VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 25



Atap rumah sakit menjadi tujuan kedua wanita itu. Sedari kedatangannya ke sana, Zahra tidak henti-hentinya menangis menghempaskan rasa perih.


Cairan bening terus mengalir tanpa henti dan tidak bisa dicegah begitu saja.


Perasaan iba datang membuat Rania terus menyalurkan kekuatan dengan mengusap punggungnya berkali-kali.


Awan mendung masih melingkupi sepasang jelaga Zahra. Hujan air mata terus mengalir tanpa jeda, mengutarakan perasaan terdalam bagaimana luka itu tidak bisa dicetuskan lewat kata-kata.


Varsha hadir menggantungkan sebuah luka tak kasat mata menetap di relung hati terdalam. Duka terus menari indah mengikis kebahagiaan yang hanya sesaat saja.


"Memang berat menghadapi semuanya sendirian. Kita dituntut untuk tetap bertahan dari ganasnya kehidupan. Namun... Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya terus terpuruk dalam kesedihan. Karena suatu saat nanti berkah atas kejadian ini akan datang menghampiri."


Rania mendongak melihat langit memperlihatkan kecantikannya. Sesekali angin datang menyapa keduanya, berusaha mengikis rasa sakit.


Zahra yang masih sesenggukan mencoba meredakan tangis. Namun, tetap saja sekuat apa pun ia berusaha kenangan demi kenangan masa lalu sampai sekarang berdatangan tanpa jeda.


Memori menyakitkan yang tidak bisa dihapuskan hadir menerjang lewat air mata mengalir tak berkesudahan.


Di dasar lubuk hati paling dalam, Zahra ingin meraung, berteriak, sekuat tenaga mengenyahkan kepiluan. Rasanya sangat sakit, lebih sakit dari luka fisik yang diterimanya.


Perlakuan sang ibu, perkataan yang diberikannya, semua mengandung empedu. Rasa pahit menyebar mengenyahkan kenangan berharga yang pernah mereka bagi bersama.


"Aku yakin kamu wanita kuat dan bisa menghadapi semuanya, Zahra," kata Rania lagi menenangkan.


Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawaban dan kembali menangis memudarkan pengap dalam dada.


Rania hanya membiarkannya saja dan menemaninya sebisa mungkin.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, isak tangis Zahra berangsur-angsur reda. Wajah cantik itu memerah dengan kedua mata bengkak.


Banyak tissue bertebaran di bawah kaki mereka, jejak kepiluan pun masih tersemat membuat ia mengepalkan tangan kuat.


"Terima kasih, Rania. Kamu sudah mau menemaniku," ujarnya kemudian.


Suaranya sangat serak membuat Rania mengulas senyum simpul.


Ia menggenggam kedua tangan sang sahabat dan memandangnya lekat.


"Tidak usah berterima kasih. Karena bagaimanapun juga aku sahabatmu... aku juga sudah menganggap mu seperti keluargaku sendiri."


"Meskipun aku sedikit lupa bagaimana pertemuan kita, tetapi... aku yakin hubungan pertemanan kita sudah sejauh itu. Terima kasih juga sudah hadir dan menemani di setiap kesusahan ku," balas Rania tulus.


Zahra kembali tidak kuasa menahan air mata, cairan bening itu mengalir di kedua pipi dan langsung menerjang sahabatnya begitu saja.


Rania membalasnya tak kalah erat dan kembali menenangkannya lagi.


Beberapa saat kemudian, keduanya saling menatap ke depan. Pemandangan ibu kota tergambar jelas di sana memperlihatkan kesibukan di dalamnya.


Kembali semilir angin menemani kebersamaan berbisik lirih jika semua pasti akan berlalu. Sebagaimana waktu berjalan, seperti itu pula lah kehidupan terus berputar.


"Aku dan ketiga adikku adalah anak yang terbuang. Kami tumbuh bersama tanpa adanya orang tua, seperti barang yang sudah tidak dipakai lagi... kami harus bahu membahu bertahan bersama di dalam ganasnya kehidupan."


"Aku yang merupakan anak tertua harus banting tulang menghidupi mereka. Ayah dan ibu pergi meninggalkan kami sejak masih kecil. Saat itu aku pikir, ayah dan ibu pergi mencari nafkah guna memperbaiki ekonomi keluarga."


"Bukankah kehidupannya sangat harmonis?"


Di tengah cerita, Zahra menoleh pada Rania memberikan senyum penuh luka.


Istri dari pengusaha itu terpaku, menyadari ada rasa sakit begitu kuat menetap di dadanya. Ia menyadari jika selama ini Zahra menyembunyikan semuanya lewat senyuman.


Ternyata senyum yang diperlihatkan tidak selamanya mengandung baik-baik saja, tetapi menyembunyikan luka teramat parah.


Semua orang mempunyai jalan ceritanya masing-masing. Entah bagaimana luka itu tumbuh, tetapi sudah pasti rasanya sangat sakit. Terkadang diri berpikir jika hanya kehidupan kita sendirilah yang paling parah.


Namun, nyatanya Allah menguji setiap hamba. Siapa yang di antaranya bisa bertahan dan mengandalkan semuanya pada Allah semata, maka Allah pun pasti memberikan balasan.


Itulah yang saat ini Rania pikirkan. Ia berpikir jika kehidupannya saja yang paling sengsara.


Dijodohkan dengan pria berkursi roda dan arogan, membuat kehidupan rumah tangganya berantakan.


Varsha, varsha, dan varsha, hanya itu yang setiap saat datang menghadang, tetapi setelah mengenal Zahra, ia bisa belajar jika bukan hanya dirinya saja yang menanggung beban seberat itu.


"Astaghfirullah, aku turut sedih untukmu, Zahra, tetapi... kamu harus tahu jika Allah memberikan ujian itu padamu... karena Allah yakin kamu bisa melewatinya."


"Buktinya Allah memberikan bahu yang kuat padamu... untuk menjadi seorang kakak yang hebat bagi adik-adikmu. Kalian... adalah anak-anak luar biasa, Zahra. Aku kagum pada keceriaan yang setiap kali kamu perlihatkan padaku."


"Darimu aku juga belajar... Jika tidak usah memperlihatkan kesedihan pada siapa pun. Karena semua orang tidak akan bisa merasakan seperti apa luka kita."


"Jangan menyerah, Zahra. Kamu masih punya tiga orang adik, yaitu keluargamu yang sangat menyayangimu. Kamu... harus tetap bertahan, tenang saja ada Allah bersama kita," ujar Rania memotivasi.


Zahra terpaku, kata-kata yang diberikan sahabatnya sedikit mengisi lubang di hati. Tanpa terasa kristal bening jatuh menetes di punggung tangan Raina.


Lengkungan bulan sabit hadir mengantarkan tangan kanannya menghapus jejak air mata di pipi sang sahabat.


"Kamu berhak bahagia, Zahra. Jangan pernah menyerah pada keadaan, meskipun rasanya sangat sakit, tetapi di balik ini semua ada hikmah yang telah Allah siapkan," ungkap Rania lagi.


Zahra mengangguk beberapa kali dan kembali memeluk sahabatnya. Ia terus mengucapkan terima kasih atas kesedian Rania menemaninya di sana.


Bersamaan dengan keakraban persahabatan mereka, di balik tembok yang tidak jauh dari sana, sepasang telinga mendengarkan semuanya dari awal.


Entah sengaja atau tidak, kedua wanita itu berbicara bahasa tempat dokter tampan tersebut dilahirkan.


Keadaan itu membuat Kim Seok Jin yang dari awal sudah mengikuti ke mana mereka pergi sangat diuntungkan.


Ia bisa mengetahui apa yang telah terjadi pada Zahra. Rasa penasaran pun kini sudah terjawab semuanya, perasaan dokter tampan itu semakin besar tanpa bisa dicegah.


Kedua tangan mengepal kuat saat teringat tangisan memilukan Zahra tadi. Ia semakin ingin melindungi wanita itu bagaimanapun caranya.


"Ya Allah jika memang rasa ini Kau titipkan pada hamba hanya untuk dia... maka lancarkan lah ya Rabb, dan jangan sampai perasaan ini melebihi rasa cinta hamba pada-Mu ya Allah. Hamba ingin melindungi dia dan membahagiakannya."


"Jika rasa ini adalah cinta... maka kuatkan lah dan satukanlah kami di jalan-Mu yang benar," racaunya dalam benak seraya memandangi Zahra yang kini tengah tersenyum lebar pada sahabatnya.


Perasaan Seok Jin semakin tak karuan, kepalanya mengangguk beberapa kali dan setelah itu pergi dari sana.


Dengan membawa keyakinan serta tekad yang begitu kuat, Seok Jin tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi perasaannya.