VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 84



Hari demi hari berlalu, waktu terus berputar memenuhi tugas sebagai pengubah takdir.


Masa akan datang memberikan kesenangan, kebahagiaan, maupun kesedihan, dan luka.


Semua menjadi bagian terpenting dalam cerita tak bertepi. Ujung tombak yang terlihat runcing dan tajam mampu meluluh lantakkan mangsa.


Semua mempunyai waktu dan takdirnya sendiri-sendiri.


Beberapa bulan kemudian, Rania dan Zahra sudah melakukan magangnya di rumah sakit.


Mereka bekerja dengan sangat baik hingga mendapatkan pujian dari perawat senior serta beberapa dokter di sana.


Rania dan Zahra senang kerja kerasnya bisa terbayarkan.


Sekarang mereka pun sibuk mempersiapkan sidang skripsi dan setelahnya dengan wisuda.


Kesibukan kedua istri yang sebentar lagi bisa menjadi perawat sebenarnya pun semakin menggunung.


Jadwal demi jadwal yang mereka miliki banyak menghabiskan waktu di kampus.


Namun, tugas sebagai istri dan ibu tidak dilupakan oleh mereka.


Keduanya melakukan peran ganda itu dengan sebaik-baiknya.


Baik Park Jim-in maupun Kim Seok Jin senang bisa mendapatkan seorang pendamping terbaik seperti mereka.


Tugas utama untuk keluarga tidak luput dari tanggungjawab.


Pelangi muncul selepas badai pergi menjadi sebuah kemenangan berarti.


Bermandikan cahaya mentari kedua pria berstatus sebagai kepala keluarga serta suami duduk berdampingan di taman kampus.


Satu persatu mahasiswa maupun mahasiswi hilir mudik silih berganti.


Terkadang ada pula para mahasiswi yang menatap keduanya penuh minat.


"Apa Hyung bahagia akhirnya mendapatkan pendamping yang kamu inginkan? Bagaimana kehidupan pernikahan kalian? Lancar?" tanya Jim-in terus merundung sang kakak dengan pertanyaan.


Seok Jin yang sedang memandangi alam sekitar mengembangkan senyum.


"Apa wajahku terlihat tidak bahagia?" tanyanya balik.


Jim-in menoleh memperhatikan wajah tampan yang begitu damai dalam diamnya.


Kepala bersurai lembut sang pengusaha pun mengangguk singkat.


"Em, memang terlihat sangat bahagia. Aku harap Hyung bisa membahagiakan Zahra. Wanita itu... banyak sekali merasakan penderitaan," katanya lagi.


Kini giliran Seok Jin yang mengangguk perlahan. Ia tahu apa yang harus dilakukan.


"InsyaAllah, aku sedang berusaha sedang membahagiakannya. Seorang wanita se-mandiri apa pun tetap... membutuhkan pria untuk melindunginya, serta butuh bahu untuk bersandar. Aku ingin... Zahra melihatku seperti itu," ujarnya mencengangkan Park Jim-in.


Pria beranak dua itu terkesima dengan segala perkataan yang keluar dari dokter hebat tersebut.


Ia bertemu dengan kakaknya tepat setelah kecelakaan mengerikan terjadi.


Ia langsung mendapatkan penanganan dari Kim Seok Jin. Meskipun masih dokter baru, tetapi pengobatannya tidak kalah dari dokter senior.


Di samping melakukan pengobatan secara fisik, Seok Jin juga sering memberikan nasehat serta motivasi untuk menenangkan batinnya.


Kala mendapat nasib buruk yang membuat kedua kakinya lumpuh sementara, semangat Jim-in untuk kembali ke arena memanah sudah pupus.


Ia sangat terpuruk sekaligus tidak percaya diri guna memperoleh masa depan.


Dengan sabar, Seok Jin selalu memberikan kata-kata mutiara untuk tetap menyemangatinya. Karena bagaimanapun juga hidup harus tetap di jalani seburuk ataupun sesuram apa pun itu.


"Hyung tahu... Hyung pernah mengatakan ini padaku... jalani saja hidup ini sebagaimana ikan kecil berenang di lautan. Meskipun dia hidup di tempat yang begitu luas, tetapi ia bisa mendapatkan rezekinya sendiri. Kamu tahu rezeki itu datang dari siapa?" Jim-in kembali menoleh pada kakaknya membuat mereka saling pandang lagi.


"Allah. Dia luar biasa dalam memberikan apa pun yang terbaik bagi setiap hamba."


"Kata-kata Hyung waktu itu memberikan pengaruh besar yang membuatku bertahan. Sampai pada akhirnya aku bertemu Rania dan menikah dengannya hingga sekarang," tutur Jim-in panjang menjelaskan seperti apa perasaan yang selama ini ia dapatkan dari sosok dokter di sebelahnya.


Seok Jin diam mendengarkan dengan seksama ungkapan terdalam Jim-in.


Ia bersyukur bisa mendengar ungkapan isi hati Jim-in yang sudah bertahun-tahun berlalu.


"Kamu tahu Jim, terkadang rencana Allah jauh dari apa yang kita harapkan bukan? Namun, apa pun yang diberikan Allah itu sangatlah indah dan membahagiakan. Dia... Allah selalu punya cara terbaik memberikan kebahagiaan di setiap musibah yang terjadi."


"Kebaikan-Nya selalu saja mengejutkan, dan aku... sangat bahagia dengan segala rencana yang Allah berikan," lanjut Seok Jin diangguki Jim-in pelan.


Keduanya mendongak ke atas langit melihat cakrawala membentang memperlihatkan keindahan.


Awan putih berhias dengan birunya langit sebagai lukisan Allah yang sangat indah di siang hari ini.


Begitu banyak nikmat tak terbendung dari alam yang telah Allah suguhkan.


Segala yang tertangkap pandangan itulah nikmat yang Allah beri.


Kedua pria berbeda profesi tersebut sama-sama mengucap rasa syukur dalam diam.


"Maka nikmat mana lagi yang kamu dusta kan? MasyaAllah, aku sangat bahagia mendapatkan kisah ini. Allah penulis skenario cerita terhebat bagi setiap hamba-Nya," kata Jim-in lagi


Seok Jin hanya bergumam "eum" sebagai jawaban. Mereka terus menikmati semilir angin yang menyapa wajah menawan tersebut sembari menunggu para istri.


...***...


Setelah menyelesaikan keperluan dengan wali dosen, Rania dan Zahra berjalan beriringan di lorong lantai tiga gedung perkuliahan.


Mereka berpapasan dengan beberapa teman sekelas dan saling menyapa satu sama lain.


Kehidupan yang berbeda, kisah yang tak lagi sama, didapatkan Zahra dari pengalamannya di negara orang.


Ia senang di hari bahagianya itu bisa bertemu kembali dengan keluarganya, terutama kedua adik yang sudah lama tidak bertemu.


Hikmah yang didapatkan dari pernikahan sangatlah luar biasa. Ayah dan ibu juga memperlakukan Laluna, Zaitun, serta Adam dengan baik.


Terutama Zaitun dan Adam yang tidak tahu jika kedua orang tuanya menikah lagi, Zulfa serta Aditya memenuhi janjinya kepada Zahra untuk memperlakukan mereka dengan baik.


Semua itu terbukti di hari pernikahannya. Namun, fakta yang ada tidak bisa terus disembunyikan. Zulfa dan Aditya menjelaskan kepada dua anaknya yang lain jika mereka sudah menikah kembali.


Awalnya Zaitun dan Adam sangat terkejut serta tidak menyangka mendapatkan kenyataan mendebarkan itu.


Namun, setelah dijelaskan sedemikian rupa agar tidak menyakiti hatinya, kedua anak itu pun bisa menerima.


Hingga akhirnya Zaitun dan Adam tinggal bersama sang ibu. Terlebih Lee Dong Hyuk sangat menyayangi anak tiri dari pernikahan pertama istrinya.


Kehidupan yang sudah baik-baik saja itu pun membuat Zahra sangat lega.


Sedari tadi lengkungan bulan sabit terus terpendar di wajah ayunya.


Rania yang berjalan di sampingnya pun menautkan alis, bingung.


"Apa ada yang kamu pikirkan?"


Pertanyaan Rania barusan menghentikan langkah Zahra. Ia melirik sahabatnya sekilas lalu bertumpu ke tembok pembatas di sana.


Ia memandangi indahnya area gedung perkuliahan lalu beralih pada langit cerah siang ini.


"Aku bersyukur... atas apa yang terjadi pada kehidupanku. Allah luar biasa dalam memberikan kebaikan selepas perginya kepelikkan," ungkap Zahra dengan binar di kedua mata.


Rania yang sedari tadi memperhatikannya pun ikut melengkungkan bulan sabit.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Allah memang selalu memberikan kebaikan, kebahagiaan, selepas perginya kesedihan. Aku... juga merasakannya," balas Rania.


"Kamu benar, Rania. Bertemu denganmu juga adalah sebuah anugerah yang tak ternilai," lanjut Zahra membalas tatapan sang sahabat.


Rania terpaku, tersenyum haru menyaksikan ketulusan terpancar dari manik karamel di hadapannya.


"Terima kasih," kata Zahra lagi.


Rania tidak kuasa membendung keharuan dan langsung melemparkan diri memeluknya erat.


Ia pun sangat bersyukur bisa bertemu dengan seorang teman luar biasa seperti Zahra. Keberadaan wanita itu bagaikan pelengkap pada kehidupannya.