VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 18



Semesta kadang kala memberikan hal tak terduga. Kedatangan sesuatu yang di luar dugaan pun membuat diri terkesima.


Begitulah jika Allah sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi dan terlaksana, termasuk dalam hal perasaan.


Rasa cinta yang dimiliki setiap insan memang hal lumrah. Allah memberikan perasaan itu kadang kala sebagai ujian.


Apa hamba-Nya bisa kuat mengontrol perasaan itu atau malah sebaliknya.


Cinta, kadang kala begitu rumit hadir di setiap hati pada waktu tidak tepat.


Keberadaannya bisa memberikan kebahagiaan maupun luka.


Sama halnya seperti yang saat ini sedang Rania rasakan.


Tidak bisa dipungkiri jika perasaan tulus pada sang suami masih tertanam dalam diri.


Meskipun ingatannya menghilang, tetapi rasa cinta dan kasih sayang untuk suaminya tidak pernah pudar.


Itu sebabnya ia menyimpan kebahagiaan dalam diam pada saat menyaksikan satu persatu foto yang berhasil mengabadikan momen berharga mereka.


"Jadi, saya benar-benar sudah melahirkan anak dari Tuan muda?" tanya Rania masih membuka dan memperhatikan album foto dalam pangkuan.


Jim-in yang berada di sampingnya pun mengangguk cepat.


"Itu benar, Sayang. Kamu sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Kamu adalah istriku sesungguhnya. Aku sangat mencintaimu, Sayang," ungkap Jim-in kembali.


Kata sayang yang terus berdengung dari celah bibirnya membuat Rania tidak terbiasa.


Masih ada sedikit keraguan dalam dada mengenai keadaan mereka saat ini.


"Benarkah-"


"Aku benar-benar mencintaimu," potong Jim-in cepat.


Ia lalu menangkup kedua lengan sang istri dan membalikannya sehingga mereka saling berhadapan.


"Aku tahu saat ini kamu masih ragu bahkan mungkin tidak percaya pada perasaanku, tetapi yang harus kamu ketahui jika dari sembilan tahun lalu... aku sudah jatuh cinta padamu," aku Jim-in jujur yang lagi-lagi membuat air mata Rania mengalir tak tertahankan.


Kedua bibir menawan sang pengusaha melengkung sempurna seraya mengusap cairan bening di pipinya.


"Sampai saat ini perasaanku padamu tidak pernah berubah, saranghae," ungkapnya lagi.


Rania semakin terisak haru tanpa bisa mengucapkan sepatah kata.


Jim-in menariknya ke dalam pelukan dan berkali-kali memberikan kecupan hangat dipuncak kepalanya.


Dalam diam Rania terpaku merasakan betapa besar perasaan sang suami terhadapnya sekaligus terkesima pada degup jantung sang suami.


"Aku memang tidak ingat jika pria arogan ini sekarang mencintaiku, tetapi... entah kenapa aku bisa merasakannya." Rania membatin.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, bersamaan dengan itu bel pintu rumah terdengar nyaring.


Jim-in yang masih bersama Rania pun izin kepada sang istri untuk menemui tamunya.


Namun, sebelum kakinya melangkah Rania lebih dulu menarik kemejanya pelan.


Sang empunya pun menoleh ke belakang sembari menunduk memandangi sepasang iris bening di bawahnya.


"Ada apa, hm? Aku mau melihat dulu siapa itu, mungkin mereka-"


"Izinkan saya ikut," potong Rania cepat.


Jim-in mengulas senyum dan mengangguk mengiyakan. Lalu, setelahnya menggenggam tangan Rania hangat dan menariknya pelan keluar kamar.


Tidak lama kemudian keduanya sudah tiba di lantai bawah. Beberapa pelayan yang sedari tadi bekerja menyiapkan ini itu pun menyapa mereka.


"Terima kasih atas kerja kerasnya, sekarang kalian bisa ke belakang biar aku yang membuka pintu," jelas Jim-in membuat para pelayan pun mengangguk dan berpamitan ke belakang.


Melihat adegan singkat tadi membuat Rania terpaku. Sejauh yang dirinya ingat Jim-in tidak pernah bersikap ramah dan hangat kepada para pekerjanya.


Sekarang ia yakin jika sang tuan muda sudah benar-benar berubah.


Suara bel pintu kembali menyadarkan, Jim-in bergegas menuju pintu masuk seraya menggandeng Rania.


Sedetik kemudian pintu pun terbuka lebar memperlihatkan senyum menawan sang kakak.


"Wa'alaikumsalam," balas keduanya bersamaan.


"Ayo masuk, terima kasih sudah menemani Akila dan Jauhar," kata Jim-in mengambil alih Akila dari gendongan Seok Jin.


Rania terpaku memandangi gadis kecil itu terkulai lemas memeluk ayahnya.


Tatapannya pun beralih pada Jauhar yang tengah digendong oleh Zahra.


Wanita itu berjalan mendekat sambil melebarkan senyum cerah.


"Putra dan putrimu sangat manis, Rania. Bahkan si kecil ini tidak merengek sedikitpun," kata Zahra antusias.


Jauhar yang masih terjaga memandangi sang ibu. Manik bulan hitamnya terus mengamati Rania yang juga tengah melihat ke arahnya.


Seakan batin keduanya berbicara, Jauhar merentangkan kedua tangan ke arah Rania minta digendong.


Secara naluri Rania pun langsung menggendongnya membuat Jauhar menangis kencang.


"Eomma~" teriaknya bergema di ruangan.


Rania memeluknya erat seraya menimang-nimang pelan.


Melihat itu baik Jim-in, Seok Jin, maupun Zahra tersenyum senang.


"Bagaimana Akila tadi di sekolah?" tanya Jim-in seraya kembali mempersilakan mereka masuk.


"Dia sangat baik dan pintar. Kami senang bisa bermain seharian bersamanya," kata Seok Jin menjelaskan.


"Syukurlah kalau dia tidak membuat kalian kesusahan," ucap Jim-in lagi.


"Sama sekali tidak, Tuan. Akila sangat pintar, baik dan penuh perhatian," lanjut Zahra kemudian.


"Benarkah? Terima kasih, kamu jadi ikut menjaga Akila," balas Jim-in lagi.


"Sama-sama, Tuan tidak usah sungkan." Zahra tersenyum ramah.


"Kalau begitu kamu juga tidak usah sungkan, jangan terlalu formal kitakan teman," kata Jim-in membuat Zahra hanya mengangguk mengerti.


"Kalau begitu aku menidurkan Akila dulu," lanjut sang tuan muda melangkahkan kaki ke lantai dua.


Sedari tadi Rania hanya melihat keakraban mereka. Ia ikut senang melihat perubahan signifikan sang suami.


Ia kembali tidak menyangka jika Jim-in bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih hangat.


Zahra yang menyadari Rania berada di belakang pun menoleh mendapati sahabatnya mengembangkan senyum, sedangkan Seok Jin terus berjalan menuju ruang makan memberikan kesempatan kepada kedua wanita itu untuk bersama.


"Sepertinya suamimu sangat bahagia," bisik Zahra sesaat mendekat.


Rania mengangguk-anggukan kepala masih memandang Zahra penuh makna.


Menyadari hal tersebut wanita berhijab mocca itu pun menautkan kedua alis bingung.


"Mwo? Wae? Kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Zahra mengutarakan rasa penasaran.


Rania terkekeh dan menggulirkan bola mata ke depan di mana dokter tampan itu sudah duduk berhadapan dengan meja makan.


"Apa kalian menghabiskan waktu bersama?" bisik Rania kemudian.


"Maksudmu?" tanya Zahra lagi masih tidak mengerti.


"Kamu dan Seok Jin seonsengnim bermain bersama seharian, apa kalian menghabiskan waktu sebagai orang tua? Pasti menyenangkan bukan?" goda Rania senang, terlebih melihat rona merah menjalar di pipi putih Zahra.


Ingatannya pun berputar pada saat di tanam bermain tadi. Kata-kata tulus yang masih berdengung di telinganya membuat Zahra semakin tersipu.


"A-apa yang kamu katakan?" ujarnya malu-malu langsung melarikan diri dari hadapan sahabatnya.


Rania yang masih memangku Jauhar pun tertawa riang. Ia senang bisa menggoda Zahra yang begitu menggemaskan.


Dari lantai dua, Jim-in yang sedari tadi menyaksikan kebersamaan mereka pun ikut mengembangkan senyum.


"Alhamdulillah ya Allah, setidaknya istri hamba masih bisa tertawa riang," ucapnya penuh syukur.