VARSHA

VARSHA
SEASON 2 BAGIAN 68



"Ayah? Itu berarti appa?" tanya Seok Jin menyadarkan keduanya.


Zahra melirik padanya singkat dan kembali kepada pria baya yang dikuncir serta mengenakan kacamata hitam tepat berdiri di sampingnya.


Ia tidak tahu harus beraksi seperti apa di hadapan Seok Jin kala mendapati sang ayah mengejutkannya di waktu yang tidak tepat.


Zahra tidak menyangka melihat sosok ayah kandungnya ada di sana. Di sebuah negara asing yang jauh dari bayangan mereka bisa bertemu.


Namun, sepertinya takdir berkata lain, mereka kembali bertemu setelah sekian tahun terpisah.


Kecewa, sedih, sakit menjadi satu membuat perasaannya kalang kabut.


"Kita bicara di tempat lain."


Zahra melengos meninggalkan Seok Jin begitu saja, sedangkan ayahnya hanya menggendikkan bahu dan mengikuti ke mana putri pertamanya pergi.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa itu ayah kandung Zahra?" gumam Seok Jin penasaran, "Aku harus mengikutinya." Ia pun pergi dari kantin itu tidak peduli jika semua orang yang ada di sana sedari tadi terus mengawasi.


Atap rumah sakit menjadi tujuan Zahra membawa ayahnya kali ini. Ia sengaja memilih ke sana sebab tahu tidak akan ada orang lain yang bisa datang.


Ia bisa bebas mengatakan apa pun kepada sang ayah yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya. Seketika perasaannya kembali campur aduk menerima kenyataan.


Namun, setelah sekian lama tidak bertemu satu sama lain, emosi kian membuncah.


Zahra berbalik ke belakang menatap lekat kepada Aditya Buana, ayah kandungnya sendiri.


"Ada apa lagi ini? Apa yang sedang Ayah lakukan di sini? Kenapa harus menyapaku di saat bersama orang lain, terlebih... terlebih itu dia," racau Zahra semakin pelan.


Aditya mengembangkan senyum dan meletakkan tangan di saku celana.


"Kenapa? Apa pria tadi adalah pacarmu?" tanyanya acuh tak acuh.


"Jangan mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Katakan, apa yang sedang Ayah lakukan di sini?" tanya Zahra lagi sedikit meninggikan suara.


"Setelah sekian tahun kalian meninggalkan kami dengan keluarga baru, dan sekarang... kalian datang lagi, apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami?"


"Tahukah Ayah seperti apa kehidupan kami selama bertahun-tahun setelah ditinggalkan kalian?"


"Kami harus hidup terlunta-lunta, mencari makan sendiri, bertahan hidup sendiri, bahkan kami juga harus membayar biaya tinggal di rumah bibi Sabil, tahukah kalian bagaimana susahnya aku mengurusi Laluna, Zaitun, dan juga Adam?" Zahra mencak-mencak menjelaskan seperti apa kehidupan yang sudah bertahun-tahun dirinya lakukan.


Dadanya naik turun, dengan kedua mata merah menahan gejolak emosi kian merundung cepat.


Tanpa terasa air mata meluncur begitu cepat melampiaskan pengap. Rasa sakit yang sudah lama menumpuk dicurahkan dengan linangan liquid bening.


Zahra membalikkan badan lagi menghindari sang ayah. Ia menangis sesenggukan mengingat kembali keperihan serta kesusahan yang dialaminya bersama ketiga adiknya di tanah air.


Tanpa orang tua mereka mencoba bertahan hidup mengandalkan satu sama lain.


Zahra kakak tertua berperan ganda sebagai ayah dan ibu untuk Laluna, Zaitun, dan Adam.


Beruntung mereka tidak menuntut apa pun kepadanya. Mungkin ketiga adiknya tersebut mengetahui keadaan keluarga mereka seperti apa.


Terkadang kakak beradik itu saling menguatkan satu sama lain dan bertahan bersama dalam ganasnya dunia.


Mereka tahu jika ayah dan ibu tidak peduli mengenai keberadaan buah hatinya.


"Tadi, sebelum kita datang ke sini aku melihat wanita cantik melihat kepergian ayah. Dia menggandeng dua orang anak, mungkin kembar? Anak laki-laki dan perempuan, mereka sangat tampan dan cantik."


"Aku tahu hanya melihat sekilas, mereka... keluarga baru Ayah bukan? Sudahlah, lebih baik kalian lanjutkan kehidupan TERBAIK yang saat ini dijalani," racau Zahra menekan satu kata.


Melihat putri pertamanya terlihat begitu terpukul dan menahan luka teramat dalam, Aditya merasa bersalah.


"Camililla Buana, dia ibu tiri mu, dan kedua anak yang kamu lihat tadi mereka... adik kembar mu, Zahra."


"Kami sedang berlibur ke sini dan adik bungsu mu sakit lalu berobat di rumah sakit ini. Siapa sangka jika kita bisa bertemu, Ayah juga mendengar kamu belajar di luar negeri. Siapa sangka kita bisa cepat bertemu. Ayah-"


"Jangan katakan apa pun lagi yang bisa membuatku sakit." Zahra mengusap jejak kristal bening di kedua pipi kasar dan tersenyum penuh luka.


Kepala berhijab itu mengangguk beberapa kali lalu melirik pada sang ayah.


"Aku sudah lelah, Ayah. Kami hanya ingin hidup damai tanpa ada bayang-bayang kalian. Selama tujuh belas tahun ini, kami belajar untuk hidup tanpa kehadiran kalian."


"Iya-" Zahra menganggukkan kepalanya beberapa kali lagi. "Anggap saja kami sudah tidak punya orang tua. Rasanya mengingat kalian bahagia bersama keluarga baru tanpa mengindahkan keberadaan kami, lebih sakit dibandingkan sebuah kehilangan," racau Zahra lagi yang kini sepenuhnya menatap Aditya.


"Kami... sudah lama kehilangan kasih sayang Ayah dan mamah. Kami... sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran kalian. Jadi... silakan pergi dan berbahagia lah bersama keluarga baru kalian." Seulas senyum hadir menandakan betapa lelah dan terlukanya perasaan seorang anak.


Zahra melangkahkan kaki dari hadapan ayahnya seolah ada tangan tak kasat mata memberikan pukulan keras di wajahnya.


Aditya terdiam, termenung, menyaksikan semua luka di dasar hati terdalam putri pertamanya.


Zahra berjalan melewatinya dengan air mata berlinang lagi. Rasanya ada duri menancap di hati memberikan luka teramat perih.


"Ayah minta maaf, Zahra." Seketika itu juga Zahra menghentikan langkah.


"Kamu benar-benar sudah besar. Putri cantik Ayah semakin menawan. Ayah benar-benar minta maaf, telah meninggalkan kalian."


"Waktu itu... waktu itu Ayah terpaksa menyetujui permintaan perpisahan yang dilayangkan ibumu. Pada saat itu ibu kalian ketahuan bermain mata dengan pria lain."


"Ditambah keadaan ekonomi kita yang semakin susah, Ayah dilingkup emosi dan kembali ke negara asal Ayah."


"Ayah benar-benar minta maaf tidak memikirkan perasaan kalian," ungkap Aditya merasa bersalah.


"Ayah sebenarnya ingin membawa kalian untuk tinggal bersama, tetapi-"


Zahra mendengus kasar dan mengusap wajah gusar yang seketika menghentikan ucapan Aditya.


"Jangan menyalahkan siapa pun di atas penderita orang lain. Jika Ayah memang benar-benar menyesal, kenapa tidak datang sejak awal? Kenapa harus menunggu selama tujuh belas tahun? Juga, bukankah kita tidak sengaja bertemu? Bukan-" Zahra menolehkan kepala ke belakang seraya menyeringai lebar.


"Bukan sengaja untuk bertemu kami?" lanjutnya memberikan sorot mata kecewa.


Sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi benar-benar meninggalkan sang ayah.


Aditya terpaku, manik kelamnya melebar, dan bibir itu terbuka perlahan.


Ia terdiam di sana memandang punggung buah hatinya semakin jauh. Dadanya terasa sakit bagaikan ada yang meremas hatinya kuat.


Mendengar sendiri ungkapan kepedihan Zahra barusan benar-benar menyadarkan jika ia memang sudah mengabaikan keempat anaknya.


"Ayah... minta maaf. Ayah benar-benar minta maaf," lirihnya mengingat kembali saat hari pertama meninggalkan mereka.


Ia sama sekali tidak memikirkan apa yang akan dilalui keempat anaknya selepas kepergiannya dan juga sang mantan istri.


Setelah pulang ke tanah kelahirannya, Aditya bertemu wanita yang dulu sempat dijodohkan dengannya. Mereka pun menikah dan dikaruniai dua orang anak.


Kehidupannya semakin bersahaja akibat keluarga istri barunya tersebut memiliki harta menengah ke atas. Selepas kebahagiaan menerjang, Aditya jadi lupa jika mempunyai anak di negara lain.


"Aku... Ayah yang buruk," gumamnya lagi.


"Jadi, serumit itukah kehidupan Zahra?" gumam Seok Jin yang sedari tadi menyaksikan drama ayah dan anak itu.