VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 22



Awan kelabu masih menghiasi cakrawala begitu kuat. Tidak ada kesempatan bagi sang raja siang menampakan diri dan terus bersembunyi di balik gumpalan hitam.


Sesekali angin dingin datang menyapa keberadaan Rania yang tengah berdiri di balkon kamar.


Sedari tadi ia berada di sana memandang siluet pemandangan yang sudah lama menghilang dalam ingatan.


Masa lalu masih terekam jelas tidak bisa dihapuskan begitu saja. Bagaikan terjadi kemarin, adegan demi adegan perlakukan sang suami terhadapnya teringat jelas.


Ia meremas kuat besi pembatas berusaha mengenyahkan kegetiran tersebut dan memikirkan masa yang saat ini tengah dijalani.


Namun, semakin ia berusaha mengingat maka sakit di kepala begitu kuat terasa.


Ia mencengkram hijab bagian belakang kuat seraya memekik kesakitan.


"Sayang?" Jim-in buru-buru datang menggenggam pergelangan tangan yang masih meremas hijabnya erat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya khawatir.


"Kepalaku sakit sekali," kata Rania lemas.


"Kalau begitu kita masuk ke dalam, sebaiknya kamu istirahat saja." Jim-in langsung membawa istrinya kembali ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.


Ia menyelimutinya sebatas dada lalu duduk tepat di samping Rania. Tangan kanannya tidak berhenti mengusap kepala itu penuh kasih sayang.


"Jangan memaksakan diri, Sayang. Apa kamu berusaha mengingat sesuatu?" tanya Jim-in penasaran.


Rania hanya mengangguk lemah, kedua maniknya menutup merasa nyaman dengan sentuhan yang diberikan sang suami.


Bibir menawan Jim-in melengkung haru dan membubuhkan ciuman hangat di dahi.


Seketika itu juga Rania terkesiap, langsung melebarkan pandangan. Tatapan mereka bertemu satu sama lain menyelami keindahan bola mata masing-masing.


Kelereng cokelat kelam milik sang pengusaha bergulir ke bawah pada sepasang bibir ranum sang istri.


Ia kembali merunduk menemui benda kenyal itu dan entah sadar atau tidak kecupan ringan pun diberikan.


Rania semakin melebarkan pandangan, jantungnya berdegup tak karuan tidak menyangka mendapatkan kecupan manis di bibir. Rasanya hangat nan lembut membuat diri tidak berdaya.


Jim-in menarik diri lagi melihat rekasi Rania yang kebingungan sekaligus terkejut. Ia kembali tersenyum mendapati diamnya sang istri.


Aksi pria menawan itu pun tidak hanya sampai di sana saja, ia kembali memberikan ciuman di bibir yang kali ini cukup lama berdiam di sana.


Merasa tidak ada penolakan, Jim-in menekan kuat dan dengan paksa membukanya membuat ia semakin leluasa menjamahnya.


Rania yang sedari tadi hanya menerima terus menerus terkejut, tetapi lama kelamaan ia ikut ke dalam permainan.


Entah sadar atau tidak ia mengalungkan kedua tangan di leher jenjang sang suami. Gerakan-gerakan impulsif terus menggelora memberikan rasa panas yang kian menguat. Sampai Jim-in pun berada tepat di atas Rania dan mengukung sang istri.


Beberapa saat berlalu, keduanya saling melepaskan diri masing-masing masih dalam posisi yang sama. Napas mereka memburu seraya memandang wajah menawan satu sama lain.


Jari jemari panjang nan halus sang tuan muda membelai pelipis pujaan hatinya. Keinginan yang kian menggelora memaksa diri untuk menyalurkan apa yang harus dilakukan.


"Apa kamu mau melakukannya?"


Suara berat nan dalam Jim-in membuat Rania terpaku. Kembali, entah sadar atau tidak wanita itu hanya mengangguk pasrah.


Mendapatkan lampu hijau Jim-in kegirangan bukan main. Layaknya pengantin baru ia memperlakukan istrinya sangat lembut.


Ia pun terkejut saat mendapati luka bekas kecelakaan itu di tubuh istrinya. Ia menangis tersedu-sedu membuat Rania berinisiatif lebih dulu.


Jam terus bergulir, di tengah permainan perasaan keduanya kembali menyatu. Kini cinta mereka terhalang oleh ingatan Rania yang kian memudar.


...***...


Setelah banyak waktu terlewati, kegiatan mendebarkan tadi pun selesai. Rania dan Jim-in jatuh terlelap menyelami mimpi indah bersama.


Langit sudah berubah warna kembali, senja hadir memberikan pesonanya pada sang penikmat.


Perlahan manik yang semula bersembunyi di balik kelopaknya kini menampakan diri lagi.


Rania sadar dari tidur memandang lurus ke arah jendela besar di depan memperlihatkan langit jingga yang begitu cantik.


Wajahnya berseri-seri menyaksikan lukisan Allah yang kembali datang menentramkan perasaan.


Sedetik kemudian ia sadar jika di belakangnya ada seseorang yang tengah memeluknya erat. Rania menyingkap selimut yang menutupi diri lalu menunduk ke bawah menyaksikan lengan kekar melilit di perut ratanya.


"Ah, ternyata bukan mimpi," bisiknya dalam benak dan kembali menikmati senja.


Tidak lama setelah itu ada pergerakan dari sang suami. Pelukannya semakin mengerat dengan napas hangat menyapu kuat.


"Indah sekali bukan?"


Suara baritone menyapa pendengaran, Rania masih diam enggan membalikan badan. Jim-in mengulas senyum lembut lalu memberikan kecupan dalam di tengkuknya.


Seketika Rania merinding dan mengingat kejadian tadi. Wajahnya merah padam, tidak percaya pada diri sendiri yang terlena akan permainan dilakukan sang suami.


"Aku mau mandi," ucapnya beranjak dari berbaring dan langsung menyambar jubah mandi di atas sofa.


Setelah memakainya, Rania turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Namun, sebelum dirinya masuk, suara Jim-in menghentikannya cepat.


"Terima kasih, Sayang. Tadi adalah waktu yang sangat aku rindukan," ucapnya.


"Em, tidak masalah. Sudah menjadi tugasku untuk melayani mu, Tuan muda," balas Rania masih ada kesan dingin di balik kata-katanya.


Ia pun melengos pergi tidak memberikan kesempatan pada Jim-in mengatakan sepatah kata lagi.


Pria itu termangu di atas tempat tidur memandangi bayangan Rania menghilang di balik pintu.


Ia tidak percaya sang istri kembali bersikap seperti itu.


"Apa aku sudah keterlaluan?" gumamnya.


Di dalam kamar mandi, Rania tengah mendinginkan kepala di atas guyuran shower. Pandangannya jatuh ke bawah menyaksikan marmer yang begitu menarik perhatian.


Di tubuhnya terdapat bekas jejak-jejak kegiatan tadi yang masih merah keunguan. Ia tidak pernah menduga bisa berhubungan suami istri bersama Jim-in.


Ingatan akan masa-masa indah bersama pun ikut menghilang. Kini Rania tidak menduga mendapatkan hal tersebut yang dulu dilakukannya begitu sering.


Perasaan kurang nyaman memberikan kekakuan. Ia berusaha keras untuk menghilangkan segala kemelut dalam diri selepas melakukan tugas sebagai istri lagi.


"Apa aku bisa bertahan? Sikapnya yang manis itu... entah kenapa membuatku merasa, tidak terbiasa. Apa kemarin-kemarin juga tuan muda bersikap seperti tadi? Rasanya aku kembali seolah hidup bersama orang lain, tetapi nyatanya-"


Rania menghentikan ucapan seraya terus merasakan kucuran air yang menghantam kepala.


"Nyatanya orang bermasalah itu bukanlah tuan muda, melainkan... aku," lanjutnya mengepal kedua tangan kuat.


Ia merasakan perih dalam dada memikirkan tiga orang yang saat ini hidup bersamanya. Ada ketakutan dalam diri yang memberikan pikiran dangkal.


"Aku... sudah membuat mereka terluka. Apa aku bisa bertahan dalam kehidupan ini? Bagaimana jika ingatanku tentang mereka tidak pernah kembali? Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa menyakiti mereka saja," racaunya lagi dan lagi.