
Kisah tak akan sampai jika terus berjalan di tempat. Jika mempunyai keinginan, niat baik untuk mencapai kebaikan, maka berusahalah sekuat tenaga guna mendapatkannya.
Jangan gantungkan mimpi hanya dalam ilusi semata, yakin dan percaya dirilah jika apa pun bisa terwujud. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, maka serahkan semua keinginan itu pada Sang Pemilik Kehidupan agar tidak ada keraguan.
Allah sebaik-baiknya perencana sekaligus penulis skenario kehidupan terhebat. Ia mampu merubah kesedihan dengan senyuman, serta menggantikan rasa sakit dengan kebahagiaan.
Itulah yang saat ini tengah Kim Seok Jin yakini. Di usianya ketiga puluh lima, ia ingin membuka lembaran baru dan melupakan cerita kelam di belakang.
Seok Jin berpikir tidak baik terus menerus memikirkan hal yang membuatnya semakin terpuruk. Kegagalan serta pengkhianatan akan cinta pernah dirasakannya membuat ia tidak dapat percaya lagi.
Hal itu juga yang membuat dokter tampan tersebut menutup hati selama bertahun-tahun. Ia tidak ingin terluka lagi dan lebih fokus kepada pekerjaannya semata.
Namun, setelah sekian tahun berlalu Allah mempertemukannya dengan wanita luar biasa. Zahra Fazulna, wanita yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya, sosok tidak dikenalnya ada di dunia, dipertemukan dalam waktu tak terduga.
Ia sangat takjub bagaimana Allah mengatur skenario dalam kehidupannya begitu luar biasa. Ia tidak membayangkan bisa jatuh cinta lagi dan akan bertemu dengan sosok tak terduga seperti Zahra.
Layaknya magic, dalam kurung waktu seperkian detik Allah mampu mengubah apa pun menjadi lebih baik.
"Jadi, apa oppa sudah siap?" tanya Rania di seberang sana lewat panggilan telepon.
Seok Jin yang tengah berada di sebuah kafe dekat rumah sakit pun mengangguk samar. Ia melihat ke sekeliling tidak begitu banyak orang yang datang di pagi hari.
Mereka bisa leluasa membicarakan apa pun di sana.
"InsyaAllah, aku siap Rania. Kalian sudah sampai mana?" tanya balik dokter menawan itu.
"Sebentar lagi kami sampai, tunggu lima menit lagi," jelas Rania membuat Seok Jin gugup seketika.
"Baiklah, aku tunggu."
Setelah itu panggilan terputus. Seok Jin meletakkan benda pintar di atas meja lalu mengaduk kopi hangatnya sembari terus melihat ke jendela tepat di samping kiri.
Ia menyaksikan orang-orang hilir mudik menuju tempat kerja masing-masing.
Hari ini ia tidak mempunyai jadwal apa pun di rumah sakit. Ia sengaja mengambil cuti untuk menjalankan semua rencana yang sudah mereka bicarakan bersama Kim Arin.
"Bismillah, restuilah ya Allah," gumam Seok Jin.
Tidak lama setelah itu ia melihat mobil hitam mengkilap berhenti tepat di parkiran kafe. Ia terkejut saat menyaksikan dua wanita berhijab turun dari sana.
Salah satu dari mereka memiliki wajah yang sangat mirip dengan wanita idamannya. Seketika Seok Jin gugup tak karuan membuat jantungnya bertalu kencang.
"Dia hanya adiknya... adiknya, Seok Jin... tenanglah kamu pasti bisa," benaknya menyemangati diri sendiri.
Lonceng di pintu masuk berdentang nyaring, dua wanita itu berjalan mendekat dan seketika sudah berada tepat di depannya.
"Laluna, perkenalkan dia Kim Seok Jin, dokter di tempatku dan kakakmu bekerja. Ah, malam itu kalian juga pernah bertemu, kan?" cerocos Rania memperkenalkan satu sama lain.
Laluna menatap lekat ke arah dokter tampan itu yang seketika membuat Seok Jin beranjak dari duduk.
"Kim Seok Jin," jelasnya menangkupkan tangan di depan dada.
Pemandangan tersebut mencengangkan bagi Laluna. Ia tidak menyangka bisa bertemu sesama muslim lagi di negara minoritas.
"You... are moslem?" tanyanya memastikan.
Seok Jin mengangguk pelan mengiyakan. "Alhamdulillah, aku muslim sejak lahir. Orang tuaku yang mualaf," jelasnya dan Rania menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia pada Laluna.
Rania dan dokter menawan itu saling pandang serta tersenyum mengikutinya.
"Lalu, apa yang ingin Mbak katakan padaku? Apa pria ini ada hubungannya?" tanya Laluna to the point, sekilas melirik pada pria di depannya.
Laluna tidak terbiasa bisa basa basi, hanya menghabiskan waktu saja, pikirnya.
"Itu benar, jadi Kim Seok Jin ini yang sebenarnya ingin berbicara denganmu." Rania berpaling pada Seok Jin untuk mengatakannya secara langsung.
Melihat anggukan kepala Rania, Seok Jin mengerti dan mulai menjelaskan apa yang ingin dirinya lakukan.
Ia menyampaikan apa yang dirasakannya pada Zahra kepada Laluna sampai niat ingin meng-khitbahnya.
Suara lembut dokter tampan itu mengalun di dalam kafe. Tidak banyak orang di sana membuat Raina maupun Laluna mendengar jelas apa yang disampaikannya.
Namun, hanya Rania yang mengerti setiap kata tercetus dari bibir menawan tersebut. Ia tidak bisa menahan senyum melihat wajah merona sang dokter kala menyampaikan niat baiknya.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Seok Jin mengutarakan isi hati, kini giliran Rania yang menerjemahkan.
"Laluna, aku akan menerjemahkannya padamu apa yang tadi Kim Seok Jin sampaikan. Apa kamu sudah siap mendengarnya?" tanya Rania menambah ketegangan pada Laluna.
Tadi, Laluna juga mendengar sendiri Seok Jin berkali-kali menyebutkan nama sang kakak. Meskipun Rania mengatakan mereka pernah bertemu, tetapi ia tidak begitu ingat dengan wajah tampan di hadapannya.
Pada saat itu ia tidak peduli apa yang terjadi di sekitar. Laluna terlalu terkejut atas perlakuan sang ibu yang sangat berbeda kepadanya.
"Iya, aku siap Mbak," jawab Laluna mengundang lengkungan bulan sabit di wajah cantik Rania.
"Baiklah, sebenarnya Kim Seok Jin ini-"
Suara halus Rania pun mengambil alih atensi di sana. Berkali-kali Laluna tercengang, tidak percaya, dan tidak menduga apa yang disampaikan sahabat dari kakaknya ini.
Ia juga terus melirik Seok Jin yang menampilkan senyum tulus padanya. Ia tidak pernah menyangka sang kakak begitu dicintai oleh pria asing ini.
Setelah Rania selesai menerjemahkan perkataan Seok Jin tadi, Laluna menundukkan kepala dalam.
Jari jemari itu saling bertautan erat di atas pangkuan seolah menahan sesuatu dalam dada.
Rania menatap pada Seok Jin yang juga tengah melihat padanya. Mereka sama-sama tidak mengerti apa yang tengah Laluna rasakan.
"La-Laluna, aku sama sekali tidak menambahkan atau mengurangi apa yang disampaikan Kim Seok Jin. Karena itulah yang beliau rasakan pada kakakmu." Rania meletakkan sebelah tangan di bahu sempit wanita muda di sebelahnya berusaha meyakinkan.
Hingga tidak lama berselang, bukan jawaban yang didapatkan Rania melainkan sebuah pelukan erat dilayangkan Laluna.
Rania terbelalak, merasakan tubuh ramping wanita dalam pelukannya bergetar.
"Laluna?" Panggilnya lagi.
Namun, ia tidak mengatakan apa pun dan terus memeluknya erat. Sampai tidak lama kemudian samar-samar Rania bisa mendengar suaranya lagi, walaupun serak dan teredam.
"Terima kasih... terima kasih... terima kasih banyak."
Itulah yang terus Laluna katakan. Rania menoleh kembali pada Seok Jin dan mengatakan apa yang disampaikan Laluna tanpa bersuara.
Seok Jin yang melihat itu tidak mengeri kenapa Laluna bisa mengatakan terima kasih. Ia terus memperhatikan Laluna dan menyadari satu hal, jika wanita itu sangat lega mendengar semua yang disampaikannya.
Secercah harapan menyambut Kim Seok Jin untuk terus melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ia percaya akan ada jawaban di balik setiap doa yang selalu dipanjatkan.