
Satu bulan berlalu, kehidupan Rania Varsha Humaira sebagai istri dari Park Jim-in, tuan muda keluarga Park dengan kekayaan melimpah berjalan seperti biasa.
Hari-hari yang pernah dilupakannya, kini kembali lagi.
Hilang sudah segala kegelisahan dan ujian menghadang rumah tangga mereka. Baik orang ketiga maupun hilangnya ingatan, telah berlalu layaknya air mengalir.
Ketenangan telah kembali, sebagai seorang istri dan ibu Rania berusaha keras menjalankan tugas tersebut dengan sebaiknya.
Baik Jim-in maupun kedua buah hatinya, sama-sama mengucap syukur atas kembalinya Rania.
Tepat hari ini ia hendak kembali ke dunia kerja. Ia dan Zahra resmi bekerja di rumah sakit besar Seoul sebagai perawat baru di sana.
Keceriaan serta semangat guna mencapai hal baru begitu apik menempati wajah ayunya. Selesai mempersiapkan segala keperluan suami serta kedua buah hatinya, Rania bersiap pergi ke rumah sakit.
Ia sangat antusias untuk mengemban tugas baru, berharap pengabdiannya untuk merawat orang yang sakit berbuah pahala.
Di tengah aksinya memakai hijab, pintu kamar dibuka perlahan. Bayangan seseorang masuk tercermin jelas lewat kaca rias.
Bulan sabit pun terpendar di bibir ranum Rania kala pandangannya bertubrukan dengan manik kecil sang suami.
Aroma maskulin merebak ke segala penjuru rongga indera penciuman membuatnya berbalik. Ia senang mendapati pasangannya di sana.
Langkah kaki itu perlahan mendekat hingga sosok Park Jim-in berdiri tepat di hadapannya. Rania mendongak menyelami sepasang iris menawan tersebut.
Jim-in mengulurkan tangan memeluk pinggang istrinya, posesif. Ia menariknya kuat hingga tubuh keduanya saling menempel erat.
Dengan senang hati Rania membalasnya dan meletakkan tangan di antara bahu bidang suaminya. Iris cokelat besar dan kecil itu saling menatap satu sama lain.
Tidak ada yang bisa mengganggu mereka, bahkan detikkan jam sama sekali tidak dihiraukan oleh pasangan suami istri ini.
"Mwo?" tanya Rania pelan.
"Ini hari pertamamu bekerja sebagai perawat sebenarnya. Aku bangga dan lega, akhirnya cita-cita yang dari dulu kamu inginkan bisa terwujud."
"Maaf, sempat menghambat mimpimu, Sayang," ucap Jim-in lembut, mengusap puncak kepalanya penuh kasih sayang.
Rania tidak kuasa untuk tidak mengembangkan senyum. Kedua bibirnya melengkung sempurna menampilkan deretan gigi-gigi putihnya.
"Ani. Jangan meminta maaf, Sayang. Karena bagaimanapun juga berkat Oppa aku bisa seperti ini. Terima kasih," balas Rania hangat.
Mendengar kata sayang tercetus dari mulut keritingnya memberikan kesyahduan. Degup jantung sang tuan muda berdebar kencang tak karuan.
Semburat merah menyebar di pipi putihnya sampai ke daun telinga. Rania yang menyadari itu terkekeh pelan dan langsung melemparkan diri memeluk Jim-in erat.
"Saranghae. Tidak ada yang lain selain... kamu, Sayang. Terima kasih sudah memilihku sebagai istrimu. Aku... sangat beruntung bisa bertemu denganmu, tuan muda arogan," bisik Rania tepat di samping telinga pasangan hidupnya.
Jim-in terpaku, mendengar setiap kata keluar dengan suara lembut Rania menyapa hati terdalam.
Ia benar-benar bahagia dan terharu mendapatkan wanita sebaik Rania. Dari awal pernikahan sampai sekarang wanita itu tidak pernah mengeluh apa pun.
Se-kasar apa pun Jim-in memperlakukan Rania, tetap saja ia masih bersikap baik terhadap suaminya.
Bayangan demi bayangan masa lalu sampai ke dalam ingatan. Jim-in malu sudah memberikan luka teramat kuat nan dalam di hati sang istri.
Meskipun begitu Rania masih mau memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua. Ia tidak menyianyiakan hal itu dan berusaha menebus kesalahan dengan membahagiakannya.
"Memelukmu seperti ini, mengingatkanku pada saat... aku masih berada di kursi roda. Kamu... tanpa menyerah membantuku terapi."
"Kamu masih ingat? Kita berpelukan seperti ini di ruang terapi, seolah dunia... hanya milik kita berdua. Pada saat itu aku berpikir dari mana datangnya wanita baik ini? Ternyata Allah yang sudah mengirimkan mu padaku. Terima kasih, Sayang," ujar Jim-in lagi.
Rania semakin mengeratkan pelukan seraya menutup mata rapat. Ia mengendus raksi yang menguar dalam tubuh prianya.
Aroma menenangkan ini juga mengingatkan Rania tentang kehidupan awal-awal pernikahan. Ia tidak pernah menyangka bisa sampai ke titik sekarang.
"Begitu pula denganku, Oppa. Aku masih tidak percaya bisa sejauh ini denganmu. Aku pikir, kamu akan selamanya bersikap dingin... tanpa melihat keberadaan ku. Namun, semua itu tidak benar, terlepas dari kejadian demi kejadian menimpa... rumah tangga kita pun berjalan baik-baik saja," ungkap Rania mengutarakan isi hati.
Jim-in melepaskan pelukannya pelan dan kembali saling bertatapan. Tangan kekar itu masih mencengkram pelan kedua bahu Rania.
"Terima kasih sudah bertahan. Aku tidak akan pernah bisa sampai seperti sekarang, jika bukan karena mu, Sayang," akunya tulus.
Matanya berkaca-kaca menahan keharuan kian melanda. Tidak ada yang paling membahagiakan selain bersama wanita pilihannya.
Cinta datang seiring berjalannya waktu, Jim-in pun tidak menduga akan mendapatkan perasaan menenangkan tersebut terlepas dari kelakuan yang diberikannya pada Rania.
"Dulu aku sangat kasar dan tidak berperasaan. Bagaimana bisa aku memperlakukanmu seperti asisten rumah tangga? Bahkan... bahkan aku tidak mengizinkanmu pergi di saat-saat terakhir ibumu meninggal. Aku suami yang sangat buruk. Aku... aku-"
"Hei Oppa, jangan berkata seperti itu. Semua sudah berlalu, masa lalu tidak bisa kembali dan diperbaiki, tetapi... kita masih punya masa depan untuk merubahnya menjadi lebih baik."
"Karena Oppa tahu?"
Dengan polosnya Jim-in menggeleng singkat. Rania kembali tersenyum lebar dan menangkup kedua pipi putih sang suami.
Ia mencondongkan tubuh ke depan seraya berjinjit untuk menyamakan wajah mereka.
"Karena... dari dulu aku siap terluka untuk mencintaimu. Resiko apa pun yang akan menimpa rumah tangga kita, baik dari kamu ataupun masalah lainnya tidak akan menyurutkan niatku untuk tetap... bersamamu."
"Ayahku pernah berkata, Varsha, setelah kamu besar nanti dan menikah dengan pria baik-baik ingat pesan ayah. Kamu harus hormati, sayangi dan cintai dia sepenuhnya, apa pun kondisi suamimu nanti... dan ayah juga bilang Kamu harus percaya dengan ketentuan Allah. Karena itu yang terbaik, dan lagi jika kamu sudah menikah surga ada pada suamimu."
"Kata-kata ayah itulah yang membuatku bertahan untuk terus bersamamu... apa pun kondisinya. Karena surga ku ada padamu, Sayang," jelas Rania lagi.
Jim-in terpaku, tidak percaya mendengar semua untaian kata menenangkan sang istri. Entah sadar atau tidak air mata memberondong minta dikeluarkan.
Sedetik kemudian liquid bening meluncur tak tertahankan. Rania menghapusnya lembut lalu memberikan kecupan di kedua mata itu membuat Jim-in langsung menutup kelopaknya erat.
Ciuman itu lalu beralih ke hidung bangirnya, kedua pipi, dagu dan berakhir di benda kenyal pangeran dalam kehidupan.
Jim-in terkejut dan seketika membuka mata lebar. Rania masih mengembangkan senyum membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Tanpa menyianyiakan waktu Jim-in menyambar bibir manis pujaan hati menjamahnya perlahan. Rania terbuai dan berpegangan pada kemeja bagian belakang sang suami.
Suara kecipak basah berdengung seirama dengan dentingan jam dinding. Gerakan yang semula lembut berubah menjadi brutal seiring berjalannya waktu.
Pasangan suami istri itu terlena akan kenikmatan yang keduanya bagi bersama. Tanpa mengindahkan apa pun, Rania dan Jim-in terus melampiaskan hasrat terpendam.
Keheningan menjadi saksi bisu seperti apa penyatuan mereka berlalu. Tidak ada yang mengganggu keduanya yang tengah terlena.
Perlahan Rania membuka mata memandangi wajah menawan tepat di depannya. Ia tersenyum sekilas merasakan jantungnya memburu cepat.
"Ternyata... aku benar-benar mencintai pria ini. Apa yang sudah dia lakukan... tidak pernah aku pikirkan lagi," benaknya tulus.