VARSHA

VARSHA
Bagian 14




...🌦️...


...🌦️...


...🌦️...


Menyelam dalam lautan sudah biasa. Apa jadinya jika seseorang tengah menyelam dalam mata seorang wanita yang tidak dihargainya? Jim-in, pria arogan yang sering melemparkan kata-kata tajam itu terdiam tidak berkutik dalam rangkulan sang istri.


Entah kenapa ia enggan untuk mengalihkan pandangan. Sedetik saja bola matanya bergulir, ia takut wanita itu menghilang.


Itulah yang saat ini tengah ia rasakan. Kehangatan dan juga kelembutan Rania membuatnya tidak bisa berkutik. Setidaknya untuk saat ini.


"Bismillah, aku akan membantumu. Jangan takut rasa sakit itu pasti membuahkan hasil. Jangan dipaksa, tapi harus dilakukan dengan cara yang baik."


Entah keberanian dari mana Rania mendekap erat tubuh sang suami. Ia melingkarkan kedua tangan di antara bahu tegap itu.


Aroma maskulin menguar menusuk indera penciuman. Tubuh kecilnya begitu pas dalam kungkungan Park Jim-in.


Rania sedikit berjinjit menyesuaikan tingginya dengan sang suami. Kepala berhijab itu mendongak mencari kenyamanan dengan mendaratkan dagu lancipnya di bahu Jim-in.


"Saat aku bilang satu, Tuan langkahkan kaki kanan. Saat aku bilang dua, Tuan langkahkan kaki kiri. Arraso?" ujarnya kemudian. Entah bagaimana singa yang sering mengamuk itu menjadi penurut seperti kucing peliharaan.


Anggukan dari kepala bersurai kecokelatan itu membuat Rania tersenyum.


"Baiklah, bismillahirrahmanirrahim. Hana."


Jim-in mulai menggerakan kembali kaki kanan. "dul." Ia pun menggantinya dengan kaki kiri seiring instruksi yang Rania berikan.


Pasangan suami istri itu pun melakukan gerakannya bersama-sama.


Melihat sang pasien melakukan terapi dokter Falah aka Seok Jin mengundurkan diri membiarkan mereka bersama. Setidaknya Jim-in sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


"Semangat Rania, aku percaya kamu bisa menyembuhkannya," monolog sang dokter dalam diam.


Langit berwarna biru cerah, awan putih berarak mengikuti hembusan angin. Cahaya sang suraya menyinari kedua insan di ruangan itu.


Langkah demi langkah berhasil dilaluinya. Suara lembut dari seorang wanita yang tengah merengkuhnya mengalun membuat Jim-in terlena. Ia seperti berada dalam mimpi dan kedua kakinya terasa ringan.


Tidak pernah ia merasakan pengobatan seperti ini. Dulu, ketika ia melakukan terapi hanya berakhir teriakan putus asa dan meninggalkan ruang latihan dengan hampa.


Namun, sekarang berbeda. Wanita yang tidak pernah dianggapnya sebagai istri bahkan sering disakitinya malah memberikan semangat. Aroma vanilla yang tercium dari hijabnya seketika menenangkan. Jim-in merasakan seolah berjalan di atas awan.


Kedua tangan yang menggenggam besi pembatas itu tanpa sadar terangkat lalu membalas pelukan sang istri.


Merasakan itu tubuh kecil Rania sedikit terhuyung ke belakang. Namun, ia berhasil menahannya dan tersenyum merasakan tangan kekar Jim-in melindunginya.


Hitungan satu dua masih ia senandungkan bersamaan dengan kepala sang suami mendarat di bahu kanannya. Seketika pergerakan mereka pun terhenti. Rania bisa merasakan pelukan itu semakin mengerat.


"Gomawo." Satu kata mampu mengundang air mata.


Rania menangis dalam diam. Bisa Jim-in rasakan tubuh kecilnya bergetar. Namun, ia malah semakin mengeratkan pelukan.


"Hanya untuk kali ini saja biarkan aku mendekap mu, Rania," benaknya.


Keheningan menjadi saksi perasaan yang tersimpan rapih dalam hati kedua insan tersebut.


...🌦️🌦️🌦️...


Sejak saat itu Rania selalu mendampingi Jim-in terapi, hasilnya membuat pria Park tersebut merasakan perubahan luar biasa. Dokter Seok Jin pun senang pada akhirnya keadaan sang pasien berangsur-angsur membaik.


Setidaknya Rania ingin menjadi pendamping yang terbaik untuk suaminya.


Jalanan Kota Seoul siang ini terlihat ramai-lancar. Banyak orang yang menikmati cuaca indah itu dengan berpergian bersama orang-orang terkasih. Akhir pekan menjadi pilihan semua orang untuk menghabiskan waktu di luar. Berbeda dengan Rania dan sang suami menikmatinya di rumah sakit.


Namun, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Selagi ada suami di sisinya itu sudah lebih dari cukup. Perasaan yang berkali-kali ia coba tepis nyatanya malah bergelung nyaman dalam dada. Rania tidak menampik jika sekarang telah jatuh cinta pada suaminya.


Cinta. Kata itu hadir seiring kebersamaan mereka.


Senyum menghiasi wajah ayu Rania saat menangkap Jim-in terlelap di sebelahnya. Mobil yang ia kendarai membelah angin setelah pulang dari rumah sakit.


Beberapa saat kemudian kendaraan mewah itu memasuki pekarangan mansion, bersamaan dengan itu kelopak mata sang pria terbuka. Melihat adanya mobil lain yang terparkir memberikan kerutan di kening keduanya.


Rania pun keluar lalu membantu Jim-in masuk ke dalam. Pria yang masih berada di kursi roda itu terkejut saat mendapati ibu dan juga orang lain di dalam bangunan megah tersebut.


"Nyonya Park," sapa Rania seraya menganggukkan kepala singkat.


"Baguslah kalian sudah pulang ada yang ingin Eommanim umumkan," ujar Gyeong kemudian.


Melihat delikan singkat dari ibu mertuanya pada seseorang yang berdiri di sampingnya, perasaan Rania seketika menjadi buram. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang sebentar lagi terjadi. Rasa itu semakin menebal tat kala nyonya Park merangkul wanita itu.


"Eommanim menginginkan kalian bertunangan."


Bak disambar petir hati Rania merasakan sakit. Tidak ada darah, tapi luka tak nampak itu lebih sakit daripada yang terlihat. Kedua matanya terbelalak dengan mulut menganga sempurna. Ia tidak percaya mendengar itu semua dari mulut sang ibu mertua.


"Bagaimana menurutmu Jim?" ucap ibunya meminta persetujuan.


Di luar perkiraan, Jim-in mengangguk mengiyakan.


"Baiklah. Aku setuju."


Perkataan selanjutnya berhasil meloloskan cairan bening di balik kedua mata Rania.


"Tu-tunggu dulu. Bagaimana bisa kalian bertunangan? Aku ini istrimu," kata Rania menyadarkan mereka.


Seringaian pun tercetak di wajah tegas sang ibu lalu menghampirinya dan berbisik tepat di telinga Rania.


"Istri? Hanya status di atas kertas. Kamu tidak berguna selain sebagai pelayan putraku. Kamu lihat wanita itu? Dia yang lebih cocok menyandang gelar menjadi nyonya muda Park Jim-in. Karena keluarga kami sudah bekerja sama."


Seketika tubuh kecil Rania menegang. Ia tidak merespon kembali perkataan ibu mertuanya.


Pertunangan terjadi disebabkan adanya kerja sama antar kedua perusahaan. Di balik itu semua wanita bernama Yuuna adalah mantan kekasih dari suaminya. Benih-benih cinta yang dulu hilang kini mengendap lagi membentuk kuncup baru dan siap menebar aroma menyengat untuk mengundang air mata.


Rania tidak bisa membendung kekecewaan. Ia menangis lalu pergi dari sana begitu saja.


Balkon belakang kamar menjadi satu-satunya tempat untuk bisa mengekspresikan perasaan. Nama Varsha yang mengandung arti hujan sangat cocok sekali baginya. Hujan turun dengan lebat membasahi kedua pipi gembilnya.


Rania tidak menyangka jika pernikahannya bisa didatangi orang ketiga. Ia pikir setelah kebersamaannya dengan sang suami akhir-akhir ini bisa membuat hubungan mereka menjadi lebih baik. Namun, nyatanya tidak semudah itu.


Baru saja ia bisa mengecap manisnya bersama sang suami kini hujan harus datang mengguyur keindahan sesaatnya.


"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan sekarang? Rasanya sangat sakit. Ternyata cinta bisa mengundang air mata begitu banyak. Jika aku tahu cinta yang tersimpan ini menyakitkan lebih baik aku tidak mencintainya. Sakit sekali," bisik Rania sarat akan kepedihan.


Ia mencengkram erat hijab sebelah kiri dan memukul-mukulnya pelan berusaha mengenyahkan kesakitan tersebut.


Namun, sesak menyelimutinya terlalu dalam. Ia kembali menangis untuk pernikahan yang berantakan.


...🌦️HARAPAN SEMU🌦️...