VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 41



Bagaikan awan sendu menutupi indahnya langit di siang hari. Selepas membawa sang adik ke tempat tinggal sederhananya di negara orang, Zahra terus berada di balkon.


Ia tidak sanggup harus menghadapi Laluna setelah apa yang terjadi. Sebagai seorang kakak tertua ia tidak ingin melihat adiknya ikut terluka.


Biarkanlah keperihan tersebut ia pendam sendiri tidak usah dibagikannya kepada mereka. Zahra tidak bisa jika melihat ketiga adiknya merasakan hal sama.


Sudah cukup, bertahun-tahun mereka mengharapkan kedatangan ayah dan ibu yang tak kunjung datang, sekarang Zahra berharap ia dan ketiga adiknya bisa hidup bahagia bersama.


Namun, tanpa sadar luka lain masih menunggu mereka di sana, tumbuh begitu cepat tanpa persiapan. Hingga suatu saat pasti terlontar pada mereka juga.


"Teh, bisa jelaskan apa yang baru saja terjadi?" tanya Laluna menghampiri sang kakak.


Zahra hanya melirik singkat lalu menghela napas kasar memandang lurus menyaksikan bangunan-bangunan tersusun rapih di depannya.


"Teh... apa ini alasan Teteh menyuruhku untuk tidak datang? Kenapa Teh... kenapa menyembunyikannya dari kami? Aku-"


"Karena aku tidak ingin kalian terluka," potong Zahra cepat, dadanya naik turun menahan gejolak emosi.


Laluna terkejut, terbelalak lebar memandangi kakak pertamanya seperti sekarang. Ia pikir liburan kali ini di negara orang dapat mendatangkan kenangan berharga, tetapi nyatanya hanya mendapatkan luka.


Laluna sadar dan ikut menatap ke arah yang sama. Perasaannya begitu bergejolak, seraya meremas besi pembatas ia tertawa menahan perih.


"Kenapa nasib kita seperti ini sih, Teh? Apa salah kita? Kenapa harus mendapatkan keluarga hancur? Kenapa?" Laluna terus meracau bersamaan air mata menganak bagaikan sungai.


Ia menjadi kakak kedua bagi Zaitun dan Adam pun merasakan hal sama betapa berat menanggung beban yang harus mereka hadapi selama ini.


Zahra hanya membiarkannya sejenak. Ia tahu bagaimana hancurnya perasaan Laluna kala mendapati sang ibu tidak mengakui keberadaannya.


Secibis harapan yang mereka miliki harus pupus sebelum berkembang. Kakak beradik yang telah lama tidak mendapatkan kasih sayang dipaksa harus menerima kenyataan, jika orang tua menikah kembali.


"Jadi, mamah menikah dengan orang sini? Cih... bahkan dia tidak melihatku sedikitpun," keluh Laluna lagi.


Zahra mengangguk singkat, menarik napas panjang dan melepaskannya secara perlahan.


"Mungkin ini cara Allah mendewasakan kita, tenang saja... bukankah kita sudah terbiasa hidup mandiri? Kehilangan kasih sayang mereka... tidak berarti hidup kita berakhir, kan?"


Zahra tersenyum masam terus meratapi kehidupan yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun tanpa dampingan ayah dan ibu.


Seolah dua sosok itu hanya ada dalam bayangan saja tanpa bisa digapai.


Laluna memperhatikannya dalam diam, dirinya tahu begitu berat tanggungjawab yang harus dipikul Zahra seorang diri.


Ia pun memeluknya begitu saja membuat Zahra terkesiap.


"Aku minta maaf, sudah membuat Teteh kesusahan. Karena itu Teteh jangan menanggungnya sendirian. Libatkan aku Teh... aku ingin setidaknya bisa meringankan beban Teteh," lirihnya.


"Apa yang kamu katakan? Dasar gadis nakal, jangan berkata seperti itu. Em, Teteh akan mencobanya." Zahra memukul belakang kepala Laluna pelan lalu membalas pelukannya tak kalah erat.


Dalam diam, kakak beradik itu menangis melepaskan kerinduan sekaligus saling menguatkan.


Gerakan-gerakan impulsif yang mereka layangkan sebagai tanda jika keduanya tidak sendirian.


...***...


Seharian Jim-in membawa istri tercintanya berada di rumah peninggalan sang ibu mertua. Di sana mereka membangun kembali ingatan Rania yang terkubur.


Secara bertahap, Rania mulai mengingat satu persatu memori yang pernah dirinya lakukan bersama suami terkasih.


Ia sendiri tidak menyangka jika telah melewati masa-masa manis itu dengan Park Jim-in. Pria arogan sering melayangkan kata-kata serta perilaku tidak menyenangkan memperlakukannya sangat baik.


Jauh dari mimpinya saat ini, sang pasangan hidup layaknya orang berbeda. Bagaikan ada dua kepribadian dalam satu raga, begitulah Rania menyimpulkan.


"Di rumah ini lahirlah kedua anak kita, Akila dan Jauhar. Mereka anugerah tak ternilai yang kita dapatkan, buah dari perjuangan yang selama ini kita lakukan."


"Sayang, meskipun ingatanmu tidak kembali... mari kita buat kenangan berharga bersama-sama lagi? Aku ingin hanya ada kenangan manis yang kamu ingat."


"Aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang pernah diperbuat. Aku menyesal, Rania... aku sangat menyesal," ucap Jim-in.


Langit begitu cantik memperlihatkan keindahannya. Bintang bertaburan dan saling berkelap-kelip dengan cahaya bulan menerangi sekitar.


Semilir angin berhembus tenang menemani sepasang insan di sana. Di taman itu dihiasi berbagai macam tanaman bunga mengeluarkan aroma menenangkan.


Raksi yang melebur menjadi satu, menyuguhkan setiap bayangan tertinggal di masa lalu.


Sedari tadi Rania hanya memandangi kesungguhan suaminya. Ia lalu mengangkat pandangan mengitari sekitar tanaman yang tidak banyak berubah.


Di sana masih sama seperti pertama kali ia datang. Tempat itu juga menjadi saksi bagaimana pernyataan Park Jim-in yang begitu dalam terhadap wanita lain.


"Di taman ini... saya mendengar jika Tuan muda sangat mencintai Yunna. Apa sekarang-"


"Tentu saja tidak, Sayang. Sebelumnya bisakah kamu berbicara lebih santai denganku? Rasanya... kamu benar-benar jauh, Rania. Aku merindukan panggilan oppa darimu," sambar Jim-in.


Mendengar penuturan terakhirnya sekejap degup jantung Rania berdebar tak karuan.


Oppa, panggilan itu seperti jauh dalam jangkauan.


"Aku memang pernah mendambakan memanggilnya dengan sebutan itu, tapi... masa iya aku sudah memanggil Tuan muda ini... O-ppa?" bisiknya dalam benak.


"Yang... Sayang... Rania!" Panggil Jim-in sedikit kencang mendapati istrinya melamun.


Rania terkesiap dan memandanginya lagi.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jim-in khawatir, Rania mengangguk singkat.


"Kenapa kamu melamun?" tanyanya lagi.


"Ani... hanya saja-"


"Aku tahu... kamu pasti tidak percaya perkataan ku tadi, kan? Tetapi... memang seperti itu kenyataannya, Sayang."


"Hubungan kita sudah baik-baik saja selama beberapa tahun ini. Mungkin... ini adalah balasan bagiku, sebab pernah menyakitimu."


"Dengan kamu tidak mengingatku sekarang... itu sangat menyakitiku. Aku mengerti bagaimana perasaanmu waktu itu."


"Aku minta maaf," oceh Jim-in lagi mengutarakan penyesalan.


Ia merunduk perlahan sampai menjatuhkan dahi di kedua tangan Rania. Ia menangis sejadi-jadinya membuat tubuh kekar itu bergetar tak karuan.


Rania memandanginya sekilas lalu mendongak melihat langit gelap bertabur bintang.


Hening pun mengambil alih, pesona yang disuguhkan tepat di depan mata kepalanya menarik kedua sudut bibir.


Rania terus menikmati setiap detikan jam yang terlewati. Bersama isakan pelan sang suami, membuat relung hati semakin tak karuan.


"Aku masih ingat pada saat itu... saat melihatmu mengungkapkan perasaan pada Yunna... aku sempat berpikir, bagaimana rasanya dicintai sebegitu dalamnya oleh seseorang yang aku cintai?" Rania terkekeh pelan dan sudah beralih pada percakapan lebih santai.


"Tapi, aku sadar keinginan itu tidak mungkin terjadi, mengingat perlakuan pria yang kucintai... tidak mencerminkan perasaan yang sama."


"Aku hanya bisa menangis sendirian melihat betapa serasinya mereka. Aku juga sempat berpikir... lebih baik aku berpisah-"


Sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, Jim-in menyambar sepasang benda kenyal itu cepat. Rania terbelalak sempurna, jantungnya seolah berhenti berdetak.


Namun, sang suami terus mendorongnya kuat hingga lama kelamaan ia pun ikut terbawa suasana. Perlahan kedua maniknya menutup menikmati setiap pergerakan yang dilayangkan Park Jim-in.


Penyatuannya begitu melenakan, membuat Rania kehilangan akal sehat dengan mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami.


Bersamaan dengan angin berhembus, pasangan suami istri di sana saling mendekap menyalurkan kehangatan.


Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa menikmati segala momen berharga bersama orang terkasih.


Rania dan Jim-in, kedua insan saling mencintai terhalang oleh ingatan yang hilang.