
...🌦️...
...🌦️...
...🌦️...
Bukan salah takdir jika angan masih menggantung dalam bayang. Tanpa ikhtiar dan do'a semua pasti sia-sia. Tanpa tindakan keberhasilan hanya sebatas akan. Namun, jika sudah melakukan semuanya masih juga tetap sama saja, mungkin Allah menginginkan kita untuk terus bersabar. Karena tidak mungkin Allah menyia-nyiakan hamba-Nya yang berdo'a.
Itulah yang selalu ditanamkan dalam benak Rania. Sudah hampir satu bulan lamanya wanita itu terus menemani sang mertua di rumah sakit. Dokter mengatakan jika Park Gyeong hidup lagi hanya beberapa persen saja kemungkinannya. Namun, Rania tidak pantang menyerah bagaimana pun yang menentukan hidup dan meninggalnya seseorang hanyalah Allah semata.
Sayup-sayup alunan ayat suci Al-Qur'an menggema dalam ruangan. Suara lirih dipadukan dengan harapan melebur menjadi satu dalam sukma. Hari demi hari hanya ada keheningan yang menyapa keberadaannya. Rania tidak patah semangat. Dirinya terus bermunajat meminta petunjuk pada Sang Pencipta untuk kebaikan ibu mertuanya.
"Nyonya, cepat bangun. Saya yakin nyonya sedang berusaha di sana. Bangunlah Tuan Muda, masih membutuhkan nyonya." Ujarnya setelah menyelesaikan ngajinya.
Netranya bergulir ke jam tangan yang melingar dilengannya. "Ini sudah sore saya pamit pulang dulu. Semoga besok nyonya sudah bisa membuka mata." Bisiknya lagi. Rania pun beranjak dari sana meninggalkan ruangan.
Kehampaan merundung memeluk dalam diam. Sekitar 10 menit setelah kepergian Rania, wanita yang tengah terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu menggerakan tangannya perlahan. Tidak ada siapa pun yang melihat. Hanya ada dirinya sendiri yang terus berjuang melawan maut.
Apartemen yang terletak di barat Kota Seoul menjadi pilihan kepala keluarga Park tersebut. Beberapa saat kemudian Rania tiba di sana bersamaan langit telah berubah warna. Tangannya terulur membuka pintu silver dengan perlahan. Ia pun masuk ke dalam lalu mendapati sang suami tengah duduk disofa menatap datar ke depan.
Senyum yang entah artinya apa terukuir diwajah ayunya. Sudah menjadi kebiasaan selepas pulang dari rumah sakit, Rania mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Ia tahu jauh dari lubuk hati terdalam seorang Park Jim-in dirinya mengkhawatirkan keadaan sang ibu.
"Assalamu'alaikum, oppa. Aku pulang." Sapanya berjalan mendekat lalu duduk di samping Jim-in seraya menyalami tangannya.
"Wa'alaikumsalam." Balas Jim-in singkat.
Hening melanda. Hanya terdengar seru mesin mobil yang saling bersahutan di bawah sana. Langit berwarna orange terang, cahaya sang surya menyorot menambah kesan mendalam. Detik demi detik terlewati. Rania tidak bisa terus diam hingga akhirnya membuka suara kembali.
"Keadaan eommanim masih sama, tapi aku yakin beliau bisa membuka matanya lagi. Kapan oppa akan menjenguknya di rumah sakit? Aku yakin eommanim berharap anaknya datang." Tuturnya untuk kesekian kali. Inilah kebiasaan kedua yang dilakukan Rania, berbicara kepada sang suami sebagai anak kandung dari Nyonya Gyeong.
"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah biarkan aku istirahat, lelah." Jawabnya tanpa sedikit pun mengindahkan ucapan sang istri.
"Hah~" Rania menghela napas kasar. Pasti seperti itu setiap kali ia membicarakan mengenai ibunya. "Sampai kapan oppa mengabaikannya?" bisiknya pada keheningan.
Jam menunjukan pukul setengah 10 malam. Selesai membereskan semua pekerjaan rumah, Rania beranjak menuju kamarnya berada. Keadaan di dalam ruangan itu terasa dingin. Gelap menguasai membuatnya tertegun melihat pada sosok yang tengah bergelung nyaman dalam selumut. Cahaya bulan yang memancar sedikit membantunya menangkap punggung tegap itu.
Cinta tulus tanpa dasar yang bermakna. Perasaan itu suci datang setelah ikatan halal membelenggu. Memang, Allah tidak pernah salah merencanakan yang terbaik untuk hamba-Nya.
'Aku ingin semuanya berakhir. Hah~ entah kenapa rasanya lelah sekali. Ya Allah kuatkan hamba dalam menghadapi masalah ini.' Benaknya.
Wanita itu membalikan posisinya menjadi menyamping menghadap punggung suaminya. Tanpa disuruh tangannya terulur merengkuh hangat prianya. Jim-in yang masih sadar tersentak dibuatnya. Ia tidak kuasa saat merasakan kepala sang istri bertengger di baliknya. Dan dengan kurang ajarnya air mata yang sedari tadi ditahan menunjukan dirinya juga.
Rania semakin mengeratkan pelukannya. Aroma mint yang menguar seketika membuatnya terlena di tambah dengan getaran ringan dari tubuh suaminya membuat ia sadar. Sadar jika saat ini Jim-in sangat membutuhkan kehadirannya.
"Menangislah oppa itu bisa mengurai beban pikiranmu. Aku ada di sini, bersamamu. Maafkan aku jika membuat semuanya menjadi runyam. Saranghae." Diakhiri dengan ungkapan cinta membiat Jim-in terpaku.
Secepat kilat ia membalikan badannya dan bertatapan langsung dengan netra indah sang istri. Nampak kesedihan yang tersimpan apik di sana. Kedua tangan tegapnya terulur menangkup pipi gemil wanitanya.
"Aku sangat mencintaimu. Jangan mengatakan semua ini karenamu, aku mohon. Masalah datang karena Allah yakin kita mampu melewatinya. Aku juga ada di sini, bersamamu." Jujur Jim-in. Kali ini Rania yang tidak bisa membendung air matanya. Cairan bening itu tumpah begitu saja.
"Bersama kita bisa melewati semua ini. Aku bersyukur memilikimu." Ungkap Rania menatap lekat ke dalam iris kecil di hadapannya.
"Aku janji setelah ini kita akan bisa hidup bahagia bersama, tanpa ada penghalang apapun lagi."
"Eung, aku berharap seperti itu." Balasnya.
Jam terus berputar mengikuti poros. Begitu pula dengan langit yang terus menampilkan gelap. Keheningan itu menjadi teman setia bagi insan yang tengah dirundung gelisah. Rania salah satunya. Ia tidak mengerti kenapa, jalan hidupnya bisa seperti itu. Bukankah hidup akan mendapatkan titik akhir penyelesaian? Tapi sampai kapan? Kapan semua penderitaan yang ia hadapi itu berlalu? Hanya memasarahkan semuanya pada Sang Pemilik Kehidupan. Allah tahu mana yang terbaik untuk setiap hambanya. Yah, Rania percaya itu.
...🌦️🌦️🌦️...
Keesokan harinya, Rania kembali mengunjungi rumah sakit. Tentu saja dengan berbagai wejangan yang lebih dulu dilayangkan oleh suaminya. Berat sekali rasanya ia berada dalam titik menjadi sosok penengah. Berdiri di antara anak dan ibu bukanlah perkara yang mudah. Rania harus meyakinkan Jim-in jika dirinya baik-baik saja dan berharap pria itu mau menemui sang ibu. Namun, sampai saat ini pun Park Jim-in masih enggan bertemu.
"Assalamu'alaikum, nyonya. Selamat pagi. Saya datang lagi untuk kesekian kalinya. Bagaimana keadaan nyonya hari ini? Mudah-mudahan baik-baik saja. Nyonya tahu, Tuan Muda di balik sikap arogannya masih menyimpan kekhawatiran. Meskipun tidak mengatakannya, tapi saya tahu. Bagaimana pun juga nyonya sudah rela meregang nyawa untuk melahirkannya. Kasih sayang Tuan Muda, kepada Anda tidak pernah luntur. Sebagai menantu yang mungkin masih belum sepenuhnya nyonya terima, saya mengucapkan terima kasih sudah melahirkan Park Jim-in ke dunia ini. Saya sangat menyayangi dan mencintainya. Jeongmal kamsahamnida." Racau Rania pada wanita yang masih menutup matanya.
Namun, tanpa ia ketahui Park Gyeong sudah sadar dari semalam. Beberapa saat kemudian kelopak matanya terbuka perlahan. Rania terkejut sekaligus senang melihat itu. Hingga sebuah suara yang sudah lama tidak ia dengar kembali menendang gendang telinganya.
"Gomawo." Hanya satu kata, tapi memiliki kata bermakna untuk dirinya.
...🌦️KESADARAN🌦️...