan?" begitu perhatiannya Rania mengkhawatirkan keadaan sang suami. Namun, yang ia dapatkan..........


"Tidak usah so peduli. Urus saja priamu yang lain." Kepalanya menoleh pada Seok Jin yang berdiri mematung. Mendengar itu dahinya pun mengerut dalam tidak mengerti.


Tanpa mendengar jawaban mereka, Jim-in melenggang masuk. Rania yang melihat itu pun mengikutinya setelah mengatakan terima kasih sekali lagi pada Seok Jin.


"Aku yakin ada sesuatu di antara mereka." Ujar dokter tersebut. Tidak mau ikut campur ia pun melenggang pergi dari sana.


"Oppa, tunggu!! Apa maksud oppa tadi?" tanya Rania berusaha menghentikan langkah lebarnya.


Dan hal itu berhasil. Jim-in berbalik menatap nyalang tepat ke dalam iris bulat sang istri. Perlahan ia mendekatinya membuat Rania siaga. Ia takut kejadian kemarin-kemarin terjadi lagi. Namun, ternyata ia salah. Jim-in menghentikan langkah tepat di depan wajahnya.


Rania mendongak membalas tatapan itu. Menunggu apa yang selanjutnya hendak dilakukan suaminya. Sampai,


"Apa bayi dalam perutmu anak KIM SEOK JIN?" pertanyaan penuh tekanan dan intimidasi meluncur tanpa hambatan. Rania membulatkan matanya. Dari mana pertanyaan itu berasal? Ia tidak menyangka dengan apa yang ditanyakan suaminya ini.


Kedua tangannya mengepal kuat menahan beribu kekecewaan dalam dada. Bukan candaan yang didengarnya melainkan tuntutan. Suara baritone tadi terdengar serius menghantam perasaan. Rania tidak kuasa membendung kepedihan dalam luka.


Kembali, rasa sakit yang perlahan menghilang itu datang menerjang. Ternyata Varsha masih setia menempati kedua matanya.


...🌦️KESALAHPAHAMAN🌦️...