VARSHA

VARSHA
BAGIAN 2 BAGIAN 46



"Apa Hyung menyukai Zahra?"


Pertanyaan itu masih mengambang di udara, layaknya awan putih berarak di atas langit tertiup angin pelan.


Sepi, senyap, menyambut kedua sosok yang terpaut beberapa tahun di sana. Keduanya diam membiarkan keheningan mengambil alih.


Park Jim-in yang menyadari perasaan terdalam Seok Jin pun masih melayangkan kurva sempurna di wajah tampannya.


Ia lalu menghadap ke depan, menengadah menyaksikan hujan sebentar lagi turun.


"Jika memang sulit lebih baik-"


"Apa terlihat sejelas itu?"


"MWO?"


Jim-in terpekik langsung menghadap kakaknya lagi.


Seok Jin yang mendapati reaksi tuan mudanya seperti itu pun memberikan tatapan penuh tanya.


"M-mwo?" Ulangnya memberikan sorot mata menuntut penjelasan.


"Aku hanya asal bicara saja, Hyung. Ja-jadi kamu benar suka sama Zahra?" tanyanya gugup.


"MasyaAllah, ini berita sangat mengejutkan. Aku pasti sangat mendukung mu, Hyung," kata Jim-in menggebu-gebu.


"Hah? Jadi, pertanyaan mu tadi hanya sebatas spekulasi? Ya Allah Jim." Seok Jin menepuk dahinya pelan.


Pria itu nyengir lebar tanpa dosa. Ia senang setidaknya bisa menghibur sang kakak kala terlihat ikut terpuruk atas apa yang menimpa Zahra.


Karena sebelumnya, tadi di saat Zahra menceritakan kejadian sebenarnya, Jim-in memperhatikan Seok Jin.


Ia merasa ada sesuatu hal tidak biasa terlihat jelas dalam sorot mata sang kakak.


Seperti ada percikan penuh damba dan melindungi, tergambar begitu apik.


Hal itulah yang membuat Jim-in mencetuskan ide mengatakan jika Seok Jin mempunyai perasaan terhadap Zahra, dan benar saja begitu adanya.


"Jika memang benar seperti itu aku harap kalian bisa segera bersama. Jangan menundanya Hyung, sebab itu bisa saja menjerumuskan," ucap Jim-in menasehati.


Namun, bukan jawaban yang didapatinya melainkan helaan napas yang terdengar begitu berat.


Jim-in menyadari ada sesuatu yang tengah dihinggapi sang dokter.


Sampai kepala bersurai lembutnya kembali menoleh.


"Apalagi kali ini?" tanya Jim-in lagi, penasaran.


"Apa sekarang memang lagi zamannya orang tua menjodohkan anak-anak mereka?" tanya balik Seok Jin mendongak kembali ke atas.


"Jangan bilang?" Jim-in menebak dari gelagat Seok Jin yang telah menjelaskan.


Dokter itu pun mengangguk sekilas.


"Sebenarnya, aku berada di restoran itu untuk menghadiri perjodohan yang telah disiapkan eomma dan appa. Mereka memperkenalkanku pada anak dari rekannya, seorang wanita yang berprofesi sebagai desainer perhiasan."


"Dia memang cantik, rupawan, dan begitu memesona, tetapi... aku sama sekali tidak tertarik. Karena-"


"Karena hati mu sudah terpaut pada Zahra kan, Hyung?"


Tanpa Jim-in duga, Seok Jin mengangguk pelan.


"Entah kenapa bayangan Zahra datang meluluh lantahkan semuanya. Aku sama sekali tidak perduli tentang perjodohan itu."


"Semuanya diatur oleh eomma dan appa. Ini pertama kali setelah sekian lama aku menginginkan seseorang," ungkap Seok Jin berterus terang, tanpa kebohongan sedikit pun.


Jim-in yang sedari tadi memperhatikannya kembali menarik kedua sudut bibir.


Ia senang sekaligus lega bisa mendengar perasaan terdalam dokter pribadinya.


Ia juga berharap Seok Jin bisa mendapatkan pendamping baik hati serta penuh kasih sayang padanya.


Karena Jim-in tahu bagaimana luka yang didapat Seok Jin akibat pengkhianatan seorang wanita.


Meskipun ia menyadari untuk mencapai semua itu tidak ada yang serba instan.


Semua butuh proses, waktu, serta perjuangan yang tidak mudah.


Sama halnya ketika ia mendapatkan hati Rania lagi.


Saat ini ia juga sedang berjuang untuk mengembalikan ingatan sang istri.


"Aku tahu apa yang Hyung pikiran, tetapi yakinlah selagi kita mau berusaha diiringi doa, apa pun pasti akan Allah berikan. Sepanjang itu tidak menyalahi aturan Allah."


"Serahkan semuanya pada yang Di Atas. Karena Allah pasti menjawab semua doa-doa hamba-Nya," tutur Jim-in kembali memberikan petuah.


Seok Jin terkesima, dibuat takjub dengan perubahan signifikan sang adik.


"Aku senang, bersama Rania kamu bisa berubah menjadi lebih dewasa."


"Aamiin, terima kasih banyak untuk nasehat terbaikmu, Jim," kata Seok Jin memuji.


Jim-in terkekeh pelan, menggaruk pangkal lehernya canggung. Setelah itu mereka pun kembali membicarakan seputar kehidupan pribadi.


Tidak berbeda jauh dengan pembicaraan kedua pria di balkon, saat ini Rania dan Zahra tengah berada di ruang baca, sedangkan Laluna sedang berada di kamar tamu mengistirahatkan fisik, hati, serta pikiran yang kian merundung.


Kejadian tak terduga seakan memberikan ribuan anak panah melesat tepat sasaran.


Rasa sakit yang diterima seorang anak semakin tajam mengenai ulu hati.


Pengkhianatan yang diberikan orang terdekat, terlebih orang tua mengandung empedu paling pahit di dunia.


Hati anak mana yang tidak terluka saat mendapati orang tuanya telah menikah lagi dan tidak mengakuinya sebagai anak.


Zahra dan Laluna salah satu anak korban broken home yang harus melawan ganasnya dunia.


Di ruang baca itu Rania dan Zahra tengah menepi dari segala keriuhan tercipta di ruang utama.


Sedari tadi Rania memberikan kata-kata semangat untuk sang sahabat. Ia bisa merasakan bagaimana terlukanya hati mendapati keadaan tidak mengenakan yang dilayangkan ibu tercinta.


"Jadi, selama ini kamu lah yang sudah menggantikan ayah dan ibu untuk ketiga adikmu?"


"Aku tidak tahu jika kehidupan mu begitu berat, Zahra. Aku hanya melihat dari satu sisi saja."


"Aku sempat berpikir alangkah menyenangkannya apabila bisa menghabiskan waktu bersama orang tua, sedangkan ayah dan ibuku sudah tiada. Aku minta maaf sempat iri padamu, Zahra."


"Tetapi, aku bangga padamu. Karena selama ini kamu bisa menyembunyikan semuanya lewat senyuman yang selama ini diperlihatkan pada kami," tutur Rania selepas mendengar semua kejadian menimpa sahabatnya.


Zahra mengulas senyum simpul memaksakan diri untuk tetap tegar.


Kali ini senyuman itu tidak mampu menutupi luka menganga di dasar hati.


Air mata kembali tumpah tak tertahankan.


"Jadi, memang benar bukan? Sejatinya kita memang tidak boleh iri terhadap kehidupan orang lain. Karena bagaimanapun juga apa yang kita miliki saat ini... itulah yang terbaik."


"Karena kehidupan orang lain yang kita kira baik-baik saja, tidak mencerminkan sebenarnya. Kamu harus tetap bersyukur, Rania."


"Meskipun saat ini ingatanmu hilang tentang suamimu, tetapi dia mampu menjadi pendamping terbaik yang selalu ada di sisimu," ungkap Zahra mengembalikan fakta yang ada.


Rania mengangguk beberapa kali dan menggenggam tangannya hangat.


"Em, kamu benar, tetapi kamu juga harus bersyukur masih ada orang yang mau melindungi mu."


"Aku... sudah tahu. Seok Jin oppa mengatakan semuanya, dia... benar-benar mencintaimu, Zahra. Aku bisa melihat jika dia memang bersungguh-sungguh."


"Jika saat ini kamu belum mampu melihat kesungguhannya, jangan ragu meminta pada Allah untuk dibukakan apa Seok Jin oppa adalah yang terbaik atau sebaliknya."


"Karena aku yakin saat ini kamu benar-benar butuh seorang pendamping. Di balik ada Allah yang membersamai, tetap kita juga butuh bahu untuk bersandar," kata Rania lagi panjang lebar.


Zahra termenung, memikirkan semua kata-kata yang dicetuskan oleh Rania.


Ia mengingat kembali bagaimana pertemuan pertamanya dengan dokter tampan itu sampai sekarang.


Memang tidak ada yang aneh, hanya saja Zahra tetap ragu pada sebuah rasa asing tersebut.