
Tidak ada kisah yang benar-benar lepas dari setiap permasalahan. Siapa pun yang menjadi protagonis di ceritanya masing-masing pasti akan mendapatkan ujian.
Entah itu dari keluarga, teman, sahabat, sampai hubungan percintaan.
Apa pun datang menjadi batu loncatan agar bisa mendapatkan kebaikan selepas perginya kesusahan. Meskipun air mata begitu parah menganak bagaikan sungai, yakinlah suatu saat bisa berubah menjadi senyum kebahagiaan.
Namun, tidak usah berlarut-larut dalam kesedihan, sebab semua itu hanya mengundang pikiran negatif lainnya yang bisa merugikan diri sendiri.
Menangis, tentu saja boleh untuk melampiaskan rasa sakit dalam dada. Namun, jangan sampai tangisan itu berubah menjadi duka teramat besar hingga mengakibatkan dendam.
Rania yang berada di balik pintu ruang rawat Jung Jae Hwa, terkejut mendengar penuturan sang pembalap.
Tangannya melayang di udara tidak jadi membuka pintu saat di rasa mereka membutuhkan waktu berdua saja.
Ia pun mengurungkan niat dan berbalik menuju lantai bawah.
"Jadi... benar apa yang aku dan Hana temukan. Jung Jae Hwa adalah anak yang lahir dari sebuah hubungan terlarang. Dia-"
"Rania?"
Rania mendongak mendapati pria berkacamata tengah memandangnya lekat.
"Oh, manager Kang?" Panggilnya balik dengan mengerenyit dalam.
"Bisakah saya berbicara dengan Anda?" pintanya kemudian.
Rania diam sekaligus terkejut, tidak mengerti kenapa manager pembalap terkenal Jung Jae Hwa menemuinya dan ingin berbicara dengannya. Namun, sedetik kemudian kepalanya mengangguk singkat.
"Tentu, di mana kita akan berbicara?" tanya Rania setuju.
"Mari, ikut saya," ajak Yohan.
Dalam diam Rania pun mengikuti ke mana sang manager membawanya pergi.
Tidak lama berselang mereka tiba di salah satu kafe dekat rumah sakit. Tidak banyak orang di sana, hanya ada beberapa karyawan yang menepi, melarikan diri dari pekerjaannya sementara.
Sama seperti Rania dan Yohan, keduanya duduk di samping jendela di temani dua gelas kopi hangat. Aroma yang menenangkan tidak sabar untuk dicicipi pun membuat Rania meneguknya singkat dan mengembalikannya lagi ke alas gelas.
Ia memandang Yohan yang masih diam seribu bahasa sejak kedatangannya ke sana.
"Jadi, apa yang ingin Anda katakan pada saya?" tanya Rania tidak sabar.
Yohan tidak langsung menjawab. Ia memasukan tangan ke saku bagian dalam jas kerjanya dan mengeluarkan benda pintar keluaran beberapa tahun silam.
Dalam diam Rania memperhatikannya sambil bertanya-tanya dalam benak.
Tidak hanya itu saja, Yohan juga mengeluarkan amplop berukuran kertas A4 dari dalam tas kerja. Ia menjulurkan kedua benda tadi tepat ke hadapan Rania.
"Kamu pasti sedang mencari ini, kan?" tanyanya membingungkan.
Sang perawat kembali mengerutkan kening lebarnya, tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Yohan saat ini.
Bungkamnya Rania membuat sang manager mengerti. Ia lalu membuka penutup amplop cokelat tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya.
Ia kembali memperlihatkan pada Rania yang seketika langsung melebarkan kedua manik jelaganya.
"I-ini? Bagaimana Anda mendapatkannya?" tanya Rania tidak percaya seraya mengangkat pandangannya lagi.
"Saya tahu Anda sedang mencari tahu siapa itu Tuan Jung Jae Won. Maaf, setelah bertemu dengan Anda di lorong rumah sakit waktu itu... saya mengikuti ke mana Anda pergi."
"Saya tidak bermaksud apa-apa hanya saja... saya merasa Andalah orang yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran ini," ungkap Yohan serius.
"M-mwo? Orang yang tepat? Apa maksud Anda?" bingung Rania masih tidak mengerti.
Perlahan ia tertawa kencang dan meredakannya lagi saat Yohan tetap mempertahankan wajah serius. Ia tidak sadar jika hari itu ada seseorang membuntutinya sampai ke daerah yang biasa mereka jadikan sebagai markas pertemuan keduanya.
Bahkan Yohan sampai mengetahui apa yang mereka bahas hari itu. Sudah tidak ada alasan lain lagi bagi Rania guna membohonginya.
"Baiklah, tidak ada alasan bagi saya untuk menyembunyikan penemuan kami. Jadi, apa yang ingin Anda, saya lakukan?" tanya Rania melipat tangan di atas meja.
Yohan membetulkan letak kacamatanya singkat lalu berdehem pelan.
"Saya ingin... Anda membantu Jung Jae Hwa dianggap sebagai keluarga Jung dan juga... mengungkapkan kebenaran yang selama ini Ketua Jung sembunyikan."
"Semua itu ada di sini." Tunjuk nya pada dokumen yang sedari tadi terletak di meja.
Rania kembali menunduk melihat dokumen demi dokumen itu. Ia mengambilnya lalu membaca tulisan demi tulisan Hangul menunjukkan seperti apa kejadian di masa lalu menimpa Jung Jae Hwa.
Berkali-kali sepasang iris nya melebar, tercengang atas bukti akurat yang diberikan Yohan.
"Surat tes DNA? Pengeluaran sehari-hari Jung Jae Hwa yang dikirim Ketua Jung? Lalu... surat perjanjian dengan ibu Jung Jae Hwa?"
"Kenapa ada surat seperti ini dan... di mana ibu Jung Jae Hwa berada? Kenapa selama ini beliau diam saja?" tanya Rania penasaran.
"Sepertinya kita harus ke suatu tempat!" ajak Yohan lagi. "Agar semua kebenarannya bisa Anda ketahui," lanjutnya lagi.
Ia pun membawa Rania ke sebuah tempat asing di mana di sana tidak begitu banyak orang. Keadaan sunyi, sepi memberikan suasana nampak syahdu.
Di dalam lemari kaca terdapat potret seorang wanita berambut panjang tengah mengembangkan senyum. Di sampingnya terdapat guci kecil berwarna putih yang berisi abu milik sang almarhumah.
Wajahnya begitu putih nan cantik, terlihat sangat polos seolah tidak mungkin akan melakukan hal-hal di luar norma.
"Beliau adalah Kang Binna, ibu kandung Jung Jae Hwa."
Rania tidak bisa menjelaskan seperti apa keterkejutan yang menimpanya saat ini. Ia menutup mulut menganganya menggunakan kedua tangan kuat, tidak percaya mendengar ungkapan pria di sampingnya.
"Bukankah marganya sama dengan saya?" tanya Yohan lagi tanpa menggeser pandangan dari potret indah di hadapannya.
Rania hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata.
"Karena beliau adalah adik dari ibu saya."
Dengan gerakan patah-patah Rania menoleh ke samping kanan di mana pria berprofesi sebagai manager tersebut memberikan sorot mata dingin.
Rania mengerti jika Kang Yohan menunjuknya sebagai orang yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran sebagai bentuk balas dendam bagi Ketua Jung.
"Apa? Jadi kalian masih saudara? Anda ingin membalas perbuatan Ketua Jung dengan memanfaatkan saya?" tanya Rania mencoba menjelaskan.
Tanpa diduga Yohan membalas tatapannya dengan menganggukkan kepala.
"Itu benar. Saya beruntung bisa bertemu wanita pintar sepertimu Rania Varsha Humaira."
Seketika Rania terbelalak, tidak menyangka Yohan mengetahui nama lengkapnya. Ia sadar pria ini bukanlah seorang manager biasa.
"Saat kamu bertanya apa aku keluarga Jung Jae Hwa... saat itu juga aku sadar, kamu... bukan wanita sembarangan," jelas Yohan lagi melepaskan sikap formal.
Rania tidak bisa berkat apa-apa selain merasakan degup jantung bertalu kencang. Ia tidak pernah berpikir bertemu dengan seseorang yang hebat dalam segala hal.
Takdir kembali memberikan permainan baru yang membuatnya semakin tertarik.
"Baiklah, jika itu memang keinginan Anda. Saya bisa melakukan sesuatu! Karena saya juga ingin kebenaran ini terungkap, bukan hanya untuk Jung Jae Hwa, melainkan bagi banyak orang!" ungkapnya tegas.
Yohan mengangguk singkat, paham apa yang diucapkan Rania barusan. Di hadapan almarhumah Kang Binna, kedua orang itu sepakat bekerja sama untuk mengungkapkan kebenaran.
Rania maupun Yohan yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain, kini mempunyai tujuan sama, yaitu mengungkap kepada publik siapa Jung Jae Won sebenarnya.