VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 38



"Jadi, apa yang akan Oppa lakukan selanjutnya?" tanya Rania lagi.


Seok Jin kembali diam beberapa saat dan setelah itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Aku tetap akan memperlakukannya seperti biasa. Sampai perasaan ini terbalaskan atau sebaliknya. Aku juga tidak ingin terlalu terpuruk pada perasaan sesaat dan menjauhkan dari sang pemberi cinta," ungkap Seok Jin kemudian.


Mendengar jawaban yang begitu tulus nan dalam membuat Rania tidak kuasa menahan haru. Sepasang hazelnut nya berkaca-kaca merasakan perasaan sang dokter.


"Aku yakin Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kalian. Berdoa saja dan serahkan semuanya pada Allah. Karena Dia-lah yang akan menentukan semuanya, sebab Allah maha membolak-balikkan hati hamba-Nya," tutur Rania, Seok Jin berulang kali mengangguk setuju.


Hening menyapa, senja yang sedari tadi membersamai perlahan menghilang berganti gelapnya malam.


Hiruk pikuk di sekitar rumah sakit masih terdengar berseliweran di telinga.


Rania kembali memandang ke jendela besar di sisi lainnya seraya mendongak ke atas melihat langit sudah menampilkan kegelapan.


Bayangan tadi siang tiba-tiba saja tergambar jelas menjadikan diri luluh pada perasaan terluka.


Gelenyar rasa sakit kian menyapa memberikan varsha yang bermunculan di kelopak mata.


Sekuat tenaga Rania menahannya agar tidak tumpah dan memperlihatkan sisi lemah pada sang dokter.


Seok Jin yang sedari tadi memperhatikannya sadar apa yang tengah dirasakan sang pasien pun kembali angkat bicara.


"Jika memang sakit sekali, kamu berhak menangis. Jangan dipendam sendirian seperti ini, jika tidak bisa diungkapkan, lebih baik utarakan lewat tangisan. Karena menangis bukan pertanda cengeng maupun lemah, tetapi... sebagai bentuk kekuatan dan kelegaan."


"Aku yakin, kamu bisa menghadapinya, Rania," tutur Seok Jin memberikan semangat akan peristiwa yang terjadi.


"Kenapa? Kenapa pernikahan kami seperti ini lagi? Ternyata memang benar tuan muda arogan itu tidak pernah mencintaiku."


"Dia... terus menerus memberikan varsha yang tak berujung," ungkap Rania dengan suara lirih dan bergetar menahan tangis.


Seok Jin menggelengkan kepala singkat, meskipun wanita itu tidak melihatnya.


"Tidak! Tidak seperti itu Rania, sekarang ingatanmu masih belum pulih, tetapi... asal kamu tahu Jim-in sudah benar-benar mencintaimu."


"Telah banyak masa yang kalian lewati bersama. Mulai dari kehilangan, sampai penyesalan dirasakan olehnya, sampai hal itu membuat Jim-in sadar jika... dia sangat mencintaimu."


"Park Jim-in... tuan muda arogan yang dulu pernah memperlakukanmu tidak baik, berubah menjadikanmu ratu di hatinya."


Suara lembut Seok Jin mengalun membersamai detik kan jam dinding di ruangan. Dalam diam Raina terus mendengarkan apa yang disampaikan sang dokter.


Tanpa sadar jantungnya berdetak semakin kencang. Entah kenapa, meskipun ingatannya tidak menggambarkan apa yang disampaikan Seok Jin, tetapi hatinya berkata sebaliknya.


Relung terdalam seolah mengiyakan dan memberikan rasa asing yang Rania pikir belum pernah mendapatkannya.


"Aku tidak pernah melihat Jim-in begitu dalam mencintai seseorang... Yunna? Wanita itu tidak ada apa-apanya. Pada saat itu Jim-in hanya terlalu obsesi dan tidak ada cinta yang tulus."


"Namun, saat ia sadar akan keberadaan mu di hidupnya... Jim-in sangat mencintaimu, Rania. Dia memperlakukanmu dengan sangat baik. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun dan baru kali ini... aku melihatnya seperti itu," ungkap Seok Jin lagi dan lagi.


Rania sedari tadi menunduk membiarkan bulir demi bulir air mata berjatuhan membasahi selimut rumah sakit yang tengah menutupi sebagian tubuhnya.


Kedua tangan yang berada dalam pangkuan mengepal kuat. Rania berperang dengan diri sendiri berusaha memenangkan ego dari hati dan pikirannya sendiri.


"Jangan memaksakan untuk mengingatnya, Rania. Aku tidak ingin kamu berakhir seperti siang tadi, bukankah... kamu memaksakan ingatan yang hilang?" tanya Seok Jin kemudian.


Rania terkesiap, irisnya membulat sempurna memandang jejak air mata di bawahnya.


Ia lalu menghapusnya kasar lalu menarik napas pelan dan menoleh ke sisi kanannya lagi.


"Bagaimana Oppa tahu?" tanyanya mengundang gelak tawa sang dokter.


"Ah, benar Oppa adalah dokter yang bertanggungjawab atas ku," jawab Rania atas pertanyaannya tadi.


Seok Jin kembali terkekeh pelan dan melipat tangan di depan dada.


"Bagaimanapun juga kalian adalah pasangan menikah yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. Jangan sampai hanya kesalahpahaman kecil merusak semuanya. Kalian juga mempunyai dua anak yang masih membutuhkan kehadiran orang tuanya."


"Meskipun saat ini kamu masih kehilangan ingatan, tapi pikirkanlah apa yang terbaik," tutur Seok Jin lagi.


Rania hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.


Dari luar ruang inap, sedari tadi Jim-in mendengarkan semua pembicaraan mereka. Manik cokelat beningnya memandang lurus ke bawah memperhatikan lantai marmer sebagai objek utama.


Diam-diam ia berdoa meminta sang pemilik hati untuk mengembalikan ingatan istrinya.


...***...


Jam masih menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, Rania terbangun merasakan tenggorokannya kering.


Di saat hendak membalikkan badan ke sisi kanan pergerakannya tertahan sesuatu. Ia melihat ke bawah lengan kanan dan mendapati kepala terkulai di sana.


Ia terkejut dan sedikit berjengkit membuat ranjang berderit. Hal itu menyadarkan orang yang tengah tertidur di sebelahnya.


Jim-in terkejut langsung mendongak dan bersitatap dengan sang istri.


"Sayang, kamu bangun? Kenapa? Ada apa? Apa ada yang sakit? Perlu aku panggilkan dokter? Ah, tetapi hyung sudah pulang," racaunya menggebu.


Rania kembali duduk di atas tempat tidur dan menggeleng singkat.


"Aku... haus," jawabnya lirih.


"Haus? Sebentar aku ambilkan air dulu," kata Jim-in melihat gelas di atas nakas samping mereka sudah kosong.


Ia pun buru-buru mengisinya lagi dengan air hangat, dan tidak lama berselang kembali memberikannya pada Raina.


Istrinya pun menerima dan langsung menegaknya hingga tandas.


Setelah itu Jim-in mengusap lembut jejak air yang menempel di atas bibirnya dengan lembut.


Mendapatkan perlakuan manis seperti itu membuat Rania terkesiap. Ia melebarkan kedua matanya sempurna dan terus bertatapan dengan sang suami.


Jim-in yang saat ini tengah duduk di atas ranjang rumah sakit pun menggenggam tangan Rania kuat. Ia menariknya pelan dan memberikan kecupan dalam di sana.


Adegan itu terjadi beberapa saat membuat Rania terpaku tidak tahu harus berbuat apa.


Ia merasakan jika hal tersebut adalah kali pertama Jim-in memperlakukannya dengan sangat baik. Tanpa ia tahu sang suami memang sudah melakukan perbuatan baik selama bertahun-tahun.


"Aku sangat mencintaimu, Rania," aku Jim-in lagi seraya mendongak mencari sepasang jelaga indah di depannya.


"Aku benar-benar mencintaimu," katanya berulang kali yang kali ini mengundang air mata meluncur begitu saja.


Jim-in tidak kuasa menahan tangis dan terus mengeluarkan liquid bening. Ia terkekeh pelan sambil sibuk mengusap jejaknya di kedua pipi.


"Maaf, aku tidak bermaksud cengeng seperti ini. Hanya saja-" Jim-in tidak sanggup menyelesaikan ucapannya dan kembali menangis.


Ia menyembunyikannya di telapak tangan dengan suara isakan mengalun di ruangan.


Dalam diam Rania memperhatikan bagaimana tangisan pria arogan itu tepat di depan mata kepalanya. Perasaan asing kembali menyapa membuat ia hanya terdiam.


"Ada apa ini? Apa yang aku rasakan? Kenapa rasanya tidak asing? Apa Tuan muda benar-benar mencintaiku dengan tulus?" racaunya dalam benak.